
Motor Aryan melesat dengan kecepatan sedang di jalanan. Sesekali dia mengelus lembut tangan gue di pinggangnya. Gue semakin erat memeluknya dari belakang. Aryan, gue nyaman saat meluk lo gini, seakan gue gak mau lepas. Mata gue masih terpejam, gue gak mau melihat sekitar. Gue sedang menikmati kenyamanan dengan lelaki tercinta. Sekitar 45 menit perjalanan, motor Aryan pun berhenti di sebuah pemakaman elit. Dengan nuansa pegunungan yang indah. Gue pun turun perlahan. Dan merasa heran sekaligus bingung. Kenapa dia membawa gue ke sini. Siapa yang meninggal.
"Yan..kita ngapain di sini?" tanya gue sambil melepas helm.
Aryan cuma tersenyum dan menggandeng tangan gue agar ikut bersamanya. Kami menuju sebuah pemakaman keluarga yang megah dan indah.
"Gue bakal kenalin lo ke orang yang spesial, hanya orang istimewa yang gue bawa ke sini, buat ketemu dia..!" jawabnya pelan.
Gue pun hanya mengikutinya, sudah ada beberapa makam di pemakaman keluarga ini, dan kami pun berhenti di sebuah makam dengan ornamen batu marmer mahal dan elegan. Tertulis nama Helena Danu Rahardian, meninggal tahun 2015. Kita duduk di sebelah makamnya, dan Aryan pun bercerita.
"Hai Helen, lo lagi apa? tidur mulu ya..ini gue bawa pacar gue, yang suka gue ceritain ke lo tiap selasa siang sepulang sekolah..dia cantik, baik, suka bawel sama kayak lo..!" katanya sambil memegang tangan gue.
"Siapa yang dimakamkan di sini Yan?" tanya gue masih bingung.
"Sayang, ini makam saudara kembar gue..coba lo lihat, nama kita cuman beda di awal doang..dia cewek, sedangkan gue cowok..!" jawabnya sambil tersenyum.
Air mata gue pun menetes, Tuhan, lelaki tercinta gue, entah apa lagi yang gue belum tahu tentang lo Yan.
"Dia meninggal karena gagal nafas, waktu kita berdua masih SMP..dan itu yang membuat gue ingin pindah sekolah, karena kenangan buruk waktu itu...!" jelasnya.
"Sayang, maaf..gue gak akan nanya kalau itu bikin membuka lagi luka hati lo.." kata gue sambil memegang tangannya.
"Sherly gak sengaja membuat penyakit Helen kambuh, karena Helen gak suka dia ganggu gue terus..Gue tahu watak Sherly seperti apa, dia tega nglakuin apa saja buat dapetin yang dia mau..Helen diminta datang ke sebuah gudang, karena dia bilang kalau gue ada di dalam..setelah masuk Helen dikunci dari luar. Suasana gudang yang gelap dan pengap membuat Helen sesak nafas, dia punya penyakit asma. Dia gak bawa inhealer yang biasa dia bawa. Gue yang tahu kalau Helen terkunci di gudang datang setelah satu jam lebih gue nyari dia di sekolah tapi gak ketemu, ada satu siswa yang bilang, melihat Helena datang ke arah gudang, dan benar,.waktu gue ke sana. Helena ada di dalam, sudah gak bergerak, dia gak nafas, gue panik, gue takut dia mati, gue udah guncang-guncang tubuhnya tapi dia gak bangun, gue pun lari keluar, buat nyari bantuan, tapi ambulance datangnya lama. Helena makin dingin badannya. Gue takut...dan ketakutan gue pun terjadi, dia gak bisa diselamatkan...dia meninggal dunia, dan dunia gue seakan runtuh saat tau hal itu. Apa yang dia rasain, gue juga rasain, apa yang dia gak suka, pasti gue gak suka...!" katanya lagi.
"Yang bikin gue menyesal, gue bahkan gak bisa jaga dia, gak bisa ngelindungin dia, padahal dia selalu jaga gue, selalu lindungin gue..!" tangis Aryan.
