
Jingga terus berlari mengejar seseorang yang mencoba menjatuhkan pot untuk mencelakai Elia, namun dia kehilangan jejak orang itu.
"Sialan! Kemana perginya tuh penjahat." Jingga masih terus mencoba mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, siapa tahu dia masih bisa menemukan jejak atau bukti lainnya.
Setelah cukup lama mencari, tetap tak ada bukti yang Jingga temukan di sana. Akhirnya Jingga memutuskan untuk turun lagi untuk menemui Elia. Dari kejauhan terlihat Simon dan Jonathan saling tatap dengan tatapan tak biasa. Melihat hal itu, Jingga segera berlari menghampiri mereka.
Melihat Jingga yang datang, Simon memalingkan tatapannya dari Jo.
"Bagaimana Kak? Apakah ketemu?" tanya Simon yang tahu bahwa Jingga tadi berlari masuk ke dalam gedung.
"Tidak, Aku lehilangan jejaknya. Tapi Lo gapapa kan, El?"Jingga mencoba melihat kondisi Elia.
"Aku gapapa kok, untung saja ada Simon yang menolongku tepat waktu," ujar Elia.
"Kalian tenang saja, Saya akan bantu untuk menemukan orang itu!" pungkas Jo.
"Apakah anda yakin!?" seru Jingga dan Simon bersamaan.
Elia sedikit terkejut dan bingung saat mendengar ucapan Jingga dan Simon yang terlihat seperti meragukan Jonathan.
" Kenapa kalian seperti tidak mempercayai Saya?" tanya Jo yang sedikit kesal dengan ucapan Simon dan Jingga.
" Saya bukannya tidak percaya dengan Om, hanya takut kalau om akan terkejut ketika mengetahui siapa yang mencoba mencelakai Elia," pungkas Jingga.
" Maksud Kamu apa? " tanya Jo lagi yang semakin penasaran dengan ucapan Jingga.
"Untuk saat ini Saya tidak yakin kalau dugaan saya benar, tapi semoga Om bisa di percaya," pungkasnya.
Jo mengerutkan keningnya, ucapan Jingga seakan-akan memberikan teka-teki kepadanya.
"Kamu tenang saja, Saya pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat kepada orang yang mencoba mencelakai Elia," tutur Jo.
Jingga tersenyum. "Semoga Om tetap bisa memegang ucapan itu!"
Sebelum pulang, Jingga menyarankan untuk melihat cctv di gedung ini terlebih dahulu, siapa tahu mereka bisa mendapatkan bukti atau petunjuk agar bisa menemukan penjahat itu. Tetapi, setelah berulang kali memutar semua rekaman cctv di gedung pengadilan, tak ada sedikitpun jejak yang mencurigakan sedikitpun, semuanya bersih tanpa celah.
"Sepertinya dia seseorang yang handal dan begitu tahu tentang posisi cctv di gedung ini sehingga tak ada jejek sedikitpun yang terekam oleh cctv," pungkas Jingga dan di angguki oleh Simon.
__ADS_1
Elia terus terdiam, memikirkan siapa yang mencoba ingin mecelakainya?ini bukanlah yang pertama, tapi kedua kalinya Elia merasa terancam saat berada di Jakarta.
Di karenakan sidang selanjutnya masih beberapa hari kedepan, Elia memutuskan untuk pulang ke bandung dulu.
Awalnya Jingga menolak karena takut terjadi apa-apa jika Elia sendirian, tetapi Simon meyakinkan kalau dia akan menjaga Elia. Bahkan kalau bisa, Simon akan berjaga 24 jam di depan rumah Elia agar Jingga merasa tenang.
"Lo yakin mau pulang ke bandung, El?" tanya Jingga yang sebenarnya tak rela Elia pulang. Dia merasa senang dan nyaman ketika Elia tinggal bersamanya, kehidupan yang awalnya sepi menjadi lebih hidup, serta Jingga akan mudah lagi untuk mengawasi Elia.
"Aku mau pulang dulu karena ada urusan dengan Kang Ujang. Jadi, harus pulang sebentar. Nanti kalau sudah selesai, aku akan kembali ke Jakarta kok, lagi pula masih ada sidang selanjutnya dan otomatis aku harus datang," jelasnya.
Jingga menghembuskan nafas panjang ketika melihat Elia akan pergi. "Lo jaga diri baik-baik di sana, ya. Jangan lupa minum susu, makan yang banyak, serta istirahat yang cukup. Jangan sering begadang hanya demi main game," nasehat Elia yang di angguki oleh Jingga.
Jangan hanya mengangguk, tapi di jalankan! "tandas Elia.
