Because You Were There

Because You Were There
Epilog


__ADS_3

Tangan kekar itu melingkari belakang lehernya yang tengah bersandar di sofa empuk warna kelabu. Kepalanya pun ia rapatkan pada tubuh seseorang yang dicintainya sepenuh hati hingga dagu lelaki itu tepat berada di puncak kepalanya. Dua pasang kaki mereka dibiarkan menjulur bertopang pada meja kayu. Tangan wanita itu masih sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar kertas di Note kecil yang pernah ia berikan sebagai tantangan mereka selama empat tahun tanpa bertemu.


“Udah sampe berapa ngitungnya?” tanya lelaki itu sembari mengelus puncak kepala wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Sesekali ia kecup puncak kepala itu yang menguarkan aroma sampo yang disukainya.


“Tiga ribu empat ratus empat puluh delapan ..., tiga ribu empat ratus empat puluh sembilan ..., tiga ribu empat ratus empat puluh ...” Matanya melebar sempurna.


“Lho? Tadi aku ngitung sampe berapa?” Keningnya mengerut dalam. Mengapa ia harus lupa di saat sudah sejauh ini? Ini sudah yang ketiga-kalinya ia menghitung dari awal namun selalu lupa di tengah jalan.


Re terkekeh geli melihat istrinya terlihat frustrasi seperti itu. “Makanya ditandain.”


Tangan kanannya yang bebas melingkari tulisan Al dengan pulpen.


“Tadi kamu udah ngitung sampe situ, sekarang yang ke-tiga ribu empat ratus lima puluh,” cetusnya.


Alena mendongakkan kepala dalam rangkulan suaminya itu. Re terpaksa menjauhkan sedikit kepala untuk melihat wajah istrinya.


“Aku capek ngitungnya,” keluh Alena, “tulisan kamu acak-acakkan banget, sih, ada yang besar ada yang kecil, banyak juga yang nyempil-nyempil, aku kan jadi pus—“


Ucapannya terhenti karena bibir Re mengunci bibirnya sekian detik dengan kepala yang memiring dan matanya yang terpejam. Re pun tersenyum jahil setelahnya di saat jantung Alena kejang-kejang dan desiran halus langsung terasa di hatinya.


“Berisik,” rutuk Re yang membuat Alena yang sudah terbakar itu tersadar.


Perempuan itu pun mengerjap dan senyum malu-malu kontan tersungging di bibirnya bikin Re cium singkat bibir itu sekali lagi. Hah, Alena pengen nyebur aja ke laut.

__ADS_1


“Kamu sendiri yang bikin permainannya, tapi kamu juga yang ngeluh. Aku dah beres ngitung tulisan kamu, jumlahnya ada ratusan ribuanlah, aku lupa, nanti aku lihat lagi di catetan. Cepet. Itung. Lagi!” titahnya tegas.


Alena menghembuskan napas pasrah dan kembali menyadarkan kepalanya di tubuh Re. Ia melanjutkan lagi menghitung tulisan Al di buku catatan kerinduan milik Re. “Tiga ribu empat ratus lima puluh satu ... Tiga ribu empat ratus lima puluh dua ... Tiga ribu—“


“Mama ama Papa lagi belajal ngitung?” tanya gadis kecil berbinar mata coklat madu yang sudah hadir di samping sofa sembari menenteng Bow biola.


Re dan Alena terkekeh bersamaan. Re pun menekuk jemarinya mengajak anaknya untuk datang menghampiri.


“Sini-sini, istirahat dulu main biolanya.”


Realova pun menurut dan ikut menaiki sofa hingga terduduk di antara ibu dan ayahnya.


“Mama lagi ngapain? Itu buku apa?” Tunjuk bocah berusia lima tahun yang sudah pandai berbicara. Sepertinya kepintaran menurun dari Alena dan bakat bermain musiknya menurun dari Re.


Realova pun manggut-manggut. Ngomong apaan, sih?


Re terkekeh karena sadar bahwa Realova tidak mengerti dengan apa yang diucapkan ibunya. Ia pun unyel-unyel gemas pipi tembem putrinya yang cuek-cuek saja digituin.


Tangannya pun berlalu untuk mengelus puncak kepala Realova. “Kamu salah, Sayang.”


Alena sedikit mendongakkan kepalanya. “Salah apa?”


“Bukan buku itu bukti cinta kita. Tapi kelahiran dia di dunia yang membuat kisah cinta kita menjadi nyata adanya.”

__ADS_1


Re balas tatap kemilau kelabu gadis yang dulu hanya sebatas teman semasa kecilnya, lalu menjadi asisten pribadinya yang ternyata ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya.


“Kisah cinta dari dua hati yang melebur jadi satu telah berubah menjadi sebuah kenyataan bukan hanya angan-angan. Gabungan nama kita telah menjadi bukti bahwa kisah cinta Re dan Al benar-benar menjadi kisah yang Realova—cinta yang nyata.”


Re dan Alena pun berbagi senyum yang sama kemudian memandangi Realova-nya yang tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di perut Re dengan tubuhnya yang meringkuk.


“Good Night, Realova. You're the next notation in my life.”


****


**Makasih yaa yang telah mengikuti cerita Because You Were There dari awal hingga akhir!


Kisah ini pernah memenangkan lomba penerbit mayor dalam kategori Romance Remaja Terbaik tahun 2017 tapi sayangnya gagal terbit karena ada satu hal yang kurang memuaskan dari pihak penerbit yang buat aku narik naskah ini pada tahun 2019. Bisa dilihat kan selang waktunya lama banget? Hehe. Ambil kesimpulannya sendiri ya!


Oleh karena itu, humor yang muncul itu kayak udah ketinggalan jaman haha ya karena cerita ini selesai di tahun 2017.


Sekali lagi terima kasih, jangan lupa love sebagai aspirasinya dan berikan ulasan juga ya!


Love,


Onlyana.


Keep in touch! Find me on instagram @fitriananl dan wattpad @onlyana**_

__ADS_1


__ADS_2