
Ia basuh wajahnya dan kembali ia tatap pantulan dirinya di cermin tapi tidak juga menghilangkan mata sembabnya akibat menangis. Alena menatap pasrah bayangan dirinya yang begitu kacau. Rambut singa serta mata panda lengkap sudah terpasang di diri Alena. Ia pun keluar dari dalam kamar mandi apartemen. Alena sudah lelah untuk merapikan dirinya yang tidak rapi-rapi.
Ia ditinggal sendirian. Re malah kabur duluan untuk tampil di acara menyeret Juniar bersamanya agar Alena tidak usah ikut dan dipaksa untuk tinggal sendirian di apartemen. Alena yang bersikeras agar ia mau bekerja saja langsung diancam akan dipecat oleh Re. Alena hanya bisa mengangguk dengan malas.
Ia berjalan menuju dapur hendak mengambil minuman. Tangannya sudah terangkat tapi matanya menangkap duluan selembar kertas yang tertempel di pintu kulkas.
Happy Birthday, Aspri!!! Haha, lo lebih tua dari gue :P
Gue baru tahu lo ulang tahun. Kok nggak ngasih tahu, sih?!
Alena langsung terkekeh sejak membaca pesan yang pertama. Dasar menyebalkan, dua bulan lagi juga Re menyusul berumur 18 tahun tapi malah Alena yang dicap tua duluan. Di mana-mana, cowok itu pasti dianggap lebih tua mau lahir di bulan apapun.
Ada kue tuh di kulkas kayaknya dari Si Gara. Gue kenal banget kue bikinan dia.
Tadi gue nemu di depan pintu. Temuin Gara, gue takut dia kenapa-napa
Ia terperangah. Sama sekali tidak teringat olehnya bahwa hari ini ia berulang tahun. Ternyata Gara punya ingatan yang sangat baik padahal sudah satu dekade berlalu. Tapi jika lelaki itu datang kemari, mengapa ia tidak masuk ke dalam saja?
Alena mengernyit dan segera membuka kulkas untuk mengambil sekotak kue Red Velvet yang krimnya sudah berlepotan ke sisi dusnya. Sangat jelas terlihat bahwa kue ini telah terjatuh dari tangan tuannya. Pantas saja, Re jadi khawatir pada Gara setelah melihat kondisi kuenya tidak sempurna lagi di depan pintu.
Alena simpan kue itu di meja makan dan ia comot sedikit kue yang kata Re ini bikinan Gara. Alena baru tahu Gara bisa bikin kue. Alena pun melumat kue merah menyala itu dan matanya langsung berbinar karena kue ini sungguh lembut di lidah dan krim kejunya pun sangat lezat terasa. Gara memang benar-benar berbakat. Alena comot lagi sedikit sebelum ia berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia harus menemui Gara sekarang juga.
Ia tarik selembar tisu di atas nakas samping kasur kamarnya untuk membersihkan tangan. Sebelum ia membuka lemari, pandangannya terjatuh pada kotak kecil yang tersimpan di atas kasurnya. Ia duduk di tepi kasur untuk mengambil dus ponsel baru itu. Ponsel milik siapa ini? Matanya terbelalak melihat mereknya. Harga ponsel ini, kan, masih di atas tujuh jutaan di luaran sana.
Alena pun segera buka surat yang tersimpan di atasnya.
Ini kado dari gue!!! Seneng, nggak? Seneng, dong!
Perut Alena langsung tergelitik membaca kalimat pertama pesan itu. Kado? Alena segera buka dus ponsel itu dan ternyata ada dua ponsel di dalamnya. Yang pertama ponsel bermerek yang masih dalam keadaan mulus dan satu lagi ponsel miliknya yang pernah disita oleh Re. Alena tersenyum kecil lalu membaca paragraf keduanya.
Sebenernya bukan kado, sih, karena emang gue niat aja mau ngebeliin lo hp.
Layar hp lo udah retak tahu, nggak?! Dan sedihnya, tambah retak setelah gue bawa-bawa.
Lo nggak marah, kan? Biasanya cewek suka ngamuk kalau barangnya rusak atau ilang yang padahal barangnya itu banyak dijual di pasaran. Kata gue, sih, ya, tinggal beli aja lagi apa susahnya, sih?
Tapi mereka suka bilang, 'Bukan barangnya yang penting tapi memorinya!'
Dan gue nggak ngerti apaan maksudnya.
