Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
Fitting baju pernikahan


__ADS_3

Selesai mengurus dokumen-dokumen untuk mengajukan pernikahan di KUA. Elia dan Simon lanjut menuju butik untuk melakukan fitting baju pernikahan mereka.


Sesampainya di butik, sudah ada Jingga, Runi dan Reno yang juga ikut fitting baju.


"Kalian sudah datang?" Elia menghampiri Jingga dan Runi.


"Iya dong, kamu saja yang telat!" sahut Runi.


"Ya, maaf. Tadi ada kendala sedikit saat mengurus dokumen pernikahan, makanya lebih lama dari perkiraan."


"Tapi, udah beres semua kan?" tanya Jingga.


"Alhamdulillah sudah selesai."


Setelah itu, pemilik toko segera mengajak mereka untuk melihat gaun pernikahan. Runi dan Jingga sangat antusias sekali, karena ini pertama kalinya mereka memilihkan baju pernikahan Elia. Dulu, awal mula mereka kenal saat Elia sudah menikah, dan akhirnya bisa menjadi sahabat sampai sekarang.


Karena acaranya outdoor dan di pantai, gaun yang di kenakan harus simpel agar tidak kesusahan saat berjalan. Selesai memilih beberapa gaun, mereka menyuruh Elia untuk mencoba semua gaun itu.


"Apa kalian serius? Menyuruhku untuk mencoba semua gaun ini?" Elia sedikit tak habis pikir dengan teman-temannya ini.


"Sudah buruan ganti! Gak usah banyak protes."


Jingga memaksa tubuh Elia agar segera masuk ke ruangan ganti. Sedangkan Elia hanya bisa pasrah dan menuruti permintaan temannya.


1,2,3,4 baju sudah di coba oleh Elia. Namun, tetap tak memenuhi syarat Jingga dan Runi sampai di gaun kelima ... akhirnya mereka berdua di buat takjub akan kecantikan Elia yang memakai gaun itu.


Gaun itu terlihat sangat elegan saat di pakai oleh Elia, seakan gaun itu memang di buat khusus sesuai karakter Elia. Gaun dengan lengan, simpel, namun sangat elegan.


Elia juga merasa puas dengan gaun ini, daripada gaun sebelum-sebelumnya yang terlalu seksi menurutnya. Elia bukanlah tipe wanita yang suka menonjolkan anggota tubuhnya, meskipun belum berhijab, pakaiannya selalu tertutup dan simpel.


Elia bukan tipe orang yang suka pakaian glamor, tapi saat menikah dengan Rigel. Dia selalu di tuntut dengan pakaian glamor saat menemani Rigel ke sebuah acara. Ketika menikah dengan Rigel, Elia lebih sering menjadi orang lain daripada dirinya sendiri.


Sikap Hana yang selalu menuntut ini, dan itu. Membuat Elia harus berusaha keras agar bisa sepadan dan pantas menjadi seorang istri dari putra keluarga Ervinosa.

__ADS_1


Berbeda ketika bersama Simon, Elia lebih bisa menjadi sebagai dirinya sendiri. Tak banyak tuntutan ini dan itu.


"Mbak bungkus yang ini saja!" ujar Jingga kepada karyawan butik. Lalu dia memberikan sebuah kartu debitnya ke pada karyawan itu.


"Loh, Jingga. Kenapa kamu yang bayar? Kan ini___"


"Sudah, gapapa El. Anggap itu adalah kado pernikahan dariku untukmu. Jadi, di larang keras menolak!"


Elia merasa tidak enak sekali dengan Jingga, padahal sekarang dia sudah sukses dan bisa membeli gaun itu sendiri. Elia segera menghampiri Jingga dan memeluknya.


" Makasih ya Jingga ... Aku jadi terharu kan." Elia menangis dalam pelukan Jingga.


" Udah, jangan nangis lagi! Aku kan pengennya kamu seneng, bukan sedih begini."


"Ya habisnya kamu bikin aku terharu," protes Elia.


Jingga melepaskan pelukan Elia, dan mengusap air matanya.


"Aku hanya ingin memberikan kado spesial di hari bahagiamu. Aku bersyukur, akhirnya aku melepas sahabatku untuk menikah lagi." Tidak terasa air mata Jingga juga ikut menetes, begitupun dengan Runi.


Dulu, Elia adalah seorang putri kesayangan orang tuanya. Bahkan, sampai sudah menikah pun, mereka masih memperlakukan Elia seperti seorang putri kecilnya.


