
Suara adzan subuh, sayup-sayup terdengar di telinga. Gue pun membuka mata. Dan wajah tampan itu berada di dalam pelukan gue. Hidung mancungnya, alis tebalnya, bulu mata lentiknya, wajahnya yang mulus bikin gue makin jatuh cinta. Sekarang wajah ini akan setiap hari gue lihat saat membuka mata. Perlahan gue sentuh wajahnya dari kening, hidung dan berhenti di bibirnya yang pink. Kenapa gue mendadak mupeng, Liana, imajinasi lo kemana mana ini.
"Sayang..bangun!" kata gue sambil mengecup bibir Aryan.
Dia masih gak bergeming.
"Yann..bangun!" bisik gue pelan.
Dia pun bergerak sedikit, tapi malah mempererat pelukannya.
"Udah bangun...!" jawabnya masih merem.
"Mana, orang masih merem gitu..!" kata gue.
"Adik kecilnya dah bangun...!" jawabnya sambil nunjukin ke arah bawah.
"Aryan ihh...sholat dulu..!" ajak gue sambil bangunin dia.
"Ciummmm!" mintanya manja.
Satu kecupan di bibir.
"Lagi...!" pintanya lagi.
Dua kecupan lagi mendarat di bibirnya.
"Mau yang semalem lagi...!" mintanya sambil terus mendekati gue.
Gue pun cuman bisa pasrah saat dia mulai mengendus-ngendus manja rambut yang masih acak adul ini. Perlahan dia buka mata, saat melihat gue cuman pasrah, dia makin bersikap manja.
"Sayang...!"
"Iya..katanya mau lagi kaya semalam" kata gue.
"Sholat dulu aja ya, habis sholat kita lanjut..!" ajaknya sambil berdiri.
Kenapa gue yang malah menggebu-gebu masalah gituan. Liana, sadar dong.
...****...
Selesai sholat dan merapikan mukena. Gue melihat Aryan khusyu sekali berdoa, entah apa yang dia minta sampai lama sekali di atas sajadah. Gue baru kali ini melihat dia mengenakan baju koko dan peci. Wajahnya yang putih semakin bersinar. Kalo ganteng mah emang ganteng aja, tapi kali ini beda.
"Ngelamunin apa?" tanyanya sambil menghadap ke muka gue.
"Liatin lo berdoa..lama banget..!"
"Karena doa yang gue minta sekarang bertambah banyak..!"
"Emang doa apaan?"
__ADS_1
"Namanya doa mah gak perlu disebarin lah..dikira selebaran diskon!" jawabnya sambil bangkit dari duduk.
Nyebelin ya sikap tengilnya keluar lagi. Gue mendingan rapiin diri, dan siap-siap buat keluar kamar. Tapi baru saja mau jalan ke pintu, suami manja gue udah manggil.
"Sayang..mau ke mana?"
"Mau ke luar..masa kita gak keluar kamar!".
"Ntar aja, palingan juga masih pada sholat yang lainnya, di mushola keluarga..!"
"Kok kita gak sholat di sana aja tadi?"
"Enggak, besok aja, sayang..sinii!" panggilnya sambil menyeringai. Gue kayanya tau apa yang dia mau. Masa iya, dia mau "gituan" lagi pagi-pagi gini. Stop! Kapanpun suami lo pengen, lo kudu layanin. Gue pun mendekatinya, sambil duduk di meja rias.
"Ada apa wahai suami?" tanya gue manis.
"Mau lanjutin yang tadi gak?" tanyanya menggoda.
"Emang tadi apaan?" gue pura-pura lupa.
Tanpa komando dan aba-aba, Aryan langsung membopong gue ke tempat tidur. Percuma juga gue sisiran rapi, habis ini juga berantakan lagi. Kali ini dia agak pelan melakukan pemanasan. Eits, bukan push up lagi ya gaes.
Karena pagi ini badan terasa mendingan, malam pertama kedua inipun lebih menyenangkan. Ya ampun gue sampai malu kalau mengingat yang barusan kita berdua lakukan. Dengan masih berbalut selimut, kami saling berpelukan. Aroma tubuh Aryan memang bikin candu. Parfum maskulinnya bikin fantasi nakal gue bekerja.
