
Sejak dua hari yang lalu, Jonathan terus mencoba menghubungi, serta mencari di mana keberadaan Rigel dan Hana. Namun, sampai saat ini dia belum menemukannya.
"Kalian ke mana sih!" Jo sampai membanting ponselnya karena tetap tidak bisa menghubungi Rigel.
Sofia yang tahu kalau Jo sedang marah, membuatnya tak berani mendekati Jo sedikitpun. Dia merasa kecewa dan sakit hati karena Jo berani membentaknya saat tahu kalau Rigel membawa Hana pergi.
Melihat Jo yang pergi lagi dari rumah, membuat Sofia mengejarnya.
"Jo, kamu mau kemana?" panggil Sofia. Tapi Jo tidak menghiraukan panggilan Sofia dan terus berjalan keluar dari rumah.
"Jo!" teriak Sofia.
Dengan perasaan kesal, Jo menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Sofia.
"Ada apa?"
"Kamu mau kemana lagi?"
"Tentu saja mencari Hana dan Rigel!" jawab Jo ketus.
"Kenapa kamu terus mencari mereka? Apa sepenting itukah mereka daripada aku? Bukankah kamu bilang lebih mencintaiku daripada wanita penyakitan! Tapi kenapa kamu sangat kebingungan saat dia pergi!" bentak Sofia.
"Karena tanpa mereka aku tidak mempunyai apa-apa!"
Sofia mengerutkan keningnya. "Jadi, apa benar kalau Rigel telah memindahkan semua aset milikmu?"
"Ya."
Sofia tercengang, awalnya dia berusaha untuk tidak percaya dengan ucapan Rigel karena yang Sofia tahu itu adalah bisnis keluarga Ervinosa bukan milik Hana.
"Jadi, itu semua benar? Pantas saja kamu marah kepadaku karena membuat Rigel membawa Hana pergi. Ternyata___"
Sofia tak sanggup berkat apa-apa lagi. Semua impiannya untuk menjadi nyonya dari seorang pengusaha sukses, kini telah sirna.
" Kenapa? Sekarang Kamu menyesal menikah denganku! Aku justru lebih menyesal telah menikah denganmu, karena gara-gara kamu aku kehilangan semuanya!"
Jo mengira bahwa Sofia bisa akur dengan Hana, tetapi ternyata tidak. Ketamakannya, membuat Jo kehilangan Hana, Rigel, serta asetnya.
Melihat Jo yang justru memutar balikkan semuanya menjadi kesalahannya, membuat Sofia tidak habis pikir. Ternyata suami yang dia nikahi adalah laki-laki yang bersembunyi di bawah kekuasaan seorang wanita.
Selepas itu, Jo pergi meninggalkan sofia yang masih termenung karena shock. Menikah dengan Sofia memang kesalahan dan kekhilafan terbesarnya.
Awalnya Jo berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja jika dia masih tetap mengurus Hana dengan baik. Dia adalah laki-laki normal yang masih memiliki naf*su, ketika ada wanita penggoda datang, dan hasrat dalam tubuhnya tak terpenuhi, dia pasti akan tergoda juga. Apalagi, dia sudah tidak mendapatkan hal itu selama dua tahun karena Hana yang sudah tidak bisa apa-apa.
Membuat sesuatu yang sudah terpendam lama, bangun kembali, dan semakin menjadi. Ternyata berpoligami, tidak semudah itu.
***
Selesai makan siang bersama, Jingga tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon. Rigel dan Hana bermain sebentar bersama Arsy sebelum pulang. Sedangkan Simon membantu Elia membersihkan meja makan, dan piring kotor.
__ADS_1
"Kamu main aja sama Arsy, ini biar aku saja yang bereskan!" ujar Elia.
"Udah gapapa, lagian Arsy biar main sama Papa dan omanya."
Elia tersenyum ketika mempunyai calon suami yang begitu perhatian dan pengertian. Dia benar-benar laki-laki yang mau menerimanya apa adanya. Laki-laki yang tulus, baik, tampan, dan bisa melengkapi semua kekurangannya.
Saat bersama Simon, Elia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura perfek agar bisa sepadan dan di terima.
"Sayang?" panggil Simon.
"Apa," jawab Elia sambil mencuci piring.
"Ayo menikah secepatnya."
Elia menghentikan aktifitasnya, lalu menatap Simon yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa tiba-tiba?"
Simon menghembuskan nafasnya, lalu memegang tangan Elia yang masih terdapat busa sabun.
"Aku ingin kita segera halal, aku takut___" Simon tak melanjutkan ucapannya, tapi Elia tahu apa maksud dari Simon.
Elia tersenyum. "Mari lakukan, kamu mau kita nikah kapan?"
Simon tercengang, lalu tersenyum saat mendengar jawaban Elia. Dia mengira bahwa Elia akan menolak jika pernikahan mereka di percepat, tapi ternyata dia setuju.
"Kamu serius mau sayang?" tanya Simon untuk memastikan kembali kalau dia tidak salah dengar.
Simon mengangguk. " Aku tentu saja serius, aku cuman___"
"Kalau gitu, ya ayo menikah secepatnya. Aku tahu, kalau kamu cemas ketika melihat Bang Rigel datang lagi. Tapi___"
Elia tak melanjutkan, sedangkan Simon sudah antusias mendengarkan ucapan yang selanjutnya.
"Tapi apa?"
"Tapi aku sudah memilih untuk menikah denganmu. Jadi, meskipun ada bang Rigel, aku tidak akan merubah keputusanku!" jelas Elia.
Simon sangat bahagia, ketika mendengar ucapan Elia yang tetap akan memilihnya. Jujur, dia sangat takut kalau Elia akan bimbang atau goyah karena kehadiran Rigel. Bagaimana juga, dia pernah menjadi seseorang yang sangat di cintai oleh Elia, sampai membutuhkan waktu tiga tahun agar Elia bisa menerima cinta Simon.
Jadi, Simon takut kalau harus kehilangan Elia dan Arsy. Dia sudah terlanjur sangat menyayangi mereka berdua. Simon memang tidak masalah jika Rigel ingin dekat dengan anaknya, karena dia memang ayah kandung Arsy.
Tapi, Simon tidak akan rela jika Rigel memisahkan Elia dan Arsy dari hidupnya.
Dapur Elia bisa terlihat dari tempat play ground, karena memang di rancang agar Elia masih bisa melihat Arsy ketika berada di dapur. Ketika melihat Elia dan simon sedang berpegangan tangan dengan tatapan penuh cinta, membuat Rigel cemburu.
"Arsy, apakah Arsy sayang sama Daddy?"
Arsy terdiam saat mendengar pertanyaan Rigel. Begitu pun dengan Hana yang tidak menyangka kalau Rigel akan bertanya seperti itu pada Arsy.
__ADS_1
Arsy mengangguk.
"Kalau sama Papa?"
Arsy terdiam dan terus bermain, karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hati, Rigel merasa sakit dan kecewa karena Arsy tak menjawab pertanyaannya.
"Apa papa cayang Acy?"
"Sayang, Papa sangat sayang sama Arsy."
"Kalau sama Mami?"
"Sayang juga."
"Papa bohong."
Rigel mengerutkan keningnya. "Papa tidak bohong sama Arsy, Papa beneran sayang sama Arzy dan Mami."
Arsy menatap wajah Rigel. "Jika Papa cayang sama Acy dan mami, kenapa balu cekalang papa datang?"
Rigel terdiam, dia bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan kepada Arsy kalau dia tidak tahu jika Arsy dan Elia masih hidup.
Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya. Jika Rigel mengatakan hal itu, pasti akan timbul banyak pertanyaan baru.
Melihat Rigel yang hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya, membuat Arsy bangun dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Rigel dan Hana.
"Arsy ... Arsy mau kemana?" panggil Rigel, tapi Arsy tak menghiraukan dan terus berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Melihat Rigel memanggil - manggil Arsy, membuat Elia dan Simon menghampirinya. Sedangkan Rigel terus mencoba mengetuk pintu kamar Arsy yang di tutup.
" Ada apa, bang?" tanya Elia.
Rigel menggeleng, karena dia juga tidak tahu kenapa Arsy tiba-tiba pergi meninggalkannya.
Kini Simon yang mengambil alih untuk mengetuk pintu kamar Arsy.
"Arsy ... buka pintunya sayang, Arsy kenapa?"
"Acy dak mau ketemu papa. Papa pembohong!" sahut Arsy di balik pintu.
Elia dan Simon terkejut dan saling tatap.
"Apa yang sudah terjadi bang?" tanya Elia.
...****************...
Untuk papa Jo sudah lunas ya. Untuk yang tidak menyukai Elia memilih Simon daripada kembali dengan Rigel. Kalian baca saja terus, karena di bab Selanjutnya akan banyak alasan kenapa Elia tidak memilih Rigel lagi.
Jadi ikuti terus ceritanya biar tidak salah faham.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...
Selamat akhir tahun dan menyambut tahun baru 2022👏👏👏