Beda Usia

Beda Usia
Pindahan Rempong


__ADS_3

"Udah nih TVnya, mo yang lebih gede? apa kita beli aja home teater ya..?" tanya Jelita antusias.


"Gak usah, ntar dikira mau kawinan lagi pas gue nyetel musik keras-keras..!" jawab gue.


Kakak ipar yang luar biasa baiknya. Semua barang yang belum ready di kontrakan dia dan Jingga yang mau beliin. Segala sofa segede gaban juga mau dipesenin. Belum lagi kamar mandinya bakalan dipasang water heater. Gue ngerasa semakin gak enak kali. Mereka sih enak aja bilangnya, pengen kasih yang terbaik buat gue sama Aryan. Tapi jatohnya kaya gue habis menang lotre, dapat suami tajir plus ganteng pulak. Gue cuman terduduk lesu melihat antusiasme Jelita dan Jingga.


Tanpa gue sadari Bu Sukma yang dari tadi ikut packing pakaian mendekati dan menyodorkan segelas air minum.


"Gak usah heran sama dua cewek cantik itu..!" katanya sambil duduk di sebelah gue.


"Maksudnya bu?" tanya gue penasaran.


"Sebelum mereka lahir, suami ibu sudah bekerja dengan orang tua Pak Rahardian. Mertua ibu adalah sahabat kakek mereka. Begitu dermawan dan baik hatinya mereka, sudah tersebar ke mana-mana. Mereka diajarkan berbagi, menyayangi, menghormati, menghargai sesama. Mereka tumbuh dalam cinta kasih orang tua, walau berjauhan. Sejak kecil Ibu dan Bapak yang selalu ada untuk mereka. Heru pun sudah seperti anaknya Pak Rahardian...!" cerita Bu Sukma terhenti.


"Tapi Liana jadi gak enak sendiri Bu..ini terlalu berlebihan. Kita mau ngontrak juga supaya belajar mandiri..!" kata gue lagi.


"Terima saja, mereka akan kecewa kalau Liana menolaknya. Aryan lelaki yang bijak, Liana pasti kagum jika semakin mengenalnya..!" ujar Bu Salma.


"Walo kadang dia nyebelin bu, suka seenak jidat ambil keputusan, tanpa bilang ke Liana dulu..!" kata gue manyun.


"Yah..dia memang gitu anaknya. Suka kasih kejutan..!" ucapnya sembari mengantarkan minuman untuk Jelita dan Jingga.


Mereka nampak berkeringat menata semua barang yang akan masuk ke kontrakan gue dan Aryan.


"Finisshh..i am so tired..!" ujar Jingga sambil tiduran di sofa.


"Mayan bakar lemak, right?" tanya Jelita.


Jingga pun mengangguk, dan tersenyum seraya meregangkan badannya.


...*****...


"Buset Liana, lo mau transmigrasi bedol desa apa gimana?" tanya Lutfi begitu melihat barang bawaan yang bakalan gue angkut ke kontrakan.


Salma cuma nyengir doang.


"Ini udah gue kurangin tauk..!" jawab gue melas.


Sementara Jelita dan Jingga tertawa melihat kami keheranan.


"Ini pasti kerjaan kakak ipar lo kan? segitu sayangnya ya mereka sama lo.." celetuk Salma.


Jelita dan Jingga pun menghampiri.


"we love you so much..!" kata mereka sambil memeluk gue.


"Iya..i love you both too...!" Jawab gue terharu.


Semuanya pun sudah masuk ke dalam mobil box besar. Dan siap untuk berangkat ke kontrakan. Aryan sudah lebih dulu ke sana. Dibantu Hendra, dia lagi ngecek pemasangan water heater serta wifi.


Kamipun menuju kontrakan. Jelita dan Jingga di depan, sedang gue, Salma dan Lutfi di belakang. Mobil box besar muatan barang pun mengikuti laju mobil Jelita.