"Gue gak mau lepas kalo dah meluk gini...!" kata gue sambil mencium tangannya.
"Masa? gak kedinginan?" tanyanya seraya merapikan rambutnya.
"Serius?? mau lagi?" tanyanya bahagia.
"Yan...kasih jeda dong..!" kata gue sok sebel.
Aryan tertawa sambil mencium hidung gue. Dia nampak bahagia, sorot matanya agak mesum berasa mau nerkam untuk ketiga kalinya.
"Kayaknya gak perlu minum obat kuat deh..!" ujarnya.
"Kayaknya sih gitu....ehh..!" kata gue keceplosan.
"Kenapa?" tanyanya menyeringai.
"Gak pake obat kuat aja lama...apalagi kalo pakai, bisa rontok badan gue...!"
"Tapi suka kan? yang ini tadi udah gak sakit kan sayang?" tanyanya memastikan.
"Eehhmm..enggak kok Yan..makasih ya!" jawab gue.
Aryanpun mencium lembut bibir gue, dan mengeratkan pelukannya. Kamipun sejenak tertidur karena sedikit lelah setelah ibadah indah.
...*****...
__ADS_1
Di ruang keluarga
"Om tante, kita pulang duluan ya..!" pamit Lutfi dkk.
"Jangan lupa lo, siapin barang-barang yang mau dibawa nanti pas kita mau ke raja ampat!" pesan papa Aryan.
"Siap om...!"
Mereka pun kembali ke kosan dengan hati berbunga, kapan lagi nih wisata gratis ke tempat eksotis.
"Pak, pengantin baru kita kok belum keluar kamar ya?" tanya Ibu Liana.
"Biasa, sebentar lagi juga keluar...!" jawab Bapak.
"Bu Kusuma, kita mau ke makam Helena, putri kami, apakah bapak ibu mau ikut?" tanya mama Aryan.
"Putri Bapak Ibu?" tanya Ibu Liana.
"Iya, maaf kami belum semoat cerita, Helena saudara kembar Aryan..!" jawab Mama Aryan sambil terlihat sedih.
"Ma, stop it, kita sekarang punya Liana, jangan sedih lagi ya..!" kata papa Aryan.
"Iya Bu, Liana sekarang kan putri bapak ibu juga..!" kata Bapak Liana.
"Hai everyone..dah siap nih, jadi kita berangkat?" tanya Jelita.
"Let's go honey..mari bapak ibu!" ajak Papa Aryan sambil menggandeng Mama Aryan.
Mereka pun pergi mengunjungi makam Helena. Sementara Mas Wisnu dan keluarganya sedang menikmati bermain di kolam renang. Sedangkan Mas Rama dan Mbak Ratna sibuk dengan pekerjaan mereka sebelum berangkat liburan.
...*****...
Balik lagi ke kamar
Selesai mandi dan ganti baju, gue pun menunggu Aryan yang sedang mandi. Suami gue mandinya ngalahin si Lusi. Lama banget, entah apa yang dia lakuin di dalam sana. Bajunya pun udah gue siapin. Gue pengen jalan-jalan ke luar. Sumpek kalo di kamar terus. Lagian kalo di sini mulu, bisa-bisa gue overdosis "gituan" sama dia. Gue jadi malu sendiri rasanya.
Yang ditunggu pun keluar kamar mandi. Dengan handuk melilit di perutnya, udah bikin nafas gue naik turun. Kenapa dia nampak menggoda kalo bertelanjang dada sih. Badannya yang makin kekar sungguh membuat tergila-gila.
"Jangan mupeng gitu sayang liatinnya!" katanya membuyarkan imajinasi gue.
"Enggak kok..siapa yang mupeng..!" kata gue berkilah.
"Keliatan tauk, lagian kaya nafsu gitu ngeliat gue habis mandi..!" katanya sambil ganti baju di hadapan gue.
"Yan..kenapa gak di kamar mandi aja ganti bajunya tadi..!" kata gue sambil nutup mata.
Tau-tau dia udah di depan gue, dengan pakaian lengkapnya.
"Gak usah ditutupin, adik kecil gue aja udah kenalan..ngapain pake malu segala..!" godanya.
__ADS_1
"Iiisssh..bener-bener lo ya..!" cubit gue manja.
"Sakit sayang...!" katanya menyeringis.