
Hari berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah hampir tiga bulan Alena menjadi asisten pribadi artis terkenal tahun ini. Alena sudah merasa sangat dekat dengan Re dan sesekali pikiran bahwa Alena harus segera mengingatkan Re akan siapa dirinya sebenarnya selalu hinggap dalam pikirannya. Namun, rasanya tak pernah ada waktu yang pas untuk mengatakan itu.
Alena pernah mencoba hendak membuka mulutnya pada Re selepas cowok itu manggung. Tapi, Re begitu kelelahan hingga Alena tak tega mengganggu artis itu. Ada juga waktu saat Re sedang beristirahat di apartemen, tapi cowok itu malah sibuk bermain Angry Gran Run. Alena kan takut kalau Re sudah heboh sendiri pada permainannya nanti Alena juga yang kena semprot karena mengganggu jadwal istirahat Re.
Hingga pada hari ini, Alena masih belum berani mengungkapkan jati dirinya bahwa ia adalah teman semasa kecil Re. Padahal Alena sudah mengizinkan waktu, biar ia saja yang menyadarkan Re untuk mengingatkan siapa Alena sebenarnya. Tapi ternyata waktu tak berpihak pada Alena. Gadis berambut cokelat lurus itu menghela napas panjang.
Di dalam kamar Re, Alena dititah untuk mencari foto masa kecil cowok itu. Katanya, pihak stasiun TV yang memintanya untuk dijadikan bahan perbincangan entah apa itu. Re hanya menurut apalagi Juniar yang telah mengatakan pada Re bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Alhasil, Alena diizinkan mengobrak-abrik kamar ini karena Re lupa menyimpan foto itu di mana.
Ada dua nakas yang ada di samping kasur dan Alena memilih nakas pertama untuk ia obrak-abrik yang dekat dengan pintu kamar. Alena lepaskan satu persatu laci dari tubuhnya agar lebih mudah untuk ia mencari. Sejauh ini ia tidak menemukan apapun. Ia tarik satu lagi laci paling atas dari nakas dan ia simpan itu di atas lantai.
Buku Diary dengan sampul kecokelatan itu terlihat di matanya.
Alena termenung sesaat. Ia tak boleh membukanya apalagi Re sangat membenci orang yang seenaknya mengambil barang miliknya. Tapi rasa penasaran ini terlanjur mendorong tubuh Alena untuk membungkuk dan memaksa tangan Alena untuk meraihnya hingga Buku diary itu sudah ada dalam dekapannya.
Bau buku lama menyelinap masuk ke indra penciuman. Alena tatap hadiah ulang tahun Re ini yang diberikan olehnya. Buku ini masih sangat baik terawat dan jika Re masih tidak bisa memikirkan password yang lain selain yang diberikan Alena, pinnya pasti masih 412 alias AR untuk Arsy Renggana.
Alena putar masing-masing pin dalam gembok dan sukses, gembok terbuka. Ia harus bertindak cepat sebelum Re kembali dari jogging sorenya. Saat ia buka, selembar kertas melayang jatuh perlahan menyentuh jemari kakinya. Alena ambil dan ternyata ini surat yang ia berikan sepuluh tahun yang lalu untuk Re yang ia simpan di kotak pos depan rumah sebelum kepindahannya ke Jakarta.
Renggana ... aku harus pindah rumah ke Jakarta nggak tahu sampai kapan.
Jangan lupa sama aku ya, aku nggak bakal lupain kamu, Ikan Lele.
Alena tersenyum getir mengetahui Re ternyata sudah membaca pesan ini. Ia pun beralih untuk segera membuka halaman demi halaman kertas buku diary yang sudah penuh dengan berbagai tulisan semenjak sepuluh tahun yang lalu.
Putri main yuk. Aku punya mainan baru.
Cepetan pulang ke sini. Kamu nggak mau main, ya, sama aku.
Alena terkekeh kecil namun matanya malah kian berkaca melihat tulisan Re jaman dulu yang sangat dipaksakan untuk rapi dengan tekanan keras yang ia berikan pada pena yang ia gunakan.
Tiap hari, tiap bulan, bahkan sampai tahun demi tahun berlalu, Re selalu menuliskan perasaannya yang ingin ia sampaikan pada Putri melalui buku diary ini. Mata Alena makin berkaca melihat tiap pesan yang tertulis di sana, untuknya.
Pembohong. Kamu udah lupa sama aku, kan, Mput?
__ADS_1
Aq k4n9en c4m4 qmue. K3man4 cieh qmue?
Nggak jadi kiamat, ya? Padahal aku udah solat bener-bener eh pas bangun tidur matahari masih terbit dari timur, tuh.
Tiap tulisan yang terukir dari tangan Re begitu tulus dari dasar hatinya seakan Putri hidup di dalam buku diary ini. Ia tidak berhenti menulis walaupun ia tahu Putri tidak akan bisa membaca semua pesannya. Kerinduan yang amat jelas tersirat telah terbukti di tiap goresan pena dalam buku ini.
Alena menitikkan air matanya. Ia tidak pernah merindu sendirian.
Mput! Cepet balik ke Bandung!!! Gue sekarat, nih, lo nggak mau jengukin gue?!
