
Selesai sudah mencuci piring bekas sarapan tadi, gue pun lanjut menyapu dan meyalakan vacuum cleaner. Ruangan yang gak terlalu besar ini gak bikin encok kalo dibereskan. Dan juga gue baru tahu kalau Aryan adalah pribadi yang senang dengan kebersihan dan kerapian. Sama halnya dengan gue, pengharum ruangan ini sungguh membuat suasana hati tenang. Mau mandi jadi agak malas, tapi badan rasanya lengket semua.
Karena bosan dengan acara TV, gue pun mengambil HP di atas nakas. Dan membuka aplikasi pesan warna hijau di layar HP. Nama Aryan masih di urutan pertama, foto profil kontaknya masih sama, tangan kami yang bergandengan saat berpacaran. Saat membaca kembali isi chat gue dengan Aryan, ada notifikasi masuk dari nomer asing.
"Liana, ini Intan, nomer lamaku terblokir, simpan ya.."
Oh, Intan berganti nomer, tapi aku lihat kontak dia juga sedang online. Tapi, ya sudahlah gue gak ambil pusing. Langsung gue save nomer dia. Dan segera membalas chatnya.
"Hai..nomer yang satunya masih aktif tapi kan di WA?"
"Masih kok, cuman dah penuh banget groupnya, jadi pingin punya WA yang lebih privasi aja.."
"Oh..oke, gimana kabarnya? udah isi belum?"
"Belum, masih berusaha. Sorry ya waktu kamu undang di hari pernikahan, aku dan suami gak bisa hadir. Soalnya lagi nemenin ke luar kota."
"Gak masalah, doanya aja, semoga kami jadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Warohmah.."
"Pasti aku doain, kamu masih di kos lama?"
"Enggak lah, kan di sana laki-laki gak boleh masuk, sekalipun dah nikah, gak enak sama anak-anak yang lain.."
"Bener juga sih, untung aku lom ke sana. Sekarang kamu tinggal di mana? aku mau kasih kado nikahan nih..!"
"Boleh, datang aja, mumpung masih belum aktif kerja nih. Wisma Anggrek Lantai 2 No. 3, dekat sama Mall Anggrek, maju dikit, ada gang besar belok kanan, masuk 30 meter. Kalo dah sampai sana kabarin ya.."
"Oke, aku siap-siap dulu ya..nanti aku kabarin kalo mau otw"
"Oke Intan, hati-hati ya...see u"
Senangnya mau ketemu Intan, teman SMA yang udah lama gak bersua. Terakhir ketemu pas datang ke pernikahan dia. Langsung gue mandi, gak enak juga masa mau ada tamu, masih kucel kaya upik abu.
...*****...
Sudah hampir dua jam, dan Intan belum kasih kabar. Gue juga udah bilang ke Aryan kalau Intan mau datang. Sebentar lagi Aryanpun pulang. Gue dah nitip buat bawain makanan dan minuman, karena Intan mungkin akan datang bareng suaminya.
__ADS_1
"Sayang, nih gue udah kelar kelasnya, mau dibawain apa?" tanya Aryan.
"Pizza boleh gak sayang? sekalian sama minumannya ya..!" kata gue.
"Boleh dong, gue pesenin aja ya, biar delivery ke rumah, susah bawanya kalo naek motor..gak papa kan?"
"Iya..gak papa kok, langsung pulang kan habis ini?" tanya gue balik.
"Iyah, mulai kerjanya besok kok, gue jalan dulu ya..see u sayang!" pamit Aryan sambil mematikan panggilan telepon.
Setidaknya aman sudah makanan dan minuman buat Intan dan suaminya. Sembari menunggu Intan datang, gue mendengar ketukan pintu dari luar. Segera bangkit dan menuju ke sumber ketukan pintu, dan membukanya.
Betapa terkejutnya gue saat Intan datang, bukan dengan suaminya, melainkan dengan orang yang sudah ingin gue lupakan selamanya. Zafran Adi Sasmita.
Intan hanya tersenyum kikuk, sepertinya dia juga bingung, ada apa sebenarnya diantara kami berdua. Dengan sedikit ragu, gue mempersilakan mereka berdua masuk ke ruang tamu.
Pandangan mata Zafran nampak memendam sebuah kebencian yang teramat sangat. Gue pun meminta mereka duduk. Dengan tenang, namun hati tak karuan, gue menanyakan maksud kedatangan Intan yang membawa Zafran turut serta.
"Kenapa dia bisa datang bareng kamu?" tanya gue penuh penekanan.
"Maaf Li, aku sebenarnya emang niatnya mau datang buat kasih kado ke kamu..!" katanya sambil memperlihatkan sebuah paper bag besar yang Intan bawa.
