
Sesampainya di rumah yang tak jauh dari rumah makan, Elia mempersilahkan Rigel dan Hana masuk ke dalam rumahnya.
Hana melihat ke sekeliling, meskipun rumah ini tidak besar dan mewah, tetapi nyaman dan sejuk. Desain interiornya minimalis dan sederhana, tapi terlihat elegan.
Elia menurunkan Arsy di tempat playgroundnya yang penuh dengan mainan.
"Arsy mau ikut Mami, apa main di sini?" tanya Elia sebelum pergi meninggalkan Arsy.
"Acy main aja."
Elia tersenyum ketika melihat putrinya yang seakan tahu situasi dan kondisi. Kemudian, Elia mempersilahkan Rigel dan Hana duduk di sofa.
"Silahkan duduk."
Setelah mempersilahkan Hana dan Rigel duduk, Elia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Tak lama kemudian, Ia telah keluar dengan nampan berisikan camilan dan orange jus.
"Ini rumahmu, El?" tanya Rigel ketika Elia meletakkan camilan dan minuman di atas meja.
"Iya, ini rumahku."
"Jadi, rumah makan di sana juga milikmu?"
Elia mengangguk, sedangkan Hana dan Rigel kagum melihat Elia yang kini telah sukses. Bahkan dia bisa memiliki rumah seperti villa yang menyajikan pemandangan pantai, namun di rumah Elia lebih hijau dan rindang.
" Kalian sejak kapan sampai di kota ini?" Elia duduk di sofa yang bersebrangan oleh Rigel dan Hana.
"Kemarin kita sampai."
"Oh,"
"Dia___" Rigel menoleh ke Arsy yang sudah sibuk bermain tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Dia putrimu,"
Elia memang tidak bisa menyembunyikan identitas Arsy, karena bagaimana juga Rigel adalah ayah kandung Arsy. Hubungan Elia dan Rigel memang bisa terputus, tapi Arsy tidak karena tidak ada mantan anak.
Hana dan Rigel seakan ingin menangis saat mendengar ucapan Elia yang mengatakan bahwa putri kecil itu adalah putri Rigel.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkannya tadi." Elia tertunduk ketika mengingat bagaimana kejadian tadi yang hampir membuatnya kehilangan Arsy.
"Buat apa kamu berterimakasih, bukankah kamu bilang dia putriku? Kalau begitu, itu sudah kewajibanKu menolongnya."
"Bolehkah aku berkenalan dengannya, El?" tanya Rigel yang ingin sekali mendekati Arsy.
Melihat Elia mengangguk, membuat Rigel tersenyum bahagia.
"Mama juga ingin berkenalan dengannya?" tawar Rigel yang di angguki oleh Hana.
Meskipun dulu Hana tidak menginginkan anak itu lahir, entah kenapa ada rasa ingin berkenalan dengan cucunya itu.
Rigel dan Hana berjalan mendekati Arsy yang sedang bermain. Melihat dua orang asing itu mendekatinya, Arsy tiba-tiba menghentikan mainnya.
Rigel berjongkok di depan pagar playground Arsy.
__ADS_1
"Hai gadis cantik, boleh berkenalan?" Rigel mengulurkan tangannya.
Arsy melihat ke arah Elia dulu, tatapan mereka seakan sedang berinteraksi dengan batin. Elia mengangguk, seakan mengizinkan Arsy untuk berkenalan dengan Rigel. Sebelumnya, Elia selalu mengatakan kepada Arsy untuk tidak boleh mudah berkenalan dengan orang asing. Jadi, dia izin kepada Elia terlebih dahulu.
Arsy meraih uluran tangan Rigel, saat merasakan tangan mungil itu menyentuhnya, Rigel ingin sekali memeluk gadis itu.
"Acy."
"Acy?" ulang Rigel dan di balas sebuah anggukan oleh Arsy.
"Om cama nenek ini siapa? Apakah teman mami?" tanya Arsy.
Elia sedikit gugup dan takut saat mendengar Arsy menanyakan siapa Rigel.
"Om adalah___"
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi, membuat perkenalan Rigel dan Arsy tertunda. Elia segera berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, ternyata Simon dan Jingga yang datang.
"Assalamualaikum,"
"Wa-alaikumsalam," jawab Elia yang sedikit terbata karena terkejut melihat kedatangan Simon.
"Kamu kenapa mbak? Kok seperti terkejut begitu aku datang?"
Sedangkan Jingga tanpa berlama-lama, dia segera membuka pintu karena ingin segera istirahat dan bertemu Arsy.
Saat pintu terbuka lebar, Arsy tahu kalau yang datang adalah Simon dan Jingga, membuat dia langsung tersenyum dan segera membuka pintu playgroundnya.
Saat mendengar Arsy menyebut panggilan Daddy, entah kenapa hati Rigel terasa sangat sakit, bagaikan ribuan anak panah menghujaminya lagi. Apalagi saat melihat raut wajah bahagia Arsy yang berlari menghampiri pria itu, membuat Rigel merasa iri. Seharusnya dia yang mendapat panggilan itu.
Apakah Elia sudah menikah lagi? "batin Rigel yang penasaran dengan siapa pria yang di panggil Daddy oleh Arsy.
Melihat Arsy yang berlari menghampirinya, membuat Simon segera menangkap putri kecil itu, lalu menggendongnya.
Ketika Netra Rigel bertemu dengan simon dan Jingga, mereka bertiga sama-sama tercengang satu sama lain.
