
"Iya, nanti aku pulang habis nonton penampilan Anggara," ucapnya pada seseorang lewat telepon genggamnya di telinga kiri.
"Awas aja dia gagal lagi tahun ini." Kakinya terus melangkah menuju ruang tunggu tempat di mana putranya berada setelah ia menanyakan pada panitia acara.
"Aku nggak terlalu keras sama dia, Lisa. Kamu sendiri juga, kan, pengen ngeliat anak kita jadi juara. Kamu yakin nggak bisa dateng?" Matanya terus menyisir nomor ruangan yang tertempel di depan pintu sepanjang lorong.
"Kamu mentingin arisan daripada anak kamu sendiri?" .... "Ya aku tahu bukan arisan uang tapi investasi. Tapi tetep Anggara pasti kecewa nggak ada kamu." .... "Apa? Kamu udah ngirim bunga buat dia?" Matanya berhasil menemukan nomor ruangan 15 yang sedari tadi dicarinya. "Yaudah aku tutup. Bye, love you."
Sambungan telepon pun ia putuskan bersamaan dengan tangan menurunkan gagang pintu.
Daun pintu terbuka menampilkan gadis cantik yang seketika tersenyum manis dan menganggukkan kepala sopan padanya lalu ada dua anak lelaki yang sama-sama menampilkan senyuman ramah padanya.
"Siang, Om," sapa salah satu dari dua anak itu.
Lalu pandangannya pun terhenti pada anaknya yang sedang duduk di kursi rias sedang menghirup buket bunga dengan mata terpejam yang ia yakini itu dari istrinya. Kepala Gara pun menoleh menatapnya dan ia berdiri buru-buru lalu menyimpan buket bunga itu di atas meja rias.
"A-ayah," sapanya tergagap. Ia malah terlihat ketakutan berhadapan dengan ayahnya sendiri.
Haris melangkah masuk dan tersenyum singkat pada semua teman anaknya lalu berdiri menghadap Gara. Ia elus puncak kepala putranya yang merenyuhkan hati Gara hingga tersungging senyum kecil di bibirnya. Ia selalu rindu sikap peduli ayahnya. Ia harap semua ini akan berjalan lancar sehingga Gara bisa melupakan semua kekasaran sikap ayah padanya.
"Saya berharap banyak sama kamu, Anggara." Tangannya masih mengelus rambut putranya yang berpakaian setelan jas kelabu yang telah dipesan Haris. "Jangan kecewakan saya," ujarnya tenang namun terselip ketegasan dan ancaman di dalam sana.
Haris kembalikan tangan ke sisi tubuh dan ia lirik nomor urut Gara yang tertempel di ujung kiri setelannya. "Nomer 39?" tanyanya mengernyit.
"Oh? Iya, masih ada banyak waktu buat Gara mempersiapkan diri," jawabnya.
"Tadi nomor 36 kali, ya," gumamnya merasa pernah melihat nomor itu dipakai seseorang. Ia edarkan pandangan ke seluruh ruangan yang hanya diisi dengan sofa kecil dan beberapa kursi serta satu meja rias.
"Renggana mana? Dia nggak ada?" tanyanya.
Orang yang dimaksud sedang berjongkok dan menekuk dalam lehernya di antara dua lutut agar muat di bawah meja rias yang dihalangi dengan taplak meja.
Gila, panas banget di sini, batinnya meringis. Buruan keluar, lo, Haris!
Gara menggeleng menampilkan senyum tipisnya. "Dia sibuk, cuma nitip pesan aja ke Gara."
"Oh, saya mau mengobrol dengan para pelatih yang udah kumpul di belakang panggung." Gara mengangguk.
Haris pun berbalik pergi namun tangannya dicekal oleh Gara dan saat ia berbalik satu kaleng minuman kopi sudah ada di tangannya.
"Gara, tahu, ayah suka kopi kaleng."
Haris menganggukkan kepala dan tersenyum samar kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang tunggu.
Semuanya menghembuskan napas lega.
__ADS_1
"Tegangnya melebihi nonton film thriller," seru Fikran masih merasakan ketegangan hingga bulu kuduknya berdiri runcing-runcing.
Yusuf mengangguk setuju. "Tadi gue nahan napas."
Alena hanya mengelus dadanya merasa lega bahwa Haris tidak curiga.
"Apa ... nggak bakal kenapa-napa?" cemas Gara merasa berdosa telah menuangkan obat cuci perut pada ayahnya sendiri.
Alena tersenyum getir. "Maaf, Gar. Tapi cuma ini yang bisa kita lakuin buat bantu kamu."
