
Kediaman Liana.
Bapak ibu Liana sangat terkejut mendengar kabar bahwa keluarga Aryan akan datang siang ini untuk melamar. Dengan kesigapan Ibu Liana dan Mbak Ratna serta Mbak Nur, makanan yang akan disajikan pun ready, beserta makanan pendamping yang lain. Mbak Ratna pun sudah menikah dengan Mas Rama, dan tinggal bersama Bapak dan Ibu Liana. Kakak Pertama Liana dan istrinya pun sedang dalam perjalanan juga.
"Pak, ini makanannya perlu kita pesankan yang agak kebarat-baratan ndak ya?" tanya ibu khawatir.
"Santai Bu, orang tua Aryan itu pecinta masakan Indonesia, walau hidupnya di luar negeri..!" jawab Bapak sambil memilih baju batik untuk dipakai nanti.
"Syukur kalo gitu Pak..bapak ini milih apa sih? baju kok dikeluarin semua..capek ibu natanya nanti..!" keluh Ibu.
"Bapak bingung mau pakai yang mana nanti, biar terlihat menawan gitu di depan calon besan..!" kata Bapak tanpa dosa.
"Heleh bapak ini, pakai yang mana aja, bapak selalu menawan di mata ibu..!" goda Ibu.
"Ya kalo itu pasti, kalo bapak ndak menawan, ibu pasti gak mau sama bapak!" jawab bapak sedikit sombong.
"Hayo cepetan milihnya, keburu tamunya datang, tadi kata Liana, ortunya Aryan sedang otw lho..!" kata Ibu.
"Ini aja kalo gitu, motifnya bagus, ini batik tulis langka, bagus ya bu?" tanya bapak lagi.
Ibupun mengangguk pelan sambil tersenyum. Bapak Liana terlihat sangat bahagia kali ini. Berbeda sekali saat keluarga Zafran datang untuk melamar. Tak lama kemudian kakak pertama Liana tiba, bersama istri dan anak mereka. Segala persiapan menyambut calon besanpun sudah siap semuanya.
...*****...
Yang ditunggu akhirnya datang juga. Keluarga Aryanpun sampai di kediaman Liana. Betapa terkejut Keluarga Liana saat berjumpa dengan keluarga Aryan pertama kalinya secara langsung. Walaupun beberapa bulan yang lalu Bapak Liana dan Papah Aryan pernah komunikasi via Video Call.
"Buk..papah mamahnya Aryan kok ganteng dan cuantik banget ya...!" Kata Mbak Ratna.
"He em..Ibuk kaya ketemu artis ini...!" jawab Ibu senang.
Mereka menyambut dengan senang hati kedatangan keluarga Aryan. Dipersilakan masuk mereka ke ruang tamu. Dan Papa Aryan langsung mengutarakan niat mereka datang ke mari.
"Bapak Ibu, kedatangan kami ke mari tentu saja selain untuk bersilaturahmi, kami bermaksud untuk melamar putri Bapak Ibu untuk putra kami Aryan, apakah Bapak Ibu mengijinkan?" kata Papa Aryan santun.
"Terima kasih atas kehadirannya di gubug sederhana kami ini Bapak Ibu Rahardian beserta keluarga, bagaimana kalau hal ini langsung kami tanyakan kepada putri saya..!" kata Bapak Liana. Belum selesai beliau berbicara. Jelita dengan sigap sudah melakukan panggilan video call.
"Wait Om..i am calling her now..!" katanya sambil memperlihatkan HPnya.
"Oh..oke..saya waiting!" kata Bapak Liana. Dan disambut dengan tawa keluarga yang lain. Mereka sangat terpukau dengan sikap dan sifat kakak-kakak Aryan.
Panggilan video call terhubung...
"Hai girl...check this out!" kata Jelita kepada Liana sambil memperlihatkan situasi di kediamannya saat ini.
"Hai..Bapak Ibu, Mas, Mbak, Om Tante, Pak Nardi, Bu Sukma, Jingga...maaf Liana gak ikutan pulang..!" kata gue sambil menahan malu saking senangnya.
"Nak..ini keluarganya Aryan, mau melamar kamu, kamu terima ndak ini?" tanya Bapak sambil tersenyum.
"Bapak ih, udah tau jawabannya pake nanya lagi sih..!" kata gue makin malu.
__ADS_1
"Lho..dijawab sama kamu sendiri to dek..diterima apa ndak ini?" seloroh Mas Wisnu.
"Iya, Liana terima lamaran Aryan..!" jawab gue jelas sambil tersenyum.
"Nah..Pak Rahardian, jawabannya mulus kaya jalan tol, tanpa hambatan. Saya juga menerima lamarannya Nak Aryan..!" kata Bapak sambil memberikan kembali HP kepada Jelita.
"Alhamdulilah Pa..kita sebentar lagi mau punya anak perempuan cantik lagi..!" kata Mama Aryan.
