
Keesokan harinya, Rigel datang lagi untuk menemui Elia dan Arsy dengan membawa kado yang dia beli. Karena Elia masih sibuk mengecek tempat produksi makanan yang di frozen, Dia menitipkan Arsy kepada sang Asisten rumah tangganya bi Nita.
Bi Nita, menemani Arsy bermain di taman bersama kelinci-kelinci yang baru di belikan Simon kemarin. Tak lama kemudian, datanglah Rigel dengan membawa boneka besar untuk meminta maaf kepada Arsy.
Sedangkan Arsy yang melihat ada boneka besar langsung berlari ke dalam pelukan Bi Nita dan menangis histeris. Melihat Arsy yang justru menangis histeris membuat Rigel bingung, dan ingin mendekat, tapi Nita berusaha membawa Arsy menjauh.
"Jangan bawa boneka besar itu, Arsy paling takut boneka besar!" bentak Nita yang tidak tahu siapa Rigel. Karena saat Rigel datang, dia sedang mengambil cuti.
"Takut boneka besar?" ulang Rigel.
"Iya! Jadi jauhkan boneka itu, kamu itu siapa sih? Datang-datang cari masalah!" gerutu bi Nita.
"Arsy cup ... Cup ... Sayang, jangan takut ada biNit di sini!" Nita berusaha menenangkan Arsy yang masih menangis dalam gendongannya.
Mendengar hal itu, Rigel segera menyingkirkan boneka besar itu, dengan memberikan kepada karyawan Elia yang lewat.
"Eh, ini kenapa?" teriak Kinan. Dia bingung kenapa tiba-tiba ada seorang pria asing memberinya boneka yang sangat besar.
"Untukmu saja!" setelah itu, Rigel pergi untuk menemui Arsy kembali.
"Untukku! Bukankah boneka ini sangat mahal?" gumam Kinan yang masih tidak habis pikir dengan pria itu.
Mendengar suara tangisan Arsy yang menggema, membuat Elia menambah kecepatan jalannya.
"Arsy kenapa, Bik?" tanya Elia saat melihat Arsy menangis histeris dalam pelukan bi Nita.
Mendengar suara Elia datang, Arsy langsung berpindah minta gendong Elia.
"Tadi ada seorang pria datang membawa boneka besar, Buk. Makanya Arsy ketakutan histeris," jelas Bik Nita.
"Acy atut, Mi. Bonekanya becal dan menakutkan!" lirih arsy.
"Iya sayang, Arsy jangan takut lagi ya. Sudah ada Mami di sini." Elia mencoba menenangkan Arsy.
"Boneka besar? Siapa yang berani membawakan Arsy boneka besar, Bik?" tanya Elia kepada Bi Nita.
"Aku, El," ujar Rigel yang baru datang kembali. "Maaf, aku gak tau kalau Arsy takut boneka. Awalnya aku ingin minta maaf dengan membawakan kado, tapi justru membuat Arsy menangis ketakutan,"jelas Rigel.
Elia menghembuskan nafas panjang agar tidak emosi. Dia tahu kalau Rigel tidak sengaja melakukan hal itu.
" Iya gapapa. "
" Ini juga ada bunga untuk kamu." Rigel menyodorkan sebuah buket mawar putih favorit Elia.
__ADS_1
" Kasih Bi Nita saja, biar di masukkan ke dalam vas."
Setelah itu, Rigel memberikan buket bunga itu kepada bik Nita. Melihat kode dari Elia yang menyuruhnya untuk pergi, membuat bi Nita undur diri.
"Arsy, Papa minta maaf ya. Papa gak tau kalau Arsy takut boneka besar."
Arsy tidak merespon, dia justru semakin erat memeluk Elia.
"Arsy, Papa mau minta maaf. Jangan seperti itu sayang," bujuk Elia.
Dengan takut-takut, Arsy menoleh ke arah Rigel.
"Lain kali jangan bawa noneka becal lagi, ya. Acy atut!" ucapnya.
"Iya, Papa gak akan bawa boneka besar lagi. Arsy mau peluk Papa," tawar Rigel.
Arsy menggeleng, membuat Elia memicingkan matanya. Padahal kemarin, Arsy sudah mengatakan memaafkan Rigel, tapi kenapa sekarang dia tak mau di peluk.
