Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Bertemu kembali


__ADS_3

Saat perjalanan menuju rombongan, tiba-tiba Jingga bertemu kembali dengan seorang pria aneh yang dia temui semalam. Jingga mencoba untuk menghindar, tapi pria itu ternyata masih mengenalinya.


"Halo cantik, kita bertemu lagi," sapanya. Namun Jingga terus berjalan, tanpa menghiraukannya.


Pria itu masih mengejar Jingga, sampai berdiri di depan Jingga agar dia menghentikan langkahnya.


"Bisakah anda jangan mengganggu saya? Saya tidak mengenal anda, jadi tolong minggir, atau___" Jingga mulai geram.


"Jangan galak-galak dong! Kalau gak kenal, ya kenalan dong. Kenalin ... namaku Angkasa." Pria itu menyodorkan tangannya di depan Jingga, tapi tidak mendapatkan respon. Membuat dia merasa malu dan canggung, lalu menariknya kembali.


"Saya tidak butuh kenal dengan anda, oke!"


Jingga pergi berlalu begitu saja, meninggalkan Angkasa yang masih terdiam karena shock. Ini adalah pertama kalinya ada seorang wanita yang berani menolak seorang Angkasa.


"Selo, cari tahu siapa wanita itu!" perintah Angkasa kepada asistennya.


"Baik, boss."


"Lihat saja, sampai kapan kamu bisa menolak pesona seorang Angkasa!"


**'


Cuaca hari ini terlihat cerah, membuat Rigel ingin kembali makan di rumah makan itu lagi. Makanan di sana seakan membuatnya ketagihan, serta sedikit bisa mengurangi rasa rindu kepada Elia.


"Ma, mama mau makan ke tempat yang kemarin lagi?" tawarnya.


Hana mengangguk, membuat Rigel tersenyum. Setelah itu, mereka berdua pergi dari vila menuju rumah makan Rindu. Kebetulan, jarak rumah makan Rindu tak jauh dari tempat dia tinggal saat ini.


Rigel berada di tempat ini, bukan sekedar liburan, tapi juga bekerja. Karena kota ini bisa di bilang kota penuh dengan keindahan alamnya, sehingga membuat Rigel berencana untuk membangun sebuah resort di kota ini.


***


Liburan telah usai, dan kini semua kembali ke aktivitas masing-masing. Jingga mengurus tempat prakteknya yang akan segera buka, dia juga ikut pindah ke kota ini karena sudah bisan tinggal di ibu kota yang begitu padat penduduk. Sedangkan Runi dan Reno kembali ke rumah mereka untuk istirahat, karena Runi sudah mulai mudah lelah di usia kehamilannya yang semakin besar .


Saat ini, Elia sedang mengecek pekerjaan di rumah produksi, dan juga rumah makan. Ia membawa Arsy bersamanya, sedangkan Simon ada urusan sebentar di luar.


Tiba-tiba, Elia mendapatkan sebuah panggilan telepon, dia menyuruh salah satu karyawannya untuk membantu menjaga Arsy sebentar.


"Jihan saya titip Arsy sebentar, soalnya saya ada telepon."


"Baik, bu."


Elia pergi menjauh karena dia mendapatkan telepon dari salah satu costumernya yang ingin membicarakan kelanjutan kerjasama yang sempat di tawarkan kepadanya beberapa hari lalu.


Saat mendapat amanah untuk menjaga Arsy, Jihan lengah karena membalas pesan chat dari sang kekasih.


Tiba-tiba kelinci Arsy lari dari pangkuannya, membuat Ia mengikuti langkah sang kelinci.

__ADS_1


"Dodo jangan lali-lali, acy capek kejalnya." Arsy masih terus mengejar kelincinya yang lompat-lompat samapi ke jalan raya.


Sesampainya di rumah makan, Rigel terkejut saat melihat seorang gadis kecil sedang berlari ke jalan raya dan kebetulan ada mobil yang melaju dari arah kiri.


Tanpa berpikir panjang, Rigel meninggalkan Hana dan berlari untuk menolong gadis kecil itu. Ketika Elia sudah selesai menelfon, dan tidak mendapati Arsy ada di tempatnya, hanya ada Jihan yang masih fokus dengan ponselnya. Membuat Elia segera mencari di mana keberadaan Arsy, dan ternyata Arsy sudah ada di jalan raya.


"Arsy!" Elia berusaha berlari sekencang mungkin saat melihat ada sebuah mobil yang melaju. Untungnya ada seseorang yang menolong Arsy lebih dulu dari mobil yang melaju di jalanan.


Jantung Elia seakan copot dari tempatnya, tubuhnya lemas, dia segera menyerobot Arsy dari pria itu dan memeluknya. Elia memeluk Arsy dengan erat, dia bersyukur putri kecilnya masih selamat.


