
Arya masih terus berdiri berada di depan kost bersama Yola. Suasana yang dingin bersama dengan keadaan yang semakin sepi membuat mereka berdua semakin larut akan kebersamaan mereka. Yola tersenyum menatap Arya dengan penuh perasaan senang. Mereka berdua terus mengobrol tanpa mengingat waktu yang terus bergulir. Tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 01.00 WIB.
"Eh sudah malam Ar, aku masuk dulu ya ?"
Yola tersenyum dan berjalan masuk ke gerbang kost.
"Ya Yol, aku juga pulang dulu"
Arya langsung menyalakan motor nya dan pergi meninggal kan kost Yola. Di sepanjang perjalanan Arya terus mengingat kejadian saat bersama Yola. Malam semakin larut, perjalanan Arya pulang pun terasa begitu lambat bersamaan dengan kenangan yang terus dia ingat.
Waktu tak terasa semakin larut, Arya pun sampai di depan rumah dengan senyuman di wajahnya. Di bawa masuknya motor nya dan mengunci gerbang rumah kontrakannya. Saat Arya membuka pintu rumah, betapa kagetnya dia. Terlihat Echa yang tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala tergeletak di meja serta terdapat kopi yang sudah dingin di samping nya.
Arya hanya tertegun menatap Echa dan senyum yang sebelumnya melekat di wajah nya berubah menjadi sedih dan khawatir. Arya pun bergegas menggendong Echa dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk tidur. Di baringkan nya Echa di tempat tidur, dan Arya pun berjalan meninggalkan nya.
"Selamat datang mas"
Terdengar suara Echa yang tengah ngelindur karena menunggu Arya. Mendengar hal itu Arya hanya bisa diam dan berjalan menuju ruang tamu. Di ambilnya secangkir kopi yang dingin dan mengeluarkan sebatang rokok untuk di hisap.
"Aku pulang, kopi nya ternyata memang sudah dingin"
Wajah Arya berubah sedih beriringan dengan suasana sepi dan gelapnya lampu ruang tamu.
"Kenapa aku sebodoh itu dan melupakan dia yang menunggu"
Arya menatap secangkir kopinya dan merenungi kesalahannya pada Echa. Karena suasana yang sunyi dan semakin malam, mata Arya pun mulai terasa berat dan tertidur di sofa.
Keesokan paginya terlihat sebuah nasi goreng dengan telur berada di depan tempat Arya tidur. Suasana terasa sepi, Arya menatap ke sekeliling ruangan tidak sedikit pun terlihat Echa berada di dapur. Arya pun berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Terlihat piring dan peralatan memasak sudah bersih, Arya pun masuk ke kamar mandi. Arya kembali ke sofa tempat ruang tamu dan menyantap nasi goreng yang ada. Arya menikmati makan nasi gorengnya, tiba - tiba dari depan pintu terbuka dan Echa pun masuk membawa plastik berisi sayuran. Arya berhenti makan dan menatap Echa, namun dia seolah cuek padanya lalu berjalan menuju dapur.
"He... Hei"
"Apa"
Echa tidak berbalik sedikit pun dan hanya berdiri di jalan masuk menuju dapur. Arya menunduk dan mengambil piring yang mulai habis dan memberikannya kepada Echa.
"Sekalian bawa dan cuci"
Echa hanya diam dan mengambil piring lalu membawanya ke dapur. Arya hanya terduduk dan menunduk kan kepala. Dalam hatinya dia merasa bingung dengan sikap Echa. Suasana pagi itu terasa begitu sunyi dan seolah ada jarak antara dia dan Arya. Sebatang rokok pun di ambil dan di nyalakan, lalu dia bersandar di sofa. Echa keluar dari dapur menuju ke ruang tamu dan meletakkan secangkir kopi di meja, lalu dia kembali berjalan meninggalkan Arya.
__ADS_1
"Apa kamu marah sama aku ?"
Echa berhenti berjalan mendengar ucapan Arya.
"Kalau kamu marah, maaf kan aku"
Echa berbalik menatap Arya dan tersenyum.
"Aku nggak marah kok, lagian aku nggak ada hak buat marah sama kamu Mas"
Echa pun berjalan masuk ke dapur dan mulai mengolah bahan makanan yang sudah di beli. Arya hanya duduk dan menundukkan kepalanya sambil menghisap rokoknya.
