
Dengan sedikit emosi Zafran mengajak pulang wanita yang sedang kencan dengannya malam itu. Hatinya panas terbakar cemburu. Melihat Liana bermesraan dengan Aryan.
"Ngapain juga mereka makan di sana!" gumamnya kesal sambil menyetir.
"Kenapa Mas?" tanya cewek yang di sebelahnya.
"Mendadak selera makanku hilang, kita cari tempat makan yang lain aja!" jawabnya tanpa ekspresi.
"Tapi di sana tadi nyaman lo Mas, makanannya juga enak..!" kata si cewek lagi.
"Pemandangannya yang gak enak!" jawabnya ketus.
"Maksudnya Mas!?" tanya cewek itu gusar.
"Kamu bisa diam aja gak sih?" bentak Zafran.
Cewek.bernama Rianti itupun diam seribu bahasa. Zafran yang dia temui dua minggu lalu berbeda dengan malam ini. Dengan sedikit marah, Rianti minta diturunkan di pinggir jalan.
"Silahkan turunkan aku di sini saja..!" katanya pada Zafran.
Zafran yang sedang kalut pun menghentikan mobilnya dibahu jalan. Dan Riantipun keluar tanpa pamit. Dilihatnya wanita itu memberhentikan taksi yang lewat.
Dia mendengus kasar. Kenapa juga Mamanya harus meminta dia untuk kencan dengan Rianti. Rianti memang cantik, fisiknya pun jauh lebih menggoda daripada Liana. Namun, tetap saja pikirannya tidak bisa menerima Rianti. Entah besok apa yang dikatakan Mamanya jika tahu kencannya malam ini berantakan.
...*****...
Dinner malam ini sukses, dan Aryanpun sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama gue. Kamipun memutuskan untuk jalan-jalan sejenak di taman kota. Kayaknya masih terlalu dini balik ke kosan. Besok juga gue libur kerja, sedangkan Aryan masuk siang, karena Harun meminta untuk tukar shift.
"Lo masih ingat taman ini?" tanya Aryan.
"Yap..inget banget lah, tempat di mana ditembak cowok tengil gak jelas..!" jawab gue sambil terkekeh.
"Sekarang cowok tengil ituh lagi jalan di sebelah lo kali..!" jawabnya.
"Iya juga ya..kita masih bertahan sampai sekarang, aneh gak menurut lo?" tanya gue sambil ngajak duduk di salah satu bangku taman yang kosong. Yang lain udah pada keisi sama pasangan lain.
"Gak aneh kok, kita udah komit sejak awal kan, gue sampai kapanpun tetap gak akan berpaling dari lo..!" jawabnya sambil memegang tangan gue.
"Yan, lo bahagia jalanin hubungan sama gue?" tanya gue mendadak melo.
"Kalo gak bahagia, ngapain bertahan sampai sekarang, lo kenapa tanya gitu? masih kurang yakin?" tanyanya sambil melotot.
"Bukannya gak yakin, gue tahun ini udah 24 tahun, dan lo 19 tahun, menurut lo, kecepetan gak kalo kita mulai bahas soal pernikahan?"
"Enggak tuh, waktu gue masih 17 tahun, gue udah pengen nikahin lo, cuman gue saat itu lom lulus SMA..!"
"Yan, gue serius..!" kata gue penuh penekanan.
"Gue serius juga kok, gue sudah bilang ke papah kalo mau ngelamar lo..!" katanya meyakinkan.
"Trus papah lo bilang apa?"
"Lagi berusaha buat ngosongin waktunya supaya bisa balik ke Indo, sama mamah, Jelita dan Jingga juga..!"
"Gak harus buru-buru juga Yan, yang penting hubungan kita gak hanya cuman di fase ini mulu...!"
__ADS_1
"Lo pikir, Pak Zafran bakalan diam aja, melihat status lo masih pacar gue? dia gak akan nyerah buat dapetin lo!" tegas Aryan.
"Lalu, lo maunya kita gimana?"
"Gue akan segera melamar lo..!" jawabnya tegas.
"Iya..gue percaya sama lo Yan, soal Zafran kita gak usah nanggepi dia, toh kalo misalpun dia nekat lagi datang melamar, bapak pasti tegas menolak!" kata gue nenangin.
"Semua butuh pembuktian sayang, bukan cuman omong kosong belaka..!" katanya lagi.
"Ayo, kita jalan-jalan, biar pikiran gue jernih!' ajaknya.
"Kemana?"
"Kita muterin taman kota ini aja, kan mayan luas..!" jawabnya sambil menggandeng tangan gue.
Dan kamipun berjalan menyusuri taman kota. Taman yang dihiasi lampu warna warni yang indah. Berbagai macam bunga ditanam di sini. Suasananya jadi romantis. Saat sedang berjalan, dua orang gadis berjalan ke arah kami. Dan itu adalah Erlina.
"Wah..gue nyari lo kemana-mana m, taunya malah di sini..!" katanya dengan tatapan sinis.
