
Hari demi telah berlalu, dan hari pernikahan Simon dan Elia telah tiba. Sebenarnya mereka akan menikah di sebuah villa yang mempunyai pemandangan pantai atau di outdoor dengan pemandangan hutan. Tapi di karenakan semua tempat pernikahan outdoor di kota ini penuh di tanggal yang sudah di tentukan. Membuat Elia dan Simon terus berpikir, dan akhirnya memutuskan pernikahan dilaksanakan di pantai depan rumah makan Elia.
Meskipun pantainya tidak secantik pantai wisata, tapi di dekorasi pasti akan terlihat cantik, dan kebetulan jarak dengan villa atau hotel tidak jauh. Jadi, tamu undangan dari luar kota masih mudah di jangkau.
Semuanya sudah di hias dengan sempurna, acara akad di laksanakan di taman rumah Elia. Sedangkan resepsi di dekat pantai. Sejak semalam Simon tidak bisa tidur karena merasa gugup dan terus menghafalkan kalimat ijab Qabul. Dia takut kalau sampai lupa dan salah-salah.
"Jangan grogi, mon!" ujar sahabatnya.
"Pengennya gitu, tapi tetep aja grogi!"
"Ingat aja kalau nanti malam bakalan malam pertama," imbuh teman lainnya.
"Dasar otak cabul! Pikirannya hanya begitu terus," tampik Simon.
"Terus apa yang membuat Lo gugup?" tanya Haikal sahabatnya.
"Gue takut salah pas ucapan ijab Qabul," jawab Simon.
Mendengar penuturan Simon yang gugup karena takut salah pengucapan saat ijab qabul, membuat gelak tawa dari teman-temannya. Sebenarnya seorang pria gugup saat ijab qabul bukan hanya takut salah mengucapkan lafal ijab Qabul, tetapi tanggung jawab setelah itu sangatlah besar.
Apalagi ini adalah pengalaman pertama bagi Simon. Jadi, rasa gugup itu pasti datang menghampirinya. Tak lama kemudian, penghulu dan petugas dari KUA sudah datang, membuat acara akad akan segera di langsungkan.
"Apakah sudah siap?" tanya sang penghulu.
"In sya Allah siap!" jawab simon.
"Tidak usah gugup, biar tidak salah nanti waktu pengucapan ijab Qabul," ungkap sang penghulu.
Simon tersenyum dan mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian, Simon sudah saling berjabat tangan dengan penghulu. Ucapan akad di mulai dengan bacaan dua kalimat syahadat.
Di dalam ruangan pengantin, Elia juga sedikit gugup saat melihat Simon mulai mengucapkan ijab Qabul, dan akhirnya ijab Qabul selesai di ucapkan dengan satu tarikan nafas.
__ADS_1
Suara gemuruh ucapan SAH menggema di tempat akad, sedangkan di ruangan pengantin. Tanpa terasa air mata Elia jatuh juga. Kini, dia telah sah menjadi seorang istri dari Simon Andarboy.
Lelaki yang awalnya hanya menolongnya saat pingsan di derasnya hujan, lalu menjadi sahabat, dan sekarang menjadi suami.
Simon adalah pria yang datang di kala kehidupan Elia menjadi gelap, dia seakan menjadi penerang, pelindung, sekaligus penguat selain Jingga, Runi dan Arsy.
Mengenal Simon, membuat Elia sadar bahwa kita tidak bisa menilai seseorang dari umur dan penampilan. Orang yang pertama kali bertemu dengan Simon akan berpikir bahwa dia seperti seorang playboy yang tidak bisa bertanggung jawab.
Tapi, setelah mengenal Simon. Ternyata dia jauh lebih dewasa, bertanggung jawab, pekerja keras, dan setia. Itulah mengapa kita tidak boleh melihat seseorang dari luarnya saja, terkadang yang terlihat baik di luar belum tentu baik di dalam, begitupun sebaliknya. Namun, ada juga orang yang terlihat sama-sama baik di luar maupun dalam.
"Selamat ya, El..." Jingga dan Runi memberi selamat sekaligus memeluknya.
"Akhirnya kini kamu sudah menjadi nyonya Sinom!" goda Runi.
"Simon Runi..."
Hahahaha....
Selepas itu, Runi dan Jingga menggandeng Elia untuk keluar menghampiri Simon, dengan di pimpin Arsy yang berjalan di depan dengan membawa buket bunga.
