BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Nyonya Sherly VS Leona


__ADS_3

Tap...


Tap...


Tap...


Terdengar suara langkah kecil menaiki tangga, saat ini Leona telah menyelesaikan latihannya, dan berniat untuk mengistirahatkan diri, namun matanya seketika menatap tajam ke arah kamarnya, gadis itu memasang kewaspadaan diri, dia menyadari ada yang salah saat ini.


"Sepertinya ada yang masuk ke kamarku!" gumam Leona, wangi parfum yang tertinggal di kamar itu jelas sangat familiar bagi indra penciumannya.


"Dady? Ada apa dia masuk ke kamarku? Apa dia mencari sesuatu?" fikir Leona sambil merebahkan diri, saat ini tubuhnya terasa sangat lelah, gadis kecil itu langsung memejamkan mata, tak ingin terlalu banyak berpikir. Dia yakin, cepat atau lambat, Willson pasti akan berbicara padanya.


Leona tertidur dengan sangat lelap, hingga lupa jika dia saat ini belum makan siang, saat dia terbangun, terdengar suara kegaduhan di lantai 1, nampaknya mension itu telah kedatangan tamu hingga membuat suara teriakan dan kekesalan seorang wanita terdengar hingga ke kamarnya.


"Willson!" teriak seorang wanita paruh baya, usianya sudah kepala 5, tapi gurat kecantikan masih nampak diwajahnya, dia Nyonya Sherly Aroon Smith, istri dari Rendra Aroon Smith, sekaligus ibu dari Willson.


Wanita paruh baya itu langsung datang ke mension Willson setelah mendapatkan pengaduan dari Clara, gadis yang dia harapkan menjadi menantunya.


"Cukup ma! Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi!" Willson berbicara dengan sangat dingin.


"Sampai kapan kau akan terus menutup hatimu? Gadis yang kau cari itu bisa saja telah menikah dengan pria lain, atau telah mati! Berpikirlah dengan benar, Clara gadis yang baik, berasal dari keluarga terpandang. Apa kurangnya dia?" tanya nyonya Sherly, dengan pandangan yang sangat tajam.


Rahang Willson langsung mengeras, mendengar ucapan dari mamanya, dia tak menyangka, bahkan ibu kandungnya sendiri begitu membenci wanitanya. Ya wanitanya, Willson telah mengklaim gadis yang tidak dikenalnya itu sebagai wanitanya, semenjak dia meniduri gadis itu.


Clara disisi lain tersenyum penuh kemenangan, dia yakin jika Willson tak akan berani melawan ibunya, sebentar lagi pria itu pasti akan takluk, dan menyatakan persetujuannya untuk bertunangan dengan dirinya.


"Ma! Jika dia telah menikah dengan pria lain, bahkan jika benar apa yang mama katakan, bahwa wanitaku telah tiada, maka aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku!" Willson terlihat semakin berang, tatapannya menyiratkan permusuhan.


Tap...


Tap...

__ADS_1


Tap...


Terdengar langkah kecil menuruni tangga, membuat semua mata langsung beralih padanya. Leona saat ini telah mengganti pakaiannya dengan piama tidur, rambutnya yang panjang sengaja digerai, dia berniat untuk makan malam, tapi sepertinya perdebatan Willson dengan wanita paruh baya itu belum juga selesai.


"Dady, kenapa berteriak?" tanya Leona sambil menunjukkan wajah polosnya.


Raut wajah Willson perlahan berubah, matanya menatap teduh ke arah Leona, "Kemari little girl, kau belum makan sejak siang tadi."


Nyonya Sherly kembali dibuat berang, Willson sejak tadi terus saja membantah ucapannya, namun saat melihat gadis kecil itu, tiba-tiba saja raut wajah putranya menghangat, bahkan dia berbicara dengan sangat lembut.


"Siapa dia, Willson? Ja*ang mana lagi yang kau tiduri, hah? Aku menjodohkanmu dengan wanita baik-baik, tapi kau selalu saja menolak! Jadi ini alasannya? Kau memiliki anak hasil hubungan terlarangmu dengan seorang wanita! Jawab, Willson!" nyonya Sherly kembali berteriak.


Leona menatap tajam wanita paruh baya dihadapannya, tatapannya menunjukkan kemarahan, dada gadis kecil itu naik turun, tak lama kemudian, terdengar suaranya melengking menjawab ucapan nyonya Sherly.


"Jangan pernah menghina ibuku, atau kau akan tahu apa yang bisa kulakukan pada orang tua sepertimu!" ucapnya sambil berjalan mendekati Willson.


"Dady..!" Leona terlihat manja pada Willson.


