Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu

Berbagi Cinta : Aku Tak Mau Dimadu
My little Princess


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, kini sudah tiga tahun Elia tinggal di kota yang indah ini. Sejak tinggal di kota ini, Elia benar-benar membuka lembaran baru dalam hidupnya.


Di kota ini, Elia juga mencoba sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Namun, justru hal itu yang membuat Elia menjadi sukses dan bisa menghidupi putri kecilnya Arsyana Jehan Gemintang.


Elia sudah tidak menjadi seorang perawat, melainkan seorang pembisnis. Dalam waktu tiga tahun, Elia sudah memiliki rumah makan yang cukup terkenal di kota B. Elia memiliki belasan kariyawan yang bekerja dengannya, para pekerja di bagi menjadi dua. Bekerja di restoran, atau bekerja melayani makanan yang di jual dalam bentuk frozen food.


"Kinan, Restoran kamu handle dulu ya, soalnya saya mau mengantar Arsy pergi dulu," pungkas Elia.


"Baik bu," jawab Kinan.


"Mami ayo, buluan ...," gerutu Arsy seraya menarik tangan Elia karena sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Simon.


"Iya sayang, sabar."


Setelah itu, mereka masuk kedalam mobil. Elia duduk di kursi kemudi, sedangkan Arsy duduk di carseat bagian belakang. Setelah memastikan semuanya aman, Elia segera menginjak pedal gas.


Jarak restoran dengan tempat Simon saat ini berada cukup jauh, sampai memakan waktu satu jam setengah. Saat ini Simon sedang ada acara gathering bersama kariyawan serta teman- teman komunitasnya sejak tiga hari lalu.


Selama berada di kota ini, usaha Simon juga semakin besar. Jika dulu dia hanya membuka bengkel & modifikasi motor dan mobil, kini dia sudah memiliki showroom mobil sendiri yang cukup besar.


Sesampainya di sana, Elia segera membantu Arsy turun dari mobil. Arsy celingukan mencari di mana keberadaan Simon. Ketika sudah menemukannya, Arsy segera berlari menghampiri Simon.


"Arsy jangan lari-lari nanti jatuh," teriak Elia yang berusaha untuk mengejar putri kecilnya yang berlari.


"Dady ...," teriak Arsy seraya berlari menghampiri Simon.


Ketika mendengar suara yang tak asing baginya, Simon segera membalikkan badan.


"Arsy ...," Simon menangkap Arsy yang berlari ke arahnya.


Kini Arsy sudah berada dalam gendongan Simon.


"Hello my little princess," sapa Simon.


" I miss you, Daddy" ucap Arsy yang kemudian memeluk Simon dengan erat.


Nafas Elia tersengal-sengal saat sudah berada di depan Simon dan Arsy.


"Kamu kenapa ngos-ngosan begitu, mbak?" tanya Simon.


Elia mengatur nafasnya terlebih dahulu. "Arsy, bukankah mami sudah bilang jangan lari-lari. Nanti kalau kamu jatuh atau__" Elia tak melanjutkan ucapnya lagi.


"Jadi, Arsy hari ini tidak mendengarkan ucapan mami lagi?" tanya simon.


Arsy menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum manis. Simon mencubit hidung mungil Arsy karena merasa gemas.

__ADS_1


"Au ... sakit Daddy," protes Arsy.


"Siapa suruh Arsy tidak menurut sama mami, sampai membuat mami lari-lari seperti itu!" nasehat Simon.


"Habisnya mami jalannya lama sih ... Jadi Acy tinggal lali saja!" ujar Arsy yang masih belum mengucapkan huruf r.


"Ya ... tapi Arsy gak boleh gitu juga sayang, di sini kan jalannya tidak rata. Jadi, mami takut kalau Arsy lari-lari terus jatuh, kan nanti sakit," jelas Simon.


"Maaf Dady," lirihnya dengan memperlihat puppy eye.


"Gimana acaranya?" tanya Elia.


"Alhamdulillah berjalan lancar mbak," jawab Simon.


"Daddy, Mami bawa makanan yang banyak buat Daddy," ujar Arsy.


Simon mengerutkan kening dan menatap ke arah Elia untuk meminta penjelasan.


"Oh, itu aku hanya tidak enak saja kalau datang tanpa membawa apa-apa," pungkas Elia.


Simon tersenyum. "Makasih ya mbak."


Elia mengangguk.


Tak lama kemudian, ada seorang wanita cantik datang menghampiri Simon.