Jadi ... Elia menikah dengan pria itu? Dan Jingga juga ada di sini? Apa mereka semua yang menyembunyikan Elia, dan memanipulasi kematiannya?.
Tanpa berpikir panjang, Rigel segera berjalan menghampiri mereka. Sedangkan Simon menatap ke arah Elia yang sudah menunduk.
"Ternyata kalian semua bersekongkol?" ujar Rigel dengan tatapan marah dan benci.
"Apa maksud kamu!" sahut Jingga.
Arsy yang tidak mengerti apa-apa menjadi ikut bingung. Tiba-tiba, Rigel menghampiri Simon dan ingin mengambil paksa Arsy dari gendongannya, tapi Arsy semakin erat memeluk Simon, begitupun dengan Simon yang tidak memperbolehkan Rigel mengambil Arsy darinya.
"Acy, ini Papa sayang. Dia bukan Daddymu!" seru Rigel yang ingin kembali merebut Arsy.
Melihat Arsy yang seakan ketakutan, membuat Simon mendorong Rigel untuk menjauh, Jingga juga membantu untuk menyingkirkan tangan Rigel daei Arsy.
"Rigel cukup! Jangan ambil paksa arsy! Apa kamu tidak lihat Arsy ketakutan seperti itu!" bentak Jingga saat melihat ekspresi ketakutan dari Arsy.
"Kamu gak usah ikut campur, Arsy adalah putriku. Jadi, tidak masalah jika aku mengambilnya."
__ADS_1
Karena sudah tidak bisa menahan lagi, kini Elia yang berbicara.
"Kamu memang ayahnya, tapi Simon Daddynya! Simon, bawa Arsy pergi dulu," titah Elia dan di ikuti oleh Simon.
Elia tidak ingin Arsy menyaksikan perdebatan ini, apalagi melihat Rigel yang sudah emosi.
" Apa kamu mau memisahkan aku dengan putriku lagi, El? Kenapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku, El? " cerca Rigel.
" Aku tidak bermaksud ingin memisahkan kamu dengan putrimu, tapi tolong jangan memaksa. Arsy masih kecil, dia butuh waktu untuk bisa menerima kehadiranmu."
" Sebenarnya, satu bulan yang lalu, aku sempat membawa Arsy untuk menemuimu, karena dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Tapi, saat itu aku melihat kamu sedang bercengkrama dengan bahagia bersama keluarga kecilmu yang baru! Jadi aku memutuskan untuk pergi, karena tidak ingin menjadi pengganggu."
Elia juga seorang wanita, dia takut kalau kehadirannya akan membuat istri baru Rigel tersakiti Karena kehadirannya dan Arsy secara tiba-tiba.
Satu bulan yang lalu, Arsy selalu menanyakan siapa ayahnya. Meskipun Arsy masih kecil, dia tahu kalau Simon bukanlah ayahnya. Karena Elia sering mengatakan untuk memanggil Simon dengan sebutan uncle, dan Simon juga tidak tinggal bersama dengan mereka seperti keluarga yang lainnya.
"Mami, di mana Ayah Acy?"
"Ayah Arsy___ ada di tempat yang jauh!"
" Acy ingin ketemu ayah, Mami."
Saat itu, Arsy terus merengek ingin bertemu dengan ayahnya. Setelah dipikir lagi, mungkin sudah saatnya Arsy untuk bertemu dengan ayahnya. Bagaimana juga, Arsy masih memiliki ayah. Jadi, Elia diam-diam pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan rigel.
Tapi, saat itu Elia melihat Rigel sedang menggendong bayi dan seorang wanita sedang berjalan-jalan di taman dekat kantor Rigel. Dari kejauhan, Elia melihat mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Hal itu, membuat Elia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin kedatangannya dengan Arsy menghancurkan kebahagiaan Rigel, dan keluarga barunya. Toh, Rigel juga taunya kalau Elia sudah meninggal.
Jadi saat itu, Elia mengatakan kepada Arsy kalau Rigel sedang pergi ke luar Negeri. Sehingga mereka tidak bisa bertemu dengan Rigel, nanti Elia akan mengajak Arsy datang lagi jika Rigel sudah datang.
Elia memang tetap berniat untuk mempertemukan Arsy dengan ayahnya, tapi mungkin nanti ketika Arsy udah dewasa. Saat itu, Arsy sudah lebih bisa mengerti dengan kondisi mereka. Apalagi Rigel adalah ayah kandung Arsy, ketika dia menikah nanti harus izin dulu kepada ayah kandungnya jika masih hidup.
Jingga terperangah saat mendengar Elia mengatakan bahwa dia sempat membawa Arsy datang ke Jakarta.
"Kamu seriusan pernah bawa Arsy ke Jakarta, El?"
Elia mengangguk.
Sedangkan Rigel mengerutkan keningnya saat mendengar Elia mengatakan kalau dia telah mempunyai keluarga baru.
"Tapi, aku tidak pernah menikah lagi, El. Jadi, tidak mungkin aku punya keluarga baru!" elak Rigel.
"Kamu yakin datang ke Jakarta?"
Elia memicingkan matanya ketika mendengar perkataan Rigel yang seakan meragukan ucapannya.
"Apa kamu meragukanku? Untuk apa aku berbohong , tidak ada gunanya. Ternyata kamu tidak berubah!" pungkas Elia.
...****************...
Gimana? Sekarang sudah mengerti kan apa alasan Elia? Jadi, berpikirlah jika kalian berada di posisi Elia.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1