"Dia bohong sama aku ya ? aku bodoh membuatnya marah"
Waktu terus berlalu dan Arya pun mulai berangkat kerja, tak ada senyuman atau orang yang mengantarnya sampai depan rumah. Arya pergi meninggalkan rumah dan berangkat dengan perasaan yang kacau serta merasa bersalah.
Sampainya di tempat kerja, Arya berjalan masuk dan mulai melakukan pekerjaan meski perasaan nya sedang kurang baik. Setiap pekerjaan yang dia lakukan terus teringat sikap Echa yang berbeda.
Sore pun datang menghampiri, dan semua pegawai mulai pulang. Arya berjalan dengan pelan menuju kendaraan nya. Saat hendak naik ke motornya, Pampam pun datang dan memukul pundaknya.
"Hei, mau kemana Ar ?"
"Walah sang pengembara lupa kemarin mau cerita kan sesuatu kan hehe"
Arya mulai mengingat bahwa kemarin akan menceritakan semuanya pada Pampam.
"Baiklah Pam, kita ngobrol di tempat biasa"
Pampam tersenyum dan langsung naik ke motornya. Mereka berdua pun menjalankan motornya dan pergi ke tempat ngopi mereka berdua. Sesampainya disana, mereka langsung menuju tempat duduk yang kosong dan memesan 2 kopi hitam. Mereka mengeluarkan sebungkus rokoknya dan meletakkan di meja. Arya mulai menyalakan sebatang rokok dan di ikuti oleh Pampam. Kopi pun datang di meja dan mereka mulai obrolan serius itu.
"Jadi apa yang mau kau ceritakan Ar ? Soal hubungan mu sama Yola itu hanya ke bohongan nya saja kan ?"
"Bagaimana kau tau Pam ?"
"Aku sudah mengenal mu sejak SMP, jadi aku paham dengan setiap hal yang aneh. Terutama saat Yola bilang kalian jadian, itu hal yang tak masuk akal"
"Ya, kau memang orang yang selalu mengerti aku Pam. Ku rasa, aku tak bisa menyembunyikan nya juga"
__ADS_1
"Jadi ada apa ?"
Arya meminum kopinya kemudian menghisap rokoknya dan menatap langit - langit.
"Ceritanya akan panjang Pam"
Pampam mulai paham, ada hal yang susah dia jelaskan.
"Cerita kan saja dengan ringkas dan mudah ku pahami Ar"
Arya hanya senyum dan menghisap rokoknya lalu mengeluarkan asapnya.
"Aku dan Yola memang tidak jadian, namun setelah dia menolak ku waktu itu semua jadi aneh"
"Aneh ? maksud mu Ar ?"
"Ya aneh saja. Sebelumnya aku tak menembaknya dan aku mundur karena ku kira dia sudah ada yang punya. Namun tiba-tiba dia kembali dan menjelaskan statusnya yang belum punya pacar"
"Oh iya, kamu sempat cerita itu ya Ar. Lalu apa yang terjadi sampai dia bilang kalian jadian ?"
Arya hanya diam dan mematikan rokoknya lalu meminum kopinya. Pampam terlihat serius ingin tahu soal masalah teman nya itu.
"Yah bisa di bilang itu salah paham Pam"
"Maksudnya Ar ?"
"Kami makan berdua dan ke taman bertemu sama kamu waktu itu, kau ingatkan pas di taman ?"
"Yah aku ingat, ku kira waktu itu kalian sedang bermesraan"
"Kagak lah, kau terlalu mikir aneh Pam"
"Hahaha kan siapa tahu kalian sedang bermesraan"
"Kagak, aku hanya ngobrol biasa soal masalah itu. Dan dia bilang suka sama aku namun hati ku sudah terlanjur kecewa. Jadi ku bilang, sebaiknya biarkan hubungan kita seperti biasa. Namun dia salah terima dan menyimpulkan hal yang berbeda"
"Jadi itu penyebab salah pahamnya"
__ADS_1
Mereka berdua pun mulai menyalakan rokok dan menghisapnya.
"Eh Ar, kemarin aku ke kontrakan mu. Lalu disana ada cewek SMA pakai seragam olahraga. Siapa dia Ar ?"