
Juniar sibuk berdiskusi lewat telepon membicarakan perjanjian untuk acara manggung Re agar mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan. Ia duduk di atas sofa putih apartemen bersebelahan dengan artisnya yang sibuk latihan lagu barat Shawn Mendes yang berjudul Treat You Better.
Tapi kedengarannya, ia tidak seperti sedang latihan melainkan bernyanyi dari hati untuk seseorang.
Sedangkan keponakannya baru kembali dari luar apartemen membawa Fried Chicken yang dibeli di lantai bawah apartemen sesuai permintaan Re. Mata Re langsung berbinar mendapati Alena yang sudah menenteng bucket besar yang isinya penuh dengan ayam. Tangannya langsung mendorong-dorong bahu Juniar yang masih sibuk menelepon.
"Apaan, sih, Re?" kesal Juniar setelah menutup lubang speaker ponselnya.
"Minggir-minggir! Ayam gue dateng. Lo duduk di atas donat aja sono!" Tangannya masih mendorong-dorong bahu Juniar yang semakin menggeram kesal. "Biar Aspri duduk di sini."
Alena hanya bisa menahan senyum kecilnya agar tidak ketahuan bahwa ia bahagia. Apa? Re mau duduk bersamanya dan kembali mengusir Juniar? Ah, hati Alena tercubit perasaan bahagia. Ia jadi teringat insiden nikah-nikahan saat ada Fikran dan Yusuf di sini. Kan baper.
Juniar mengalah dan langsung berdiri. Ia pun melanjutkan menelepon seraya mengitari sofa dari belakang bertepatan dengan Re yang menepuk sofa agar Alena duduk di sampingnya dan menyajikan ayam yang di bawanya. Juniar berniat untuk menelepon di balkon apartemen saja tapi ia tak bisa melakukan itu sebelum ia menjitak sekeras mungkin kepala Re yang suka bertingkah seenaknya.
Tangan Juniar sudah terkepal dan langsung ia layangkan serangan itu pada puncak kepala Re. TUK! "AUH!!!" Re meringis sambil mengusap puncak kepalanya. Ia pun menatap bengis Juniar yang terkekeh sembari berlari kecil menuju balkon. Sialan.
Melupakan kekesalannya, Re mulai mencomot paha ayam dan menggigitnya dengan wajah gembira. Ia lirik Alena yang juga menikmati ayam goreng itu. Re pun bersihkan tenggorokannya. "Kemaren, lo ngeliat apaan sampe ketakutan gitu?" tanyanya, kepo.
Alena mengunyah daging ayamnya dalam gerakan lambat tampak berpikir. "Muka lo."
Ingin rasanya kuberkata kasar.
Re menatap sinis Alena. "Nggak lucu."
Alena terkekeh geli. "Beneran, Re. Gue ngeliat muka lo di hpnya Gara, makanya gue sampe nangis gitu saking takutnya," jawabnya.
Re mengunyah kasar ayam di tangannya. "Emangnya muka gue yang mana coba yang diliatin Si Gara?" sewotnya. "Gue tuh ganteng. Masa lo sampe nangis kejer gitu?!" sanggahnya tak terima.
"Ih, gue nggak nangis kejer juga kali," balas Alena ikutan sewot. "Gue cuma kaget aja. Gara ngasih liat video kabaret lo pas di SMP. Lo serem banget didandaninnya pas jadi Zombie. Terus pas asik-asik nonton rekaman Gara, muka lo yang berdarah-darah tiba-tiba muncul di kamera sambil melet-melet juga. Ya gue kaget lah," jelas Alena. "Gue hampir jantungan tahu!"
Re mendecih tak tahu mau merespon seperti apa. "Oh, terus lo ... gitu," ucapnya ambigu.
Sebelah alis Alena terangkat. "Gitu? Gitu apanya?"
Re membuang wajahnya. "Ya, gitu-gitu lah," gumamnya.
__ADS_1
Alena mengernyit heran. "Apaan, sih? Nggak jelas, deh." Ia lanjut makan ayamnya yang tadi sempat tersendat.
Re kembali mencomot ayam baru setelah ia menyimpan tulang belulangnya di atas tutup bucket. "Awas ada kecoa di punggung lo," ucapnya datar.
Alena mengangkat dua alisnya. "Apa lo bilang?" tanyanya tak jelas mendengar.
Re hembuskan napasnya pasrah dan menatap Alena tepat di mata. "A-da-ke-co-a-di-punggung-lo!"
Sepersekian detik setelah itu, "AAAHHH!" Alena langsung menjerit histeris dan refleks menenggelamkan wajahnya di tubuh Re hingga puncak kepalanya tepat berada di bawah dagu Re. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya dan ayam yang tadi ia pegang sudah jatuh ke lantai.
"Ah, tolong usirin. Nggak mau. Gue takut," isaknya. Tubuh Alena bergetar saat Re melebarkan matanya dengan dua tangan yang terangkat membiarkan Alena menyumput di tubuhnya.
Seringai jahil terukir di bibir. Satu sama.
Re tidak akan kalah dengan Gara. Emang cuma dia doang yang bisa curi kesempatan sama nih cewek cakep. Re juga bisa. Ia menaik-turunkan alisnya bangga.
