Beda Usia

Beda Usia
Kedewasaan Aryan


__ADS_3

Lama merenungi kata-kata yang tadi si Lutfi yang ternyata dia cocok jadi konsultan cinta padahal dia sendiri jomblo udah lama. Bener gue harus bilang ini ke Aryan dan segera memberi kepastian ke Zafran. Gue gak mau hidup gue dipenuhi rasa bersalah karna sembunyi terus sama kenyataan.


Aryan pun datang dengan senyuman manisnya. Wajah maskulinnya kian nampak, ini anak udah makin dewasa juga fisiknya. Cepet banget deh tumbuh kembangnya.


"Hai sayang...dah lama?" sapanya sambil langsung megang tangan gue dengan lembut.


Gue cuman menggeleng pelan sambil senyum. Dia melihat ada hal yang mengganggu di wajah gue.


"Kenapa sayang? ada masalah? dari tadi kok mukanya gak semangat gitu..?" tanyanya kepo.


Berani Liana, ayo katakan yang jujur ke Aryan!


"Yan..kita kan dah sepakat akan saling terbuka satu sama lain kan? gue mau bilang hal penting, karena gue takut lo marah..!" kata gue membuka pembicaraan.


"Iya sayang, ngomong aja..gue dengerin apapun yang mau lo sampaikan..!" katanya sambil ngelus pipi gue.


"Yan..dua minggu yang lalu Zafran datang ke kosan, dia datang pas kita lagi keluar, gue gak pernah chat sama dia, tapi tau-tau dia datang ke kos..!" cerita gue.


"Lalu..?" tanyannya.


"Yang nemuin dia si Salma sama Lora..kata mereka, Zafran nitipin sebuah kotak dan sekumtum bunga..!"


"Lalu?" tanya dia makin penasaran.


"Setelah itu gue sama mereka buka isi kotak itu sama-sama, isinya coklat dan sebuah surat, coklatnya juga yang makan mereka, gue gak makan satu pun..dan suratnya kita juga baca sama-sama di ruang TV.."


"Suratnya isinya apa?"


"Zafran bilang kalau dia udah punya rasa sama gue sejak SMA, dan rasa dia ke gue masih sama sampai sekarang, dia nembak gue Yan..!" gue mengakhiri cerita gue. Gue pandang lelaki yang menjelang dewasa di depan mata gue. Dia tersenyum walau bukan senyuman manis. Dia menghela nafas dalam.


"Seperti yang udah gue duga, Pak Zafran pasti punya rasa ke lo..!" katanya sambil menatap mata gue.


"Gue gak ada rasa sama dia Yan, gue sayangnya cuman sama lo, gue cintanya cuman sama lo..!" kata gue sambil megang tangan dia.


Dia sempat mengepalkan tangannya kuat, setelahnya agak dia lemaskan. Nampak ada sedikit ketidaksukaan di wajahnya.


"Sayang...gue cuman berusaha jujur sama lo, gue gak mau nutupin ini..!" kata gue pelan.


"Makasih, gue lega banget, lo masih jaga komitmen hubungan kita, jujur gue amat cemburu dengar cerita lo barusan. Gue sadar gue belum cukup disebut dewasa, karena status gue masih anak SMA. Beberapa bulan lagi, gue akan melepas label anak SMA ini. Gue emang belum bisa memberikan materi ke lo dari hasil kerja gue, tapi gue janji gue gak bakalan bikin masa depan lo terbebani. Gue gak mau bikin lo sedih, temani gue menjelang kedewasaan gue, agar gue gak salah langkah, agar gue bisa tetap fokus bahwa ada wanita yang mesti gue jaga hatinya, mesti gue bahagiain, selain mama, dan kakak-kakak gue, lo adalah wanita tercinta gue..yang bisa bikin hidup gue berharga buat gue jalanin..gue takut kehilangan lo Liana, temenin gue selalu..agar gue selalu kuat untuk menopang suka dan duka lo..!" katanya penuh cinta.


Lelaki tengil gue makin dewasa gak hanya fisiknya, namun juga pola pikir dan cara bersikapnya. Gue sampai terpana menyimak setiap kata yang terucap dari bibirnya yang tipis menggoda.


Tak terasa air mata pun tumpah, gue terisak pelan, dia pun mendekat memeluk tubuh gue yang terguncang, dikecupnya kening lembut, sembai mengelus rambut gue.

__ADS_1


"Gue gak marah sayang, makasih lo dah mau jujur, makasih lo mau memberitahukan ini semua...sekarang, tinggal lo yang harus kasih kejelasan ke Pak Zafran, kalau lo mau gue temenin, gue akan temenin lo..!" katanya sambil menghapus air mata gue.


"Iya, gue mau bilang ke dia tentang apa jawaban yang akan gue berikan..karena sekarang masih di depan sekolah lo, boleh gak gue minta dia buat ke sini..?" tanya gue ke Aryan.


"Tentu sayang, gue gak akan ikut campur masalah ini, kalo lo mau gue nunggu di dalam, gue bakalan nunggu, gue percaya sama lo...!" jawabnya sambil mencium tangan gue.


"Gue boleh chat dia duluan?" tanya gue.


"Iya sayang, gue tunggu di dalam ya..!" katanya sambil mengelus pipi gue mesra.