"Maksud lo??" tanya Aryan balik.
"Gue gak nyangka ya, lo pacaran sama guru magang di sekolah gue dulu!!"
"Apa urusan lo, gue mau pacaran sama siapa, itu hak gue!"
"Tapi gak sama nie perempuan, dia tukang selingkuh!" tuduh Erlina sambil mencoba memegang Aryan.
"Hei..jaga omongan kamu!" kata gue emosi.
"Gak usah sok lugu ya lo, lo selingkuh dari pacar lo yang guru itu kan? Setelah lo ketemu sama si Aryan, pacar guru lo campakkan, padahal lo bilang kalo dia cinta pertama lo, ternyata cinta lo kalah sama hartanya Aryan!"
"Gak usah bikin masalah di sini, mendingan lo pergi!" suruh Aryan.
"Ini tempat umum, gue berhak ngapain aja di sini..!" kata Erlina.
"Kita pergi dari sini!" ajak Aryan sambil menarik tangan gue.
"Tapi Yan..gue mau dia je...!" kalimat gue terpotong karena sorot mata Aryan menegaskan jika dia gak mau berurusan dengan Erlina.
Gue pun menuruti apa yang dia mau, dan kita pun pergi meninggalkan Erlina yang teriak-teriak gak jelas di taman. Kami menyetop taksi di depan taman, dan pulang menuju ke kosan. Sepanjang jalan Aryan hanya diam, namun tangannya masih memegan tangan gue erat. Kata-kata Erlina membuat kepala gue pening. Gue gak tahu apa yang sekarang lagi dipikirkan Aryan. Gue takut mau tanya sama dia. Takut kalau dia masih emosi. Walau gue tahu, dia gak pernah menujukkan kemarahan di hadapan gue. Gue mengelus tangannya lembut. Dan diapun beralih ke arah gue sambil tersenyum.
"It's Oke...gak papa, jangan dipikirkan!" katanya lirih. Dan gue pun menyandarkan kepala di bahunya.
Sampai di kosan, dia pun terduduk lesu di kursi ruang tamu. Gue pun mengambilkan dia minum. Raut wajahnya nampak dingin. Pasti ada yang dia pikirkan.
"Yan...!" panggil gue pelan.
"Yaa..!" jawabnya.
"Kamu masih mikirin omongan Erlina?"
"Enggak, gue mikirin hal lain..!" jawabnya sambil menghela nafas.
"Apa?"
__ADS_1
"Pak Zafran, gue yakin, dia ada kaitannya dengan Erlina!"
"Tapi dari mana lo yakin, bahkan mungkin Zafran gak pernah ketemu dengan Erlina..!" jawab gue.
"Ini baru perkiraan gue aja..!"
"Yan..lo percaya sama gue, gue gak pernah selingkuh, dulu ataupun sekarang..!" kata gue.
"Gue percaya sayang, selama ini kita selalu sama-sama.."
Aryan menyenderkan badannya di kursi, menatap ke atas langit-langit ruang tamu.
"Malam kita jadi kacau gara-gara di taman tadi..!" kata gue sedih.
"Malam ini tetap menyenangkan kok, gue bisa menghabiskan malam yang panjang ini sama lo..!" katanya mesra.
"Tapi muka lo gak kaya tadi sebelum ketemu Erlina..!" jawab gue.
"Muka gue kenapa? kadar kegantengan gue menurun? tapi kadar cinta gue justru naik..!" gombalnya.
"Yan..lo tuh!"
"Lo tuh ganteng, gitu kan lanjutannya?" godanya tengil.
Gue cubit pinggangnya, gemes gue lihat tingkahnya.
"Sayang...!"
"Hmmm...apa?"
"Gue dah lama gak dapat asupan vitamin C nih..!" katanya.
"Kamu kurang enak badan? kok minta vitamin C..!" jawab gue polos.
"Ahh elah, vitamin C...Ciummm!" katanya sambil mainin bibirnya.
Gue pun malu, muka gue langsung merah.
"Ntar kalo ada anak yang liat gimana?" tanya gue.
Dia pun melihat jam tangannya.
"Baru jam 8 malming gini mereka pulangnya palingana jam 10 kan?" tanyanya.
"Biasanya sih gitu..,!"
"Ya udah, burun kasih vitamin C nya...!" pintanya manja.
"Malu Yan...!"
Aryan pun mendekat, mengulum bibir gue perlahan. dirangkulnya pinggang gue sembari bibirnya ******* bibir gue dengan makin cepat. Tangannya pun kian naik ke atas. Mennyentuh bagian dada gue, yang memang besar dan padat. Gue merasakan getaran aneh saat dua gundukan besar itu tersentuh olehnya.
"Yannn..!" kata gue pelan. Namun ******* bibirnya tak bisa gue tahan. Nafasnya pun makin memburu. Diremasnya dada gue perlahan.
"Yann...!"
__ADS_1
Aryanpun berhenti, sambil memeluk gue.
"Sorry.. gue gak tahan!" katanya berbisik.