Mengenal Elia, juga membuat Jingga bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga.


Dulu, ketika Rigel keluar kota beberapa hari, dan Elia mendapatkan libur. Jingga lah yang akan menemani Elia pulang ke bandung untuk bertemu orang tuanya. Jadi, dia sangat akrab dengan Elia dan keluarganya.


3 tahun ini, adalah cobaan terberat bagi Elia. Di waktu yang sama, dia harus kehilangan ibu, ayah dan kakaknya, sekaligus mendapatkan penghianatan dari suami tercintanya.


Bukan hanya itu saja, Elia juga mendapatkan perlakuan tak adil, di tuduh selingkuh, rumah peninggalan orang tuanya di bakar, nyawanya terancam berkali-kali, sampai akhirnya dia harus pergi bersembunyi agar selamat dan bisa melahirkan bayinya.


Tapi, kini Elia sudah mendapatkan kebahagiannya, dan semoga kebahagiaan itu bertahan lama. Seusai berpelukan lama, merek saling mengusap pipi yang basah.


"Semoga kamu juga bisa segera menikah, biar gak sendirian lagi. Jangan terlalu takut untuk menikah, hanya karena pengalaman orang tuamu yang buruk."

__ADS_1


"Aku tidak akan mengatakan kalau dalam menjalani pernikahan itu mudah, pasti ada saja cobaannya. Tapi, tidak semua pernikahan akan berakhir seperti pernikahan ibumu dan aku. Masih banyak pernikahan yang berakhir damai dan bahagia. Tuhan tahu seberapa kuat hambanya dalam menghadapi cobaannya. Maka dari itu, Tuhan tidak akan menguji lebih dari kemampuanmu."


" Jadi, cobalah untuk membuka hati kepada seorang pria. Umurmu sudah tidak muda lagi, Jing. Apakah kamu tidak mau, memiliki pasangan dan malaikat kecil seperti Arsy? "


Jingga menatap Arsy yang masih tertidur di sofa. Jika boleh jujur, Jingga juga ingin memiliki malaikat kecil seperti Arsy, tapi rasa takutnya dengan pernikahan jauh lebih besar.


" Iya, Jing. Kamu lihat pernikahanku dengan Reno. Meskipun hidup kita sederhana, tapi pernikahan kami bahagia," timpal Runi.


"Tapi, aku tak mau suami seperti Reno," goda Jingga.


Runi memicingkan matanya. "Memangnya kenapa dengan Reno? Dia pria baik kok!" Runi sudah berkacak pinggang, dia sedikit tak terima mendengar ucapan Jingga yang seakan merendahkan suaminya.


"Reno memang baik, tapi dia terlalu lebay!"


Satu pukulan mendarat di lengan Jingga dari Runi, Membuatnya langsung memegang lengan itu dengan ekspresi kesal. Sebegitu cintanya Runi sama Reno, sampai tak terima jika ada orang yang menghinanya.


"Kamu apa mau pria seperti Simon?" lanjut Runi.


Jingga menggeleng. "Tidak juga, aku tidak suka brondong dan pria yang terlalu bucin!" cetus Jingga lagi yang langsung mendapatkan pelototan dari Elia.


"Terus kamu carinya pria yang seperti apa?" seru Runi dan Jingga bersamaan.


"Apa jangan-jangan kamu mau pria seperti Rigel ya?" goda Runi.


"Amit-Amit deh, Astagfirullah ... Ya Allah jangan sampai kasih aku pria seperti itu!" doa Jingga sambil mengetuk kepalanya.


Melihat tingkah Jingga yang menggemaskan, membuat Elia dan Runi tertawa bersama.


Di tempat lain, Simon juga sedang mencoba tuksedo dan setelan jas yang akan dia kenakan di hari pernikahan. Elia dan Simon memang sama-sama tidak memperlihatkan baju pengantin mereka agar menjadi surprise di hari pernikahan. Hanya saja, warna jas dan Gaun yang di gunakan sesuai tema.


Dalam acara pernikahan ada dua gaun yang di gunakan, yaitu saat akad dan juga resepsi. Jadi, Elia akan membeli satu baju lagi untuk acara akadnya.


Arsy tiba-tiba terbangun ketika sudah waktunya dia yang giliran fitting baju.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa ritualnya ya... Sebentar lagi detik-detik akan ada... Rahasia! Selamat hari senin😊


__ADS_2