
Ketika Simon ingin membawa Elia keluar, untungnya petugas kebakaran datang dan segera menyemprot bara api yang semakin membesar. Sehingga membuat mereka bisa selamat dan api belum sempat menjalar ke rumah tetangga Elia karena mengingat jarak rumah mereka sedikit berjauhan.
Akhirnya Elia dan Simon keluar dengan tubuh yang basah kuyup, karena terkena siraman air dari pemadam kebakaran. Melihat Simon dan elia keluar dengan selamat, membuat Teh Sarni segera menghampiri mereka.
"Astagfirullah hal azim Elia," seru teh Sarni saat melihat Elia tak sadarkan diri dalam gendongan Simon.
Teh Sarni menyuruh Simon membawa Elia masuk ke rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Simon segera berjalan menuju rumah teh Sarni sebelum energinya habis.
Sesampainya di rumah teh Sarni, Simon meletakkan tubuh Elia sangat hati-hati di atas ranjang bambu. Sedangkan teh Sarni mengambilkan handuk untuk mereka berdua yang sudah basah kuyup.
Setelah memberikan handuk, teh Sarni kembali ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Sedangkan Simon terus memegang tangan Elia yang begitu dingin.
"Mbak, bangun ...," ujar Simon dengan tatapan cemas.
Tak lama kemudian, teh Sarni keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. Melihat wajah Simon yang begitu khawatir dan terus memegang tangan Elia, membuat teh Sarni tersenyum melihatnya.
"Minum teh hangatnya dulu, Mon," ujar teh Sarni seraya meletakkan gelas berisi teh hangat di atas meja.
"Terimakasih, teh," ucapnya dan dijawab sebuah anggukan kepala oleh teh Sarni.
Di rumah teh Sarni memang hanya ada Simon, dan Elia saja. Sebenarnya ada beberapa tetangga wanita yang ingin ikut masuk ke rumah teh Sarni, tetapi teh Sarni melarangnya. Takutnya keberadaan mereka akan membuat rumah teh Sarni yang kecil penuh dan sesak, karena terlalu banyak orang.
"Kamu gak ganti baju dulu aja, Mon. Biar teteh ambilkan bajunya kang Damar," tawar teh Sarni.
"Gak usah repot-repot teh, Simon begini saja sudah cukup," ujar Simon yang kembali menatap wajah Elia.
Melihat Elia yang tak kunjung sadarkan diri, membuat Simon pamit terlebih dulu untuk melihat kondisi yang ada di luar bagaimana.
"Teh, Simon titip mbak Elia dulu ya, soalnya mau ngecek kondisi di luar," ujar Simon
.
"Iya, kamu pergi saja. Masalah Elia biar teteh yang jagain di sini," kata teh Sarni.
"Makasih banyak teh," Simon tersenyum seraya bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
Di luar, api yang membakar rumah Elia telah padam, rumah peninggalan orang tua Elia kini telah hangus. Simon mengucapkan terima kasih banyak kepada warga yang telah membantu memadamkan api, serta tim pemadam kebakaran yang sudah datang.
"Rumah ini sudah tak bisa di tempati sama sekali, harus di bangun kembali lagi jika ingin tinggal di sini," Simon bermonolog sambil menatap rumah yang telah hangus akibat kobaran api yang sangat besar.
Simon menghembuskan nafas panjangnya, lalu masuk kembali ke rumah teh Sarni. Di sana, terlihat Elia sudah sadarkan diri.
" Mbak, " Simon berlari menghampiri Elia.
__ADS_1
"Mbak gapapa? Apa ada sesuatu yang nggak enak atau__" Simon menghentikan ucapannya ketika melihat mata Elia penuh dengan genangan air yang siap menetes.
"Mbak kenapa?" tanya Simon.
"Apakah Kamu yang datang menyelamatkanku?" tanya Elia dan di jawab sebuah anggukan oleh Simon.
"Apakah rumahku sudah terbakar habis?" tanyanya lagi.
"I-ya, Mbak," jawab Simon.
Ketika mendengar jawaban dari Simon, genangan air mata itu menetes tak berhenti. Elia merasa sangat sedih sekali, kini rumah peninggalan dari orang tuanya juga sudah hilang. Jika rumah itu terbakar habis, maka barang-barang yang ada juga habis tak tersisa. Padahal rumah itu adalah satu-satunya tempat dimana kenangan Elia bersama keluarganya,serta rumah tempatnya tinggal.
Teh Sarni memeluk Elia, mencoba untuk menenangkannya. Hati Simon ikut merasa sakit ketika melihat Elia menangis seperti ini. Selama ini Elia selalu terlihat tegar dan kuat, namun saat ini Simon benar-benar melihat bagaimana rapuhnya Elia.
Dia tahu kalau rumah itu adalah peninggalan dari orang tuanya, sekaligus rumah yang menyimpan semua kenangan Elia bersama keluarganya. Jadi, rumah itu sangatlah berarti bagi Elia.