Tapi sumpah, gue nggak niat ngerusak hp lo. Suerrr tekewerrr kewerrr.
__ADS_1
Jangan ngambek, ya.
Alena langsung menjerit kegirangan dan memeluk gulingnya erat-erat. Senyuman lebar akan rasa bahagia Re bisa peduli sejauh ini padanya tidak dapat ditutupi oleh apapun lagi.
Baru saja Re berhasil menumbangkan Alena hingga ia terpaksa menangis padahal Alena sudah berusaha keras meredamnya. Tapi sekarang, Re sudah bisa kembali membuat Alena senyam-senyum nggak jelas kayak gini.
Tiap kata yang terlontar dari bibirnya memang selalu bisa membolak-balikkan hati Alena. Gadis itu bisa merasakan bunga sakura bermekaran dalam hatinya. Re selalu bisa membuat Alena jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi yang kadang membuat Alena jadi takut terjatuh terlalu dalam hingga takkan ada jalan lagi untuk kembali.
Apa Re punya perasaan yang sama seperti miliknya? Alena belum siap untuk mendengar jawaban tidak dari bibir itu.
*****
"Gar, makasih, ya, kuenya," ucap Alena yang sudah berdandan manis di hadapan Gara di sebuah cafe dekat apartemen Re.
Gara menganggukkan kepala dan balas tersenyum tipis. Mereka bertemu karena Alena yang mengirim pesan pada Gara. Gara sebenarnya masih belum sanggup untuk menatap Alena. Sekelebat ingatan yang menyesakkan itu terus muncul dalam pikirannya seraya ia berkendara menuju cafe ini yang tak terlalu jauh dari komplek perumahannya.
Namun setelah ia melihat senyuman gadis itu, luntur sudah rasa sesak Gara yang tergantikan dengan kelegaan di hati. Alena bisa tersenyum lebar padahal ia baru saja dirundung banyak masalah. Dia memang gadis yang hebat.
Alena membawa kue yang diberikan Gara yang sudah ia potong-potong agar muat di dalam misting. Alena sajikan itu di tengah-tengah mereka. "O iya, kenapa kamu langsung ninggalin gitu aja kuenya di depan pintu?" tanyanya.
"Nggak sengaja aku liat kamu pelukan sama Re. Aku syok, makanya aku pergi."
Ya, untungnya itu hanya ada dalam khayalan Gara semata. Gara masih punya malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tatapan horor pasti langsung Alena berikan pada Gara jika ia benar mengatakan itu.
Kok, balik nanya?
Salah, Gar! Gara langsung berdehem dan kembali menatap Alena. "Ayah aku nelpon tiba-tiba makanya langsung aku tinggalin," jawabnya dalam satu helaan napas.
Alena menggembungkan pipi menahan tawa. Ekspresi Gara kosong tapi ia terlihat ketakutan akan suatu hal yang tidak Alena ketahui. Ia pun membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut lalu ia cicipi kue di dalam misting.
"Aku suka banget cake-nya. Kamu jago banget, sih, bikinnya."
Nah lho, Gara pun menaikkan satu alisnya. "Darimana kamu tahu aku yang bikin?" tanyanya.
Alena terkekeh kecil. "Dari Re. Katanya dia kenal banget kue bikinan kamu itu kayak gimana. Kok bisa sampe segitunya, ya?" Alena terus menyendoki mulutnya dengan irisan Red Velvet.
Gara hanya manggut-manggut. Pantas saja Alena bisa tahu padahal Gara tak ada niat untuk memberitahukannya. Ah, Gara ingin menyumpal mulut Re dengan kaos kaki miliknya sekarang juga. Dasar Cowok Comel! Gara berasa jadi cowok feminim sekarang. Ia malu.
"Re selalu maksa dibikinin kue pas dia lagi ulang tahun. Padahal awalnya cuma iseng. Waktu SMP, aku nggak punya uang buat ngado ke dia dan kebetulan ada bahan kue di rumah. Cuma berdasar resep dari google dan ternyata dia suka kuenya sampe minta nambah."
Alena menyimak cerita Gara tanpa mengalihkan pandangan dari manik matanya. Gara suka cara gadis itu menaruh perhatian penuh padanya.
__ADS_1
"Dan karena tiap tahun Re pasti minta kuenya beda-beda, kayaknya bakat ini keasah sendiri, deh." Alena manggut-manggut sambil menggayem yang membuat Gara terkekeh.