"Hanya mau memastikan, apakah benar kamu sudah menikah atau belum dengannya..!" jawab Zafran tanpa rasa bersalah.
"Apa maksud kamu Zafran? sebenarnya apa mau kamu?" tanya gue sambil menahan emosi. Intan yang tahu jika ada sesuatu hal yang tidak baik diantara kami pun menengahi.
"Sebenarnya ada apa sih sama kalian? bukannya dulu kalian saling suka waktu SMA, walau sekarang Liana sudah menikah, pertemanan kita kan masih berlanjut dengan baik..!" terang Intan.
Dan gue gak menyangka saat Intan mengatakan hal barusan Aryan sudah ada di depan pintu kontrakan. Diapun masuk, gue yakin dia dengar apa yang Intan katakan. Namun, wajahnya nampak tersenyum manis sambil menyapa gue yang sedikit kalut.
"Hai sayang, teman kamu udah datang..!" sapanya sambil duduk di samping gue.
"Hai Yan..iya, Intan baru aja datangnya, tapi bukan sama suaminya..!" kata gue perlahan.
"Hai Pak Zafran, apa kabar?" sapanya sambil mengulurkan tangan. Zafran dengan sedikit ragu menyambut uluran tangan Aryan.
__ADS_1
"Baik, maaf jika kedatangan kami kurang tepat!" Jawab Zafran dengan pandangan sinis.
"Aku Intan, teman SMA Liana..!" sapa Intan.
"Oh ya, Mbak Intan yang kerja di RSUD ya, maaf dulu saya gak bisa menemani istri saya waktu ke pernikahannya..!" kata Aryan, dia benar-benar bisa mengontrol emosi. Karena melihat kekhawatiran di sorot mata gue. Dia pun menggenggam erat tangan gue.
"Iya benar, tidak papa, aku dan suami juga minta maaf, kami tidak hadir waktu kalian menikah.." ujar Intan.
"Gak papa, doanya saja. Oh ya, istri saya minta dipesankan ini, katanya Mbak Intan dikira Liana sama suaminya ke sini..!" ujar Aryan sambil membuka kemasan pizza dan menaruhnya di atas meja.
"Merepotkan saja, tadi sudah makan siang juga..!" kata Intan.
Sejenak kami berempat terdiam. Dan suara Aryan membuyarkan pikiran kami masing-masing.
"Apa kepentingan Pak Zafran kemari?" tanya Aryan tenang, tangannya masih menggenggam erat jemari tangan gue.
Zafran mengehala nafas.
"Sekedar memastikan, apakah benar Liana menikah dengan kamu atau tidak!" jawab Zafran.
"Sepertinya Pak Zafran sudah mendapatkan jawabannya bukan?" tanya Aryan kembali. Dia pandai menata emosinya, gue tahu saat ini dia menahan semua yang bergemuruh di dada.
"Ya, saya rasa begitu. Saya pikir ucapan kamu hanya omong kosong belaka. Membina rumah tangga bukan seperti habis manis sepah dibuang. Saat ini mungkin kebucinan kalian masih wajar, tapi bagi saya, ini hanya pergantian status saja, dari lajang menjadi istri orang...!"
"Dan jika habis manis sepah dibuang, harusnya anda berkaca. Jika penolakan yang pertama dulu, tidak akan berubah. Buktinya saya yang menghalalkannya, bukan anda!"
"Ya, karna harta keluarga kamu lebih banyak...!"
Gue bangkit dari duduk.
"CUUKKUUPPP Zafran!" kata gue menahan emosi.
Aryan memegang tangan gue, dan meminta gue untuk duduk kembali. Namun kali ini, guebgak bisa mengendalikan diri.
"Intan, setelah ini kita akan tetap berteman atau tidak itu terserah kamu. Kedatangan kamu dengannya, bikin aku kecewa. Aku gak tau apa yang sudah dia ceritakan ke kamu. Biarkan yang lalu berlalu. Jika dulu sempat ada sekelumit rasa, entah kagum ataupun suka dengan dia. Sudah aku kubur hal itu dalam-dalam, dan sudah gak ingin aku ingat kembali. Aku pun meminta baik-baik ke kamu Zafran, untuk melupakan ini semua. Karena memang sejak awal, tidak pernah ada satu ceritapun diantara kita..Silahkan keluar dari rumah ini!" kata gue sambil mempersilahkan Intan dan Zafran untuk keluar.
__ADS_1
"Li..aku minta maaf ya, kita tetap berteman baik. Ini dariku dan suami. Kami pamit dulu..!" kata Intan sambil memeluk gue.
Zafranpun bangkit, wajahnya terlihat gusar dan tanpa ekspresi. Tanpa berpamitan dia pun meninggalkan ruangan ini.