Sesampainya depan gang masuk kontrakan, beberapa penghuni rumah kontrakan menatap kami heran. Beneran nih kata si Lutfi, gue dah kayak mau transmigrasi. Dengan senyuman yang tersungging di bibir gue melangkah menuju kosan. Di sana nampak Mbak Tari, istrinya Mas Hendra.


"Liana..!" sapanya sambil melambaikan tangan.


Gue pun menghampirinya bersama dengan yang lainnya. Dia sudah menyiapkan beberapa minuman dan makanan untuk pekerja yang membawa barang-barang ke lantai 2.

__ADS_1


"Mbak..kok ngrepotin aja, udah disediakan makanan dan minuman..!" kata gue sungkan.


"Ini juga suami kamu yang minta Li, dia tadi pesan ke Mas Hendra. Mumpung aku juga lagi libur kerjanya, nanti aku bantuin rapi-rapi ya..!" jawabnya sambil senyum.


Mbak Tari kerja di pabrik garmen, bagian finishing. Dia selalu ambil jam kerja malam, biar siangnya bisa ngurus anak.


"Mbak..kenalin ini Jelita dan Jingga kakak Aryan, dan Salma Lutfi sahabatku..!" kata gue sambil ngenalin mereka.


"Thanks ya Mbak..lega juga Aryan dan Liana punya kenalan di sini..!" kata Jingga.


"Aryan dah banyak banget bantuin keluarga saya..gak bisa saya balasnya..!" ujarnya sambil berkaca-kaca.


"That's my boy..begitulah dia, jangan sungkan, anggap saja kita keluarga sekarang..!" kata Jelita sambil mengelus pundak Mbak Tari.


Gue semakin gak percaya, ini keluarga konglomerat kok gini banget baiknya. Bikin gue malu yang sukanya mikir dulu kalau mau nolongin orang.


Kamipun lanjut duduk sambil ngobrol di ruang tamu Mbak Tari. Sementara para pekerja masih mondar mandir angkat perabotan rumah.


...*****...


Satu jam berlalu, dan Aryan pun sudah mengirim pesan agar gue dan yang lainnya naik ke kontrakan. Para pekerjapun sedang istirahat di teras Mbak Tari.


Aryanku


Sayang dah kelar semua nih, buruan ajak yang lainnya masuk!


"Mbak, kita mau naik dulu ya. Aryan dah ngirim pesan barusan. Nanti ini ditambahin aja kalau ada yang kurang ya..!" kata gue sambil pamitan.


"Masih ada kok di belakang Li, emang tadi belinya dilebihin biar kalo kurang langsung aman..!" jawabnya sambil senyum.


"Jangan lupa, Mbak Tari, Mas Hendra sama si kecil disisihkan dulu ya...buat makan siang!" pesanku.


"Aku yang makasih, udah ngrepotin.."


Kamipun naik ke lantai dua, dan saat membuka pintu pemandangan dalam kontrakanpun memukau. Yang tadinya isinya minimalis. Mendadak full barang yang gak main-main mewahnya.


"Bisa betah gue kalo nginep sini Li..gila ya kontrakan lo!" kata Lutfi sambil berdecak.


"Nginep aja bro..kamar ada dua juga!" jawab Aryan.


Ruang tamu merangkap ruang makan ini pun sudah dipasangi AC. Terdapat meja kerja di sudut ruangan, lengkap dengan laptop di atas mejanya. Bahkan lantainya pun sudah dipasangi karpet mewah nan lembut.


"Yan, ini serius kontrakan kita?" tanya gue memastikan.


"Iya lah sayang, disulap dikit..biar lo terpukau..!" katanya sambil ngedipin mata.


"Dikit? banyak Li yang disulap..!" timpal Mas Hendra.


Jelita dan Jingga pun nampak puas dengan perabotan yang sudah di tata rapi. Mereka lalu mengecek kamar tidur utama dan dapur, mereka bakalan memastikan kalau semuanya sudah lengkap.