"Kenapa, hmm?" Willson menjawab dengan sangat lembut.


Dia tak menyangka jika gadis kecil itu akan melontarkan provokasi secara terang-terangan pada nyonya Sherly, hingga membuat wajah wanita paruh baya itu langsung menghitam. Apalagi Clara yang saat ini telah mengepalkan kedua tangannya mendengar ocehan Leona, sementara beberapa orang pelayan terlihat menutup mulut mereka, menahan tawa akibat ucapan sarkas dari gadis kecil itu.


Leona berjalan ke arah meja makan, tangan gadis kecil itu melambai, memanggil salah seorang pelayan, kemudian berbicara dengan suara pelan, setengah berbisik. Pelayan itu langsung menganggukkan kepalanya, tak lama kemudian segera berlari keluar dari sana.


"Apakah ibumu itu mengajarkanmu untuk berbicara kasar pada orang yang lebih tua?" tanya Nyonya Sherly, mencecar Leona kembali. Sepertinya wanita paruh baya itu belum puas dan ingin menekan Leona.


"Bukan ibuku, tapi kaulah yang mengajarkannya! Kau bukan anak kecil, tapi perbuatan dan ucapanmu jauh lebih kekanakan dibandingkan denganku yang baru berusia 6 tahun." ucap Leona membuat nyonya Sherly tertegun.


''Jika wanita itu baik, dia tidak akan mengadu padamu, dan berusaha sendiri untuk bisa mendapatkan hati dady. Lagi pula dia juga menindasku kemarin." ucap Leona sambil meneguk susu putih yang ada di gelasnya.


"Kau tidak lapar? Biasanya setelah berteriak-teriak, seseorang akan merasa sakit tenggorokan. Lebih baik duduk dan makan, seorang yang seumurmu bisa saja terkena darah tinggi atau serangan jantung jika terus bersikap seperti itu!" ucap Leona sambil menyuap makanan ke mulutnya, dia tak perduli dengan tatapan semua orang padanya dan tetap fokus pada makanan.

__ADS_1


Nyonya Sherly masih diam di tempat, sementara Clara semakin kesal, ingin sekali dia mendorong gadis kecil itu atau menjambaknya, jika saja tidak ada nyonya Sherly dan Willson disana.


'Dasar bajingan kecil! Lihat saja, aku pasti akan menyingkirkanmu dari rumah ini.' gumam Clara.


Tap...


Tap...


Tap...


Willson berjalan ke arah meja makan, dia segera mendudukkan dirinya disamping Leona, sambil sesekali melemparkan senyuman tipis. Tangannya mengelus surai hitam Leona sambil sesekali mengacaknya, sementara Nyonya Sherly dan Clara bergegas keluar dari mension Willson membawa kemarahan yang belum mereda.


"Dari mana kau belajar berbicara seperti itu, hmm?" tanya Willson.


"Aku banyak menonton drama di televisi, hal yang seperti itu sudah biasa dimainkan oleh para ulat bulu." ucap Leona.


"Ulat bulu?" Willson mengernyitkan dahinya.


"Aish! Apakah dady tidak mengerti? Ulat bulu itu sebutan untuk wanita gatal seperti si kara-kara. Merasa dirinya seorang yang terhormat, tapi menjatuhkan harga dirinya seperti seorang wanita murahan." ucap Leona menjelaskan.


Byur...


Willson menyemburkan minuman dari mulutnya, dia benar-benar kaget karena Leona ternyata lebih banyak mengetahui tentang hal seperti itu, selama ini Willson selalu sibuk dengan bisnisnya, hingga dia lupa untuk bersosialisasi.


"Lalu dari mana kau belajar bela diri? Sebelum gurumu memberikan pelajarannya, kau bahkan telah begitu mahir?" tanya Willson.


"Ayah yang mengajarkanku saat masih berusia 4 tahun, setiap pagi dia selalu mengajakku berlatih. Walaupun aku bukan anak laki-laki, tapi aku ini anak seorang perwira. Harus kuat, tangguh dan percaya diri. Tidak boleh lemah, dan harus berpegang pada prinsip kebenaran." ucap Leona sambil membusungkan dada.


"Lalu apa yang kau bisikan pada pelayan tadi? Kau memanggil pelayan bukan?" tanya Willson kembali menyelidik.


"Umm... Aku cuma meminta dia untuk mengempeskan ban mobil wanita itu dan menyuruh para body guard untuk merampok mereka nanti, kasihan dady harus membayar body guard mahal-mahal jika tidak bekerja dengan baik."

__ADS_1


Uhuk...


Uhuk...


__ADS_2