Because You Were There

Because You Were There
Bab 27


__ADS_3

MC berdehem di tengah panggung dan menyerukan nama peserta yang tak kunjung masuk ke dalam panggung. "Anggara Putera adalah peserta selanjutnya tapi kita tunggu dulu sebentar lagi karena sepertinya sedang ada kendala di belakang panggung."


Raut wajah malas tergambar di semua penonton dan juga wajah juri yang ikut bertanya-tanya mengapa Gara bisa telat seperti ini tidak seperti biasanya.


Re masih berdiri di sisi panggung sedari tadi dengan jemari yang ia mainkan gelisah.


"Apa ada masalah?" tanya panitia acara tidak santai.


Re perlahan menolehkan kepalanya ke samping kiri menatap panitia acara itu. "Lima menit lagi ... sebentar lagi," bujuk Re mengangkat tepalak tangannya.


Panitia langsung melotot yang membuat Re meringkuk. "Tidak ada waktu lagi, Anggara! Kalau kamu nggak tampil, kita lewat aja kamu dan kamu didis dari festival," ancamnya.


Re membelalakkan mata dari balik kacamata hitamnya. Ia gertakkan gigi kembali menatap undakan tangga di hadapannya. Gara tidak boleh sampai didiskualifikasi. Apa ini memang rencana Gara dengan menghilang seperti ini agar Re yang naik ke panggung? Tapi, untuk apa?


"Anggara ..." panggilnya penuh peringatan.


Tidak ada pilihan lain, Re yang harus mengakhirinya. Perlahan kaki ia angkat menaiki undakan tangga yang tak berjumlah banyak hanya ada lima tingkatan. Ini semua akan berakhir, jika Re sampai muncul di hadapan juri. Gara tidak akan mendapat kesempatan untuk menunjukkan bakatnya. Kaki Re berjalan sangat lambat membuat panitia acara memutar bola mata jengah dan langsung mendorong kasar punggung Re.


"Gara!" Pekikkan itu berhasil menahan tubuh Re yang sudah condong ke depan, hampir saja memunculkan wajahnya ke muka panggung. Re segera berdiri tegap dan mencari sumber suara. Terlihat lengan Alena yang melambai-lambai padanya dan mengajak Re untuk ke sana.


Re tatap lagi panitia acara. "Sebentar!" Re langsung meloncat dari undakan tangga menghiraukan pekikkan dari panitia acara yang sudah melotot tajam ke arahnya. "Anggara!!!"


Re berlari ke balik dinding dan ia temukanlah si pembuat kekacauan yang raut wajahnya pun sudah kacau berdiri di hadapannya. Di sampingnya berdiri Alena, Yusuf, dan Fikran yang ikut gelisah melihat Gara seperti ini.


"Buruan, Gar!" kesal Re. Gara tatap sekilas sahabatnya lalu berjalan keluar dari balik dinding dengan tatapan kosong.


Panitia acara yang sudah berlari hendak menyusul Re tadi mengerem langkahnya mendadak. Ia amat terkejut melihat Gara yang keluar dari balik dinding. "Ganti baju?" herannya.


Gara tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya.


Pantia acara menelengkan kepalanya menatap heran Gara yang sudah berganti pakaian dengan setelan jas warna kelabu tanpa memakai kacamata lagi. "Cepet banget," gumamnya.


Alena, Yusuf, dan Fikran meninggalkan Re di ruang ganti peserta. Re melepas sweater nerakanya yang diganti dengan kaos putih dan jaket kulit dan tak lupa pula topi hitam yang menutupi setengah dari wajahnya. Cowok itu langsung bergegas menyusul ketiga temannya yang sudah berada di aula.


Kini, tatapan semua mata terfokus pada satu orang yang sempat jadi penghambat acara. Alena, Fikran, Yusuf, dan Re sudah berkumpul di sisi tengah aula menatap Gara yang sudah berdiri di atas panggung.


