Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Papa Arsy


__ADS_3

"Apa maksudmu, El? Aku berani bersumpah kalau sampai saat ini aku tidak pernah menikah dengan siapapun lagi! Sepertinya ada salah paham di sini."


" Tapi El, kenapa kamu marah kalau aku menikah lagi? Bukankah di sini kamu yang sudah menikah lagi dengan pria itu? Apa jangan-jangan__ kamu masih mencintaiku? "


Elia dan Jingga terperangah saat mendengar ucapan Rigel.


" Apa! marah? Masih mencintaimu? " ulang Elia." Anda tidak usah kepedean, karena saya sudah tidak ada rasa sedikitpun dengan anda. Saya tidak peduli anda sudah menikah atau belum, karena saya hanya ingin membenarkan kalau saya tidak pernah berbohong dengan apa yang saya ucapkan!" jelas Elia.


"Lagian ya, Rigel. Elia itu sudah punya Simon di sampingnya, jadi buat apa dia masih mencintai pria yang suka celap- celup sana sini!" cerca Jingga.


"Kamu kalau ngomong itu di jaga ya, Jing? Aku bukan pria seperti itu! Jika Elia benar melihat aku bersama seorang pria dan bayi, apakah ada buktinya?" tantang Rigel.


Rigel memang tidak merasa kalau dirinya adalah pria yang seperti Jingga katakan. Selama tiga tahun ini, Rigel benar-benar tidak memiliki wanita lain di sisinya. Karena dia selalu memikirkan dan mencintai Elia.


" Aku memang tidak punya bukti karena aku tidak butuh pembenaran dari anda. Yang jelas aku pergi ke Jakarta pada tanggal ..., jadi pikirkan sendiri."


Elia sudah lelah berdebat dengan Rigel, sampai membuatnya merasa haus. Elia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, tetapi langkahnya terhenti ketika Hana menghadang jalannya.


" Tante ngapain? Tolong minggir karena saya mau lewat, " pinta Elia kepada Hana dengan lembut.


"Ma-ma ma-u mi-nta Ma-af sa-ma kamu, El. I-ni se-mua sa-lah ma-ma, Ma-ma ya-ng su-dah mem-buat ru-mah ta-ng-nga ka-li-an ja-di be-ran ta-kan se-per-ti ini," dengan susah payah, Hana mencoba meminta maaf kepada Elia atas kesalahannya selama ini.


Elia menghembuskan nafas panjang." Elia sudah memaafkan Tante kok, yang lalu biarlah menjadi masa lalu. Jadi tidak usah di pikirkan lagi, saya sudah cukup bahagia dengan kehidupanku saat ini."


Saat Elia pergi, Rigel kembali mengingat-ingat siapa wanita yang di maksud oleh Elia. Saat dia mengingatnya, Rigel tersenyum tipis, ternyata wanita yang di maksud Elia adalah desy istri dari almarhum sahabatnya.


Rigel berjalan menghampiri Elia yang sedang berada di dapur untuk mengambil minuman, dia ingin menjelaskan semuanya agar tidak ada salah paham lagi.


"El, wanita yang kamu lihat itu adaah istri dari sahabatku. Suaminya sudah meninggal, dan menitipkan anak istrinya untuk aku jaga. Saat itu Dessy mau pindah ke kota lain, jadi dia pamit dan ingin menemuiku terlebih dahulu sebelum pergi."


Elia tak menghiraukan perkataan Rigel, dia sudah malas menanggapi Rigel.


" El, kenapa kamu diam saja? "


Elia berbalik menghadap ke arah Rigel." Lalu anda ingin saya bersikap seperti apa? Jingkrak-jingkrak? Bersorak bahagia? Atau mengatakan___ oh ternyata hanya salah paham to. Maaf ya, karena sudah salah paham, begitu!?"

__ADS_1


Rigel mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Elia, awalnya dia mengira kalau Elia butuh dia menjelaskan ini semua, tapi ternyata tidak.


" Apa sebenci itukah kamu ke padaku, El? "


Elia tersenyum heran tak mengerti kenapa Rigel bertanya seperti itu. Dia sudah malas meladeni atau berdebat dengan pria ini. Emosinya seakan ketarik jika berbicara dengan Rigel.


***


Di luar rumah, Simon masih menemani Arsy duduk di taman. Sejak tadi, Arsy terus bercerita tentang apa yang telah terjadi dengan kelinci kesayangannya yang sudah meninggal gara-gara tertabrak mobil.


Simon mencoba menghibur Arsy dengan mengatakan bahwa akan membelikan Arsy kelinci yang banyak agar dia tidak merasa sedih lagi.


