
Setelah lama bermain di taman, tiba-tiba perut Arsy berbunyi. Menandakan bahwa dia sudah lapar.
"Arsy lapar?" tanya Simon saat mendengar suara keroncongan dari perut Arsy.
Arsy mengangguk.
Simon tersenyum, dan menggandeng tangan Arsy untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika mendengar pintu terbuka, Elia tahu kalau itu adalah Simon dan Arsy yang datang.
"Mami ...," seru Arsy yang berlari menghampiri Elia yang sedang menyiapkan makan siang.
"Anak mami jangan lari-lari, nanti jatuh loh!"
"Mami masak apa?" tanya Arsy antusias.
"Mami gak masak, tapi koki udah masakin menu makanan kesukaan Arsy."
"Makan siang di sini, kan? Aku udah suruh pak muh untuk masak ikan bakar kesukaanmu."
Simon mengangguk.
Setelah itu, Elia meminta Simon memanggil Rigel dan Hana di ruang tamu untuk makan siang bersama. Sebelumnya Rigel ingin pamit pulang, tetapi Elia menyuruh mereka menunggu setelah makan siang. Karena Elia tahu kalau mereka datang ke restoran untuk untuk makan.
"Mbak yakin nyuruh aku yang manggil pria itu?" Simon menatap Elia dengan senyum genit, seakan tidak yakin kalau Elia menyuruhnya pergi memanggil Rigel untuk makan.
"Iya, sayang ... Kalau kamu gak mau, yaudah biar aku aja," gertak Elia.
"Jangan-jangan,"Simon menghentikan langkah Elia agar tidak pergi memanggil Rigel.
" Tapi aku mau denger sekali lagi, tadi mbak panggil aku apa? " goda Simon yang sangat senang ketika mendengar Elia memanggilnya dengan sebutan sayang.
Elia membuang nafas kesal." Sayang ... minta tolong panggilkan Rigel dan mamanya untuk makan, ya," ucap Elia dengan tersenyum lebar.
Simon tersenyum, lalu mencubit pipi Elia sebelum pergi. Dia merasa gemas sekali ketika mendengar Elia memanggilnya dengan sebutan sayang. Andai mereka sudah halal, mungkin bukan hanya cubitan di pipi lagi, melainkan ciuman bertubi-tubi.
Jingga yang melihat keromantisan mereka bergidik ngeri, dan ingin muntah mendengar panggilan sayang Elia untuk Simon.
Di karenakan tidak mau sendirian, Simon mengajak Arsy untuk pergi memanggil Rigel dan Hana.
Melihat Simon dan Arsy telah melenggang pergi ke ruang tamu, membuat Jingga penasaran dengan perasaan Elia saat ini setelah bertemu dengan Rigel lagi.
"Sepertinya aku mencium bau-bau kebucinan yang mulai muncul deh," ujar Jingga yang mendekat ke samping Elia. Namun, Elia masih terus menata meja makan tanpa memperdulikan ucapan Jingga.
__ADS_1
"El____," panggil Jingga ketika melihat Elia tidak menghiraukan ucapannya.
"Em, Ada apa?"
"Jika kamu sudah mencintai Simon, lalu kenapa kamu mencegah Rigel pulang, dan menyuruhnya ikut makan siang bersama? Terus sekarang kamu menyuruh Simon untuk memanggilnya pula! Apa yang sedang ada di pikiranmu, El? Jangan sampai bermain api."
Elia menatap ke arah Jingga, lalu mejitak keningnya sampai membuat dia berteriak lirih.
" Emangnya apa yang sedang kamu pikirkan, sih?! Aku hanya memuliakan seorang tamu saja, tidak ada yang lain. "
"Soal Simon, dia calon suamiku, dan Rigel adalah ayah kandung Arsy. Aku hanya ingin mereka akur agar bisa sama-sama menjaga Arsy, tanpa ada perselisihan di antara mereka! Aku ingin memiliki kehidupan yang tenang dan damai," jelas Elia.
Sedangkan Jingga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tahu bagaimana sifat Elia, jika sudah memutuskan sesuatu dia tidak mudah goyah. Dan kini, dia sudah memutuskan untuk menikah dengan Simon. Jadi, peluang untuk kembali bersama dengan Rigel sangatlah kecil, mungkin juga bisa sudah tidak ada lagi.
***
"Arsy," panggil Rigel setelah melihat Arsy datang bersama Simon.
Ketika melihat Rigel berdiri dari duduknya, dan ingin menghampiri mereka. Arsy segera bersembunyi di belakang tubuh Simon. Melihat sikap Arsy seperti itu, membuat Simon sedikit terkejut karena sebelumnya dia sudah memberitahu Arsy untuk mengucapkan terimakasih kepada Rigel yang sudah menolongnya.