MC mengajak penonton untuk memberikan tepukan meriah pada Gara yang akhirnya muncul juga di panggung. Olin selaku juri langsung bertopang dagu menikmati pemandangan yang indah di atas panggung alias Gara yang sudah bisa menampilkan wajahnya. Arisa hanya menggaruk pelipisnya merasa janggal dengan ekspresi Gara yang sepertinya sudah kehilangan semangat untuk bernyanyi. Sedangkan Kibar yang duduk di antara dua juri cantik lain baru memasang wajah dari-tadi-kek-dandan-kayak-gininya-jangan-kayak-tukang-pijit.


"Silahkan dimulai, Anggara," ucap Arisa yang dibalas anggukan lemah oleh Gara.


Khusus untuk penampilan babak terakhir ini karena semua peserta menyanyikan lagu yang sama, musik tidak berasal lagi dari rekaman tapi musik langsung yang dimainkan sebuah grup pemusik yang sudah bersiap di sudut kanan panggung.


Pemain biola pun mulai mengawali musik indah ini dengan gesekan antara Bow dengan String biola yang begitu menenangkan hati disusul dengan instrumen lain yang saling mengisi harmonisasi.


Gara mulai angkat microphone ke bawah bibirnya. Matanya masih menyisir seluruh ruangan mencari kehadiran sosok yang menjadi alasan mengapa ia bisa berdiri di ajang festival bergengsi ini. Orang yang ia cari tidak ada di jajaran kursi di hadapannya. Di mana ayah? Di mana dia?

__ADS_1


Ekor mata Gara pun menangkap pergerakan tangan yang mencengkram bilik pintu di sisi tengah aula. Kepalanya menyembul dengan sebelah tangannya yang lain masih mencengkeram perutnya. Haris masih terlihat menahan sakit saat melangkah ke kursi yang sudah disediakan khusus untuknya tepat berada di belakang para juri.


Obat penawar itu masih belum bereaksi. Haris pun duduk dan bersandar di kursi lalu tatapannya meneduh kala mendapatkan mata putranya yang sedari tadi memaku tatapan padanya. Haris tersenyum samar pada Gara yang tanpa Haris tahu itu semakin meremukkan hati putranya yang merasa bersalah dan terus bersalah.


"Apa kamu percaya aku bisa, Al?" tanya Gara getir menatap binar kelabu gadis itu.


Alena menurunkan pandangannya. "Gar ... please, jangan kayak gini."


"Aku bakal turun kalau kamu percaya sama aku." Alena terdiam.


Musik masih berlanjut dan ia alihkan pandangan pada keempat temannya yang berdiri dengan raut wajah cemasnya masing-masing. Re terlihat mengepal tangannya sembari menggigit bibir bawahnya berusaha menyalurkan semangatnya pada Gara. Yusuf tersenyum datar, seperti biasa. Fikran terus menggetarkan kakinya geregetan. Rasanya ia ingin menendang siapapun sekarang juga.


Tapi hanya satu pasang mata yang sedari tadi ingin dilihat oleh Gara. Mata gadis itu. Alena yang sekarang terus menggosokkan kedua tangannya dengan tatapan cemas. Gara belum berpaling dari wajah itu sampai Alena menyadari bahwa pandangan Gara terjatuh untuknya. Ia balik tatap mata sendu itu dan tersenyum kecil.


"Aku ... selalu percaya sama kamu, Gar."


Gara kembalikan fokus bersamaan dengan pengaturan napasnya. Ia memejamkan matanya sesaat menunggu melodi dari musik pengiring itu mengizinkannya untuk masuk ke lagu. Dan, pada saat yang tepat ia tersenyum getir sebelum menyanyikan liriknya.


When I am down and oh my soul so weary


(Saat ku terjatuh dan jiwaku begitu rapuh)


Semua penonton dapat terhanyut dalam indahnya musik nyanyian Gara. Andai penonton boleh bertepuk tangan, mereka pasti sudah melakukan itu sejak Gara mengucapkan kata yang pertama.