Sedangkan Rigel tercengang saat melihat siapa wanita yang ada di depannya saat ini. Tubuh Rigel jatuh ke belakang, matanya berkaca-kaca, dia mencoba mengucek matanya, takut kalau apa yang dia lihat ini hanyalah imajinasi. Namun, ini semua adalah nyata.


Elia membuka mata, dan mendongakkan kepalanya.


"Teri___" ucapan Elia terhenti saat melihat siapa orang yang telah menolong Arsy.


Rigel dan Elia sama-sama membelalak saat netra keduanya saling beradu.


"Elia," lirihnya.


"Rigel," ucapan Elia terdengar oleh Arsy, sampai membuatnya melepaskan pelukan Elia.


"Mami," panggil Arsy.


"Iya sayang, Arsy gapapa, kan? Ada yang luka atau___" Elia mengecek tubuh mungil putrinya dan untung tak ada lecet sedikitpun.


Elia melihat ke arah jalan raya, dan benar saja. Ada dodo yang sudah bersimbah darah serta tubuhnya yang hancur karena tertindas mobil yang hampir juga menabrak Arsy.


Saat Arsy ingin melihat kondisi Dodo lagi, Elia segera menenggelamkan wajah Arsy dalam pelukannya. Dia tak mau Arsy melihat hal mengerikan itu.


Rigel kembali menatap ke arah gadis kecil yang berada dalam pelukan Elia, tanpa terasa air matanya mengalir. Rigel mulai mendekati Elia, saat dia ingin memeluk, Elia menghindar.


"Jangan mendekat."


"El, ini benar kamu?" tanya Rigel.


"Terimakasih karena sudah menolong putri saya." Elia bangun dan menggendong Arsy dalam pelukannya. Dia ingin pergi meninggalkan Rigel, taoi Rigel terus mengejar, dan memeluknya dari belakang.


"Arsy." Jihan mencoba mencari di mana Arsy berada, saat melihat Arsy berada dalam gendongan Elia, dia merasa sedikit lega. Tapi, Ia kembali di buat tercengang saat melihat ada seorang pria asing yang memeluk bossnya.


"Aku merindukanmu, El," lirihnya.


Arsy yang mendengar ucapan Rigel, seketika mendongakkan kepalanya.


"Mami, siapa om itu?"


"Lepaskan aku, ini di tempat umum gak pantas anda melakukan hal seperti ini!"

__ADS_1


Rigel melepaskan pelukannya, ketika melihat banyak orang yang memang melihat ke arah mereka.


Ketika Rigel sudah melepaskan pelukannya, Elia ingin segera pergi, tapi langkahnya terhenti saat melihat ada seorang wanita paruh baya dengan menggunakan kursi roda berhenti di hadapannya.


Saat mengamati siapa wanita itu, Elia tertegun dan sedikit tak percaya bahwa wanita itu adalah Hana, mantan mertuanya dulu.


"Li-a," panggil Hana dengan nada terbata.


Elia membalikkan badan untuk melihat ke arah Rigel. "Kenapa kalian ada di sini?"


"Ka-mu ma-sih hi-dup, El?" tanya Hana.


"Aku masih hidup."


"Jika kamu masih hidup, lalu siapa yang meninggal?"


"Yang meninggal adalah Elia istri dari Jerone Rigel Ervinosa!"


Rigel dan Hana tertegun saat mendengar ucapan Elia. Perkataanya seakan menancap dalam relung hati, seakan wanita di hadapannya kini bukanlah Elia yang dulu.


"Mami, ciapa om dan nenek ini?" tanya Arsy yang penasaran dengan dua orang asing di hadapannya saat ini.


Elia terdiam, dia bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Arsy.


"Lebih baik kita bicara di tempat yang lebih nyaman," ujar Elia yang memimpin jalan. Sedangkan Rigel dan Hana berjalan mengikutinya di belakang.


Arsy tidak menanyakan apapun lagi, ketika melihat wajah Elia yang terdiam tanpa kata.


Karena takut kena marah, Jihan berusaha menghampiri Elia.


" Bu, " panggil Jihan yang mencoba mendekatiny.


Tatapan marah terlihat jelas di raut wajah Elia ketika melihat Jihan. " Kamu di pecat!"


Jihan terkejut saat mendengar ucapan Elia yang memecatnya.


"Bu, tapi kenapa?"


"Kamu masih tanya kenapa? Kamu sudah lalai dalam menjaga Arsy sampai membuatnya hampir saja tertabrak mobil! Kamu masih tanya kenapa? Pergi dari hadapan saya sekarang juga."


Elia mencoba mengontrol emosinya agar tak meluap-luap karena ada Arsy dalam pelukannya. Jadi, dia memilih pergi meninggalkan Jihan yang masih termenung.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya.


Jangan berasumsi kalau Elia tak mau mengatakan siapa ayahnya ya, karena ada alasan yang tersembunyi di bab Selanjutnya. Jadi, ikuti terus.

__ADS_1


__ADS_2