Beda Usia

Beda Usia
Teguran Untuk Zafran


__ADS_3

Selepas mendengar kabar jika keluarga Zafran datang untuk melamar. Pikiran gue mendadak dipenuhi rasa benci yang teramat sangat kepadanya. Apa maksudnya Zafran meminta orang tuanya untuk melamar gue. Padahal dia tau kalau gue sedang menjalin hubungan dengan Aryan. Di hari pertama kerja, kenapa harus mendapatkan berita seperti ini. Dan gue gak mau performa kerja gue buruk di mata Vania dan teman-teman yang lain.


...Notifikasi pesan masuk....


..."Sayang, gimana kerjanya?" (*t**erkirim*)...


Satu pesan dari Aryan membuyarkan lamunan gue.


"Hai Yan, lumayan, karena banyak yang harus gue cek. Tapi semuanya aman kok..!"


AryanKu mengetik..


"Om barusan video call gue, dan ngasih tau info kamu dilamar seseorang. Gue gak nyangka Pak Zafran seberani itu meminta keluarganya buat lamar lo! " (terkirim)


"Ya, gue juga kaget Yan dengan apa yang Zafran lakuin..Tapi, jangan dipikirkan ya sayang, Bapak juga dah nolak lamaran keluarga dia kan, jadi semuanya dah clear.."


AryanKu mengetik..


"Belum selesai buat gue, siang ini sebelum kerja, gue akan temuin Pak Zafran" (terkirim)


"Buat apa Yan? gak usah kita berurusan lagi dengan dia, gue dah benci banget sama tuh orang..caranya kekanak-kanakan!"


AryanK mengetik..


"Gue akan bicara antar sesama lelaki sama dia, gue gak akan pake kekerasan, gue akan buktikan, kalo gue bukan anak ingusan kaya yang dia pikirkan!" (terkirim)


"Yan, gue percaya sama lo, tapi gak usah lah, kita mikirin dia, toh semua akses udah gue blokir!"


AryanKu mengetik..


"Please, trust me! gue gak akan bertindak kaya anak kecil, ijinin gue buktikan ke lo, kalo gue pantas dapetin lo!" (terkirim)


"Oke sayang, gue percaya sama lo, hati-hati di jalan, i love you.."


AryanKu mengetik..


"I love you more.."


...*****...


Aryan menunggu Zafran tepat di dekat parkiran mobil. Mobilnya masih di sekolah, berarti Zafran masih ada. Aryan mencoba menenangkan hati dan pikiran. Dia gak mau terpancing emosi saat berbicara dengan Zafran. Beberapa menit kemudian, Zafran sampai di parkiran. Dan seketika Aryan menghampirinya.


"Siang Pak Zafran..!"


"Siang!" Jawab Zafran sambil menoleh ke arah suara.

__ADS_1


"Apa kabarnya Pak?" tanya Aryan lagi.


"Oohh..Aryan rupanya, ada apa Yan?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Silahkan, mau bicara di mana?"


"Di cafe depan sekolah, mari!" kata Aryan sambil ke arah cafe. Zafranpun mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di cafe.


"Silakan duduk Pak, silahkan mau pesan apa?" tanya Aryan menawarkan.


"Tidak, terima kasih, bisa langsung ke pokok pembicaraan?" tanya Zafran.


"Tentu, itu lebih baik, agar urusan kita segera selesai..!"


Aryan menghela nafas dalam.


"Pak Zafran, saya menghormati bapak, karena anda adalah guru saya. Namun, setelah saya keluar dari sekolah, dan memulai masa baru, sampai saat inipun saya masih respect ke bapak, sebagai orang yang lebih tua. Saya harap, kejadian lamaran keluarga anda adalah yang pertama dan terakhir kalinya kepada Liana.!" jelas Aryan tenang.


"Lalu apa masalahnya? jika keluarga saya melamar Liana?"


"Memang benar adanya, kamu hanya anak ingusan yang belum genap 20 tahun, lalu apa yang mau kamu buktikan? menikahi Liana? punya modal apa kamu? selain harta orang tua!"