"Eh, Kamu ada__ tamu ya?" ujar wanita itu yang sedikit canggung. Dia mengira bahwa Simon sedang bersama dengan kawan komunitas, ternyata bukan.


"Ada apa?" tanya simon.


"Oh, Aku hanya mau tanya, apakah Kamu mau bermain bersamaku? Soalnya aku belum ada teman untuk main secara pasangan," ujar Wanita itu dengan lembut.


Melihat tatapan wanita itu yang terus menatap Simon, serta bersikap lembut, membuat Arsy tak menyukainya.


"Daddy Arsy lapel, pengen di suapin Dady, boleh?" Arsy mencoba untuk menarik perhatian simon.


"Arsy! Kalau Arsy lapar, makan sama mami aja ya. Biar uncle Simon pergi bermain dengan temannya," ujar Elia.


Sebenarnya Elia sudah sering memperingati Arsy untuk tidak memanggil Simon dengan sebutan Daddy ketika di tempat umum, tapi Arsy selalu tak mendengarkannya.


Elia mencoba untuk meraih Arsy dari gendongan Simon, tapi Arsy justru memeluk Simon dengan erat.


"Arsy ...," panggil Elia.


Di karenakan Simon juga males melakukan atraksi pasangan bersama wanita ini. Jadi, Simon lebih memilih untuk makan bersama Arsy.

__ADS_1


"Udah gapapa sayang, mungkin Arsy lagi kangen sama Daddynya, kan?" Kalau begitu, nanti Daddy suapin Arsy," pungkas Simon.


"Hore ...," Arsy bersorak, lalu mencium Pipi Simon. Sedangkan Elia menjadi canggung sekaligus bingung ketika melihat Simon dan Arsy seakan berperan sebagai anak dan ayah sungguhan.


Alisha yang melihat hal itu, merasa kesal. Ini yang benar Daddy atau uncle, sih! batinnya.


Awalnya Alisha berpikir bahwa Simon adalah pria single, tapi ternyata dia sudah menikah dan memiliki anak.


"Oh, ya Alisha. Saya minta maaf ya karena tidak bisa main bersamamu, karena anak saya datang. Jadi, kamu bisa cari teman lainnya, kan? pungkas Simon.


Alisha mengangguk.


Setelah itu, Simon mengajak Elia untuk pergi menuju mobilnya. Sedangkan Arsy menjulurkan lidahnya ke arah Alisha untuk mengejeknya.


" Kurang ajar tuh bocil, dia sedang ngeledek gue!" kesal Alisha.


" Pantes aja cuek banget kalau sama wanita, ternyata sudah punya anak dan istri!"


***


Sesampainya di depan mobil, Elia menatap Simon dengan tajam.


"Ada apa sih mbak ...," tanya Simon saat melihat wajah Elia terlihat seperti sedang yang marah.


"Kamu tadi kenapa berpura-pura lagi menjadi daddy Arsy? Seharusnya kamu kumpul dengan teman-temanmu, Mon."


"Terus Arsy juga, mami kan sudah bilang berkali-kali jangan memanggil uncle Simon dengan sebutan Daddy di depan orang lain, nanti kalau__" ungkap Elia yang tak melanjutkan ucapannya saat melihat wajah bersalah Arsy.


"Maaf Mami," lirihnya.


Elia sebenarnya juga tidak tega mengatakan seperti itu kepada Arsy yang masih kecil, tetapi dia tidak mau hanya karena gara-gara Arsy memanggil Simon dengan sebutan Daddy, membuat Simon tidak bisa mendapatkan kekasih.


Simon menghembuskan nafas panjang ketika Elia lagi-lagi marah hanya karen gara-gara hal itu.


"Kalau mbak gak mau aku selalu pura-pura menjadi Daddy Arsy, mbak terima dong lamaranku. Biar Aku bisa jadi Daddy Arsy seutuhnya. Bukan hanya saat kita bertiga saja," pungkas Simon.


Elia terbelalak ketika mendengar Simon membahas hal itu lagi. Jika Simon sudah membicarakan soal lamaran, Elia pasti akan mati kutu.


...****************...


Ya ... Mbak Elia... Belum juga bisa membuka hati ya...


Pasti banyak yang bertanya, thor kok tiba-tiba 3 tahun kemudian, padahal si Hana belum dapat karma, bla ... Bla ...


Tenang saja, nanti akan di jelaskan di bab Selanjutnya, oke👌👌

__ADS_1



Selamat malam jumat dari berondong tampannya author...


__ADS_2