
Saat ini kondisi Rigel terus membaik, di ruangan yang penuh dengan bantuan alat medis, terlihat seorang pria mulai mengerjapkan matanya.
Melihat Rigel yang mulai bergerak, membuat Hana tersenyum dan segera memanggil seorang dokter untuk memeriksanya.
Tak lama kemudian, datanglah seorang dokter dan beberapa suster masuk ke ruangan itu untuk mengecek kondisi Rigel saat ini.
"Bagaimana, dok?" tanya Hana.
"Alhamdulillah bu, Pak Rigel sudah sadar dan kondisinya juga jauh lebih baik dari sebelumnya," ungkap sang dokter.
"Syukurlah, terima kasih dokter." Hana tersenyum lalu lebih mendekat ke ranjang Rigel.
"Mama," lirih Rigel yang di jawab sebuah anggukan oleh Hana.
"Iya sayang, ini Mama." Hana mengusap wajah Rigel yang terdapat beberapa goresan luka.
Rigel tersenyum, lalu mengedarkan pandangannya. Mencoba mencari seseorang yang dia inginkan ada di sini, namun orang itu tak ada.
Kemana kamu, El? Kenapa kamu gak ada di sini? Apakah kamu tak menjengukku? batin Rigel.
Wajahnya terlihat sendu ketika tak mendapati ada Elia di ruangan itu.
"Ma, ini tanggal berapa?" tanya Rigel.
Hana mengecek tanggal yang ada di ponselnya.
"Tanggal 23 Ri, ada apa?" jawabnya.
Rigel terbelalak saat mendengar kalau hari ini sudah tanggal 23. Dia mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya seakan sakit dan mati rasa.
"Ma, kenapa kaki Rigel tak bisa di gerakkan?" tanyanya kepada Hana dengan mata yang sudah memerah.
Hana juga ikut terkejut saat mendengar Rigel mengatakan bahwa kakinya tak bisa di gerakkan. Hana panik dan segera memanggil dokter kembali untuk menanyakan apa yang sedang terjadi dengan Rigel.
Saat mendengar penjelasan Dokter yang mengatakan bahwa Rigel mengalami lumpuh sementara, membuat Hati Hana terasa sakit bagaikan di hujami beberapa anak panah.
Tubuhnya melemah, Hana menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Hana benar-benar terkejut mendengar berita itu, sampai membuatnya hampir saja terjatuh ke lantai. Untung saja Jo datang dan membantu menopang tubuh Hana.
"Kamu kenapa, Han?" tanya Jo saat melihat kondisi istrinya yang terlihat seperti shock.
Hana memeluk Jo, genangan air mata itu mulai jatuh membasahi pipinya. Suara isak tangis Hana pecah dalam pelukan Jo. Jonathan yang tak tahu apa-apa,hanya bisa mencoba menenangkan Hana dengan mengusap punggungnya.
"Kamu kenapa, Han? Cerita sama aku?" ujar Jo.
"Rigel ... Rigel, Pa ..." suara Isak Hana kembali pecah ketika mengingat berita tentang Rigel yang mengalami kelumpuhan.
__ADS_1
"Rigel kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya Jo lagi.
"Rigel___ lumpuh," lirih Hana, tetapi masih terdengar oleh Jo.
Jo ikut terkejut saat mendengar ucapan Hana yang mengatakan bahwa Rigel lumpuh. Kenyataan pahit mulai datang menghampiri Rigel lagi.
Jonathan merasa iba kepada putranya itu, cobaan yang menimpanya silih berganti datang menghampiri. Jo menjadi tak kuasa untuk mengatakan bahwa perceraiannya dengan Elia juga terus berlanjut. Jika Rigel mengetahui itu semua, dia pasti akan lebih frustasi lagi.
***
Malam pun datang, setelah sholat isya Elia hanya duduk di sofa sambil menonton televisi. Jam masih menunjukan pukul 8 malam, tapi suasana di kampung sudah terlihat sangat sepi sekali.
Tiba-tiba Elia ingin sekali makan martabak telor, dia mencoba untuk menscrol aplikasi pengantar makanan. Tapi tak kunjung menemukan kurir yang bisa mengantarkan makanannya.
"Kenapa pada penuh, sih? Padahal lagi pengen banget!" Elia bermonolog seraya menulis status di story media sosialnya.
"Maaf ya sayang, sepertinya Kamu tak bisa makan martabak telor deh malam ini! Karena abang kurirnya sibuk semua," gumam Elia sambil mengelus perutnya yang belum terlihat membesar.
Di sisi lain, Simon yang baru saja menyandarkan tubuhnya di atas ranjang, tersenyum ketika melihat status Elia.
" Mbak ... Mbak, kenapa kamu gak bilang sama Aku aja sih, kalau lagi pengen sesuatu? "Simon geleng-geleng kepala saat melihat Elia yang tak menghubunginya, justru hanya menulis story di media sosial.
