
Setelah dari acara itu, Elia sering sekali melamun. Ucapan Simon seakan terus menari-nari dalam pikirannya.
"Jika mbak belum siap juga, aku masih siap menunggu kok, karena stok sabar dan cintaku sama mbak masih sama, tidak berubah. Tapi jangan seperti ini lagi ya, meskipun aku bukan ayah biologis Arsy, aku masih tetap daddynya, kan?"
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Elia tersenyum saat melihat nama siapa yang tertulis di layar ponselnya. Dia segera mengangkat panggilan itu.
" Halo wanita cantik? Ada apa? "tanya Elia kepada seseorang di ujung telepon.
" Kenapa siang bolong kayak gini masih melamun terus, lagi mikirin apa,sih!?" pungkas Jingga.
Elia mengerutkan keningnya saat mendengar bahwa Jingga tahu kalau dia sedang melamun.
" Sok tau deh, lagian siapa juga yang melamun! kamu tuh ya ... Mana bisa tahu aku lagi apa sekarang, sok-sokan nebak lagi! "elaknya.
" Oh ya? Aku tahu kok, kamu sekarang lagi berada di rumah makan lantai dua, berdiri sambil menatap ke pantai, " ungkapnya.
Lagi-lagi Elia di buat terkejut karena Jingga tahu apa yang di lakukan nya sekarang. Rumah makan Elia, memang memiliki pemandangan laut yang begitu indah. Elia membuat restoran ini, karena dia suka angin, matahari terbenam, dan juga pantai. Jadi, lahirlah restoran yang menyajikan makanan dengan cita rasa indonesia sekaligus pemandangan yang begitu indah.
Elia segera memutar balik badannya untuk melihat apakah Jingga datang kesini, dan ternyata itu benar. Saat ini, Jingga sudah berdiri di belakangnya dengan tersenyum.
Elia juga ikut tersenyum, dan segera berlari menghampirinya. Jingga dan Elia saling berpelukan erat, untuk melepaskan rasa rindu di antara mereka.
"Aku kangen banget sama kamu, tapi kenapa gak bilang-bilang kalau datang ke sini . Kan aku bisa jemput kamu di bandara," ujarnya.
Elia melepaskan pelukan mereka dan menatap Jingga dengan intens.
"Aku juga kangen sama kamu, kalau aku bilang berarti bukan surprise dong!" canda Jingga dengan menautkan satu alisnya.
"Terus, kamu tadi siapa yang jemput?" Elia masih penasaran dengan orang yang menjemput Jingga.
Tiba-tiba sepasang suami istri muncul berjalan menghampiri mereka berdua.
"Ya aku lah, El," timpal Runi yang baru saja datang bersama suaminya.
Elia tersenyum ketika melihat sahabatnya itu, ada di sini juga. Mereka adalah sebuah kekuatan bagi Elia, sahabat yang sudah seperti keluarga baginya.
"Hati-hati bumil kalau jalan," ujar Elia yang memegang tangan Runi yang sudah sedikit kesulitan berjalan. Apalagi ketika naik tangga barusan, membuatnya ngos-ngosan.
"Aku tinggal kamu di sini dulu, ya." Sebelum pergi, Reno mengecup kening dan perut Runi yang sudah terlihat sangat besar.
"Aku titip anak dan istriku, ya," pamit Reno sebelum pergi.
"Tenang aja Ren, mungkin hanya hilang aja kok istrimu!" goda Jingga.
"Jangan di hilangin dong, kalau hilang nanti aku carinya di mana? Istriku kan limited edition, gak ada duanya" timpal Reno.
__ADS_1
"Euu ..., uwek ..., " sorak Elia dan Jingga yang merinding dengar gombalan Reno kepada istrinya.
Reno memang sangat menyayangi Runi, bahkan terkadang gombalanya terlalu berlebihan menurut orang lain, tapi Runi menyukainya.
Sudah dua tahunan Runi pindah ke kota ini, saat mendengar bahwa Reno di pindahkan tugas ke kota tempat di mana Elia tinggal, membuat Runi sangat bahagia sekali karena dia bisa dekat dengan Elia lagi.
Setelah Reno pergi, mereka bertiga duduk bersama sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan pantai.
"Aduh Run, kenapa suamimu gombalnya masih seperti itu, sih! Apa Kamu gak bosen gitu!" cetus Jingga dan mendapat senggolan dari Elia.
" Apaan sih, El," gerutu Jingga.
"Aku gak bosen dan justru senang mendengar gombalan Reno. Itu tandanya cinta dia masih sama seperti dulu, aku aja jadi candu dengan gombalannya itu. Mangkanya nikah, jangan jomblo terus, biar gak iri kalau melihat ke uwuan orang lain!" pungkas Runi.
Elia menahan tawanya saat mendengar ucapan Runi, sedangkan Jingga hanya terdiam. Ucapan Runi seakan skakmat baginya yang memang masih single sampai sekarang. Entah kenapa sampai saat ini, Jingga tidak ada tanda-tanda mempunyai pacar atau keinginan menikah.