"Yan, gue yang akan jagain lo, gue yang akan lindungin lo sekarang, lo punya gue Yan...jangan sedih lagi..!" kata gue menguatkan dia.
Dibalik sosoknya yang sok dewasa, dia terlihat rapuh di hadapan gue sekarang, ini tempat yang dia bilang istimewa. Tempat orang terkasihnya sedang tidur untuk selama-lamanya. Tempat orang tercintanya istirahat dari kebusukan dunia.
"Heru yang kasih tahu kalau Sherly posting foto kelulusan di IGnya, dia sengaja cium gue saat foto kelulusan, saat itu gue gak mau merusak momen foto dengan teman-teman yang lain, tapi gue gak nyangka kalo dia bakalan posting hanya foto gue dan dia..gue gak ada niat buat sengaja mau dicium dia sayang..sungguh!" jelasnya.
"Ini foto lengkapnya ada di HP, lo bisa lihat sendiri..ada videonya juga, teman gue yang ambil pas kita lagi foto!" katanya sambil nyerahin HP ke gue.
Gue terima HPnya, dan melihat video yang temannya kirim. Di sana nampak saat sedang sesi foto bersama, Sherly sengaja menarik Aryan agar dekat dengannya dan dengan cepat Sherly mendaratkan ciuman ke pipi Aryan, sontak Aryan terkejut saat foto selesai diambil, Aryan pun marah dan bilang kalau Sherly keterlaluan. Semua percakapan mereka lun terdengar. Di video berdurasi 2 menit itu, tampak wajah Sherly tersenyum bahagia mendapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Yan, maaf kalau gue sempat berpikir jelek tentang lo, gue udah tahu foto ini dari Salma..karena Salma ternyata follow IG Sherly..!" kata gue sambil nyerahin balik HPnya.
Gue malu, karena udah membuat diri gue ragu ke dia. Padahal dia adalah lelaki bukan yang seperti itu. Dia selalu menjaga perasaan gue, dia selalu membuat gue percaya. Tapi gue malah termakan oleh keegoisan pikiran gue sendiri.
"Ini tempat yang sering gue datengin, sebelum gue ketemu sama lo, gue gak mau sosok lo seperti bayang-bayang Helena, gue tahu lo jauh lebih berani dan kuat dibanding dia, gue kadang melihat sosok dia ada dalam diri lo, seperti ada yang mengarahkan pandangan mata gue buat selalu menatap lo..!"
"Lo melihat Helena dalam diri gue?" tanya gue memastikan.
"Awal bertemu sama lo iya, gue melihat Helena di sana, namun setelah gue pertama kali bicara sama lo, gue tahu lo beda sama dia..dia hanya mau gue bertemu dengan orang yang tepat..dan itu adalah lo!" katanya sambil memegang tangan gue.
"Kenapa lo gak cerita dari awal Yan?"
"Karena gue gak mau bayang-bayang Helena ada di diri lo, semakin gue kenal lo, semakin gue yakin..lo beda sama dia, kehadiran lo bukan mengisi kekosongan karena hati gue kehilangan Helena, namun diri lo membuat hati gue makin sempurna..tanpa lo gue cuman manusia gak ada jiwa..gue beneran sayang sama lo...!" jelasnya.
Gue gak menyangka kejadiannya bakal seperti ini di awal. Namun, gue yakin, Aryan berkata yang sebenarnya. Gue merasakan sorot mata penuh cinta saat dia menatap gue.
"Helen, gue akan jarang ke sini mulai sekarang, karna gue dah lulus SMA, gue bakalan sibuk mau kuliah. Mama udah ke sini kan kemarin sebelum ke luar negeri nemenin papa. Kak Jelita dan Kak Jingga masih di luar negeri, belum bisa jenguk lo..Tapi lo jangan sedih, gue tetap akan ke sini jenguk lo, karna gue tahu lo pasti nungguin cerita gue tentang dia..!" katanya sambil melirik gue.
"Gue bakalan ajak dia ke sini jenguk lo..gue janji, sekarang gue pulang dulu..lo tidur yang damai ya, i love you..!" katanya sambi beranjak dari makam dan menggandeng gue buat jalan.
