Because You Were There

Because You Were There
Bab 26


__ADS_3

Re sudah berdiri ditemani panitia acara di sisi panggung. No urut 28 sudah selesai menampilkan bakatnya dan inilah saatnya Gara untuk naik ke panggung.


"Selanjutnya ... peserta kita yang ke sepuluh di nomor urut 39 ...." MC tengah menelaah kertas kecilnya yang ada di balik telapak tangannya. "Anggara Putera!" serunya yang disambut meriah dengan keprokan tangan dari para penonton.


Panitia acara mengernyit heran melihat Gara malah mematung bukannya bergegas naik ke atas panggung.


Re sibuk bergelut dalam pikirannya dengan tatapan cemas yang sangat jelas terukir di wajahnya. Bukan seperti ini rencananya. Ini sudah sangat jauh melenceng dari rencana. Ia tak boleh naik ke panggung. Ia takkan pernah mengizinkan kakinya sendiri menginjakkan kaki di kejuaraan milik Gara. Sejak awal ini milik Gara dan harus Gara yang mengakhirinya.


Kepalanya pun berpaling menatap panitia acara yang sudah memasang raut wajah masam dan penuh kekesalan, sangat terlihat seperti banteng yang akan menyeruduk Re sekarang juga.


"Bisa nggak saya ke toilet sebentar?" izinnya yang dibalas pelototan tajam yang tepat menghunus pupil mata Re.


Ia turunkan pasrah kepalanya. Ia tak mau mengambil tempat yang seharusnya milik Gara. Ini tempat sahabatnya. Ia takkan pernah bisa melangkahkan kakinya.


******


Yusuf dan Fikran hampir bertubrukan setelah berlari secepat mungkin dari lorong dan mereka bertemu di tikungan. Untung Fikran dapat segera mengerem langkahnya mendadak walaupun badannya sempat terhuyung. Hampir saja bujur Fikran itu mencium lantai jika tidak segera tangan Yusuf terulur untuk menahannya.


"Kita harus susulin Re dulu," ucap Fikran lalu kembali melangkah sampai tangan Yusuf mencekalnya.

__ADS_1


"Dia udah nggak ada di ruang tunggu. Dia udah ada di panggung."


"Apa?" pekik Fikran tak percaya. Kok bisa? Ngapain Re di panggung? Itu, kan jatahnya Gara.


Tangan Yusuf pun terlepas dan ia berlari menuju aula yang arahnya berlawanan dengan arah Fikran tadi. Fikran segera memutar haluannya dan menyusul langkah panjang kaki Yusuf.


"Woy! Pelan-pelan, dong!" Padahal Yusuf tidak sedang berlari, ia hanya berjalan cepat.


"Dasar sombong, lo, kaki panjang!" pekik Fikran yang meringis menyadari bahwa dirinya memiliki kaki yang pendek dibanding kedua temannya.


******


Angin berhembus membelai rambut Alena yang masih menatap Gara. Cowok itu tak kunjung luluh hati mau turun dari atap ini.


Gara menggeleng pelan dan raut wajahnya dihujam sesuatu dari dalam yang membuat wajah itu terlihat penuh kesakitan. Entah apa yang merasuki batinnya saat ini. "Aku nggak mau mengecewakan ayah aku, Alena," geramnya. "Dia pasti masih nahan sakit gara-gara kelakuan aku ngeracunin dia. Sekarang dia berhak mendapatkan penampilan aku yang membanggakan."


Alena mendengus. "Tapi Re bukan kamu, Gara! Dia bukan anaknya ayah kamu! Kamu mau ngebohongin dia sampai nanti?" tanya Alena tak bisa bersikap lembut lagi.


Gara terkekeh hambar. Tidak bermaksud tertawa melainkan mengejek. Ya, mengejek dirinya sendiri yang begitu menyedihkan. "Kenapa enggak?" Gara menyeringai di saat Alena melebarkan matanya. "Aku udah membohongi dia di dua babak sebelumnya. Udah lebih dari satu langkah aku ambil. Apa salah aku ngambil selangkah lagi?"

__ADS_1


Alena menundukkan kepalanya enggan melihat seringaian Gara yang masih terpasang di wajah dingin itu. Hatinya tersayat mengikuti tiap kata yang terlontar dari bibir Gara hingga mampu mengumpulkan air mata dalam pelupuknya.


"Gara!" Alena menyentak yang tanpa ia sadari memberikan sentakan pula pada cairan bening di matanya hingga menetes keluar. Ia angkat kepalanya menatap Gara yang juga balas menatapnya.


"Gar ... temen kecil aku yang selalu kerja keras, temen kecil aku yang nggak pernah pantang menyerah, temen kecil aku yang selalu buat orang sekitarnya bangga ... kemana, Gar?" Napasnya tercekik. "Dia kemana?!" Bulir air mata kembali mengalir. "Kamu siapa?" lirihnya dengan suara yang bergetar.


Gara tak menyangka bahwa Alena bisa menangis seperti ini di hadapannya. Tapi Gara sama sekali tak membantah semua perkataan itu dan sekarang ia balikkan tubuh. Membiarkan segala luapan emosi bergejolak di hatinya.


"Dia udah mati, Al." Gara berujar tanpa mau tahu nyeri di hati Alena kembali menguar. "Yang ada sekarang cuma Gara pengecut yang nggak bakal pernah bisa ngalahin sahabatnya sendiri."


Alena terperangah. Dan pada detik ini, ia menyadari satu hal yang selama ini telah salah Gara mengerti. Alena beranikan dirinya mendekati cowok berbadan tegap yang jauh lebih tinggi darinya ini. Ia angkat tangannya dan tanpa basa-basi ia tarik sebelah bahu Gara. Mata Gara memerah. Hanya itu, yang menjadi perhatian Alena pertama kali.


"Gar ... kamu salah." Gara tak menjawab. Lebih tepatnya ia tak mau repot-repot membuka mulutnya. "Bukan Re yang harus kamu kalahin!" sentak Alena mengeraskan gigi dengan napasnya yang tersengal. "Bukan juga juri festival yang ada di bawah sana ... apalagi ayah kamu yang terus menekan kamu yang harus kamu kalahin, Gar!" gertaknya.


Gara terdiam. Tak mengerti.


"Tapi kamu sendiri!" imbuhnya kembali meneteskan air mata di saat Gara masih mematung. "Kamu sendiri yang harus ngalahin diri kamu! Bunuh rasa pengecut kamu sendiri. Bunuh semua pemikiran kamu bahwa kamu bukan siapa-siapa. Kamu hebat, Gar! Kamu yang terlalu takut sama diri kamu sendiri bahwa kamu nggak bisa ngalahin siapa-siapa. Kamu yang menempatkan diri kamu sendiri jadi ekornya Re, bukan karena Re. Sikap kamu yang pengecut ini yang selalu menempatkan diri kamu di juara kedua, bukan karena Re. Bukan karena saingan kamu."


Alena menghela napasnya panjang. "Kamu, tuh, hebat. Apa kamu nggak inget bahkan Re yang kamu anggap musuh sekali pun dia tetep belajar dari kamu. Dia dengerin suara kamu tiap malem, Gar," geram Alena yang lagi-lagi tak mendapatkan sahutan apapun.

__ADS_1


Mata Gara berkilat sendu dan Alena masih tak dapat menangkap apa maksud tatapan itu. "Dan satu lagi. Cuma kamu sendiri yang bisa mengalahkan segala ketakutan kamu, bukan orang lain."


*******


__ADS_2