Because You Were There

Because You Were There
Bab 33


__ADS_3

Juniar melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit yang tanpa ia sadari, ada dua anak lain yang mengikuti langkah panjangnya secara diam-diam. Seorang suster yang menjadi tujuan Juniar pun hadir dalam pandangannya. Sedangkan Re dan Alena mengintip dari balik dinding.


“Suster!” panggil Juniar memutar kepala suster berseragam putih yang tengah membawa obat-obatan mengarah pada lelaki itu. Ia tersenyum.


“Ada masalah apa?” tanya Juniar seakan mereka tahu apa yang sedang menjadi topik pembicaraan. Tulisan yang tercetak di seragam suster itu menuliskan nama Ilma.


Ilma memandang nanar Juniar. “Pasien tidak mau makan apa-apa dan sering mengamuk tanpa alasan. Kami sudah berikan perawatan yang terbaik tapi pasien menolak dan seluruh staf sangat kewalahan mengurus Edwin.”


Alena terperangah mendengar nama ayahnya disebut sebagai seorang pasien di sini. Kristal bening mengumpul di pelupuk mata Alena yang lambat laun pasti akan tumpah tanpa perlawanan. Menyadari perubahan air muka Alena, Re bisa menebak bahwa itu nama ayahnya.


Juniar mengusap wajahnya perlahan. “Jadi, karena itu kalian minta izin untuk mengikatnya?” Ilma mengangguk dan Juniar melemaskan bahunya.


“Om ... Jun?” Tubuh Juniar menegang mendengar suara getir yang memanggilnya.


Perlahan ia putar tubuh berharap siapa yang ada dalam pikirannya tidak sedang berada di balik punggungnya. Wajah cantiknya yang memucat dengan matanya yang memerah bersanding dengan seorang lelaki yang tengah merangkulnya menatapnya penuh tanya menjadi bukti bahwa siapa yang ada dalam pikirannya, memang benar.


*****


Terakhir kali, Edwin telah melukai kepala seseorang dengan botol birnya hingga korban perlu perawatan intensif. Edwin seharusnya hadir dalam berbagai persidangan yang rumit dan sudah dijebloskan ke dalam penjara. Tapi itu terlalu kejam bagi Alena jika melihat ayahnya sendiri sebagai seorang penjahat. Juniar tidak sanggup harus menerima kenyataan itu dan ia meminta tolong pada pengacara untuk melakukan apapun agar Edwin bisa lolos dari hukuman. Dan, hanya satu jalan keluar yang ditemukan. Edwin harus dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan.


“Semua tindakan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan karena kurang sempurnanya akal, tidak dapat dihukum,” ucap pengacara meyakinkan Juniar pada saat itu.


Re dan Juniar duduk di kursi panjang depan ruang kunjung bagi pasien Rumah Sakit Jiwa. Re sandarkan punggung dan merapatkan kelopak matanya. “Mas ... Mas Jun?” panggilnya setengah berbisik.


Juniar mencondongkan tubuhnya ke depan dengan dua tangan yang saling bertaut di atas lututnya. Ia pun menoleh pada Re yang duduk di samping kanannya. “Kenapa?”


Perasaannya masih kacau balau. Ia masih terkejut tak percaya harus secepat ini Alena mengetahui semuanya.

__ADS_1


Juniar pasti akan mengatakannya tapi tidak sekarang. Juniar sangat belum siap menghadapi kekecewaan keponakannya.


“Alena ... gimana?” tanya Re pasrah. Tiap hembusan napas yang keluar dari bibirnya kian terdengar sesak. Re yang hanya berperan sebagai penonton di sini pun bisa merasakan hatinya terhimpit jika menghadapi cobaan seperti ini. Apa yang akan dirasakan oleh gadis itu sebagai pemeran utamanya? Re tidak pernah bisa membayangkannya.


Juniar menegakkan tubuh dan menepuk pundak Re perlahan. “Nana gadis yang kuat. Walaupun hatinya terguncang, dia pasti bisa bertahan di situasi sesulit apapun.”


Re menundukkan kepalanya di saat Juniar mengalihkan pandangan menatap jendela di mana Alena sedang berada di dalamnya.


Alena tidak lemah. Ia sama sekali bukan gadis yang lemah. Tapi mengapa air mata terus mengalir di saat sebenarnya ia tidak mau menangis? Alena hanya bisa terus mengusap air matanya walaupun ia tahu pasokan air mata dalam tubuhnya masih berlimpah.


Ia duduk di kursi dengan meja persegi di hadapan menunggu kehadiran ayahnya yang sedang dipanggil untuk datang menemui putrinya. Edwin yang tangannya terikat tali pun dituntun oleh dua suster untuk memasuki ruangan kecil ini dan duduk di hadapan Alena.