Sedangkan Rigel, menurunkan lengannya yang siap mengambil Arsy dalam gendongan Elia.
"Arsy gak boleh gitu sayang."
"Acy masih ngambek cama Papa!" ujarnya yang memaksa turun dari gendongan Elia. Kemudian, berjalan pergi masuk ke dalam rumah.
"Arsy ..." panggil Elia yang tidak di hiraukan oleh Arsy.
"Gapapa, El. Biarkan saja, Arsy pantas kok marah dan ngambek sama aku. Karena aku juga yang salah, gak tanya-tanya dulu, apa yang di suka dan tidak suka Arsy."
Menyadari bahwa Elia tidak suka dia menyentuhnya, membuat rigel segera melepaskan tangannya.
" Maaf, El. "
" Iya gapapa, Kamu juga gak sepenuhnya salah kok, karena gak tahu soal itu. "
" El, bisakah kita bicara berdua? "
" Mau bicara apa? "
" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Setelah itu, Elia mengajak Rigel untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Dia menolak. Rigel ingin menanyakan sesuatu yang penting. Jadi, Elia mengajaknya pergi ke tempat duduk dekat pantai.
Rigel tersenyum ketika bisa melihat Elia lagi, apalagi saat baju dan rambutnya terbawa angin seperti ini. Membuat Dia mengingat masa dimana mereka masih bersama.
__ADS_1
"Silahkan duduk," tawar Elia.
Rigel duduk di depan Elia, kini jarak mereka hanya terhalang sebuah meja bundar.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Elia membuka pembicaraan.
Dia tidak mau berlama-lama duduk berduaan bersama Rigel, takut ada yang berpikiran negatif atau salah paham jika melihat mereka berdua. Apalagi sekarang status Elia adalah tunangan simon.
" Apa kamu belum menikah dengan simon?"
Elia sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Rigel.
"Belum, tapi kami sebentar lagi menikah."
Ada rasa bahagia dan lega di hatinya saat mendengar Elia belum menikah dengan Simon.
"Jadi benar, kalau sekarang statusmu masih seorang janda?"
"Ya, tapi aku punya status baru juga. Tunangan Simon!" Elia menunjukkan cincin yang tersematkan di jari manis kiri.
Rigel tersenyum. "Oh, tunangan. Tapi, kalian belum menikah. Jadi, masih ada kesempatan untukku kan, El?"
Rigel mencoba memberanikan diri untuk mengatakan hal itu. Dia berharap masih ada kesempatan untuknya bisa kembali bersama Elia dan Arsy. Apalagi mengingat Elia yang menjanda selama tiga tahun, membuat Rigel merasa kalau Elia sebenarnya masih belum bisa move on darinya.
Elia mengerutkan keningnya, dia tidak habis pikir kenapa Rigel bisa berpikiran seperti itu.
"Tentu saja tidak! Karena aku akan menikah dengan simon beberapa hari lagi."
"Kamu tidak bohong kan, El?"
"Tentu saja tidak, untuk apa aku berbohong. Bahkan persiapan pernikahan kami sudah 80%," jelas Elia.
"Apa kamu mencintainya, El?"
"Ya, aku mencintainya. Bukan hanya aku, tapi Arsy juga."
"Bisakah kamu memberikan satu kali saja kesempatan untukku, El? Sampai sekarang aku masih mencintaimu, dan berharap kita bisa bersama kembali untuk membesarkan Arsy bersama. Ayah kandung Arsy masih hidup jadi buat apa kamu mencarikan ayah baru untuknya? Aku tidak rela Arsy mempunyai ayah baru!" ungkap Rigel.
Elia heran saat mendengar ucapan Rigel.
" Kamu memang masih hidup, dan juga ayah kandung Arsy. Tapi alasan apa yang harus membuatku memilih kamu daripada Simon?"
Semakin lama mendengarkan ucapan Rigel, membuat Elia merasa geram dengan ucapannya yang terus ngotot mengatakan kalau dia yang lebih berhak hidup bersama dengan Elia dan Arsy, daripada Simon.
__ADS_1
...****************...
Oke, jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak ya ... Karena ini akan crazy up