Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Periksa kandungan


__ADS_3

Hari mulai sore, namun Elia masih belum membuka matanya. Simon yang sudah siap, segera pergi menuju kamar Elia untuk mengajaknya pergi mencari makan sekaligus ke dokter kandungan.


Saat Simon berbicara dengan Jingga, dia menyarankan agar Simon segera membawa Elia periksa ke dokter kandungan. Jingga takut dan khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan Elia, mengingat terakhir kali kondisi kandungannya yang sedang tak baik.


Sebelumnya Simon sudah mencari-cari tempat praktek dokter kandungan terdekat dari villa tempat mereka tinggal. Sesampainya di depan pintu kamar Elia, Simon berusaha untuk mengetuk pintu.


Melihat tak ada tanggapan dari Elia, Simon terus mencoba mengetuk pintu dan memanggil nama Elia. Karena tetap tak ada tanggapan, Simon takut terjadi sesuatu. Jadi dia meminta kunci cadangan kepada pihak resepsionis untuk membuka pintu kamar Elia.


Ketika pintu terbuka, ternyata Elia baru saja bangun dari tidurnya. Mata Elia langsung terbuka lebar saat melihat Simon masuk ke dalam kamarnya dengan wajah khawatir.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Elia yang bingung sekaligus terkejut.


Simon menghembuskan nafas panjang saat melihat Elia baik-baik saja.


"Aku kira ada terjadi sesuatu sama mbak, soalnya dari tadi aku ketuk pintu gak ada sahutan sama sekali. Jadi, terpaksa aku minta kunci cadangan," jelas Simon.


"Oh, maaf. Aku baru saja bangun tidur," jawab Elia yang seketika menundukkan kepalanya karena malu.


Simon tersenyum saat melihat wajah malu Elia.


"Yaudah kalau gitu mbak siap-siap ya, habis ini kita pergi cari makan sekaligus dokter kandungan, aku tunggu di luar." Setelah itu Simon pergi dari kamar Elia.


Ketika mendengar suara pintu tertutup, Elia segera bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Satu jam kemudian, Elia sudah siap dan keluar dari kamarnya. Dia berjalan untuk mencari di mana keberadaan Simon, Elia tersenyum saat melihat sosok pria yang dia kenal sedang menunggunya dengan menatap pemandangan pantai.


Penampilan Casual, serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat dia terlihat sangat tampan di bawah sorot matahari yang mulai turun ke ufuk barat.


"Apakah indah?" tanya Elia ketika sudah berdiri di samping Simon.


"Indah dan sangat cantik sekali," ujar Simon dengan menatap ke arah Elia yang terlihat sangat cantik dengan dress pink motif bunga-bunga.


Elia ikut tersenyum dengan menatap pemandangan sore di pantai. Villa yang mereka tempati memang memberikan pemandangan pantai dengan pasir putih yang sangat indah.


"Ayo kita pergi, mbak. Soalnya aku sudah membuat janji dengan dokternya, takut telat," ujar Simon yang di angguki oleh Elia.


Akhirnya mereka berdua pergi dengan menggunakan mobil, menuju dokter kandungan. Awalnya Simon ingin mengajak Elia untuk makan dulu, tapi di karenakan waktunya molor dari jadwal awal, membuat mereka memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan terlebih dahulu.

__ADS_1


Sesampainya di dokter kandung, Simon segera menuju ruang resepsionis untuk mengkonfirmasi pendaftaran yang Ia lakukan secara online. Sedangkan Elia duduk di kursi tunggu, di sana juga banyak Ibu-ibu hamil yang ingin memeriksakan kandungan.


"Sudah berapa bulan?" tanya seorang Ibu hamil yang duduk di samping Elia.


"Oh, sekitar 8 minggu. Ibu sendiri sudah hamil berapa bulan?" tanya Elia dengan ramah.


"37 minggu," jawabnya.


"Oh, berarti tinggal sebentar lagi ya. Apakah Ibu hamil kembar?" tanya Elia karena dia melihat ukuran perut Ibu itu seperti seseorang yang hamil kembar.


"Iya, kembar."


"Ma sya Allah, semoga lancar sampai lahiran ya bu," ujar Elia.


"Amin, terimakasih doanya."


Setelah itu, Simon datang dengan membawa struk pendaftaran. Saat melihat Simon datang menghampiri Elia, Ibu itu tersenyum.


"Suamimu tampan dan masih muda, pasti anakmu nanti juga ikut tampan/cantik seperti ayahnya," ungkap Ibu itu lagi.