Simon segera bangun dari tidurnya, lalu mengambil jaket dan keluar dari rumah untuk membelikan Elia martabak telor.
Tak lama kemudian, Simon sampai di abang-abang penjual martabak telor langgananya.
"Oke, di tunggu ya," sahut sang penjual martabak telor.
Karena masih ada beberapa pelanggan yang mengantri, Simon mencoba mencari tempat duduk. Ia mengirimkan foto gerobak martabak ke Elia.
Simon : Jangan tidur dulu, ya mbak. martabaknya masih otw di masak!
Tulis simon dan mengirimkan pesan ke Elia, tapi pesan itu tak kunjung di baca dan mendapatkan balasannya.
"Apakah Kamu sudah tertidur, mbak?" gumam Simon yang terus memandangi layar ponselnya.
Semenjak hamil, Elia memang mudah sekali tertidur. Baru saja beberapa menit dia update status, kini sudah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Di sisi samping rumah, terlihat tiga orang berpakaian hitam serta bertopeng sedang mengguyur rumah Elia dengan bahan bakar. Ya, orang itu adalah suruhan orang yang sama dengan penjahat sebelumnya yang ingin mencelakai Elia.
Di karenakan usahanya yang tak kunjung berhasil, membuat orang itu semakin nekat. Dia bukan hanya ingin bayi Elia saja yang mati, tetapi dia berharap bahwa Elia juga ikut pergi selama-lamanya dari dunia ini.
Rasa bencinya sudah sangat mendarah daging, sampai membuatnya ingin membalaskan semua dendamnya kepada Elia.
Setelah rumah itu tersiram dengan bahan bakar, sebiji korek api dapat membuat kobaran api yang sangat besar. Sebelum pergi, kelompotan orang berpakaian hitam itu terlebih dulu mengambil vidio pendek hasil pekerjaan mereka dan mengirimkannya kepada sang majikan.
__ADS_1
Saat melihat cuplikan vidio pendek tentang rumah Elia yang terbakar, seulas senyum tercetak di bibir dengan polesan lipstik warna merah itu.
"Selamat tinggal Elia, semoga kamu tenang di surga ya," gumam wanita itu.
Tawa kebahagian semakin tercetak jelas di raut wajahnya, dia merayakan kemenangam itu dengan cherss dengan seorang temannya.
"Sepertinya kau sangat bahagia, baby," ucap pria itu.
"tentu saja aku bahagia, karena keinginanku akhirnya tercapai juga!" pungkasnya, dan kembali meminum segelas cocktail di tangannya.
***
Api terus menjalar dengan cepat, Elia yang merasakan ada bau asap, segera bangun dari tidurnya. Saat melihat kobaran api yang sangat besar di kelilingnya, membuat Elia terkejut dan panik.
"Astagfirullah hal adzim, tolong ... tolong ..." teriak Elia mencoba meminta tolong.
Khuk... Khuk ... Elia terus terbatuk-batuk saat asap kobaran api terus menusuk indra penciumannya. Di luar ruangan, para tetangga Elia mencoba membantu untuk memadamkan api.
Simon yang baru saja datang, melihat rumah Elia yang terbakar segera turun dari motornya. Kepanikannya sampai membuat dia menjatuhkan motornya sembarangan.
"Simon, Elia masih ada di dalam," pekik teh Sarni yang terlihat sangat panik.
Tak ada warga yang berani masuk ke tengah kobaran api yang besar itu. Tanpa berpikir panjang, Simon menguyur pakaiannya dengan seember air, awalnya para warga melarang Simon untuk masuk, tapi simon tak mendengarkan ucapan itu. Dia tetap menerjang kobaran api, demi menyelamatkan Elia.
Pandangan Elia mulai buram, hanya ada lintasan gambar kedua orang tuanya, serta kakanya.
"Ibu, Ayah, kakak, sepertinya Elia akan menyusul kalian...," lirih Elia.
Saat tubuh Elia hampir terjatuh, Simon lebih dulu menangkapnya.
"Mbak, bangun mbak" ucap Simon dengan air yang terus menetes dari ujung rambutnya.
Elia tersenyum saat melihat wajah Simon hadir dalam penglihatan terakhirnya.
"Kamu datang?" lirih Elia. Kemudian Elia sudah tak sadarkan diri.
Melihat Elia pingsan, Simon segera menggendong Elia untuk keluar dari kobaran api itu. Dengan langkah sempoyongan, Simon mencoba untuk mengeluarkan Elia.
...****************...
Ya Allah, brondong tampanku lagi yang menyelamatkan.
Eh, kalian tahu gak kira-kira siapa penjahat itu?.
Akhirnya nulis dua bab, soalnya lagi dapat feelnya. Jadi lanjut tulis terus...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya yang banyak ya.... Aws kalau gak banyak! Canda banyak 😂😁🙏