"Maaf ya Daddy, Acy dak bica jaga Dodo dengan baik." Arsy tertunduk merasa bersalah karena kelinci itu adalah hadiah dari Simon.


Simon tersenyum, dan duduk berjongkok di depan Arsy.


" Arsy gak usah merasa bersalah atau sedih lagi ya? Mungkin umur Dodo memang hanya sampai hari ini saja, lagi pula kalau kelinci yang mati, Daddy bisa beli lagi. Kalau little princess Daddy yang kenapa-kenapa, Daddy akan sangat sedih." Simon mengusap air mata Arsy dan tersenyum kepadanya agar dia tidak mengira kalau Simon marah.


" Keselamatan Arsy lebih penting dari kelinci, jadi jangan seperti ini lagi, ya? Kalau Arsy mau kejar, harus minta bantuan sama orang dewasa. Oke!" Simon menyodorkan jari kelingkingnya kepada Arsy agar dia mau berjanji, dan Arsy menautkan jari kelingkingnya.


" Daddy, apa om tadi adalah ayah Acy?"


Simon sedikit terkejut ketika mendengar Arsy tiba-tiba menanyakan soal Rigel, dia mengira kalau Arsy sudah melupakannya karena sejak tadi dia hanya bercerita tentang Dodo. Tapi ternyata tidak, dia justru sebenarnya masih penasaran dengan Rigel.


Anak seusia Arsy, memang suka bertanya tentang hal apapun, karena rasa ingin tahunya sangat besar. Simon juga tidak bisa berbohong kepada Arsy, takutnya nanti akan terbentuk rasa suka berbohong pada diri Arsy.


Anak kecil itu bagaikan kertas putih, apa yang kita, tulis pada kertas itu, maka itulah yang akan tercetak. Jadi, jika anak bersikap suka berbohong, lihat dulu sikap orang tuanya. Apakah dia suka berbohong kepada anaknya? Mereka hanya merekam, mengikuti apa yang di lihat, dan di dengar. Jadi, berhati-hatilah saat berbicara dengan anak.


Simon mengangguk. " Om itu memang papa Arsy."


Arsy terdiam sejenak seakan mencerna ucapan dari simon. "Tapi Acy dak suka olang itu jadi papa acy!"


Simon terbelalak ketika mendengar ucapan Arsy, karena pasalnya dia ataupun Elia tidak pernah menanamkan rasa benci terhadap ayahnya kepada Arsy.


"Arsy kenapa bilang seperti itu sayang?"

__ADS_1


"Kalena Mami akan belubah sedih jika Acy beltanya soal papa. Mami juga tidak suka di peluk cama Papa," jelas Arsy.


Meskipun Arsy masih kecil, dia selalu memperhatikan raut wajah Elia. Ketika Arsy bertanya soal ayahnya, raut wajah Elia akan terlihat sendu sebentar, lalu tersenyum kembali dan menjawab pertanyaan - pertanyaan Arsy dengan hati-hati.


" Apa tadi papa memeluk mami?" tanya Simon yang menjadi penasaran.


Arsy mengangguk. " Tapi mami langsung menyuluh om itu untuk melepaskan," imbuh Arsy.


"Oh ya?" tanya Simon untuk memastikan kembali.


Jujur ada terbesit rasa cemburu dan sakit hati, ketika mendengar Arsy mengatakan bahwa Rigel tadi memeluk Elia. Bagaimana juga, hubungan Rigel dan Elia sudah berakhir tiga tahun lalu, dan sekarang status Elia adalah tunangan Simon.


" Iya, Acy juga lebih suka kalo mami sama Daddy."


"Kenapa?"


"Kalena mami tersenyum caat cama Daddy."


Simon tersenyum ketika mendengar ucapan polos putri kecilnya.


"Kalau Arsy sendiri, sayang nggak sama Daddy?"


Arsy langsung memeluk Simon. "Acy cayang Daddy, Daddy jangan pelnah tinggalin acy, ya?"


Entah kenapa, Simon merasa tersentuh ketika mendengar ungkapan sayang dari Arsy. Meskipun Arsy bukan putrinya sendiri, tapi sejak Arsy lahir memang dialah yang membantu Elia mengurusnya. Bahkan saat masih berada dalam kandungan.


" Daddy juga sayang banget sama Arsy, tapi Arsy juga gak boleh benci sama Papa."


Arsy melepaskan pelukannya.


"Kenapa?"


"Karena, dia juga tetap Papa Arsy."


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...


__ADS_2