"Helena, gue pamit ya, senang bisa kenalan sama lo..istirahat dengan tenang ya..!" pamit gue.
"Makasih sayang..!"
"Gue yang makasih Yan..maafin gue ya..!" balasku sambil memeluknya.
Kamipun melangkah keluar dari pemakaman keluarga Aryan. Bahkan untuk rumah masa depan keluarganyapun, sudah disiapkan dengan sebaik ini. Keluarga sultan emang beda. Duit mah kagak ada serinya.
Aryanpun memasangkan helm sebelum kami pergi. Dengan pelan gue naik ke motor. Gue peluk dia erat tanpa dia minta. Dan seperti biasa dia akan selalu mengelus tangan gue manja, sambil berkata.
"Pegangan yang erat sayang, kita akan ke tempat istimewa kedua...!" katanya sambil tancap gas.
Bawa sajalah diri ini kemana aja lo mau Yan. Gue rela, walau harus mempertaruhkan nyawa gue. Lebay banget gue, kaya dah siap mati aja.
Motor inipun melesat jauh lebih cepat dari sebelumnya. Pegangan tangan gue makin erat, sembari menikmati aroma wangi tubuhnya yang maskulin. Dingin udara pegunungan di sini makin menusuk tulang, mana gue kagak pake jaket. Ya mana tahu juga gue kalau mau diajak ke tempat dingin kaya gini.
__ADS_1
Motorpun berhenti di sebuah cafe di puncak, nuansanya romantis. Dan baru sedikit pengunjungnya. Aryan tahu kalau gue kedinginan, dia lepas jaketnya dan dipakaikan ke tubuh gue supaya hangat. Duh melting gue jadinya inih.
Kamipun memesan dua coklat panas, karena emang enaknya minum yang panas gini saat udara dingin. Kamipun duduk bersebelahan. Gue pegang tangan dia, dingin, sama kaya tangan gue.
"Lo kedinginan? jaketnya pake aja Yan..!" pinta gue.
"Laki-laki gak boleh doang tega ngebiarin ceweknya kedinginan..gue hangat kok di deket lo gini..sini peluk..!" mintanya manja.
Gue pun memeluk mesra, sambil memegang tanganya erat.
"Nah..ini baru hangat, gak dingin lagi..tapi bahaya..!" katanya.
"Kenapa bahaya?" tanya gue penasaran.
"Badan gue sih kedinginan..tapi yang bawah makin kepanasan kalau deket banget kek gini...hehehe!" katanya tengil.
"Ihh...mesum deh, gak mau meluk..!" kata gue sambil lepasin pelukan gue.
Ditariknya gue dalam pelukannya lagi.
"Gue janji bakalan jaga dia biar gak nakalin lo..karena sekarang masih belum waktunya sayang...kalo sekarang peluk aja, biar tubuh ini makin hangat..!" rayunya.
"Awas ya..kalo macem-macem dia-nya!" ancam gue.
"Jangan dong, kalo dihabisin bahaya, itu aset berharga sayang...!" timpalnya sambil tertawa.
Dan dengan gemasnya gue cium pipinya tanpa ragu. Memdapatkan ciuman di pipinya, dia malah menggoda gue.
"Wah..bibir si Sherly udah hilang nih...asekkk!!" godanya.
"Aryann!!!" kata gue manyun.
Seketika Aryan mencium bibir gue lembut, pelan dan pasti lebih intim dari ciuman pertama di kosan gue. Gue membalas dengan lembut, jemari kita pun bertaut. Nafas kita saling beradu. Aryan selalu memegang bibir gue selepas menicumnya.
"Makasih sayang, gue sayang banget sama lo..!" katanya.
__ADS_1
"Gue juga sayang sama lo Yan..!" balas gue sambil mencium tangannya.
Kitapun minum coklat panas bersama, dengan alunan lagu melankolis penuh cinta. Gue bahagia banget hari ini, Aryan selalu membuat momen indah ini tak terlupakan.