Elia hanya tersenyum dan sedikit merasa canggung ketika mendengar lagi-lagi orang mengira bahwa Simon adalah suaminya. Tapi, orang itu tak salah, karena siapa saja juga akan mengira seperti itu.


"Ibu Elia ya? Anda datang sendiri, di mana suaminya?" tanya dokter itu saat membaca rekam medis Elia.


Elia terdiam dan sedikit bingung harus menjawab apa, bilang tidak takutnya tiba-tiba Simon datang. Bilang Iya, masak dia harus berbohong dengan mengatakan bahwa Simon adalah suaminya.


Melihat Elia yang terdiam, sang Dokter tak bertanya lebih lanjut lagi dan segera menyuruh Elia berbaring di atas brankar.


Saat mulai memeriksa, Elia terus menatap ke layar monitor yang memperlihatkan bahwa bayinya masih ada di dalam rahim.


"Bagaimana dok, apakah bayi saya baik-baik saja?" tanya Elia.


"Kondisi bayinya cukup baik, dan masih terus berkembang." kemudian sang dokter menjelaskan anggota tubuh yang sudah mulai berkembang, dan juga mendengarkan detak jantung bayinya.


Elia merasa sangat bersyukur sekali melihat bayinya masih kuat dan bertahan di saat apa yang telah menimpa Elia akhir-akhir ini.


Setelah pemeriksaan selesai, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Siapa?"


Simon membuka pintu perlahan. "Maaf dok, Saya__ suaminya Ibu Elia," pungkas Simon yang sedikit bingung harus memperkenalkan diri sebagai siapa.


"Itu suami ibu?" tanya sang Dokter saat melihat Elia memijat pelipisnya. Sedangkan Elia hanya bisa tersenyum bingung.


Sang Dokter hanya menghembuskan nafas panjang dan geleng-geleng kepala saat melihat tingkah laku pasangan suami istri ini yang menurutnya aneh.


" Nanti vitaminnya di minum dengan rutin, jangan terlalu kecapek-an, melakukan perjalanan jauh, berhubungan juga__ puasa dulu ya. Karena kondisi bayi bu Elia saat ini sedikit lemah, tapi masih aman, hanya saja lebih di perhatikan lagi. Saat periksa selanjutnya, istrinya jangan di tinggalin sendiri ya pak ... "sindir sang dokter dengan menatap tajam ke arah Simon.


" Baik dok, terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu," ucap simon yang kemudian membantu Elia untuk bangun dari tempat duduknya.


Sebenarnya Elia sedikit tak suka saat melihat Simon merangkulnya seperti ini, tapi saat ini mereka sedang berperan sebagai sepasang suami istri. Jadi mau tidak mau, Elia harus bekerjasama dalam melakukan peran itu.


Saat di dalam mobil, Elia terlihat cemberut dengan menatap ke arah jendela.


"Mbak, kenapa diam seperti itu? Apa mbak marah?" tanya Simon dengan mencolek lengan Elia. Tapi, Elia justru mencoba lebih menjauh lagi dan membelakangi Simon.


Simon menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, dia bingung dengan sikap Elia saat ini.


"Mbak ... Mbak Elia yang cantik ... jangan diam terus dong, kalau mbak marah, kesal, atau apa__ mbak bilang aja, tapi jangan diam seperti ini dong," bujuk Simon yang sudah bingung harus berbuat apa.


Mendengar rengekan Simon membuat Elia sedikit ingin tertawa, tapi dia tahan. Sebenarnya Elia bukan kesal dengan Simon, lebih tepatnya merasa tidak enak dan canggung.


Selama ini, hubungan mereka hanya sebatas teman, tapi Simon sudah banyak menolong dan berkorban untuknya.


Tiba-tiba Elia berbalik dan menatap ke arah Simon.


"Mon, maaf ya kalau selama ini aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Terima kasih karena kamu sudah selalu ada menemaniku serta menolongku di kala susah, tapi___ sepertinya kita tak baik kalau terus seperti ini!" papar Elia.


Simon terdiam saat mendengar ucapan Elia, perkataan Elia saat ini seakan menolak kehadirannya.


Apakah kamu tak menyukaiku mbak? Atau selama ini kamu tak suka aku ada di sisimu? batin Simon.


...****************...


Bebeb simon yang ganteng, kalau mbak Elia gak mau, sama othor aja juga boleh. 🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya, like, komen, vote serta hadiahnya ya...


***


__ADS_2