Tunggu, cakep? Apa tadi Re bilang begitu? Ya, Re akan mengakuinya sekarang bahwa gadis ini adalah asisten pribadinya yang paling cantik, baik hati maupun parasnya.
Sepertinya Alena sedang menangis di tubuhnya. Re berusaha mati-matian menahan tawa dan sepertinya ia ingin memperpanjang skenario ini sebentar. "Ah, gimana, dong? Kecoanya naik ke leher lo, tuh!" pekik Re, pura-pura heboh.
Alena semakin merapatkan tubuhnya pada Re dan sekarang ia remas kaos cowok itu dengan dua tangannya. Ia berusaha menggoyang-goyangkan tubuh agar kecoa khayalan itu menyingkir dari punggungnya.
Alena takut pada semua serangga, terutama pada kecoa. Ia harap tak pernah ada kecoa di muka bumi ini. Siapa pun, musnahkan saja hewan menjijikkan itu!
Lain halnya dengan Alena yang semakin ketakutan, jantung Re malah loncat-loncat ke segala arah di dalam sana. Lagi-lagi ia teringat dengan Putri yang pernah memeluknya erat. Perasaan yang sama persis seperti saat itu kembali dirasakan oleh Re.
"Re ..." Alena semakin menangis dan sekarang bahkan sampai sesenggukan.
Re mengerjap. Sudah cukup ia menjahilinya. Ia pun pura-pura menyapu punggung Alena dengan tangan kirinya karena tangan yang satu lagi kotor, masih megang ayam.
"Tuh, udah pergi kecoanya," ucap Re.
"Boong."
"Yeh, dibilangin malah ngeyel. Udah pergi, Aspri."
__ADS_1
"Nama gue Alena," timpalnya.
"Iya ... Alena."
Alena tersenyum kecil di wajahnya yang sembab mendengar namanya disebut oleh Re. Ia angkat tangannya mengusap air matanya sekalian mengelap juga dengan kaos Re yang sudah terlanjur basah karena tangisannya. Merasa sudah tenang, Alena jauhkan tubuhnya dari tubuh Re.
Re tersenyum lebar mendapati mata Alena yang terlihat bengkak di wajah yang sudah terlihat kusut itu. Bibir gadis itu belum berhenti bergetar akan rasa takut. Sungguh menggemaskan di mata Re.
"Auh, ternyata Aspriku ini takut kecoa, toh," usil Re menjawil dagu Alena yang cemberut.
"Apaan, sih," balas lemahnya sembari mengusap kasar dagunya.
"Ingus lo meleber, tuh!" Re pun terbahak puas.
Alena mendesis kesal. Tanpa banyak berpikir, ia tarik lengan baju Re untuk ia susuti ingusnya di sana.
Re sontak menjerit, "HWA! Lo jorok! Sumpah, baju favorit gue!" ringisnya merasa jijik dengan lengan bajunya yang sudah kusut dan berlumuran ingus.
Salah sendiri, nyebelin, sih!" rutuk Alena tidak merasa bersalah.
Re menghela napas pasrah dan buru-buru melepas kaos itu dengan hati-hati agar cairan kental menjijikkan itu tidak menyentuh kulit wajahnya. Re langsung membuang kaos itu sembarang ke lantai.
"Ambilin baju gue, dong," titahnya pada Alena.
"IYA!" Gadis itu bingkas dengan kesal berjalan menuju kamar Re.
Juniar menonton semua itu dari awal hingga akhir dari balik dinding kaca pembatas balkon dan ruang apartemen. Dasar modus tingkat dewa.
Ia pun berjalan masuk dan menggeleng takjub pada Re yang sekarang shirtless. "Paling bisa ya, lo." Ucapannya membuat kepala Re menoleh menatap Juniar yang berdiri di samping kirinya.
"Gue tahu itu modus. Orang nggak ada kecoanya juga." Re hanya terkekeh hambar dan menyimpan telunjuknya di tengah bibir. Syuuut, isyaratnya.
Juniar berdecih geli. Ia senang Re bisa kembali jahil, tertawa lepas dan bisa enjoy melakukan aktivitasnya. Re jarang bertingkah seperti ini, karena ia terlanjur sibuk untuk memarahi tiap asisten pribadinya yang selalu bisa menghancurkan mood artis ini. Berbeda jika sudah bersama Alena, Re pasti selalu bisa mengendalikan perasaannya. Juniar hanya berharap, cinta Alena dapat terbalaskan.
Ponsel dalam genggamannya terasa bergetar dan saat ia lihat siapa yang menelepon, raut wajah Juniar kian menegang. "Re ... gue ada urusan sebentar. Sembari nunggu kerjaan, mendingan lo nanda-tanganin poster lo itu. Gue pamit." Juniar langsung berjalan cepat sembari mengangkat panggilan itu keluar apartemen menghiraukan Re yang sudah menganga mau menanyakan sesuatu.
__ADS_1
Ia mengernyit heran. Tidak seperti biasanya Mas Jun akan memasang wajah tegang seperti itu. Sudahlah daripada penasaran mending Re ikuti saja Juniar. Re bingkas dari sofa bersamaan dengan Alena yang baru saja mendatanginya membawa satu kaos baru untuk Re berganti baju.
"Aspri, ikut gue."