Putri ... Ibun baru pulang dari pasar.
Ibun lagi mandi.
Kenapa aku merasa bahwa Aspri adalah kamu? Dia bukan kamu, kan?
__ADS_1
"ASPRI!" Alena sontak terperanjat. Re sudah berdiri di hadapannya dengan handuk kecil warna pink yang terlingkar di leher. Ia usap peluhnya dengan ujung kain handuk sembari melotot tajam pada Alena. Saat lelaki itu menurunkan pandangannya, kilatan amarah itu semakin jelas tergambar. Ia rampas kasar benda yang ada di tangan Alena.
"Ngapain lo buka-buka buku punya gue?!" Re angkat buku itu ke samping kepalanya dan ia buka tiap lembaran semakin mendidihkan darahnya. "Dan kenapa lo bisa buka gemboknya?!" sentaknya.
"Re-"
"Ah, gue tahu lo pasti ngereset dari awal password-nya, kan, jadi bisa kebuka!" terkanya tanpa mau mendengarkan alasan dari gadis yang sudah berkeringat dingin akan rasa takutnya.
"Re, bukan gitu," bela Alena dengan bibir yang bergetar. Alena paling benci raut wajah penuh kekesalan ini. Alena tak ingin merekam ini dalam pikirannya.
"Ya, terus?! Kenapa lo bisa buka gemboknya?! Cuma gue dan dia doang yang tahu pinnya berapa!"
Alena terpaku memandang Re. Ia sangat mengerti siapa yang dimaksud dengan dia oleh Re. Alena pun mengangguk kecil. Ini adalah saat yang tepat untuk membongkar siapa sebenarnya Alena.
"Ya, karena itu, Re. Aku bisa buka gemboknya," ujarnya tenang.
"Apa?" Re mengerutkan kening tidak mengerti.
Alena raup udara sebanyak-banyaknya hingga dadanya mengembang naik. "Karena aku Putri!" sentaknya membuang rasa kekesalan Re tak kunjung kenal pada dirinya selama tiga bulan ini. Sedangkan orang yang diajak bicara hanya bisa mematung dengan tatapan tak percaya.
"Aku udah nggak tahan lagi ngebiarin waktu yang bakal ngingetin kamu sama aku. Aku coba bertahan buat nahan diri biar lambat laun kamu bakal penasaran sama aku. Tapi ternyata kamu sama sekali nggak peduli."
Air matanya menetes. Alena genggam pergelangan Re yang masih menatap Alena tak percaya. "Aku Putri, Re," lirihmya. "Putri yang kamu kenal sepuluh tahun yang lalu."
Re merasa langit baru saja runtuh menimpa dirinya. Binar kelabu itu berusaha meyakinkan Re bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Tapi Re tidak percaya. Ia hempaskan lengannya hingga tangan gadis itu terpelanting ke udara.
"Pembohong! Jangan berani ngaku-ngaku jadi Putri!" tukasnya kesal.
Alena terperangah. "Aku emang Putri, Re. Alena Putri Wicaksono." Gadis itu tak mengerti mengapa Re malah tidak mempercayai dirinya yang sudah berkata sejujur-jujurnya.
Re mengerang kesal. "Berhenti ngebohongin gue! Lo pasti ngada-ngada aja setelah lo lihat catetan punya gue, ya, kan?!" balasnya dengan napas yang tersengal.
"Kenapa, sih, kamu nggak percaya banget kalau aku itu Putri?! Aku tahu nama asli kamu Arsy Renggana, Re. 18 Agustus tanggal lahir kamu. Dan buku diary itu aku yang kasih ke kamu sebagai kado ultah kamu," ujarnya.
Re mengeraskan rahangnya menatap kesal orang asing yang ada di hadapannya ini. "Bohong, bohong, dan bohong! Ini semua cuma kebetulan. Lo pasti tanya semua itu ke Gara! Gue tahu!"
Alena menghela napasnya yang terasa sesak. "Re! Kenapa kamu selalu nyangkal perasaan kamu sendiri saat kamu tahu ada siapa di depan mata kamu! Kamu pikir Gara tahu siapa aku karena apa? Karena kita sahabatan waktu dulu, Re!" tekannya kesal.
Re tahu bahwa ia merasa banyak kejanggalan dan kemiripan sifat antara Putri dan Alena setelah mereka bekerja bersama. Terutama perasaan berdebar saat Alena memeluknya tempo hari hingga ia merasakan hatinya tersayat dan terasa nyeri sesaat. Hanya Putri yang bisa menumbuhkan sensasi aneh itu dan mengapa Alena juga bisa melakukannya?!
Ya, mereka memang mirip apalagi dengan binar mata kelabunya yang sama persis. Tapi tetap itu tidak menjelaskan apapun bahwa Alena adalah Putri.
"Gue nggak percaya!" Mata Re semakin berkaca entah karena kesal atau rasa sedih yang saat ini mendominasi hatinya. "Jangan pernah nemuin gue lagi! Lo bukan Putri dan lo nggak bakal pernah bisa jadi Putri!" sentaknya.
"RE--"
"PUTRI UDAH MATI!" Setetes air mata mengalir dari sudut mata Re.
__ADS_1