
Pekerjaan jadi kasir di minimarket kakak Salma, lumayan menguras tenaga bagi Aryan. Gimana tidak, yang tadinya pada malas belanja, mendadak sampai pada ngantri-ngantri demi bisa dilayani saat bayar sama Aryan. Karena hari ini adalah hari kedatangan Papah dan Kakaknya, Aryan jadi tukar shift sama temannya. Dia jadi kerja di shift pagi supaya bisa ketemu dengan keluarganya.
Dan pelanggan yang biasa dilayani Aryan pun pada kecewa pas saat bayar bukan wajah Aryan yang terpampang di sana.
"Yah..udah ngantri bukan si ganteng yang layanin..dia kemana sih Mas?" tanya rombongan cewek SMA.
"Lagi ijin soalnya ortunya datang dari luar negeri..!" Jawab Syaiful (karyawan senior).
"Kan..apa gue bilang, mas ganteng itu pasti blasteran..!" bisik-bisik mereka.
"Ini jadi bayar gak nih? di belakang masih ngantri tuh..!" tegur Syaiful.
"Kagak jadi ah..bukan Mas Aryan soalnya yang jaga kasir..!" jawab salah satunya sambil ngeloyor pergi.
"Hhmm..dasar cabe-cabean karbitan..!" gerutu Syaiful.
...*****...
Sementara Aryan yang sedang menunggu kedatangan Papah dan Kakaknya, mengajak Liana untuk membeli softdrink karena sedari tadi dia haus belum minum selama di minimarket.
"Mo minum gak? gue haus soalnya..!" kata Aryan.
,"Ya udah, kita cari minum dulu..landing jam berapa pesawatnya?" tanya gue balik.
"Masih 15 menit lagi..!" jawab Aryan.
Setelah mendapatkan minuman, kami pun kembali ke bagian arrival, dan Aryan pun melambai ke arah seorang paruh baya dengan pakaian resmi berjas yang masih terlihat tampan walau uban menutupi seluruh rambutnya, dan seorang waninta cantik bak model internasional yang memakai baju kasual.
."Boy...i miss you so much...!" kata cewek tadi.
"Miss u too!" kata Aryan sambil memeluknya.
"Yah, masa papah gak kangen?" tanya pria paruh baya di sebelahnya.
"Miss u too Pah..!" kata Aryan memeluknya.
Mereka bertiga nampak saling menyayangi, dan kangen berat karena sudah hampir dua tahun gak ketemu. Gue yang cuman bengong sambil berkedip mata melihat pemandangan itu, membuat cewek yang di dekat Aryan bertanya.
"Hai..who is she? siapa tuh?" tanyanya sambil menunjuk ke arah gue.
Aryan pun sampai lupa kalau dia ngajak gue, saking kangennya sama papah dan kakaknya.
"Damn, i forget her..!" katanya sambil berjalan ke arah gue dan ngajak gue ke papah dan kakaknya.
"Pah, ini pacar Aryan..Liana!" katanya ke papah Aryan.
Gue dengan sedikit gemetar pun mengulurkan tangan. Lelaki itupun membuka kacamata hitam yang sedari tadi dia pakai.
."Halo nona cantik..!" sapanya ramah. Langsung saja gue ulurkan tangan dan mencium punggung tangannya.
"Halo Om..Liana!" kenal gue.
Kakak Aryan pun segera mengulurkan tangan dengan senyuman manis, yang bikin dia makin terlihat cantik.
"Hai..Jelita!" sapanya ramah.
"Oh Hai..Liana!" jawab gue.
__ADS_1
"Ini yang papah suka sama orang Indonesia..respect sama yang lebih tua...!" liriknya ke arah kakak Aryan.
"What Pah? aku kan respect juga sama papah..!" katanya manyun.
