
Sesampainya di kota B, Elia dan Simon sudah di jemput oleh supir dari vila tempat mereka akan menginap sementara.
Simon berjalan dengan menggandeng tangan Elia untuk berjalan keluar dari bandara. Simon menggandeng tangan Elia bukan tanpa alasan, sebelumnya saat berada di dalam pesawat ada seorang pria yang terus saja menatap Elia dengan intens.
Bahkan saat turun dari pesawat, dia berani menghampiri Elia untuk berkenalan dan meminta nomer teleponnya. Rasa cemburu Simon keluar, dia mengerutkan keningnya ketika melihat pria itu terus saja memaksa agar Elia memberikan nomor ponselnya.
"Apakah saya tidak salah dengar?" tanya Simon dengan wajah terlihat kesal.
"Tidak, Anda tidak salah dengar. Saya memang ingin berkenalan dengan nona cantik ini," ujar pria itu.
"Apakah Kamu tidak melihat kalau dia sejak tadi bersama dengan seorang pria?" imbuh Simon sedangkan Elia hanya terdiam.
"Memangnya kenapa? Saya lihat kalian juga seperti bukan pasangan jadi tidak masalah kalau saya ingin berkenalan dan meminta nomor ponsel nona ini, kan?" pungkasnya.
Simon menautkan kedua alisnya. "Dari mana anda bisa berpikir kalau kita ini bukan pasangan?" Simon mulai merasa kesal. Meskipun mereka memang bukan pasangan, entah kenapa Simon merasa sangat kesal sekali ketika ada seorang pria terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Elia.
Pria itu tersenyum." Dari apa yang saya lihat, kalian sama sekali tidak terlihat seperti seorang pasangan, bahkan kalian berdua berjalan sendiri-sendiri tak ada keromantisan sedikitpun," jelas pria itu.
Simon yang sudah di selimuti dengan rasa cemburu langsung memeluk Elia di depan pria itu. " Andai anda tahu, kalau kami itu adalah pasangan. Jadi jangan berharap untuk mengajak kenalan istri saya. "Simon segera mengajak Elia pergi menjauh dari pria itu.
Elia yang bingung dan merasa risih dengan sikap Simon mencoba memberontak dan melepaskan diri.
" Mon, lepasin!"ucap Elia saat mereka sudah berada jauh dari pria itu.
Simon segera melepaskan pelukannya ketika melihat wajah Elia yang terlihat marah.
" Maaf mbak, aku tadi hanya___" Simon bingung harus menjelaskan apa dengan Elia.
"Iya, aku tahu." Elia berusaha untuk berjalan sendiri, namun hampir saja dia ketabrak oleh seorang petugas bandara yang membawa troli berisi barang-barang.
"Mbak, awas!" Simon segera menarik tubuh Elia jatuh ke dalam pelukannya.
Jantung Elia berdetak dengan kencang saat menyadari bahwa kini dirinya tengah berada dalam pelukan Simon. Aroma tubuh Simon tercium sangat jelas oleh indra penciumannya, dada bidang kokoh itu terasa sangat nyaman.
Ya Simon merupakan Pria yang memiliki tubuh proposional, serta wajah yang begitu tampan. Elia mencoba untuk segera menjauh dari tubuh Simon, karena semakin lama aroma maskulin itu akan membuatnya kecanduan.
"Mbak gapapa?" Simon memegang pundak Elia, serta menatap Elia dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Aku gapapa," lirih Elia yang ingin segera menjauh dari Simon. Tapi kali ini Simon lagi-lagi melakukan hal seenaknya sendiri. Dia tidak memperbolehkan Elia berjalan sendiri, dan terus menggandeng tangannya.
"Mon, lepasin tanganku," pinta Elia.
" Begini saja dulu ya, nanti kalau aku lepasin mbak jalan sendirian, takutnya hilang atau ke tabrak lagi," pungkasnya. Lalu terus berjalan sambil menggandeng tangan Elia.
Elia merasa sangat kesal melihat tingkah Simon yang tak seperti biasanya. Terpaksa Elia hanya bisa diam dengan memandangi tubuh pria muda yang terus menggandeng tangannya dengan erat. Sedangkan Simon dalam hatinya merasa sangat bahagia, tapi dia berusaha untuk tetap cool dan terlihat biasa saja.
Sesampainya di pintu keluar, terlihat ada seorang pria yang membawa papa nama dengan bertuliskan nama mereka berdua.
"Bapak yang menjemput kami?" tanya Simon saat sudah berdiri di depan pria itu.
"Tuan Simon dan Nona Elia?" ucap Pria itu yang di jawab sebuah anggukan oleh Simon.