Melihat Elia berjalan menghampirinya, membuat Simon terpesona dengan kecantikan Istrinya. Dia benar-benar terlihat cantik dengan gaun berwarna putih, terlihat seperti seorang bidadari. Tapi, Arsy dan Elia kini memang telah menjadi bidadari surganya.
Simon berjalan untuk menjemput Eli.
Pertama, Arsy memberikan buket bunga kepada Simon untuk di berikan kepada Elia.
"Celamat Daddy," Arsy memeluk Simon.lalu mencium pipinya.
"Terimakasih little princess Daddy."
Setelah itu, Simon berjalan menghampiri Elia dengan menggandeng tangan mungil Arsy. Simon memberikan bunga itu untuk Elia, dan di terima dengan senyuman. Kemudian, Elia mencium tangan simon, dan di lanjut Simon mencium kening Elia.
Saat Simon ingin meraih tangan Elia untuk membawanya ke meja tempat akad. Tangannya di hentikan oleh Jingga.
__ADS_1
"Titip jagain Elia ya, Mon. Jangan sakiti dia, kalau kamu berani-beraninya sakiti Elia, aku hajar kamu!" ancam Jingga.
"Ya Allah mbak, galaknya keluar lagi. Aku pasti akan jaga istriku dengan baik."
"Ehm ... Sudah! Jangan lama-lama, kasihan penghulunya nungguin," pungkas Runi.
Setelah itu, Elia menggandeng tangan Simon berjalan menuju tempat di mana penghulu berada. Sedangkan, Arsy ikut Jingga dan Runi duduk di bangku tamu.
Elia dan Simon mulai menandatangani buku nikah mereka, saling memasangkan cincin pernikahan, dan juga serah terima mahar yang di berikan oleh Simon.
Rigel yang melihat pernikahan Elia dari kejauhan, merasa sakit sekaligus bahagia. Sakit karena wanita yang masih sangat dicintainya kini sudah menjadi istri orang lain, bahagia karena akhirnya Elia menemukan kebahagiaannya.
Ucapan Elia kemarin seakan menempel di hati dan pikirannya.
" Jika kamu bertanya apakah aku membencimu dan menyesal karena pernah menikah denganmu, jawabannya tidak. Karena kamu pernah menjadi laki-laki spesial yang sangat aku cintai, sampai aku rela berkorban agar bisa terus bersama denganmu. Tapi, kamu justru menghancurkan istana cinta yang kita bangun dengan sebuah pengkhianatan. "
"Anggaplah kisah kita sebagai pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Jika nanti kamu menikah lagi, tolong lebih hargai dan jaga baik-baik pasanganmu. Jangan buat dia merasakan apa yang pernah aku rasakan, karena ketika seorang wanita lelah mencintai, dia akan pergi dan tidak akan pernah kembali. "
" Sekarang aku sudah menemukan kebahagiaanku, semoga kamu juga akan menemukan kebahagiaanmu sendiri. Kisah kita sudah selesai, tapi hubunganmu dengan Arsy tidak. Jika kamu ingin anakmu tak menjauh, berikan dia kasih sayang dan perhatianmu. Aku tidak akan melarangnya."
" Ternyata apa yang kamu ucapkan semuanya benar, El. Kamu tidak punya alasan untuk memilihku dari pada dia. Semoga pernikahanmu langgeng, dan bahagia dunia akhirat. "
Setelah itu, Rigel pergi dari lokasi pernikahan Elia, dia akan belajar ikhlas untuk melepaskannya. Memang benar bahwa cinta tak harus memiliki, tapi bisa melepaskannya mendapatkan kebahagiaan, juga bisa di sebut Cinta.
Kisah Elia dan Rigel telah berakhir sampai di sini dan akan menjadi sebuah kenangan. Ternyata cinta saja tidak cukup membuat sebuah rumah tangga akan bertahan lama. Butuh saling percaya, terbuka, saling mengisi kekurangan pasangan masing-masing, jangan egois, dan lain sebagainya.
Karena sebuah pernikahan bukan tentang aku atau kamu, tapi kita. Yang mana semua harus di jalani bersama, bukan sendiri-sendiri.
...****************...
Ah... Detik-detik...
Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya yang banyak ya....
__ADS_1