When troubles come and my heart buedened be


Tapi sayangnya, itu akan mengganggu pendengaran para juri. Jadi semua tangan harus mereka kunci agar tidak mengeluarkan suara berisik kalau mereka tidak mau ditendang dari dalam tempat penjurian ini.


Then I am still and wait here in the silence


(Maka kuterdiam dan menanti di sini dalam sepi)


Until you come and sit awhile with me


(Hingga kau datang menemani)


Penyaluran nada yang baik tidak terlalu tajam maupun terlalu lemah. Re yang juga mengerti dengan musik bisa menghembuskan napas lega Gara bisa mengatur suaranya kembali.


Reff pertama lagu pun Gara nyanyikan tanpa kendala. Semua juri tersenyum mendengarnya sembari menorehkan poin pada kertas penilaian.


Tanpa disadari semua orang, sebenarnya Gara tengah bergelut dalam pikirannya sendiri sembari ia bernyanyi. Pikirannya kalut. Pemikiran bahwa ia akan gagal, bahwa ia tidak akan pernah berhasil, bahwa ia akan menghancurkan penilaian ini karena pita suaranya memang belum pulih, terus menyerang pikirannya dan tak berhenti berteriak mengganggu konsentrasinya.


Sementara musik pengiring berlangsung, kembali ia tatap Re. Sahabatnya yang selalu menempatkan Gara di juara kedua. Gara takkan pernah bisa mengalahkan bakat alami dari Re. Tapi hari ini, semua hal yang selalu merasuki pikiran Gara dibantah oleh gadis itu. Dengan keyakinan yang tinggi, gadis itu mengatakan bahwa Gara telah salah selama ini. Bukan Re dan bukan Re yang selalu mengalahkannya, tapi dirinya sendiri yang membuat Re bisa mengalahkannya.


Gara memang pengecut. Gara selalu menganggap dirinya bisa dianggap saingan yang menjadikan dirinya sendiri terbebani. Gara memang selalu melakukan kesalahan tiap ia berlomba bersama Re. Itu karena, Gara telah menancapkan keyakinan bahwa ia pasti gagal dan benar saja, kegagalanlah yang datang menghampiri Gara. Ia tidak pernah merasa nyaman dalam bernyanyi. Berbagai tekanan selalu melarangnya untuk mendapatkan kenyamanan dari musik yang ia nyanyikan.

__ADS_1


Suara kegagalan terus terngiang di kepalanya. Cukup, Gara sudah muak. Jika kegagalan memang ditakdirkan untuknya, Gara akan lawan takdir bodoh itu sekarang. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin dalam setiap latihannya. Ia tak pernah berhenti latihan dan latihan demi tercapainya ia berdiri di atas panggung hari ini. Apakah semua usaha itu akan kembali sia-sia? Tidak! Gara tidak akan membiarkan semua usaha itu terbuang percuma karena Gara yang akan membuatnya menjadi berguna.


Hatinya semakin berdebar akan rasa juang yang tinggi. Gara tidak akan kalah. Ia sudah muak pada dirinya sendiri yang selalu bisa dikalahkan orang lain.


Musik masih mengalun dan dalam hitungan ketiga, Gara siap melawan dirinya sendiri. Gara raup udara sebanyak-banyaknya. Satu ... dua ... tiga.


YOU RAISE ME UUUUU—


Semua juri dan penonton melebarkan matanya. Gara tidak berhenti menaikkan nada terakhir itu, mulutnya masih menganga dengan matanya yang terpejam. Pengiring musik pun terpaksa berhenti karena ini sudah melenceng dari notasi lagu. Mereka membiarkan Gara terus berteriak dengan nada yang terkendali dari bibirnya. Ia luapkan seluruh kekesalan pada dirinya sendiri. Jangkauan vokalnya sudah melebihi 2.5 oktaf dan Gara masih belum berhenti. Napasnya masih sangat panjang.


Re tercengang dengan napasnya yang tercekat. "Gila, panjang banget," gumamnya. Re takkan pernah bisa mengalahkan itu.