" Iya, ibu Elia yang terhormat. "Jingga memberikan hormat kepada Elia dengan tersenyum lepas.
Setelah itu, mereka berdua berpelukan kembali sebagai bentuk perpisahan antara mereka berdua.
Setelah merasa cukup, Jingga melepaskan pelukannya.
"Mon gue titip Elia ya, jagain dia dengan baik. Kalau sampai kenapa-kenapa, orang pertama yang Gue datangi adalah Lo!" titahnya dengan sorot mata tajam. Menandakan bahwa tugas ini harus di jalankan dengan baik.
Elia melirik ke arah Simon mencoba meminta penjelasan dari ucapannya, namun Simon hanya menaikkan pundaknya.
Setelah itu, Elia juga pamit dengan mertuanya untuk pulang ke bandung. Melihat kedekatan Elia dan Simon membuat Jo sedikit merasa ada sesuatu di antara mereka.
"Om kenapa melihat Elia dan Simon seperti itu? Apakah ada yang salah?" tanya Jingga.
"Ada hubungan apa mereka berdua?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Jingga, Jo justru bertanya kembali.
Jingga mengerutkan keningnya, dan mencoba mencerna pertanyaan dari Jo. Saat tersadar, Jingga hanya tersenyum.
"Kita sahabatan, dan tidak ada hubungan yang lebih dari itu di antara kita semua. Bahkan, Simon sudah seperti seorang adik yang selalu menjaga dan melindungi Elia," jelasnya.
"Adik?" ulang Jo yang sedikit tak percaya jika di antara Elia dan Simon hanya sebatas hubungan persahabatan atau adik.
Jo adalah seorang pria jadi dia tahu kalau perhatian yang Simon berikan kepada Elia, itu lebih dari sekadar adik. Dari tatapan Simon kepada Elia, memperlihatkan bahwa dia menyukai Elia.
__ADS_1
Tapi, Jonathan juga tak bisa melarang Simon untuk menyukai Elia, karena statusnya hanyalah seorang mertua yang sebentar lagi menjadi mantan mertua.
Simon juga tak salah jika dia menyukai Elia, karena Elia memang sosok wanita yang mempunyai daya tarik kuat. Selain wajahnya yang cantik, Elia juga gadis baik dan juga ramah.
***
Saat berada di dalam mobil, hanya ada keheningan dia antara Simon dan Elia. Tak ada pembicaraan sama sekali, Simon fokus menyetir, sedangkan elia terus menatap ke arah jendela.
"Apa ada sesuatu yang mbak pikirkan?" Simon mulai membuka pembicaraan.
"Aku hanya memikirkan siapa orang yang ingin mencelakaiku? Apa untungnya?" jawab Elia tanpa melihat wajah Simon.
"Aku tidak tahu apa untungnya karena aku bukanlah penjahat itu!" pungkas Simon.
Elia mengerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Simon dengan tatapan kesal.
"Apa kamu bercanda? Aku tahu kamu memang bukan pelakunya, Aku tadi hanya___" Elia tak melanjutkan ucapannya.
"Hanya apa, mbak?" tanya Simon yang di jawab gelengan kepala oleh Elia.
"Apakah mbak marah? Aku tadi hanya bercanda loh mbak, jangan di ambil hati." Simon mencoba membujuk agar Elia tak marah dengannya.
"Sudahlah fokus menyetir saja," ucap Elia dengan melipat tangan di depan dadanya.
Setelah itu, suasana kembali hening. Tanpa tersadar Elia tertidur di dalam mobil saat perjalanan. Simon tersenyum saat melihat wajah Elia yang tertidur pulas.
"Kenapa Kamu se-menggemaskan ini sih mbak? Kamu tak pernah melakukan apapun saja, sudah mampu membuat aku jatuh cinta seperti ini, apalagi__" Simon segera membenarkan posisi duduknya kembali.
Saat melihat mobil sudah berhenti, Elia mengedarkan pandangannya untuk melihat di mana dia berada.
"Loh sudah sampai? Kenapa Kamu gak bangunin aku kalau sudah sampai?" tanya Elia dengan menatap wajah Simon yang sedikit tegang.
"Eh, itu mbak tadi tidurnya pulas banget, jadi aku takut mau ngebanguninya," dusta Simon. Padahal dia tak membangunkan Elia karena masih ingin menatap wajah cantik itu lebih lama lagi, karena kalau Elia bangun dia tak akan bisa melakukan hal itu.
...****************...
Ciye ... Brondongku dah mulai bisa bilang jatuh cinta ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya yang banyak ya...