
Selepas melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Rigel memutuskan untuk berhenti di sebuah rumah makan dengan pemandangan yang sangat indah.
Rigel membantu Hana untuk turun dari mobil, dan mendorong kursi rodanya menuju rumah makan itu. Sesampainya di rumah makan, dia di sambut dengan sopan oleh seorang pelayan.
"Selamat datang, bapak, Ibu. Mau pesan apa?" ucap pelayan itu dengan menyodorkan sebuah buku menu makan yang ada di rumah makan tersebut.
Selesai memilih makanan yang akan dia makan oleh Hana, Rigel mengembalikan buku menu itu kepada pelayan.
"Ini sudah semuanya, pak?"
Rigel mengangguk.
"Kalau begitu, mohon di tunggu, ya."
Rigel sangat menikmati pemandangan di sini yang begitu indah dengan hembusan angin sepoi-sepoi dari pantai.
Tak lama kemudian, pesanannya mulai datang satu-persatu.
"Selamat menikmati."
"Terimakasih."
Saat masuk ke tempat ini, Rigel merasa bahagia karena tempatnya bersih, pemandangannya indah, serta pelayanannya juga sangat baik. Semoga makanannya juga enak.
Sebelum makan, Rigel menyuapi Hana terlebih dahulu.
"Bagaimana, Ma. Apakah makanannya enak?"
Hana mengangguk, menandakan bahwa makanan yang dia makan enak. Bahkan dia mengangkat jempolnya, sebagai bentuk kalau dia sangat menyukai makanan ini. Rigel dengan sabar menyuapi Hana sampai habis, dia merasa senang karena Hana makan dengan lahap.
Selepas menyuapi Hana, sekarang giliran Rigel yang makan. Ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, wajah Rigel sedikit berubah. Rasa makanan ini seperti tidak asing baginya, dia kembali menyuap dan benar saja. Makanan ini sangat mirip sekali dengan makanan yang di masak oleh Elia.
Rigel celingukan, mencoba memanggil seorang pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Pelayanan itu dengan ramah.
"Siapa yang memasak makanan ini?"
Pelayan itu sedikit mengerutkan keningnya, dan takut karena melihat raut wajah Rigel yang tidak biasa.
"Apakah ada masalah, Pak?" sang pelayan takut kalau makanan itu ada masalah sampai membuat pelanggan menanyakan siapa yang memasak.
"Tidak, saya hanya ingin tahu siapa yang memasak makanan ini," pungkas Rigel.
"Oh, yang memasak adalah koki kami."
"Kalau boleh tahu siapa namanya?"
Pertanyaan Rigel semakin membuat sang pelayanan merasa aneh, ini pertama kalinya ada seorang pelanggan bersikap seperti ini jika tidak ada masalah pada makana.
Melihat sang pelayan diam dan terlihat bingung membuat Rigel menjelaskan apa maksud dari pertanyaan itu.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya kalau sikap saya terlalu lancang, saya hanya merasa sangat akrab dengan cita rasa masakan ini. Seperti merasakan masakan mendiang istri saya," jelas Rigel.
Pelayan ini manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Rigel.
"Kalau cita rasa dan resep masakan ini, itu dari boss kami sendiri. Tapi, yang masak adalah koki. Kalau bapak bertanya soal siapa dan nama, saya minta maaf sekali karena tidak bisa menjawabnya. Itu adalah privasi."
"Oh, Iya. Saya juga minta maaf karena sudah terlalu lancang."
Setelah itu, sang pelayan pergi meninggalkan Rigel dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ka-mu Ke-na-pa, Ri?" tanya Hana.
"Gapapa kok, Ma. Rigel hanya keinget dengan masakan Elia, rasanya sangat persis seperti ini. Tapi, Rigel sadar kalau Elia sudah meninggal. Mungkin Rigel saja yang terlalu merindukannya."
Hana ikut merasa sedih ketika melihat kondisi Rigel saat ini. Sepertinya cinta Rigel kepada Elia begitu dalam sampai sudah bertahun-tahun masih saja merindukannya.
Rigel memakan makanannya sangat lahap, dia merasa seakan nostalgia memakan masakan Elia. Dulu, dia sangat menyukai apapun masakan yang Elia buat, karena menurutnya sangatlah enak. Tapi, sudah tiga tahun dia tak merasakan hal itu, dan membuatnya sangat rindu pada masa-masa bahagianya dulu.
***
Pemandangan Senja begitu indah, apalagi terdapat sebuah dekorasi bunga-bunga serta selendang putih yang berterbangan tertiup angin laut.
Di tempat itu, terlihat seorang pria tampan berdiri dengan gugupnya. Meskipun ini bukan pertama kalinya dia mengatakan ucapan lamaran, tapi ini adalah pertama kalinya dia melakukannya dengan persiapan yang matang.
Gemuruh suara deburan ombak, kicauan burung yang berterbangan, serta di bawah pemandangan senja membuat tempat ini terlihat semakin romantis.
