
Willson Smith baru saja tiba di Kota J dengan menggunakan jet pribadinya. Seperti biasanya, kedatangannya disambut dengan gemerlap dan antusiasme. Dengan langkah mantap dan berwibawa, Willson melangkah keluar dari jet dan langsung bergegas menuju mobil mewahnya yang telah menanti dengan siap di samping landasan.
Meskipun aura kemewahan dan kesuksesan tampak begitu kentara di sekelilingnya, hati Willson sebenarnya tak pernah berhenti berdebar-debar. Hari ini adalah momen yang amat ditunggu-tunggu olehnya. Kedatangannya ke kota ini memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu mendatangi kediaman besar milik Calvin Steward, orang tua dari wanita yang telah mencuri hatinya, Liora.
Perjalanan menuju kediaman milik Calvin Steward membutuhkan waktu sekitar 20 menit, Willson terlihat sangat gugup, keringat mulai keluar dari dahinya, meskipun AC mobil itu terasa dingin tetap saja tak bisa mendinginkan perasaan Willson yang saat ini tengah dilanda rasa gugup dengan degup jantung yang terus berdebar-debar.
Sampai di depan gerbang megah kediaman Calvin Steward, Willson tetap mencoba menyembunyikan gugupnya di balik wajah percaya diri. Ia mengetuk pintu dengan penuh kehati-hatian dan mengenakan senyuman yang tulus. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan sosok tua yang terhormat, Calvin Steward, muncul di hadapannya.
Dengan penuh sopan dan hormat, Willson memperkenalkan diri dan menyatakan maksud kedatangannya. Ia ingin meminta restu dari Calvin Steward untuk menikahi putri kesayangannya, Liora. Meski telah berhasil mencapai banyak hal dalam hidupnya, namun momen ini terasa paling menentukan dan penuh tantangan.
Calvin Steward menyambut kedatangan Willson dengan hangat. Ia mengundang Willson masuk ke dalam kediaman yang megah, tempat kehangatan keluarga dan kebahagiaan terasa begitu kental. Willson dan Calvin Steward duduk berhadap-hadapan, dan Willson dengan tulus menceritakan tentang cinta yang mendalam dan tulusnya terhadap Liora, putri Calvin.
Dalam percakapan yang berlangsung, Willson memaparkan rencananya untuk masa depan bersama Liora, tentang bagaimana ia akan selalu mencintai dan menjaga putri mereka, serta berusaha memberikan kebahagiaan dan masa depan yang gemilang. Ia menunjukkan tekadnya untuk menjadi sosok yang setia dan tangguh, yang pantas menjaga dan menyayangi Liora seumur hidup.
Calvin Steward mendengarkan dengan perasaan campuran. Di satu sisi, ia merasa terharu melihat kesungguhan dan kebaikan hati Willson. Namun di sisi lain, sebagai seorang ayah yang peduli, ia juga ingin memastikan bahwa putrinya akan bahagia dan dilindungi sepanjang hidupnya.
"Jadi bagaimana? Apakah anda bersedia memberikan restu untukku menikahi Liora?" tanya Willson.
Tak lama terlihat beberapa orang pelayan berdatangan, menyajikan berbagai macam cemilan dan juga teh. Kedatangan Willson benar-benar disambut dengan sangat baik oleh seluruh penghuni kediaman besar itu.
Tap...
__ADS_1
Tap...
Tap...
Carina melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, dia baru saja diberitahu oleh salah seorang pelayannya, bahwa saat ini kediaman besar milik mereka telah kedatangan seorang tamu agung, Willson Smith, seorang pengusaha sukses yang berasal dari kota C.
Willson dan Calvin melirik bersama-sama ke arah wanita yang saat ini baru saja sampai di ruang tamu, Calvin segera berdiri, kemudian memperkenalkan istrinya kepada Willson.
"Dia istriku, Carina." ucapnya.