Mendengar situasi yang sudah kembali kondusif. Re memekik keras dari kolong meja yang sempitnya naudzubillah, "Woy! Tolongin gue!"
Fikran buru-buru menyibak taplak yang menutupi kaki meja. "Kenapa, lo?"
"Kejepiiitt."
*****
Deru kendaraan bermotor terdengar dari kejauhan. Suara itu pun menghilang menyisakan mobil yang terhenti di depan gedung apartemen.
Getaran ponsel terdengar dan tangan lelaki itu meraih benda tersebut di jok sampingnya. Keningnya mengerut mendapatkan nama yang tertera.
Kepolisian is calling...
Dihembuskannya napas panjang sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.
Juniar meneguk. "Ya, saya senggang sekarang."
*****
Pemilihan pemenang akan teracu pada jumlah skor ketiga juri yang telah ditetapkan dan dalam setiap babak pasti ada peserta yang tersingkir agar lebih mengetatkan seleksi penjurian. Babak pertama yang diikuti oleh 78 peserta dari seluruh Indonesia akan disaring menjadi 25 peserta yang boleh maju ke babak kedua dan hanya ada 15 orang yang dapat maju di babak ketiga.
Mereka hanya perlu bernyanyi sesuai kriteria yang ada. Lagu pertama adalah lagu tentang kebangkitan nasional dilanjut babak kedua mereka diminta membawakan lagu asing dan di babak terakhir akan ditetapkan satu lagu yang sama pada semua peserta dan mereka harus membawakan lagu itu seperti lagu aslinya namun tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing penyanyi itu sendiri.
"Mengapa kamu berpakaian seperti itu?" selidik salah satu juri berkepala plontos berjaket kulit tebal yang duduk di antara dua juri lainnya dalam meja panjang. Matanya terus menyipit menatap aneh pada peserta 39 yang sudah berdiri di atas panggung.
Re yang sudah siap memegang microphone, membasahi tenggorokannya. Ia memang selalu gugup jika harus menampilkan bakatnya tapi kegugupannya kali ini sungguh berlipat-lipat ganda.
Dia bukan Gara. Dia bukan peserta festival. Dia harus membuat juri percaya bahwa dia adalah Gara dan dia harus segera menyelesaikan nyanyiannya sebelum Haris datang untuk melihat penampilan anaknya.
Sungguh, tekanan batin yang nyata.
Re mengendurkan sedikit kerah sweater dari depan mulutnya. Ia berdehem beberapa kali mencari karakter suara yang ingin ia keluarkan. Re siap bersuara seperti Gara.
"A-apa benar ini masalah besar jika saya bernyanyi seperti ini?" tanya Re berusaha menurunkan tinggi pitch suaranya karena memang suara Re lebih nyaring daripada milik Gara.
__ADS_1
Rambut panjangnya ia singkap dalam satu ikatan ke belakang lalu ia bertopang dagu menatap malas orang yang duduk di sisi kirinya.
"Ada masalah apa, sih, Bar? Dia anak komposer terkenal dan selalu lolos festival seni ini sampai ke babak nasional. Menurut aku, nggak ada masalah apa-apa, tuh." Wanita berambut pirang itu mengedipkan sebelah matanya pada Re.
Walaupun terlihat gelap dari kacamata hitamnya yang sudah seperti tukang pijit kalau kata Fikran, Re masih dapat jelas melihat pergerakan itu yang menjadikannya salah tingkah. Janda muda.
Pria gundul plontos itu mengerang kecil. "Tapi Olin, ini bukan festival main-main. Semuanya pasti berpenampilan rapi dan ada penilaian khusus tentang ekspresi." Telapaknya pun menunjuk Re di atas panggung. "Coba lihat! Mengapa dia malah pakai kacamata hitam?"
Arisa yang duduk di kursi paling ujung hanya mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangan. Ia sama sekali tak peduli dengan perdebatan dua juri lainnya.
Olin jadi bertanya pula dalam hati dan langsung ia tarik microphone di atas mejanya untuk bertanya pada Gara (menurut pikirannya). "Anggara? Kenapa kamu pakai kacamata hitam? Biasanya kamu selalu menampilkan mata kamu yang menawan itu," tanya si penyanyi beroktaf empat ini yang sering menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang bergengsi Internasional.
Mata Re melebar sempurna. Untungnya ia memakai kacamata hitam yang besarnya tiga kali lipat di matanya, jadi semua pendukung maupun juri yang hadir tidak akan heran melihatnya. Ia coba cari sinyal bantuan pada semua temannya yang berkumpul di sisi tengah aula salah satu Universitas Seni ini di mana Festival diselenggarakan.
