
Sepeninggal Zafran dan Intan, gue masih berdiri mematung dengan sorot mata penuh emosi. Tangan gue pun mengepal erat. Aryan yang duduk pun berdiri di sebelah gue, dipeluknya gue dengan mesra. Sambil membisikkan kalimat yang menenangkan jiwa.
"It's OK, jangan marah, jangan kepancing dengan semua yang dia katakan!" katanya menguatkan.
Tak terasa air mata ini menetes. Begitu burukkah gue sampai dikatain wanita matre. Sungguh picik pikiran lo Zafran. Gue gak serendah itu.
"Gue matre...!" kata itu yang terlontar dari bibir gue yang sedari tadi menahan untuk tidak mengumpat.
Aryan membelai wajah gue lembut, dan mencium bibir gue dengan mesra.
"Lo gak matre, ini realita sayang. Gak ada yang salah dengan ini semua. Gue pengen membahagiakan lo, kalo di mata dia lo dianggap matre, karna memilih gue jadi suami lo, itu tanda kalo gue lebih mampu daripada dia..!" tenangnya.
"Peluk gue..!" pinta gue ke Aryan.
"Cuman peluk doang? yang lain juga boleh sayang..!" gombalnya sambil memeluk gue dengan penuh cinta.
"Maafin, dulu gue pernah ada sedikit rasa sama dia, tapi itu dulu jaman SMA, dan cuman sesaat doang...!" kata gue sambil berlinang air mata.
"Ssstt..yang penting sekarang kan lo istri gue..udah aman!" ucapnya sekali lagi menenangkan.
"Beneran dimaafin?" tanya gue kaya anak SD ketahuan bohong.
"Maafin gak ya?" tanyanya jahil.
"Maafin lah..!" kata gue merajuk.
"Cium dulu..!" pintanya.
Sebuah ciuman hangat mendarat di bibirnya yang tipis.
"Wah rasa asin nih.. !" celetuknya sambil mengelap ingus di hidung dengan tisu.
Kamipun duduk berdua di sofa, dengan posisi Aryan tidur di paha gue. Sambil makan pizza yang sudah dia beli.
"Kenapa gak marah waktu lo tau, dulu gue sempet punya rasa ke Zafran?" tanya gue.
"Ngapain marah?itu kan dulu..masa lalu..!" jawabnya sambil tersenyum.
"Lo gak cemburu?"
Dia pun bangkit dari tidurnya dan menatap gue dengan sorot mata teduh.
"Sayang, kita dah gak lagi pacaran..tapi dah menikah. Apapun masa lalu lo, ya harus gue terima. Dan bukan masanya lagi buat dibahas. Sekarang saatnya kita bahas masa depan. Sekarang masanya gue sama lo..eh kamu!" jawabnya dengan penuh kesungguhan.
"Sayang banget sama lo...!" kata gue sambil menempelkan dahi gue ke dahi dia.
"Sayang, manggilnya aku kamu aja ya, ntar kalo kita punya anak, masa iya, di depan mereka kita ngomongnya lo gue..!" kata Aryan lagi.
__ADS_1
"He em juga sih, dikiranya ntar kita ortu gak tahu tata krama ya..!" ucap gue sambil mikir.
...*****...
(Sekarang ngomongnya pakai aku dan kamu)
Pizza di meja tandas oleh kita berdua. Dengan masih posisi bermesraan, kita saling pandang dengan tatapan penuh cinta.
"Kalau aku resign jadi kasir dan memilih buka usaha food truck bareng Lutfi boleh gak sayang?" tanya Aryan.
"Food truck?" tanyaku lagi memastikan.
"Iya..aku dan Lutfi sempat ngomongin buat buka usaha, food truck kan gak perlu sewa tempat. Kita bisa mangkal di manapun, dan bisa jemput bola juga ke konsumen.." jelasnya.
"Trus yang dijual jenis makanan apa?" tanyaku.
"Kita mau bikin kaya rice bowl, menunya ada ayam, fillet ikan, dan beef. Karena orang-orang kita suka makanan yang pedas-pedas, kita bikin kaya sambal matah, sambal bawang, sambal trasi, sambal pecak. Kamu tau kan Bu Sukma , Ibu Heru pintar banget bikin sambal. Aku mau ajak gabung juga..!" jelasnya semangat.
"Emang si Lutfi udah gak kerja lagi?"
"Dia udah jenuh sama kerjaannya, dan juga ortu Salma ngedukung dia buat usaha. Kamu gak tau kalo Lutfi bentar lagi mau ngelamar si Salma?" tanya Aryan balik.
"What? serius? kapan? aku gak dikasih tau...!" jawabku manyun.
"Ini juga Lutfi ceritanya baru kemarin, pas kita BBQan di bawah..Kamu jangan bilang ke Salma ya, ini suprise..!"
"Gimana tadi rencana aku?" tanyanya memastikan.