"Iya, terima kasih atas diterimanya lamaran kami Pak Kusuma, semoga niat baik ini segera terlaksana..!" Jawab Papa Aryan.
"Bagaimana kalau acara pernikahannya kita tentukan segera Pak?" tanya Pak Nardi.
"Saya setuju sekali itu..bagaimana Pak?" tanya Papa Aryan ke Pak Kusuma.
"Itu makin bagus, baiknya kapan?"
"Satu minggu lagi..!" kata Papa Aryan.
"Satu minggu lagi?" tanya keluarga Liana kompak.
"Yes, serahin semua urusan pernikahannya sama kita aja Om Tante!" kata Jingga.
"Pak Rahardian, ini serius satu minggu lagi pernikahannya?" tanya Bapak Liana memperjelas.
"Iya Bapak, kami sudah membicarakannya dengan Aryan, dan dia sudah menyiapkan semuanya..!" Jelas Papa Aryan.
"Ya sudah Pak, kita ngikut saja, sepertinya besan kita gak sabar punya mantu anak kita!" Jawab Ibu.
Kakak-Kakak Liana dan keluarga yang lain pun cuman ngangguk-ngangguk saja.
Sementara Jelita yang masih sibuk dengan panggilan video call dengan Liana pun membritahu kalau pernikahan mereka akan digelar 1 minggu lagi.
"Hai..dengarkan barusan, satu minggu lagi yaaa..!" kata Jelita.
"Apaan yang satu minggu lagi?" tanya gue panik.
"Pernikahan lo sama Aryan...!" jawab Jelita.
Disusul dengan bapak dan ibu serta keluarga gue yang lainnya dengan antusias.
"Dek, seminggu lagi nih kamu meridnya..selamat ya..!" kata Mbak Ratna.
"Gak nyangka..adekku mau nyusul aku nikah..!" sahut Mas Wisnu.
"He em..padahal aku juga masih pengantin baru, eh..dianya nyusul juga..hahahaa!" seloroh Mas Rama.
"Lha ini nanti Bapak punya cucunya doble ya..dari kamu sama Liana...!" timpal Bapak.
"Lhooo, ini serius kalo Liana sama Aryan nikahnya seminggu lagi..?" tanya gue memastikan.
__ADS_1
"Iyaaaa!!!" jawab semua orang kompak.
"Kita udahan dulu ya VCnya, mau lanjut bahas nikah kalian, tenang girl..you terima beres aja okeee?" kata Jelita sambil mematikan panggilan video.
Gue cuman bengong saja, disaksikan anak-anak kos yang lain dari belakang.
...*****...
"Li...beneran lo mau merid sama Aryan?" tanya Lusi kepo.
"He em nih, kita kepo berjamaah Li...!" sahut Lora.
"Kok diem aja sih Lo...jawab napa!" timpal Niken yang penasaran.
Gue cuman ngangguk sambil menutup muka, gue malu sendiri jadinya sama anak-anak. Mereka pun pada ngasih selamat dan meluk gue.
"Aaah..gue bakalan kehilangan lo dong...!" kata Lora mendadak melo.
"Kalo dah merid kan gak mungkin juga lo stay di sini..!" ujar Lusi.
Gue pun tersenyum sambil jawab semua pertanyaan mereka.
"Gue kan mau merid, bukan mau maju ke medan perang!" jawab gue.
"Ke medan perang kali...!" timpal Lora.
"Perang apaan?" tanya Lusi polos.
"Perang ranjang!" timpal Wike.
"Si Wike, pengalaman nih keknya..hahaha!" celetuk Niken.
"Lah iya..perang ranjang orang udah halal juga..!" jawab Wike cengengesan.
"Duh gaes..kalian ini ya, pikirannya udah ke sono mulu...!" kata gue.
"Eh..jangan salah lo, si Aryan kan lagi menjelang dewasa nih, lo kudu ekstra ntar pas ngelayanin dia..!" kata Lusi.
"Sok tau lo...gue tampol juga!"
"Dih..dia dikasih tau gak percaya.. tanya noh ama si Wulan noh, dia kan anak kesehatan tuh..!" jawab Lusi.
"Aah..ntar gue browsing aja deh..ribet ama lo pada..!"
"Jangan browsing, lo tanya sama suhu nya aja, si Lutfi, dia lebih jago dari google taukkk!" kata Lora.
"Aah..gue maluuu...!" kata gue sambil nutupin muka pake bantal.
Mereka semua pada cekikikan ngeliatin tingkah gue. Dan gue sendiri gak percaya, seminggu lagi gue bakalan merid sama Aryan. Dan kita bakalan tinggal bareng. Bahkan tidur bareng seranjang. Tuhan, gue udah baper plus mupeng duluan. Dan raut wajah gue yang kian merah merona membuat Lora dan Lusi sukses bikin gue kaya kepiting rebus.
__ADS_1