"Picik sekali pikiran bapak! Bapak harusnya bisa menempatkan diri, dan bisa menghormati orang lain. Liana adalah kekasih saya. Dan saya tidak terima, ada pria lain yang mendekatinya!"


"Selama dia belum menikah dengan siapapun, saya masih berhak untuk memperjuangkannya..!"


"Silakan bapak lakukan itu untuk kesekian kalinya, saya mengajak bicara bapak sebagai sesama laki-laki. Sampai kapanpun saya tidak akan gentar, Liana akan menikah dengan saya!"


"Liana hanya sedang bucin saja, wajar jika dia menjalin cinta dengan anak muda macam kamu..!"


"Saya rasa cukup, teguran saya ke bapak, tolong jangan ganggu hubungan saya dengan Liana!"


"Kamu tidak berhak melarang saya Aryan!"


"Tapi saya berhak melindungi orang yang saya cintai, jangan sampai saya bertindak seperti anak ingusan seperti yang anda sematkan kepada saya!"


"Kamu tidak pantas untuk Liana..!


"Lantas bapak merasa lebih pantas dibandingkan saya? Liana bukan wanita matrealistis sepsrti yang bapak tuduhkan, lalu apa bedanya bapak dengan saya, bapak juga memanfaatkan kekayaan dan posisi orang tua, lantas anda sebut diri anda apa?"


Aryan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Jangan sampai hal ini anda lakukan lagi, jika bapak tidak mau Liana menjadi benci kepada anda, permisi!" ucap Aryan sambil meninggalkan Zafran yang masih terduduk lesu di kursi cafe.


Tangan Aryan mengepal, menahan amarah yang meyeruak di dada. Ingin rasanya dia memukul Zafran, namun dia urungkan. Dia bukan lagi anak ingusan yang mementingkan emosi jika sedang berdebat. Dia laki-laki yang menjelang dewasa.


Dipacu motornya meninggalkan parkiran cafe, menuju tempat kerja Liana, dia ingin menemuinya sebentar sebelum ke minimarket.


...*****...


"Sayang boleh keluar sebentar? gue di parkiran butik!"


(Isi pesan yang dikirim Aryan)


Selang beberapa menit.


Gue melihat pria tampan itu masih duduk di atas motornya. Begitu melihat gue di parkiran, dengan segera dia turun dari motor dan membuka helm. Senyuman di wajahnya membuat siang ini makin cerah. Segera gue hampiri dia.


"Gimana sayang?" tanya gue khawatir ke dia. Gue pegang pipinya mesra.


"Beres donk..gue udah tegur Pak Zafran!" jawabnya sambil memegang balik tangan gue.


"Dia mau denger?"


"Ya gak lah..dia keras kepala!" jawabnya agak manyun.


Gue usap pipinya pelan, dan sebuah kecupan mesra gue daratkan ke bibirnya yang tipis menggoda.


"Yang penting gue cuman punya lo, gak ada yang bisa gantiin itu sekarang ataupun nanti!" kata gue.


Diapun tersenyum sembari memeluk gue erat. Satu kalimat dia bisikkan ke telinga gue.


"I love you sayang..!"


"I love you more..!"


Dan dia pun pergi untuk kerja ke minimarket, dan gue pun masuk lagi ke butik dengan perasaan lega. Gue yakin Aryan bisa membuktikan kepada Zafran, bahwa pemikirannya selama ini salah. Aryan bukan anak ingusan manja. Dia telah menjelma menjadi pria dewasa yang lebih dewasa dari usianya.


Gue kirim pesan ke Jelita, mengabarkan bahwa Aryan baik-baik saja. Karena sebelumnya gue bilang ke Jelita bahwa Aryan akan menemui orang yang meminta keluarganya melamar gue.


"Aryan barusan dari sini, dia baik-baik aja, kayaknya dia berhasil kasih teguran ke Zafran"


Jelita mengetik..


"I know my boy, dia gak akan pake kekerasan kalo nyelesaikan masalah, don't worry Liana. Kalo tuh orang ganggu lo lagi, biar gue yang turun tangan.."


Gue tersenyum baca isi pesan Jelita.

__ADS_1


__ADS_2