"Oh, kalau begitu kita langsung menuju mobil saja. Tapi, apakah kalian tidak membawa barang bawaan?" tanya Supir itu saat melihat Elia dan Simon tak membawa banyak barang hanya ada tas ransel saja.
"Oh tidak."
Elia memang tak membawa barang sama sekali, karena semua barang-barangnya telah hangus terbakar bersama rumah kedua orang tuanya.
Tanpa berbicara banyak, Supir itu segera mengajak Simon menuju mobil. Dengan hati-hati, Simon menyuruh Elia untuk masuk terlebih dahulu.
Simon tersenyum saat melihat Elia seperti bahagia berada di tempat ini.
"Pak, nanti kita mampir ke toko baju atau pusat perbelanjaan terlebih dulu ya," pinta Simon kepada sang supir.
"Baik Tuan," jawab sang supir.
"Apa mbak menikmatinya?" tanya Simon saat melihat Elia belum bergerak dari posisinya.
"Ya, ini sangat indah, dan tenang sekali," jawab Elia.
Elia memang merasa sangat tenang, mungkin memang ini yang dia butuhkan saat ini. Setelah apa yang dia alami akhir-akhir ini, membuat batin Elia tertekan. Namun, sekarang rasa penat serta sesak di dada itu seperti hilang terbawa hembusan angin ke laut yang luas.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa mereka berhenti di salah satu pusat perbelanjaan Lokal. Simon dan Elia turun dari mobil untuk mencari pakaian.
Setelah mendapatkan beberapa set pakaian, tiba-tiba perut Elia terasa kram.
__ADS_1
"Kenapa, mbak?" tanya Simon saat melihat Elia memegang perutnya dengan wajah seperti menahan sakit.
"Perutku kram," jawab Elia.
"Kalau gitu mbak duduk istirahat dulu ya," Simon mencarikan Elia tempat duduk.
Kemudian, Elia mencoba mengatur nafasnya dan merilekskan otot-otot tubuhnya agar tak tegang.
"Gimana mbak, apakah sudah baikan?" tanya Simon dan di jawab sebuah anggukan oleh Elia.
Simon merasa lega saat mendengar perut Elia sudah jauh lebih baik. Setelah itu mereka berjalan kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju vila.
Sesampainya di vila Simon dan Elia masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Elia terlihat begitu kelelahan, ketika membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia langsung tertidur pulas.
Sedangkan di dalam kamar lain, terlihat Simon sedang berbincang-bincang dalam telepon untuk membicarakan perkembangan kasus Elia. Kemudian menelfon seseorang lagi untuk membicarakan tentang pekerjaannya.
"Saya harap kamu bisa urus semuanya, karena kemungkinan saya akan menjual sebagian aset yang ada di sana dan membuka usaha baru di sini" ucap Simon dengan seseorang di ujung telepon.
"Tenang saja bos, Saya akan menghandle semuanya. Oh ya, bagaimana perjalanan anda?"
"Cukup menyenangkan, yasudah kalau begitu. Saya ingin menghubungi seseorang lagi," pamit Simon. Lalu mengakhiri panggilan dan mencoba menelfon orang yang baru.
"Halo kak Jingga,"
"Iya, Mon. Ada apa?" tanya Jingga di ujung telepon.
Setelah itu Simon mengatakan bahwa dia dan Elia saat ini sedang berada di kota B untuk bersembunyi dari penjahat.
"Jadi bagaimana kondisi Elia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Dan tentang kasusnya__" Jingga terus berbicara tanpa henti. Saat ini dia terkejut, sekaligus khawatir menjadi satu.
"Kakak tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Aku menghubungi kakak agar tidak khawatir kalau tidak bisa menghubungi mbak Elia. Oh ya, sama urusan perceraian mbak Elia, tolong Kakak yang handle ya? Dan jangan sampai ada yang tahu kalau mbak Elia masih hidup, termasuk keluarga Mantan suaminya, " pinta Simon.
"Oke, kamu tenang saja. Aku akan merahasiakan keberadaan Elia yang sebenarnya. Kamu hati-hati di sana, dan sekali lagi aku mau bilang terimakasih karena kamu sudah menjaga Elia. Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu__" Jingga sudah tak sanggup lagi untuk berkata lagi.
Saat ini dia mencoba untuk menahan tangisnya, dia benar-benar bersyukur karena Elia masih selamat dari maut itu. Kisah hidup Elia benar-benar sungguh berat, cobaan demi cobaan terus datang padanya. Semoga ini adalah yang terakhir, dan setelahnya hanya ada warna pelangi dalam kehidupan Elia.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya...