Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Penguntit


__ADS_3

"Pa, kenapa Papa menuduh Mama seperti itu?" Hana mencoba untuk setenang mungkin agar Jo tak curiga.


"Sudah lah, Papa bukan hanya sehari mengenal Mama, bahkan kita sudah hidup bersama hampir 30 tahun. Jadi, Papa tahu kapan Mama berbohong dan tidak!" pungkas Jo.


Sejak tadi, Jo memang terus mengamati gerak-gerik Hana. Apalagi saat Jingga menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah tangga Rigel dan Elia, Hana terlihat begitu tegang dan khawatir seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.


" Jadi Papa lebih percaya dengan wanita itu, daripada Mama? Baiklah kalau begitu, sudah tak ada lagi yang harus di bicarakan!" Hana pergi meninggalkan Jo dengan wajah marah.


Hana merasa sangat kesal karena melihat Jo yang sudah tak percaya lagi dengannya. Meskipun dia terlibat , tetapi menurutnya dia bukanlah penyebab kerusakan dari rumah tangga Rigel dan Elia. Karena sebelum Hana bertindak, Rigel dan Claire sudah pernah tidur bersama sampai membuat Claire hamil.


Di sisi lain, terlihat Jo segera menelfon anak buahnya.


Jonathan : Saya minta Kamu selidiki dan awasi istri saya, lalu cari tahu semua tentang perselingkuhan Rigel!


+628: Baik boss!


Melihat Hana yang keluar dengan raut wajah yang marah membuat hatinya merasa tak tenang, sehingga dia menyuruh seseorang untuk mengawasi Hana.


***


Saat perjalanan pulang menuju rumah Jingga, tiba-tiba ada mobil yang terus mengikuti mereka.


"Kalian pegangan dan pasang sabuk pengaman kuat-kuat!" seru Jingga sambil terus melihat ke arah spion mobil.


"Memangnya ada apa, Jing?" tanya Runi yang tak tahu maksud dari Jingga.


"Ada yang mengikuti kita, jadi Gue akan ngebut!" jelas Jingga.


Seketika Runi dan Elia menoleh ke belakang, dan ternyata apa yang di katakan Jingga benar kalau ada orang yang sedang mengikuti mereka.


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Jingga lagi.


"Tapi, Jing Lo harus hati-hati Elia sedang Hamil!" pungkas Runi.


"Iya, Gue tahu! Kalian tenang saja, aku akan main aman. Asalkan kalian percaya sama Gue!"


"Gue percaya!" ucap Elia sambil memegang perutnya. Elia yakin kalau Jingga telah memperhitungkan keputusan yang akan dia ambil.


Setelah melihat semuanya sudah aman, Jingga segera menaikkan kecepatannya. Begitupun dengan mobil yang sejak tadi mengikuti mereka, ikut melaju saat melihat Jingga menaikkan kecepatan. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Jingga dan mobil sang penguntit.


Ketika melihat ada persimpangan, Jingga segera berbelok arah secara tiba-tiba sedangkan si penguntit sudah terlanjur laju ke jalan lurus.


"Sial! Dia ternyata hebat juga bawa mobilnya! Cepat putar balik!" suruh sang boss penguntit.


"Baik boss."

__ADS_1


Setelah itu, Jingga segera masuk ke arena parkiran bar yang sangat besar.


"Kita mau ngapain ke bar, Jing?" tanya Elia yang tak mengerti kenapa Jingga masuk ke arena Bar.


Mendengar Elia yang mengatakan bahwa Jingga masuk ke arena Bar, Runi segera membuka matanya yang sejak tadi terpejam karena ketakutan.


"Hanya untuk bersembunyi." Jingga terus mengemudikan mobilnya masuk ke arena parkir yang tak terlihat oleh penguntit itu.


Benar saja, para penguntit itu berjalan lurus. Mereka tak tahu kalau mobil Jingga masuk ke arena bar karena yang mereka tahu kalau mobil itu akan menuju ke rumahnya.


"Sialan! Kemana lagi tuh mobil, kenapa cepet banget hilangnya!" sang ketua penguntit merasa kesal karena mereka kehilangan jejak Jingga.


"Iya juga ya, bukankah yang mengemudikan itu seorang Wanita? Kenapa bisa hilang begitu cepat! Apa dia seorang pembalap?" imbuh pria lainnya.


Sang kepala penguntit segera memukul kepala anak buahnya yang bodoh-bodoh itu.


"Kenapa anda memukul kami, bos!" protes salah satu pria lainnya.


"Masih tanya kenapa? Karena kalian gak becus! Hanya mengejar mobil seorang wanita saja gak becus!" omelnya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia berdecak kesal karena yang menelfon adalah seseorang yang menyuruhnya.


"Hallo, bagaimana pekerjaan kalian? Apakah berhasil?" tanya seseorang di ujung telepon.


"Maaf boss, Kami kehilangan jejak mereka," pungkas sang Ketua penguntit.


"Saya tidak mau tahu, Pokoknya kalian harus habisi mereka! Kalau tidak bisa, kalian yang akan saya habisi!" ancam seseorang di ujung telepon. Setelah itu, panggilan terputus. Sang ketua penguntit hanya bisa berdecak kesal, ketika mendengar ancaman itu.


" Kalian sudah dengar, kan? Kalau kita gagal buat menghabisi para wanita itu, kita yang akan di habisi. Jadi, kita harus bisa mendapatkan mereka!"


"Baik bos."


***


Di sisi lain, Jingga merasa lega karena bisa lolos dari seseorang yang mengikuti mereka tadi.


"El, Lo gapapa, kan?" tanya Jingga dengan menengok ke kursi belakang untuk melihat kondisi Elia.


"Aku gapapa kok, hanya sedikit kram saja," pungkasnya.


Mendengar Elia yang mengatakan bahwa perutnya kram, membuat Jingga segera menyuruh Elia untuk meluruskan tubuhnya, serta terus tarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan agar dia lebih rileks.


"Gimana, El? Apakah masih kram?" tanya Jingga dengan wajah cemas.


"Alhamdulillah sudah mendingan kok."

__ADS_1


"Tapi, mereka siapa ya? Kenapa mengikuti kita?" tanya Runi yang sejak tadi tidak bisa mencerna kenapa mereka bisa di kejar oleh seseorang.


Elia dan Jingga terdiam sejenak, sambil berpikir kemungkinan yang sedang terjadi. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing, namun Elia tak menemukan jawaban, sedangkan Jingga dia mencurigai seseorang yang mungkin saja melakukan hal ini.


"El, apakah mertua laki-lakimu memang sangat baik?" tanya Jingga dan di jawab sebuah anggukan oleh Elia.


"Sejak dulu, Papa Jo sangat baik kepadaku. Apalagi saat papa Jo tahu kalau aku adalah anak dari sahabatnya dulu, beliau benar-benar sayang dan menjagaku seperti putrinya sendiri," pungkas Elia.


Jonathan dan Danis ayah Elia memang bersahabat ketika masih kuliah dulu. Bahkan saat kuliah Jo sudah menyukai Hana, tapi saat itu Hana menyukai Danis. Awalnya Jo menyimpan perasaan itu karena mengira bahwa Danis juga menyukai Hana, tetapi ketika mendengar bahwa Danis ingin menikahi wanita lain, Jo sangat bahagia. Itu tandanya dia bisa mendapatkan Hana tanpa membuat persahabatan mereka terputus gara-gara seorang wanita.


Setelah kelulusan mereka, Jo harus melanjutkan studynya ke luar negeri, sehingga membuat mereka lost contact. Sedangkan hubungan Jo dan Hana semakin dekat karena mereka sama-sama kuliah ke luar Negeri. Setelah menyelesaikan studinya, Jo dan Hana menikah sekaligus kembali ke Indonesia.


Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya mereka di pertemukan kembali saat menemani Rigel menemui keluarga wanita yang ingin di nikahinya.


Awalnya Jo dan Hana tidak percaya saat mendengar Rigel meminta izin untuk menikah, saat itu dia baru saja menyelesaikan studynya.


"Apa Kamu yakin Ri, ingin menikah muda? Umur Kamu masih 21 tahun Ri! Bahkan__"


"Rigel serius Pa, Rigel tak pernah seserius ini sebelumnya. Tapi, setelah bertemu dengan wanita itu, Rigel ingin segera menikahinya. Rigel takut kalau terlalu lama, dia akan di ambil orang," pungkas Rigel.


Jo tersenyum saat mendengar ucapan Rigel, dia benar-benar mirip sekali dengannya saat muda. Segera ingin menikahi Hana agar tidak ada laki-laki lain yang mengambilnya. Setelah melihat keseriusan Rigel, akhirnya Jo menyetujuinya.


Apalagi saat melihat wanita yang ingin di nikahi Rigel adalah anak sahabatnya, membuat Jonathan semakin setuju, tetapi berbeda dengan Hana yang menolaknya.


***


"Kalau mama mertuamu, El?" tanya Jingga lagi.


"Dia___" Elia terdiam, dia tak ingin menjelek-jelekkan Hana, karena bagaimana juga Hana adalah mertuanya.


"Kenapa Kamu tiba-tiba bertanya seperti ini, Jing?" Elia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Gue hanya punya firasat tidak buruk saja dengan mertua lo itu! Apalagi setelah melihat sikap dia yang seperti tadi, semakin membuat gue yakin kalau dia ada hubungannya dengan penguntit itu!" jelas Jingga.


"Ah, gak mungkin Mama Hana melakukan hal itu," elaknya.


"El, tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang sudah di penuhi dengan rasa benci dan amarah!" Jingga mengatakan hal itu bukan tanpa alasan, tetapi sejak bertemu dengan Hana, dia terus memperhatikannya.


Jingga bisa melihat bahwa Hana sangat membenci Elia, apalagi saat melihat bagaimana sikap Hana hari ini. Semakin membuat Jingga yakin kalau Hana tak pernah menyukai Elia. Berbeda dengan Jonathan yang memang terlihat sayang dengan Elia.


...****************...


Maaf ya karena dua hari ini gak up, dikarenakan mata author tiba-tiba sakit dan tak bisa melihat layar ponsel lama-lama.


Kira-kira siapa nih yang mau mencelakai Elia?

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya


__ADS_2