Setelah merasa tenang, Simon dan teh Sarni mencoba bertanya tentang apa yang telah terjadi sebenarnya. Tapi, Elia tak tahu apapun karena saat dia bangun dari tidur, di sekelilingnya sudah api semua.
"Apa mbak lupa mematikan kompor?" tanya Simon.
"Tidak, aku tidak memasak."
"Apa ada aliran listrik yang korslet?" tanya Simon lagi.
"Tanpa berpikir panjang, Simon kembali keluar dari rumah untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Saat Simon mengelilingi rumah Elia, dia menemukan 3 jeriken bahan di sekitar rumah Elia.
Simon mengambil Jeriken itu, lalu menciumnya dan bau bahan bakar sangat menyengat.
"Jadi, ada seseorang yang sengaja membakar rumah mbak Elia?" Simon mulai menerka-nerka.
Simon segera menelfon komandan untuk meminta tolong agar dia mau datang ke rumah Elia untuk menyelidiki kebakaran rumah yang telah terjadi.
Beberapa menit kemudian, Komandan datang menghampiri Simon yang masih berdiri di depan rumah Elia.
"Mon, ada apa?" tanya Komandan itu.
Simon mencium tangan Handoko, dan mulai menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Maaf ya Pak, Kalau Simon merepotkan bapak lagi," ujarnya.
"Iya gapapa, Kamu tenang saja Bapak pasti akan bantu kamu untuk menyelidiki kasus ini," pungkas Handoko.
Tiba-tiba Simon terus bersin-bersin.
__ADS_1
"Kamu sakit, Mon?" tanya Handoko sambil mengecek kening Simon yang sedikit hangat.
"Badanmu hangat, jangan terlalu lama di luar, udaranya sekarang lagi sangat dingin dan kamu tak memakai jaket."
"Tidak apa-apa kok, Pak. Oh ya Pak, kalau bisa rahasiakan identitas korban ya, jika ada yang bertanya, katakan saja kalau korban tidak selamat dalam kebakaran," ucap simon.
Handoko mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Simon. "Kamu kenapa berbicara seperti itu, Mon? Gak boleh loh mengatakan hal seperti itu kepada orang yang belum meninggal, pamali!" nasehat Handoko.
"Simon terpaksa melakukan ini Pak, agar si pelaku tahunya bahwa mbak Elia tidak selamat. Jika dia tahu mbak Elia selamat, dia pasti akan mencoba untuk mencelakai mbak Elia lagi."
setelah itu Simon menceritakan kepada Handoko apa yang telah terjadi kepada Elia sebelum peristiwa ini terjadi.
Akhirnya Handoko setuju dengan rencana Simon untuk menyembunyikan identitas Elia.
Setelah urusan dengan Handoko selesai, Simon kembali masuk ke dalam rumah teh Sarni untuk mengajak Elia pergi jauh untuk meninggalkan kota ini, karena nyawa Elia sedang terancam jika dia masih ada di kota ini.
Awalnya Elia menolak ajakan Simon, tapi setelah menjelaskan semuanya, Elia mulai mengerti. Bahkan teh Sarni juga ikut setuju dengan rencana Simon.
"Apa yang dikatakan Simon bener juga Neng, lebih baik Neng pergi jauh dari kota ini untuk bersembunyi, demi keselamatan Neng dan bayi dalam kandungan eneng,"pungkas teh Sarni.
Setelah berpikir cukup lama, Akhirnya Elia setuju. Simon tersenyum dan segera menghubungi temannya untuk menjemputnya. Simon juga segera memesan tiket pesawat untuk membawa Eli pergi dari kota ini.
Dalam perjalanan Simon terus bersin-bersin, membuat Elia khawatir.
"Mon, apa kita tunda saja. Sepertinya kondisimu sedang tak baik, Mon," ucap Elia.
"Aku gapapa kok mbak, tapi aku boleh pinjam bahu mbak untuk bersandar, nggak?" pinta Simon.
Melihat wajah pucat Simon membuat Elia tak tega menolaknya, apalagi Simon menjadi seperti ini karena menyelamatkannya. Jadi terpaksa Elia merelakan pundaknya sebagai sandaran kepala Simon.
Simon tersenyum. "Makasih mbak," ucapnya.
"Ya ... tapi, minum obat dulu baru tidur," ujar Elia yang di angguki oleh Simon.
Setelah itu, Simon meminum obatnya terlebih dahulu. Lalu menyandarkan kepalanya di pundak Elia.
Ternyata sakit ini ada untungnya, batin Simon yang kemudian tertidur pulas selama perjalanan menuju bandara.
...****************...
Ciye... Berondongku mulai cari kesempatan dalam kesempitan. Asek... 💃💃💃
Jangan lupa ritualnya ya... Like, komen, vote serta hadiahnya yang banyak.
__ADS_1