Gue segera kirim pesan ke Zafran, dan Aryan sudah pindah ke ruang cafe bagian dalam, dia memilih tempat yang masih bisa melihat gue dari sana.


"Gue masuk dulu ya, kalo ada apa-apa, gue masih di sini..!" katanya pamit.


"Hai Zafran, aku ada di cafe depan sekolah kamu, kita bisa ketemu?"


(terkirim)


Selang beberapa menit, nampak pesan gue sudah diread sama dia.


Zafran mengetik..


"Hai Li, aku masih harus ngurus sesuatu dulu di sekolah, bisa nunggu sekitar 15 menit gak? makasih kamu dah hubungi aku..aku akan selesaikan secepatnya..


"Oke, gue tunggu..makasih"


(terkirim)


Gue lihat Aryan masih menatap gue dari dalam, pandangan mata kita beradu. Aryan mengisyaratkan untuk mengangkat telepon darinya.


"Yan..!" kata gue sendu.


"I love you sayang..jangan sedih gitu dong..gue masih di sini!" katanya sambil nyengir.


"Gue sayang sama lo..!" kata gue bucin.


"Cium dong kalau sayang...!" jawabnya sambil monyongin bibir.


Dan itu bikin wajah gue tersenyum.


"Gitu dong..jadinya cantik cewek gue kalo senyum..!" balasnya di telepon.


"Yan..!" panggil gue lagi.

__ADS_1


"Iya sayang..!"


"I love you to the moon and back..!"


"I love you more than myself...!"


Selesai kebucinan kami di telepon, padahal masih satu tempat tapi lebay banget yang gue rasain. Yang gue tunggu akhirnya datang juga. Zafran tiba dengan senyuman di wajahnya. Gue gak tahu wajahnya akan nampak senyum lagi apa kagak setelah tahu jawaban yang akan gue sampaikan.


"Hai Li..maaf nunggu lama..!" sapanya.


"Oh hai Fran, gak kok..silakan duduk..!" pintaku.


"Makasih kamu dah mau ngajak aku ketemuan, jujur aku nerveous banget sekarang..!" katanya sambil membenarkan posisi duduknya.


Gue diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam, agar apa yang akan gue sampaikan tersampaikan dengan lancar.


"Zafran, sebelumnya aku mau bilang makasih atas waktu kamu hari ini, dan makasih juga untuk apa yang sudah kamu sampaikan ke aku di kosan, walau bukan aku yang terima. Aku sudah baca surat kamu, dan itu buat aku kaget. Makasih buat rasa yang sudah kamu simpan lama buat aku, aku pun gak tahu harus gimana menanggapinya saat itu. Tapi sekarang aku sudah punya jawaban buat kamu. Karena aku gak mau membuat kamu lama menunggu. Zafran, aku mau minta maaf, aku gak bisa membalas perasaan kamu, aku tau kamu akan kecewa dengan jawaban aku. Tapi, aku juga gak mau mengecewakan pria yang sudah ada di hatiku saat ini. Aku sudah mencintai orang lain. Maaf, aku gak bisa menerima rasa cinta dan sayang kamu. Aku harap kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku..!" jelas gue.


Zafran terdiam, dan memainkan jari-jarinya di atas meja.


"Yah..aku terlambat! Aku harusnya sejak dulu jujur ke kamu waktu itu, mungkin saja sekarang akan beda posisinya. Aku gak akan marah ke kamu walau kamu nolak aku Liana, kecewa pasti..tapi aku gak mau membebani kamu. Aku makasih kamu sudah mau jujur dengan apa yang kamu rasakan ke aku. Walo sebenarnya aku dah tahu, dari profil WA kamu, tapi aku masih berharap itu hanya profil biasa tidak lebih. Tapi ternyata aku salah. Beruntung pria yang bisa mendapatkan hati kamu Li. Kamu pun gak perlu sungkan ke aku jika suatu hari kita ketemu..! " katanya sambil tersenyum.


Gue tahu Zafran kecewa, sorot matanya memancarkan kesedihan. Namun dia berusaha tegar. Diapun menghela nafas panjang.


"Aku lega..yang selama ini aku pendam sudah tersampaikan. Aku juga lega, rasa ini perlahan luruh, aku akan mulai membuka hati untuk mencoba perjalanan cinta dengan orang lain..!" imbuhnya.


"Syukurlah..maafin aku ya Zafran...kita masih bisa jadi teman, karna toh kita juga sudah kenal sejak lama..!" kataku lega.


"Tentu Li..jangan khawatir!" jawabnya.


"Aku mau pulang duluan ya..kamu juga mau pulang atau balik ke sekolah dulu?"tanyaku.


"Aku ke sekolah dulu Li, mobilku masih di sana, kamu mau pulang sendiri?"


"Pacarku sudah otw ke sini, kapan-kapan aku kenalin ke kamu Fran..!" kataku.


"Sure..tentu, salam buat pacar kamu..aku duluan ya..!" pamitnya.


"Iya..nanti aku sampaikan!" balas gue.


Zafran pun pergi, dan gunung kegalauan gue tiba-tiba lenyap bagai asap. Gue lega banget, semuanya selesai Liana!. Sentuhan Aryan di bahu gue membuat gue kaget. Dia tersenyum dan berbisik pelan.


"Makasih sayang..!"

__ADS_1


__ADS_2