Simon terus menarik napas dan membuangnya perlahan, dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya, namun tetap saja dia gugup.
"Udah, diam saja! Nanti kamu juga akan tahu sendiri," pungkas Jingga yang menggandeng Elia sebagai petunjuk jalan.
Sedangkan Runi, Reno dan Arsy mengekor di belakang sambil senyum-senyum melihat Elia yang terus berusaha memberontak sejak tadi.
Sesampainya di tempat itu, Jingga perlahan membuka penutup mata Elia. Ketika sepasang bola mata itu terbuka, hal pertama yang dia lihat adalah ... seorang pria tampan dengan kemeja putih tengah berdiri di depannya.
Elia mengedarkan pandangannya, ia terperangah saat melihat di sekelilingnya sudah ada dekorasi yang begitu cantik. Degup jantung Elia berdetak tak beraturan, ada rasa kagum dan juga gugup.
Simon mulai berjalan mendekati Elia dengan senyum yang tak pudar.
"Kamu sangat cantik mbak seperti pemandangan senja hari ini,"
Runi, Jingga, Reno dan Arsy antara menahan senyum dan ingin muntah mendengar gombalan Simon.
"Ini ada apa?" tanya Elia yang masih belum mengerti dengan ini semua.
"Mbak ... mungkin ini bukanlah lamaranku yang pertama, tapi ini adalah lamaran terniat dariku. Aku menyiapkan ini semua karena mbak menyukai laut, pemandangan senja, dan sesuatu yang romantis."
"Aku memang bukanlah pria romantis, tapi aku akan berusaha melakukan itu jika mbak menyukainya. Dari dulu sampai sekarang, cintaku kepada mbak gak pernah berubah, justru semakin dalam. Bahkan aku bukan hanya mencintai mbak, aku juga sangat menyayangi Arsy seperti putriku sendiri."
" Kalian berdua bagaikan pelangi yang selalu memberikan warna indah dalam hidupku. Jika keindahan pelangi datang hanya sebentar, aku ingin membuat pelangi yang bertahan lama."
" Cordelia Almira___ maukah kamu menikah denganku? Terus menjadi pelangiku, Aku ingin kita bisa selamanya bersama merawat Arsy, membesarkannya, dan memberikan keluarga yang utuh untuknya."
__ADS_1
Canda tawa yang tadi terlintas, menjadi haru bahagia ketika mendengar ungkapan lamaran dari Simon. Tidak terasa air mata Elia pun jatuh menetes saat mendengar ungkapan dari Simon.
" Mami ... jika Mami tidak menelima lamalan Daddy, bial Acy saja yang menggantikannya, boleh?" teriak Arsy yang seketika membuat semua mata tertuju padanya.
Elia tersenyum saat mendengar ucapan putrinya yang memperlihatkan bahwa dia juga sangat menyayangi Simon.
" Arsy gak boleh ngomong gitu, Arsy kan masih kecil. Kalau Daddy menikah dengan Arsy, dia harus menunggu lama dong! Nanti Daddy karatan!" cetus Jingga.
"Acy nanti akan makan yang baaannnnyak cekali bial cepat gede dan bisa menikah cama Daddy! Jadi, Dady tidak pelu menunggu lama," pungkasnya.
Momen romantis dan haru itu, berubah menjadi gelak tawa karena mendengar ucapan Arsy.
"Gimana mbak? Di ajak saingan sama anak sendiri, mau?" goda Simon.
Elia tersenyum, jawaban dari sholat istikharahnya semalam sudah membuat Elia yakin apa yang harus dia lakukan.
"Arsy ... sepertinya keinginan kamu tidak akan terwujud."
.
.
.
.
.
.
.
"Karen Mami yang akan menikah dengan Daddy!" teriak Elia.
Simon terperangah saat mendengar ucapan Elia, dia memegang pundak Elia, lalu membalikkan tubuh Elia agar menghadapnya.
"Bisakah mbak ulangi lagi ucapan mbak barusan, aku ingin mendengarnya lagi."
Elia tersenyum. " Simon Andarboy I love you and I want to marry you."
Simon merasa seperti melayang saat mendengar Elia mengatakan bahwa dia mencintainya, sampai tidak sadar Simon langsung memeluk Elia dengan erat.
" Ciyee ...," seru semuanya.
Laut, Senja, ombak, burung, semesta, Arsy dan semua sahabat Elia menjadi saksi di mana lamaran Simon di terima. Perjuangannya selama ini, ternyata tidak sia-sia. Akhirnya Simon bisa meluluhkan hati Elia yang membeku, dan kini bisa mencintainya juga.
...****************...
Ciyee... Selamat ya buat berondongku, aku sendiri nangis pas nulis ini.
Gimana? Kejutan dari Author? Apakah suka? Oh ya, masih ada kejutan lagi, jadi ikuti terus kisah Elia...
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya, like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak 👌