"Yan, apapun yang menurut kamu baik, aku bakalan dukung. Yang pasti gak ganggu kuliah kamu sayang..!" jawabku sambil mencium hidungnya yang mancung.
"Enggak kok, aku nanti ambil kuliahnya pagi sampai siang, Lutfi dan Mas Hendra bakalan ON duluan, selesai kuliah nanti baru aku yang gabung..!"
"Mas Hendra juga mau resign dari cafe?"
"Ya..dia juga mau bikinin istrinya stand minuman kekinian di depan kontrakan. Biar istrinya bisa fokus ngurus anak. Nanti kita bantu mereka..!" jawabnya sambil mengelus kepalaku.
"Budgetnya gede kalo beli food truck Yan?"
" Gak masalah sayang, bapak katanya mau nyariin, karna punya kenalan yang bisa modifikasi mobil.."
"Bapak? jadi kamu udah kasih tau bapak dulu?"
"Well..i am sorry, iya sayang, sama Mas Rama juga..!" jawabnya sambil nyegir.
"Tuh kan kebiasaan deh, tapi ya gak masalah, toh bapak dan aku sama-sama dukung niat usaha kamu. Pokoknya yang penting kuliah kamu gak keganggu..!" kataku.
"Enggak kok, ke depannya kalau dah jalan, kamu juga bisa join sayang..biar kita sama-sama terus!" ujarnya sambil meluk kian erat.
__ADS_1
Sedang asik bermesraan, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dan Aryanpun meminta untuk tetap di sofa, sedang dia yang akan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Dari suaranya, kayaknya aku tahu pemilik suara itu. Benar sekali si Janda penuh tipu daya yang datang. Gue pun kaget saat Aryan memintanya untuk masuk ke dalam.
Aku mencoba tersenyum saat dia masuk menuju ruang tamu. Matanya seakan terpana melihat isi dalam kontrakan ini. Akupun mempersilahkan dia untuk duduk. Aryanpun kembali duduk di sebelahku.
"Silakan duduk mbak, ada perlu apa ya?" tanyaku langsung ke dia.
Diapun agak canggung melihat Aryan duduk sambil memainkan HP di tangannya. Padahal Aryan tipe orang yang respect jika diajak bicara dengan orang lain.
"Tadi udah bilang sih ke Aryan, malah aku diminta bilang sendiri ke kamu, kan aku malu..!" jawabnya sok lugu. Aku tahu sorot matanya selalu melihat ke arah Aryan.
"Ada apa sih sayang?" tanyaku ke Aryan ganti.
Aryan pun meletakkan HPnya di atas meja.
"Mbak Nana minta nomer HPku sayang, ya aku bilang, minta saja ke istriku, gitu..!" jawab Aryan sambil tersenyum.
"Oohh..buat apa ya mbak Nana minta nomer HP Aryan kalo boleh tahu?" tanyaku selidik.
"Ya kan namanya tetangga, harus saling mengakrabkan. Aku juga punya nomer tetangga kontrakan yang lain kok..!" jawabnya sok manis.
"Oke..sini saya ketikin nomernya..!" jawabku sambil meminta HPnya.
Diapun menyerahkan HPnya dengan senyuman kemenangan. Akupun mengetikkan nomer di HPnya. Dan segera ku kembalikan.
"Aku save ya Liana..makasih lo udah dikasih nomernya Aryan..!" katanya penuh suka cita. Lo liat aja ntar, bakalan kaget lo begitu tau itu nomer siapa.
"Oh ya mbak, nomer HPku sekalian nggak?" tanyaku sok basa basi.
"Oohh..gak usah, nomer Aryan aja cukup kok..aku balik duluan ya. Jangan lupa balas kalo aku chat ya..!" katanya sambil pamit.
"Oke mbak..!" jawabku sambil nahan tawa.
Aryanpun mengernyitkan dahinya, tanda kalau dia penasaran.
"Kamu beneran ngasih nomer aku sayang?" tanyanya.
"Ya gak lah, enak aja..nomer aku tadi yang aku kasih ke dia..!" jawabku sambil melihat HP. Aku yakin sebentar lagi pasti dia akan kirim chat. Dan dugaanku benar, satu pesan masuk dari nomer tak dikenal.
......"Hai Aryan, makasih ya dah ngasih nomer hpnya, jangan lupa save ya.. -Nana-......
"Kenapa ketawa gitu?" tanya Aryan.
"Nih, fans kamu yang barusan kirim chat ke aku..!" jawabku sambil ketawa kecil.
"Gak usahlah diladenin sayang..mending kita usaha aja yuk..!" ajaknya sambil menarik tanganku pelan.
"Usaha apaan Yan?" tanyaku masih belum fokus.
__ADS_1
"Usaha bikin Aryan junior...yuk!" katanya sambil menggendongku ke kamar tidur. Dan bisa dipastikan durasi kali ini bakalan lama, karena semalam dia minta "gituan" tapi gak maksimal.