Fikran dan Yusuf saling pandang. "Sumpah ... keren," desah Fikran yang diangguki oleh Yusuf. Mereka tak percaya Gara bisa bernyanyi dalam nada tinggi seperti ini tanpa kehilangan kendali dari suaranya sendiri.


Napas Alena ikut tercekat mendengarkan suara lantang Gara yang masih belum berhenti meneriakkan nada itu. Sungguh, suara itu berhasil menghujam jantung tiap orang yang mendengarkannya. Perasaan Gara yang kalut, emosi yang berkecamuk dalam dirinya langsung tersalur begitu saja dan dirasakan oleh semua pasang mata yang masih tercengang.


Haris masih mengerjap tak percaya di kursinya. Ia tak pernah melihat putranya mengeluarkan nada tertinggi yang ia punya dalam tiap latihannya apalagi dalam ajang bergengsi. Debaran hati akan rasa terkejut, heran, dan tak percaya namun terselimut rasa bangga dapat dirasakan hati Haris.


Di bangku para juri, mereka tak kalah tercengang melihat peserta festival yang bisa-bisanya bertingkah semaunya sampai pengiring musik pun berhenti mengiringinya. Pulpen Olin terjatuh bersamaan dengan Kibar yang menganga tak percaya di saat Arisa tersenyum bangga.


Gara masih melebarkan mulutnya dengan microphone yang terpaksa harus ia jauhkan dari suara lantangnya. Matanya terpejam rapat dan keningnya mengerut dalam akibat dari tekanan tinggi yang ia berikan pada pita suaranya. Pita suara yang selalu menjadi hambatan Gara, kini bisa ia kendalikan semaunya. Tidak ada hal lagi yang bisa mengalahkan Gara. Semuanya musnah tak bersisa. Gara pun berikan beberapa nada di ujung napasnya yang hampir habis agar penutup nada yang indah ini terdengar merdu.


—UUUPPP ... so I can stand on mountains


(Kau semangati aku, hingga mampu kudaki gunung)


Tepukan meriah dan sorakan terpukau langsung bergemuruh di penjuru ruangan. Banyak orang yang langsung memberikan standing applause pada Gara. Mereka tak peduli lagi dengan peraturannya. Mereka sudah tidak bisa menahan tangannya untuk berdiam. Mereka akan merasa berdosa jika tidak memberikan penghargaan kecil ini pada penyanyi yang sungguh luar biasa di atas panggung sana.


You raise me up to walk on stormy seas


(Kau semangati aku tuk seberangi lautan badai)


Pengiring musik yang ikut tercengang segera memfokuskan diri dan kembali mengiringi nyanyian Gara. Re langsung memekik girang sambil meloncat kecil dengan tangan yang meninju udara. Ia sangat bahagia melihat sahabatnya berhasil menunjukkan kemampuan terpendamnya pada semua pasang mata.


I am strong when I am on your shoulders


(Aku kuat saat bersandar padamu)


Setetes air mata mengalir dari sudut mata Gara yang masih terus bernyanyi penuh penghayatan. Air mata yang menjadi bukti bahwa Gara telah sangat lelah akan semuanya, bahwa ia bangga dan bahagia atas semua usahanya, dan juga bukti bahwa ia telah berhasil membawa keberhasilan pada dirinya sendiri. Gara bisa melepas semua tekanan yang selalu membebaninya. Ia terlihat sangat nyaman berdiri di atas panggung. Dan untuk pertama kalinya, ia bisa menikmati nyanyiannya sendiri.


You raise me up to more than I can be


(Kau semangati aku tuk lakukan lebih dari yang bisa kubayangkan)


Alena langsung melebarkan senyumannya, matanya berkaca. Semua perasaan Gara tercurah begitu jelas hingga Alena mampu merasakannya. Ia tak bisa menutup mulutnya sendiri yang sedari tadi terus menampilkan deretan gigi. Ia bangga. Sangat bangga pada teman semasa kecilnya satu ini.

__ADS_1


Gara telah berhasil mengalahkan dirinya sendiri.


__ADS_2