Alena melihat ayahnya sudah berpakaian khas untuk pasien rumah sakit dengan rambutnya yang sudah rapi, sepertinya telah dicukur paksa dalam rumah sakit ini. Matanya terus bergerak ke segala arah terlihat bosan dan enggan ia berada di ruangan ini.


“Ayah ...” panggil Alena yang akhirnya membuat Edwin mau melihat siapa yang sudah menunggunya sedari tadi.


“Yah, berhenti!” pekik Alena sembari menggenggam dua tangan yang diikat jadi satu di atas meja.


Napas Edwin pun terengah-engah. Pandangannya masih buram entah karena apa sejak ia memasuki ruangan ini. Ia pun mengerjapkan berulang kali beriringan dengan gelengan kuat kepalanya. Matanya melebar kala pandangannya menjelas. Ia melihat anaknya sudah ada di hadapannya menangis dengan tubuhnya yang bergetar.


“Mput? Putri? Putri anak ayah?” tanya Edwin tak percaya.


Air mata kembali mengalir deras saat Alena menganggukkan kepalanya. Edwin tersenyum getir dan mengangkat dua tangannya yang terikat untuk mengelus sebelah pipi putrinya.


“Akhirnya ayah liat kamu lagi, Put.” Hatinya mencelos akan rasa lega yang ia rasakan. “Maaf ayah gagal nempatin janji bawa kamu ke Oxford. Kamu bakal tetep ke sana, kan?”


Alena menahan tangan itu agar menetap di pipinya yang mengalirkan kehangatan. Alena tersenyum lebar pada ayahnya. “Iya, Ayah.”

__ADS_1


Edwin tarik kasar tangan menjauh dari putrinya yang membuat Alena terperangah. Edwin simpan itu di keningnya dengan tekanan yang besar. Ia luapkan seluruh kekesalannya di sana.


“AARGGHH!!!” pekiknya kesakitan. Kembali ia tatap Alena seraya menyimpan tangannya di atas meja. “Kamu harus ke sana! Kamu harus ke sana wujudin cita-cita kamu! Lupain aja ayah. Kayaknya ayah emang udah gila,” cetusnya. “Ayah nggak bakal bebanin kamu lagi, Put.”


Alena mengerutkan kening dan mengeraskan gigi. “Nggak! Mana bisa Putri tinggalin ayah di sini?!” Ia tatap dalam-dalam manik mata kelabu sang ayah. “Ayo pulang. Putri janji nggak bakal ninggalin ayah lagi,” bujuknya kembali menggenggam erat tangan ayahnya yang gemetaran.


Edwin malah menggelengkan kepala bukan mengangguk seperti apa yang Alena harapkan. “Jemput aja ayah kalau udah sukses.” Edwin tersenyum lebar sembari menarik tangannya agar turun dari atas meja.


“AYAH! Nggak! Nggak mau! Ayo pulang aja sekarang.” Alena memohon dengan bibirnya yang bergetar.


Edwin yang masih tersenyum lebar itu malah berdiri dari kursinya dan berjalan mundur mendekati dua suster yang menunggunya di balik pintu kaca tanpa melepas pandangan pada mata Alena yang sekarang terbelalak.


“Kamu harus ke sana,” gumamnya sebelum berbalik dan mendorong pintu kaca di saat Alena buru-buru bangkit dan berlari mendekati pintu kaca yang sudah dikunci oleh suster.


“AYAH! Jangan kayak gini! Ayo pulang!” pekik Alena yang menangis deras sembari menggedor pintu kaca yang masih menampakkan setengah wajah Edwin yang memunggunginya. Edwin pun berjalan menjauh meninggalkan Alena yang lututnya sudah terasa lemas hingga ia terduduk di ruang kunjung seorang diri.


Alena dituntun suster untuk keluar ruangan yang langsung disambut Re dan Juniar. Re langsung mengambil lengan Alena untuk ia lingkarkan di bahunya. Gadis itu terlihat begitu lemas dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ayah nggak gila ... ayah nggak gila, Om Jun,” ucapnya disela isakan tangis. “Dia cuma setres doang, dia masih inget sama Nana.”


Juniar menghembuskan napas berat dan mengelus lembut rambut gadis itu. “Maaf. Maafin Om, Na.”


Getaran ponsel terasa di saku celana Re. Ia ambil ponsel Alena yang setia selalu Re bawa kemana-mana. Ada notifikasi pesan masuk dan ia pun tunjukkan pada gadis itu untuk melihatnya.


“Al, ada sms dari Dylon,” ucap Re yang membuat Alena mengangkat tangannya yang masih lemas untuk membuka pesan itu.


Dan, deretan tulisan yang dibacanya sukses membuat Alena kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Innalillahi. Ibu kamu baru saja pulang ke Rahmatullah. 


__ADS_2