
Mendengar Arsy yang tak mau membukakan pintu jika masih ada Rigel, membuat Elia menyuruhnya untuk pulang terlebih dulu. Saat ngambek, Arsy tidak bisa di paksa. Besok, Rigel boleh datang kembali jika masih ingin menemui Arsy.
Karena tidak ada pilihan lain, Rigel menuruti permintaan Elia. Dia dan Hana pulang terlebih dulu, dan akan kembali besok.
Setelah mendengar Simon mengatakan kalau Rigel telah pergi, perlahan dia mulai membuka pintu. Elia dan simon merasa lega, ketika Arsy sudah mau membuka pintu.
Simon berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Arsy.
"Arsy, tadi kenapa marah sama papa?" tanya Simon lembut.
"Kalena Papa pembohong!"
Elia dan Simon saling tatap satu sama lain, saat mendengar Arsy mengatakan bahwa Rigel adalah pembohong. Sekarang, Elia juga ikut mensejajarkan tingginya dengan Arsy.
"Memangnya papa bohong soal apa, sayang?" tanya Elia.
"Papa bohong katanya cayang cama Acy dan Mami, tapi kenapa balu datang sekarang?" kini Arsy sudah menangis, membuat simon memeluknya agar Arsy berhenti menangis.
Elia terdiam, dia bingung harus mengatakan apa kepada Arsy. Tapi, kenapa Arsy bisa berkata seperti itu? Pasti bang Rigel sudah memancing dengan sebuah pertanyaan yang membuat Arsy menyimpulkan hal seperti itu.
Simon menggendong Arsy dan membawanya masuk ke dalam kamar. Karena sudah waktunya tidur siang, Simon sekalian menidurkan Arsy dengan membacakan sebuah dongeng. Tak lama kemudian, Arsy sudah tertidur dalam pelukan simon.
Setelah melihat Arsy sudah tertidur pulas, perlahan Simon melepaskan pelukan Arsy pada tubuhnya. Sebelum turun dari ranjang, Simon lebih dulu memperbaiki posisi tidur Arsy. Lalu pergi dari kamarnya.
Ketika melihat Elia duduk melamun di meja makan, membuat Simon berjalan menghampirinya.
"Lagi mikirin apa sih, sayang?"
Elia terkejut saat melihat Simon sudah duduk di kursi sampingnya.
"Gimana Arsy? Apakah sudah tidur?"
Simon mengangguk. "Mbak lagi mikirin apa, sih?"
"Aku___ hanya kepikiran tentang perkataan Arsy tadi. Aku takut kalau Arsy akan membenci papanya."
Simon menghembuskan nafas panjang, lalu memegang tangan Elia.
"Mbak tenang saja, Arsy itu hanya anak kecil. Dia akan mudah lupa dengan masalahnya, besok pasti sudah tidak ngambek lagi. Jadi, gak usah terlalu di pikirkan ya," bujuk simon agar Elia tidak terlalu kepikiran.
"Aku hanya tidak mau menanamkan kebencian pada diri Arsy, sudah cukup aku menutupi kelahirannya dari bang Rigel. Aku hanya ingin, kita hidup damai tanpa ada rasa kebencian," ungkap Elia.
Elia memang ada sedikit rasa bersalah karena sudah menutupi kelahiran arsy dari Rigel. Meskipun hubungannya dengan rigel sudah selesai, Elia masih ingin hubungan Arsy dan Rigel baik-baik saja. Bagaimana juga, mereka mempunyai ikatan darah.
"Aku tahu, tapi kita melakukan itu kan ada alasannya, bukan karena di sengaja."
__ADS_1
Elia mengangguk.
Setelah itu, mereka membicarakan tentang rencana pernikahan yang akan di laksanakan sebentar lagi. Elia tak butuh pernikahan mewah, asalkan sah dan sakral itu sudah cukup.
Tapi, bagi Simon ini adalah pernikahan pertama dan semoga menjadi yang terakhir. Jadi, dia ingin mengundang teman dan juga rekan bisnisnya. Soal itu, Elia tidak masalah. Dia mengikuti keinginan Simon saja.
"Yaudah kalau gitu, sampai ketemu besok ya, Aku pamit pulang dulu."
Elia mengangguk, dan mengantarkan simon pergi sampai pintu.
Setelah Simon pergi, Elia masuk kedalam kamar Arsy. Dia duduk di samping ranjang dan mengusap kepala putrinya itu perlahan.
" Maafkan Mami ya, sayang. Gara-gara perpisahan Papa dan Mami, kamu juga harus menerima akibatnya. Mami harap kamu bisa tumbuh menjadi putri yang baik, pemaaf, dan pintar."