"Arsy kenapa sembunyi, ayo bilang terima kasih sama Papa," ujar Simon.
Perlahan, Arsy mulai muncul dari belakang tubuh Simon. Dia menatap simon terlebih dahulu, dan Simon memberikan kode dengan kedipan mata.
Rigel tersenyum, dia merasa sangat bahagia bisa mendengar Arsy memanggilnya dengan sebutan Papa. Meskipun awalnya memanggil Om, tapi setelah itu dia memberanikan diri untuk memanggil Rigel dengan sebutan Papa.
Tangan Arsy menggenggam Simon kuat, dia terlihat tegang sekali saat menatap wajah Rigel. Ternyata apa yang di katakan oleh Elia tadi benar adanya, kalau Simon adalah pawang Arsy.
Sebenarnya Rigel ingin sekali memeluk dan mencium Arsy, tapi ingatan perkataan Elia tadi terus menari-nari dalam pikirannya.
"Jika kamu ingin mendapatkan hati Arsy, janganlah memaksa dan suka emosi karena Arsy tidak menyukai orang seperti itu. Apalagi memaksa mengambilnya dari pelukan Simon, itu adalah hal yang cukup fatal."
"Memangnya kenapa?" tanya Rigel.
"Karena Arsy sangat dekat dan sayang sekali dengan Simon, dia juga merupakan pawang Arsy. Ketika aku saja tidak bisa membujuk Arsy, dia bisa. Mungkin kamu tidak percaya dengan ucapanku, karena Simon hanyalah ayah angkatnya. Tapi, anak kecil itu bisa merasakan, siapa yang tulus dan tidak. "
" Apakah sedekat itu, Arsy dan Simon? "
Elia mengangguk.
Entah kenapa terbesit rasa sakit di hati Rigel saat mendengar putrinya lebih dekat dengan orang lain, daripada dirinya. Tapi, itu tidak salah karena sejak kecil Arsy hidup bersama Simon, bukan dirinya.
Rigel berjalan menghampiri Arsy, lalu menyamakan tingginya dengan tubuh mungil Arsy.
__ADS_1
"Papa juga minta maaf ya, karena tadi sudah kasar dan emosi."
Arsy mengangguk, membuat Rigel tersenyum. Tanpa terasa genangan air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya jatuh juga.
Melihat Rigel yang menangis, membuat Arsy mengusap air matanya.
"Om Papa kenapa menangis?"
Rigel memegang tangan mungil itu, dan memberanikan diri untuk menyentuh pipi putrinya.
"Papa menangis karena bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan Arsy."
"Kalo Om papa bahagia jangan menangis, tapi tersenyum." Arsy tersenyum lebar untuk mencontohkan Rigel, bagaimana reaksi bahagia.. Hal itu membuat Rigel ikut tersenyum lebar.
Hana juga ikut menangis ketika melihat Rigel begitu sedih saat bisa bertemu dengan anaknya. Andai saja dulu Hana tidak egois, mungkin hidup Rigel tidak akan seperti ini.
"Kalau begitu, kita makan siang dulu ya. Kangen-kangenanya di lanjut nanti setelah makan." ujar Simon.
Setelah itu mereka berempat berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Jingga dan Runi dengan berbagai menu makanan di atas meja.
Simon duduk di tengah-tengah Elia dan Arsy, sedangkan Rigel duduk di bersebrangan dengan mereka.
" Silahkan di makan, menunya seadanya."
"Ini sudah banyak sekali kok, El. Terima kasih atas perjamuannya," ujar Rigel.
Elia mengangguk.
Kemudian, Elia melayani Simon dan Arsy. Melihat sikap Elia yang perhatian dengan Simon, membuat Rigel cemburu dan iri. Dulu, Elia melakukan itu untuknya, tapi kini dia sudah menjadi milik pria lain.
Sebelum makan, Rigel menawarkan Hana terlebih dahulu menu makanan apa yang ingin dia makan. Melihat Rigel masih perhatian dan merawat ibunya, membuat Elia sedikit bangga. Setidaknya, dia masih menjadi pria yang masih mau merawat ibunya di saat sakit
"Sayang, makan," ujar Simon ketika melihat Elia termenung.
"Oh, iya."
Melihat sikap Simon yang begitu lembut dan perhatian kepada Elia dan Arsy, membuat Rigel mengerti kenapa Arsy sangat dekat dengannya. Meskipun bukan ayah kandung, Simon terlihat sangat menyayangi Arsy sampai dia rela menunda makannya demi menuruti permintaan Arsy yang hanya ingin makan jika di suapi oleh Simon.
...****************...
Tuh, kira-kira Rigel sadar dan merelakan Elia bahagia bersama Simon gak ya? 🤔
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya.
__ADS_1