"Well..semua udah lengkap..!" kata Jelita.


"Yes, kita jadi tenang besok pas balik ke Paris..!" ucap Jingga.


"Gak bisa lebih lama lagi nih kalian di sini nya?" tanya gue sedih.


"Maybe next month kita balik lagi, tapi gak lama..!" jawab Jingga.

__ADS_1


"Yaeh, kita harus bantuin mama urus bisnis di sana. Kalau papa, udah ada Om Haris dan Om Darren yang bantuin. Don't be sad, kalo enggak nanti kalian aja yang ke Paris..." Kata Jelita.


"Jauh kali ke sana...mana mahal lagi!" kata Lutfi.


"Itu urusan kita..kalian kalo mau ikutan juga ngabarin ya..!" ujar Jingga kepada Lutfi dan Salma.


"Aaahh...gue mau ke Paris...!" kata si Salma berbinar.


"Paris sono..Parang Tritis..!" celetuk Lutfi. Sontak saja kami semua tertawa melihat kekonyolan dua sejoli ini.


"Udah, malam ini kita tidur di kontrakan gue, jangan lupa kabarin Lusi sama Lora, suruh mereka ke sini..!" suruh gue.


"Evan sama yang lainnya masih di Labuan Bajo?" tanya Aryan ke Jelita.


"Yap, masih..story mereka masih having fun di sana, gue tanya Vania, mereka masih mau healing katanya..!" Jawab Jelita.


"Kalo gitu kita nge-grill aja guys..gimana?" tanya Jelita.


"Aduh..orang kaya mah nge-grill, gue bakar-bakaran sate...!" celetuk Lutfi.


Kamipun tertawa, emang ya dua kakak ipar gue ini gak ada lawannya. Langsung aja mereka nelpon chef yang dulu datang pas nikahan gue sama Aryan. Diminta bawain paket grill lengkap sama daging dan pendampingnya.


Tak lupa Mas Hendra dan keluarga kecilnya pun kami ajak. Sekalian kenalan dengan para penghuni kontrakan yang lain. Kami putuskan acaranya ada di garasi bawah yang masih kosong, karena hanya diisi beberapa motor.


...*****...


**Penghuni kontrakan bawah


Kamar 1* (Dihuni oleh Surya Atmaja*)


Mahasiswa tingkat akhir yang sedang frustasi karena sidang skripsi tak kunjung datang.


Kamar 2 (Di huni oleh Gatot Susanto)


Kerja di restoran cepat saji a.k.a yang terkenal dengan logo kakek berjenggot. Saat ini sedang cuti karena patah hati, kerja jadi gak fokus.


Kamar 3 (Dihuni oleh sepasang suami istri muda, Ilham Maulana dan Hani Vitria)


Ilham Maulana bekerja sebagai teller di salah satu Bank Swasta sementara Hani sebagai SPG Kosmetik.


Kamar 4 (Dihuni oleh Nana Marlina, janda muda anak satu yang sering jadi rebutan Surya dan Gatot)


Nana kerja di pabrik garmen yang sama dengan Mbak Tari, istri Mas Hendra.


Kamar 5 (Dihuni oleh Suami istri anak 1, Bisma Ardiyanto dan Kania Dewi)


Bisma kerja sebagai kurir ekspedisi, sedangkan Kania berjualan baju online di kontrakan)


**Penghuni Kamar Atas


Kamar 1* (Dihuni oleh sepasang suami istri muda, Niko Pratama dan Rania Sari*)


Niko adalah seorang manajer marketing, sedangkan Rania bekerja sebagai CS di bank BUMN)


Kamar 2 (Dihuni oleh Denny Yanuar, seorang dosen muda di Universitas swasta)


Masih single, tampan dan disukai oleh Nana Marlina.

__ADS_1


Kamar 3 (Dihuni oleh sepasang suami istri muda yang usianya beda yaitu Aryan dan Liana)


__ADS_2