Sebelum pergi, Elia mengecup kening Arsy terlebih dahulu.
***
Keesokan harinya, Rigel datang kembali dengan membawa bunga, beberapa hadiah, dan juga boneka yang sangat besar untuk Arsy dan Elia. Kini, dia datang sendiri karena Hana merasa lelah. Jadi, dia tinggal di vila dengan seorang suster yang sudah Rigel sewa.
Ketika Rigel mengetuk pintu rumah Elia, ternyata rumahnya kosong.
"Kemana Elia dan Arsy? Apa mereka di rumah makan?"
" Eh, dengar-dengar kemarin ada pria asing yang memeluk bu Elia di depan rumah makan lho!"
"Seriusan!?"
"Iya, masak gue bohong sih. Dan katanya Jihan, wajahnya mirip sama Arsy!"
"Jihan? Bukankah dia sudah di pecat gara-gara lalai dalam menjaga Arsy sampai hampir membuatnya hampir tertabrak mobil, ya?" ujar teman wanitanya.
"Dia melihatnya sebelum di pecat!"
"Kalian ngapain sih, ngegosip boss sendiri? Kalau sampai bu Elia tahu, pasti bakalan kena marah! Lebih baik kerja sana!" tegur Kinan.
"Ye ... syirik aja jadi orang! Lagian, kita lagi waktunya istirahat kok, jadi ya terserah gue lah mau ngapain!"
Kinan hanya geleng-geleng kepala, melihat rekan kerjanya yang sulit di ingatkan dan hobinya ngegosip. Jadi, dia lebih memilih pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Tapi, gue sih gak heran kalau banyak laki-laki yang suka dan ingin ngedeketin bu Elia. Soalnya dia janda cantik dan kaya, siapa coba yang gak tertarik," lanjut temannya.
"Iya juga sih, tapi gue jadi penasaran deh. Apa jangan-jangan itu ayah kandungnya Arsy?" tebak wanita yang berambut pendek.
"Mungkin saja!"
__ADS_1
Mendengar percakapan dua wanita itu yang mengatakan bahwa Elia adalah seorang janda, membuat Rigel jadi bingung dan penasaran.
Jika mereka menyebut Elia sebagai janda, berarti Simon dan Elia belum menikah?Tapi__ kenapa Arsy memanggil pria itu dengan sebutan Daddy? Dan kemarin __ sikap mereka berdua juga terlihat seperti seorang pasangan. Apa__itu hanya pura-pura?
Karena merasa penasaran, Rigel menghampiri kedua wanita itu.
"Permisi, saya mau tanya. Apakah kalian tahu ibu Elia pergi kemana?" tanya Rigel.
"Oh, kurang tahu juga sih. Yang saya tau, tadi bu Elia pergi dengan Arsy dan Bang Simon!" ujar wanita berambut pendek.
Melihat Rigel yang membawa begitu banyak hadiah, dan juga buket bunga. Membuat wanita satunya merasa curiga.
"Kalau boleh tahu, Anda siapanya bu Elia, ya?"
"Oh, saya__ temannya."
"Temannya?" ulang wanita itu yang sedikit kurang percaya karena dia tidak pernah melihat Rigel sama sekali.
"Kalau Anda temannya, kenapa tidak meneleponnya saja?" tandas wanita itu.
Rigel di buat terdiam oleh wanita itu, dia bingung harus menjawab apa. Jika dia mengatakan kalau tidak memiliki nomor Elia, pasti penyamarannya akan terbongkar. Karena seorang teman, tidak mungkin tak memiliki nomor ponsel temannya.
Dua wanita itu terus memperhatikan wajah rigel yang terdiam dan sedikit bingung, membuat wanita itu tersadar kalau wajah Rigel terlihat mirip dengan Arsy.
"Apa jangan-jangan___ kamu___"
Saat melihat wanita itu mulai menyadari siapa dirinya, membuat Rigel langsung pergi begitu saja.
"Hei, mau kemana?" teriak wanita berambut pendek.
Namun, Rigel tak menghiraukannya dan terus berjalan pergi meninggalkan lokasi rumah makan Elia.
...****************...
Kira-kira Elia, Aray dan Simon kemana ya?
Happy new year 2022 buat kalian semua🎉🎉🎉.
Buat yang liburan, tetep jaga protokol kesehatan dan keamanan ya.
Salam sayang dari Author dan terimakasih banyak karena sudah selalu mendukung dan menyukai karya author yang masih amatir ini.
Di tunggu bab selanjutnya ya, karena akan ada___ jeng jeng ...
Pokonya sesuatu deh! Jadi, di tunggu saja.
__ADS_1