"Lahap bener makannya," cibirnya.
Alena sontak melebarkan mata dan tersenyum malu. "Ya lagian enak banget, sih, aku kan, jadi nggak bosen-bosen makannya. Gara mau?" Alena mengangkat sendoknya pada Gara.
Gara mengernyit dan menggeleng pelan membuat Alena semakin mendekatkan sendok itu ke depan bibirnya. Gara pun membuka mulutnya dan sendok malah berputar ke depan mulut Alena yang menganga jahil.
Mata Gara melebar tak percaya. Ah, jangan lagi. Tidak Naba tidak Alena dua-duanya sama saja. Gara selalu dijahili seperti ini. Bodohnya, dia selalu saja kena serangan yang sama. Gara pun menutup mulutnya dan menggeram kesal.
"Alena ..." panggilnya penuh peringatan.
Alena langsung menyemburkan tawanya melihat semburat kerutan jengkel di kening Gara. Wajah kalem itu selalu terlihat makin imut bila sudah menahan amarah. Alena pun kembali layangkan sendok itu pada Gara. "Maaf, Gar. Habisnya kamu lucu kalau lagi ngambek. Nih, beneran."
Gara pun memakan irisan kue suapan dari Alena dan melumatnya secara tidak ikhlas dengan kunyahannya yang cepat. Tawa Alena kembali menyembur karenanya. Ternyata Gara masih ngambek.
Alena yang sedang tertawa itu lucu. Tangan kanannya menyumpal mulutnya sendiri yang sibuk tertawa. Bahunya bergetar naik turun dan matanya menyipit hingga hanya terlihat segaris.
Gara memaku pandangannya pada gadis itu lamat-lamat yang tanpa sadar, telah membawa kaki Gara untuk melangkah keluar dari lingkaran yang telah terbentuk antara dirinya, Alena, Re, dan Raquel. Lingkaran persahabatan.
Alena mengatur napasnya setelah ia tertawa terlalu puas. Ia angkat kepalanya menatap Gara. Cowok itu terpaku pada satu titik dan saat Alena perhatikan binar mata cokelat gelap itu. Pantulan bayangan dirinyalah yang hadir dalam kedua bola mata Gara. Alena berdehem canggung dan mulai melambai cepat pada Gara.
"Gar? Gara!" panggilnya membuat Gara tersentak dengan matanya yang melebar dan secepat mungkin ia alihkan pandangannya. "Kamu kenapa?" heran Alena.
Gara menggeleng canggung dan menyesap minuman yang sudah ada di atas meja sampai habis setengah gelas.
"Gar ..." Secepat kilat Gara balik tatap Alena yang menunjuk kecil minuman yang dipegang Gara. "Itu minuman aku."
Gara langsung tersedak dan terbatuk-batuk hingga Alena terkejut. Ia tolehkan kepala dan ternyata minuman Gara ada di sisi lain meja. Ah, sudahlah. Gara kacau hari ini. Ia pun langsung berdiri dari duduknya. Gara tak mau harus menanggung malu lebih banyak dari ini.
"Gar? Kamu mau kemana?" Gara yang sudah pasrah menghembuskan napas berat saat menatap wajah Alena yang bertanya-tanya.
"Aku pulang," gumamnya dramatis dilanjut berlalu begitu saja keluar dari cafe.
Alena terbelalak dan ikut berdiri dari kursinya menatap punggung Gara yang sekarang menggaruk pelan lehernya dari balik pintu kaca cafe.
Alena terkekeh kecil dan kembali duduk di kursi. "Gara-gara, lucu banget, sih," gumamnya kembali tertawa dan melanjut melumat kue merah itu.
Alena sibuk menampilkan senyum manisnya di saat Gara yang sedang berjalan di trotoar itu melayangkan tinjunya ke udara bersamaan dengan bahunya terlihat bergetar akibat tawanya. Ia pasti sedang nyengir lebar di ujung jalan sana.
Apa yang dilihat oleh matanya dari balik kaca gelap mobil yang terparkir tepat di depan cafe sejak awal kehadiran Gara, sudah sangat jelas menjawab pertanyaan yang menghujam benaknya beberapa hari terakhir ini.
__ADS_1
Ternyata ... benar Gara saling suka sama Alena.
Ia hembuskan napas panjang dan menitah Mang Yus untuk masuk ke parkiran apartemen.