Papah Aryan pun tersenyum sambil menggandeng lengan putrinya. Dan Aryan menggandeng gue berjalan di belakang mereka. Nampak Pak Nardi sudah menunggu di jalan depan bandara. Menyaksikan bagaimana papah Aryan memperlakukan Pak Nardi, yang katanya sopir pribadi, sungguh membuat gue terpana. Dirangkulnya Pak Nardi penuh sukacita.
"Selamat datang Tuan..!" sapa Pak Nardi sopan.
"Heii..apa panggil tuan, sudah dibilang jangan panggil tuan..panggil Rahardian..!" katanya sambil memeluk Pak Nardi. Diikuti dengan Jelita yang memeluk Pak Nardi seperti orang tuanya sendiri. Lalu hal mengejutkan pun dilakukan Jelita, dia mencium tangan Pak Nardi, yang membuat papahnya tak percaya.
"Itu baru anak papah...Good girl..!" katanya sambil membelai lembut kepala putrinya.
"Ayo pah..aku dah laper pengen makan pecel buatan bu Sukma (istrinya Pak Nardi)..!" kata Jelita.
"Let's Go..papa juga sudah lama gak makan pecel..!"
Nie orang kaya, perginya ke luar negeri, sampe sini yang dicari nasi pecel. Itu mah makanan gue sehari-hari. Ada juga yang agak mewah dikit, nasi uduk Mak Imah, sebrang kampus.
...*****...
"Ibuu....kangenn!!" kata Jelita sambil memeluk Bu Sukma sesampainya di rumah. Keluarga Pak Nardi tinggal di paviliun mewah sebelah rumah Aryan. Keluarga Aryan memperlakukan keluarga Pak Nardi layaknya keluarga.
"Tambah tinggi ya, tambah cantik juga..!" kata Bu Sukma.
"Yes..aku makan banyak di sana, tapi gak ada yang seenak masakan Bu Sukma.." katanya manja. Seketika pandangannya menoleh ke arah Heru yang baru saja keluar dari samping rumah. Jelita pun langsung menghamburkan pelukannya ke arah pemuda tersebut. Dengan wajah merah padam Herupun menyambut pelukan jelita.
"Haiii...you look handsome now!! miss u!! katanya sambil memeluk Heru.
"Mmii..mii..miiss u too!" jawab Heru terbata-bata karena grogi dipeluk wanita cantik.
"Karena kami sudah akrab sedari kecil..Heru dah kayak adiknya sendiri..!" kata Aryan.
...*****...
"Well..aku gak nyangka kalo adik aku udah punya pacar sekarang..!" katanya sambil mempersilahkan gue duduk.
"Emangnya dia gak pernah punya pacar sebelumnya?" tanya gue kepo. Masa iya, cowok seganteng Aryan betah banget ngejomblo. Orang dia ngedipin mata doang, cewek pada kepincut. Si Aryan hidup di dunia mana sih sebelum ketemu gue.
"Dia gak pernah mau urusan sama perempuan selain orang rumah, kaya mamah aku, Jingga adikku dan Helen sodara kembarnya. Sewaktu dia sekolah di international School, aku dah nebak dia gak bakalan betah. Cuman karena emang sedari jaman aku SD, aku dan Jingga lulusan sana. Aryan dan Helen beda, gak kayak kami!" cerita Jelita.
"Maksudnya beda?" tanya gue lagi.
"Mereka berdua gak suka gaul dengan kaum elit, ya sebutan buat anak-anak orang kaya, kalo aku dan Jingga, cuman sebatas teman aja, gak lebih. Kita masih bisa bergaul sama mereka. Walo aslinya, di belakang kita mereka juga suka jelek-jelekin kita. But, i don't care, selama mereka gak bikin masalah sama aku, aku santai!"
"Itu sebabnya dia pindah ke sekolah negeri biasa..!" gumam gue.
"Yeah..selain buat ngilangin trauma dia karna meninggalnya Helen, dia juga jengah selalu diincar sama Sherly, you know her, right?" tanyanya ke arah gue.
Gue mengangguk pelan.
"Dia emang sakit otaknya, psikisnya kayaknya juga sakit..!" kata Jelita geram.