Alena terlihat cemas dengan dua tangan terpaut di depan dadanya. Ia terus merapalkan doa dengan bibirnya yang komat-kamit. Fikran terlihat terus menggertakkan gigi di saat Yusuf hanya memasang wajah datarnya, cemas.
Ini akan gagal bila Re berlama lagi berdiam diri. Semua mata akan mencurigai Re telah melakukan sesuatu yang buruk jika Re tidak segera menjawabnya. "Ga-gara ..."
Tapi sial! Ia tak dapat berpikir apapun. Apa Re harus bilang matanya bintitan? Nanti kalau Gara malah dikira suka ngintipin cewek gimana? Re tak mau menjatuhkan harkat martabat sahabatnya sendiri.
Merasa jemu karena menunggu jawaban dari anak itu yang tak kunjung terdengar, Arisa menarik microphone kecilnya yang terpasang di atas meja. "Anggara, kamu bisa mulai sekarang," ucapnya tegas. Ia lirik dua juri lain yang menatapnya heran, namun hanya kedikkan bahu yang dilemparkan oleh komposer musik dan guru vokal ternama ini.
Re menghembuskan napas lega. Untung ada Arisa, si juri yang tak pernah bertele-tele, ia terselamatkan. "Baik, saya Anggara Putera nomor urut 39 akan mulai bernyanyi."
*****
Baru saja keluar dari kamar mandi, tapi ia langsung merasa perutnya digilas hingga ia dipaksa harus mengeluarkan isinya lagi. Tangannya terus mencengkeram erat perut saat baru dua langkah ia keluar dari bilik kamar mandi. Ini tidak bisa ditahan, ia harus segera kembali ke closet.
Tudung kepala jaketnya ia tarik hingga menutupi setengah wajah hingga hanya nampak bibirnya saja yang terus menghembuskan napas berat. Ia bersandar pada dinding kamar mandi tempat di mana ayahnya tak kunjung keluar dari sana.
Sebenci apapun ia pada sikap keras ayahnya, ia masih merasa sakit melihat ayahnya tersiksa karena ulahnya seperti ini.
Ia ingin membantu. Ia ingin menghentikan pengaruh obat itu. Dikeluarkannya tabung kecil dari saku jaket hitam yang ia kenakan. Ia mainkan tabung kecil itu dalam dua jemarinya. Obat penawar.
Ia hembuskan napasnya panjang. Tidak. Belum saatnya. Ia masukkan lagi tabung itu seraya berjalan menuju aula di mana dirinya yang palsu sedang menampilkan bakatnya.
Tak ada yang mencurigai Gara maupun Re sedikit pun. Mungkin, memang benar karena mereka memiliki postur tubuh yang sama persis dan juga karena mereka selalu terlihat akrab berdua di mana pun hingga tak ada yang curiga.
Banyak dua orang teman yang selalu dianggap saudara oleh banyak orang karena mereka selalu menempel kemana-mana dan mungkin, Gara dan Re sedang dianggap seperti itu hari ini.
Ia tepuk sekilas pundak seorang gadis yang memasang wajah kagumnya pada sosok yang bernyanyi. Gadis itu menoleh dan tersenyum manis padanya. "Hai, Gar," bisik gadis itu. "Re bener-bener kayak kamu, ya?" tanyanya masih berbisik.
Gara mengangguk dan berdiri di samping gadis itu. Ia dengarkan seksama suara Re yang ia usahakan dengan keras agar terkesan mirip dengan suara Gara. Nampaknya, hasil selama dua minggu selalu latihan terus menerus itu membuahkan hasil. Gara ikut terpana mendengar tiruan suaranya sendiri. Hanya Gara yang tahu di mana letak perbedaannya. Tidak pada orang lain.
Tepukan meriah bergemuruh mengiringi Re yang baru saja selesai menampilkan bakatnya. Ia tersenyum tipis saat melihat berbagai reaksi dari para juri. Si botak plontos alias musikus ternama bernama Kibar Maurer itu manggut-manggut sembari menuliskan catatan kecil dan poin angka di selembaran penilaian. Ia masih merasa belum puas karena pakaian yang dipakai peserta kali ini. Sedangkan Olin tersenyum lebar saat menuliskan poin bertepatan dengan Arisa yang memasang wajah boleh juga saat ia menilai. Re pun turun dari panggung dengan senyuman lega.
__ADS_1
Babak pertama berhasil.
Yang disusul dengan keberhasilan babak kedua.