Padahal dia cantik, pintar, bisa segalanya, bahkan banyak pria yang mendekatinya. Tapi selalu saja dia tolak dengan alasan tak mau menikah.
Keadaan rumah tangga kedua orang tuanya, membuat Jingga takut menikah dan mempunyai nasib buruk seperti almarhum ibunya. Melihat Elia yang menahan tawa, membuat Jingga merasa kesal.
" Gak usah ketawa, ucapan Runi juga berlaku untuk kamu, El!" cetusnya.
Elia mengerutkan keningnya. "Kok aku di bawa-bawa juga sih!" Elia menyeruput minumannya.
"Karena kamu juga sampai sekarang masih menyendiri, kan?" seru Jingga dan Runi bersamaan.
Khuk ... Khuk ...
"Kalau aku kan, udah pernah menikah,tapi gagal. Jadi ya gak usah ikut-ikutan seperti aku yang belum menikah lagi," sanggahnya yang tak mau kalah.
Mendengar jawaban Elia, membuat Jingga dan Runi menatapnya dengan tatapan tajam. Hal itu, membuat Elia merasa seperti dejavu sampai menelan saliva saja sulit.
"Kalian kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya yang mencoba tenang.
Jingga memberi kode agar Runi yang berbicara dan Runi menarik nafas panjang terlebih dahulu.
"Apa kamu belum faham dengan maksud kita, El?" tanya Runi yang di jawab gelengan kepala.
"Langsung to the point!" sela Jingga.
Runi melirik kesal ke arah Jingga karena dia tidak sabaran.
"Sabar dong, kalau gak sabaran kenapa tadi nggak ngomong sendiri!" gerutu Runi.
"Iya ... Iya ...bumil," lirih Jingga.
__ADS_1
Elia hanya bisa tersenyum saat melihat kedua sahabatnya ini berdebat lagi.
"El," panggil Runi.
"Iya, kenapa bumil cantikku," jawab Elia seraya menatap Runi dengan senyuman.
"Sampai kapan kamu mau gantung Simon seperti ini?" pungkasnya.
Khuk ... Khuk ...
Elia tersedak kembali, padahal dia tidak sedang minum maupun makan. Tapi, ucapan Runi membuat dia terkejut sekali.
"Maksud kamu apa, Run?"
"Gak usah ngeles deh, kamu tuh ya ... Simon kurang apalagi sih?" jeda Runi. "Udah ganteng, mapan, baik, kebapakan, terus sayang sama kamu dan juga Arsy. Terus kamu mau cari yang seperti apa lagi, El? Apa jangan-jangan, kamu belum bisa move on dari si Jeroan itu, ya" tebak Runi.
" Bener kata Runi, El. Ya, meskipun dulu aku sempat meragukannya, tapi setelah melihat pengorbanan dia selama ini. Aku baru sadar kalau dia memang tulus dan sayang banget sama kamu. Bahkan bukan sama kamu, dia juga sayang banget sama Arsy yang notabennya bukan anaknya sendiri," imbuh Jingga.
Elia masih terdiam tanpa berkata apapun
" Nanti kalau Simon di ambil orang nyesel lho! Aku tahu kamu sebenarnya respect kan sama dia? Tapi kenapa kamu selalu menolak dan menghindarinya?"
" Dia sangat sempurna, Aku takut kalau___" Elia tidak melanjutkan ucapannya.
Elia menakup wajahnya dengan kedua tangan. Di juga bingung harus bersikap bagaimana kepada Simon. Selama ini Simon memang seseorang yang selalu ada untuknya, dia tidak memiliki kekurangan apapun. Justru sebaliknya, dia yang memiliki banyak kekurangan dan merasa tak pantas bagi Simon.
Melihat Elia seperti ini, membuat Runi dan Jingga merasa bersalah. Apakah mungkin mereka terlalu ikut campur atau memaksa? Jingga dan Runi mendekati Elia dan memeluknya.
"Maaf ya, El ... kita gak bermaksud untuk memaksa," ujar Runi.
"Iya, El ... Kita cuma takut kalau kamu nanti menyesal karena sudah melepas orang sebaik Simon," imbuh Jingga.
Elia mengusap wajahnya kasar.
"Aku tahu kok, aku hanya lagi bimbang aja."
Jingga dan Runi mengerutkan keningnya.
"Bimbang? Bimbang kenapa, El?"tanya Runi dan Jingga bersamaan.
...****************...
Waduh, aku baca pas part karma mama Hana jadi nyesek ya...
Sebenarnya, ini kan novel memang berbagi cinta, jadi ... Ya alurnya memang begitu. Tapi, kalian ikuti aja ya ... Karena nanti akan ada kejutan lagi,kok!
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya oke👌👌sama jaga kesehatan di musim pancaroba seperti ini.