"Btw kamu kuliah? atau dah lulus?" tanya gue.
"Udah lulus, aku lagi mau ambil spesialis, gini-gini aku dokter loh..!" jawabnya sambil tertawa.
"Oh ya...keren!"
__ADS_1
"Apanya yang keren, enggaklah..kamu sendiri?" tanyanya balik.
"Udah lulus juga tahun ini, masih nyari kerja..!" jawab gue.
"Umur kamu?" tanyanya selidik.
"23, kamu?"
"What?? seriously? 23 tahun?" tanyanya kaget.
"Yaaa..kenapa?" tanya gue bingung.
Jelita tertawa, dan itu bikin gue bingung plus heran
"Ngapain kita ngobrolnya pake aku dan kamu, kalau tau kita seumuran, please deh!" katanya sambil tertawa.
"Seumuran?" tanya gue balik.
"Yap..gue umur 23 tahun, gak nyangka adik gue macarin cewek seumuran gue, but..i don't mind, lo gak usah khawatir, gue gak sepicik itu nilai suatu hubungan dari usia masing-masing pasangan..!" katanya sambil liat ke gue.
"Yeah, gue juga gak tau kenapa adik lo bisa jadiin gue pacarnya dia, padahal yang lebih cantik banyak di luar sana..!"
"Gue dah bilang, Aryan beda..gue gak tahu ya, isi otak dia apa..But, gue yakin dia punya alasan kenapa milih lo!"
"Gue suka minder kalo jalan sama dia, berasa kek upik abu sama pangeran tampan..!" seloroh gue.
"Don't say like that..lo cute tauk, gue aja ngira lo anak baru lulus SMA kaya dia..!"
"Lo dah pernah ketemu mamah gue?" tanya Jelita sambil benerin rambutnya.
"Baru sebentar doang, pas video call..!"
"Lo mesti ketemu sama dia..mamah gue asik orangnya!" katanya sambil.bangkit dari duduk.
...*****...
"Pah, Lita mau ajak Liana keluar boleh?" tanyanya ke papahnya.
*Mau lo bawa ke mana cewek gue?" tanya Aryan.
"Boyy..gue dah lama gak makan batagor yang dekat masjid gede ituh..gue mau ajak dia ke sana!" jawabnya.
Gila nih orang kaya, segala batagor juga dicariin, apa gak pengen makan steak gitu, atau makanan kebarat-baratan. Ini malah batogor, jajanan gue waktu SMA.
"Biar gue beliin aja, lo di sini..!" kata Heru.
"No, gue mau ke sana..kalian berdua ikutan juga, buruan..!" katanya sambil menggandeng Heru dan Aryan.
Mereka cuman ngikut aja apa digandeng sama Jelita keluar rumah, sementara gue pamitan sama Papah Aryan & Juga Pak Nardi.
...*****...
"Biar gue aja yang nyetir, lo mesti kek pembalap kalo dah ketemu mobil..!" cegah Aryan di jok belakang kemudi.
"Stop it, gue dah gak kaya pembalap..relax guys..!" kata Jelita sambil menyetir, dia terlihat santai. Sementara Heru yang di sebelahnya sudah keluar keringat dingin dari tadi. Dan berakhir sudah senam jantung kami bertiga karena Jelita nyetirnya ngalahin supir bis om telolet om yang viral.
"Lo bisa bikin kita celaka kalau lo ngebut kaya tadi..!" omel Aryan.
__ADS_1
"Boy, gue lupa kalo di sini suka macet..!" kilahnya sambil melet. Jelitapun segera menuju arah penjual batagor sambil menggandeng Heru. Semua orang pada ngeliatin mereka. Ada cewek muka bule yang jajan batagor. Dan seperti biasa, pandangan mereka pun pada berpaling ke arah gue dan Aryan. Dengan penuh kejulidan para cewek yang gue lewatin, pada bisik-bisik kagak jelas. Karena ngeliat Aryan genggam tangan gue sambil jalan.