Carina segera menyodorkan tangan, kemudian disambut oleh Willson, dia menunjukkan tatapan penuh hormat meskipun sebelumnya Liora telah menceritakan tentang siapa Carina itu. Tapi saat dia melihat keberadaan wanita itu, entah kenapa Willson merasakan bahwa sebenarnya Carina tidaklah seburuk yang diduga oleh Marlina maupun Liora, wanita itu terlihat sebagai sosok yang lembut dan juga perhatian, bahkan dia penuh kasih sayang.
"Pa.." Carina menggenggam tangan Calvin, seolah tengah menguatkan pria itu agar berterus terang, tentang keadaan putrinya. Walau bagaimanapun, Carina tidak ingin jika sampai Liora dipandang sebelah mata. Apalagi setelah pria itu mengetahui status yang disandangnya.
"Maaf, saya tahu jika seharusnya tidak ikut campur dalam permasalahan yang menyangkut Liora, hanya saja ada satu hal yang harus anda ketahui sebelum benar-benar melangkah menuju jenjang selanjutnya." Carina menghentikan ucapannya, dia menelan salivanya dengan susah payah, seolah apa yang akan diucapkannya itu sangatlah berat.
"Apakah anda sudah mengetahui tentang status Liora dan juga putranya yang bernama Kendrick?" tanya Carina dengan sangat hati-hati.
Willson menganggukkan kepalanya, saat ini dia juga mengalami sedikit masalah. Haruskah dia mengatakan bahwa sebenarnya pria brengsek yang telah menodai Liora saat itu adalah dirinya?
Carina menarik nafas panjang, hingga akhirnya sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. "Liora adalah gadis baik-baik, hanya saja dia memiliki nasib yang tidak beruntung. Hampir 7 tahun yang lalu, saat dia bekerja sebagai seorang office girl di sebuah hotel yang berada di kota A, dirinya telah dilecehkan oleh seorang pria, hingga akhirnya dia memiliki seorang putra dan membesarkannya sendirian. Jangan berpikir jika saat ini aku sedang menyarankanmu untuk mundur, hanya saja aku tidak ingin jika suatu saat nanti putri cantikku mendapatkan masalah, apalagi jika sampai kau mengetahui permasalahan ini dari orang lain."
__ADS_1
Calvin tertunduk, dia tak bisa berkata-kata di depan Willson Smith, hatinya saat ini seakan teriris, bagaimanapun sebagai seorang ayah dia telah lalai sehingga membiarkan putrinya mendapatkan begitu banyak kepedihan dalam 25 tahun terakhir.
Sementara Willson berusaha menguatkan hatinya untuk bisa berterus terang di hadapan kedua orang calon mertuanya itu. "Maafkan aku.. Akulah pria brengsek yang telah menodai putrimu. Bukan aku tidak ingin bertanggung jawab, bahkan aku telah memberikan kartu nama beserta sebuah Black Card yang bisa digunakan oleh putrimu, jika dia menuntut pertanggung jawaban. Hanya saja hingga 7 tahun penantianku, dia bahkan sama sekali tidak menghubungi, Black Card yang kuberikan tak pernah dia gunakan, sehingga aku kehilangan jejaknya."
Willson tertunduk, sementara Calvin saat ini langsung berdiri, dia mempergunakan tangannya untuk memberikan pelajaran kepada pria yang saat ini mendatanginya, tanpa ragu-ragu Calvin segera melayangkan tamparan dan juga pukulan ke arah Willson, sementara pria di hadapannya saat ini hanya terdiam, menerima dengan sepenuh hati semua pukulan yang diberikan oleh Calvin. Sedikitpun tak terbersit dalam pikirannya untuk melawan pria tua itu, dia sadar bahwa apa yang diperbuatnya di masa lalu benar-benar tidak termaafkan.
"Maaf.." cicit Willson dengan suara yang sangat perlahan, sementara amarah Calvin semakin meninggi, dia terus saja melancarkan serangan kepada Willson, seolah saat ini dirinya tengah melampiaskan seluruh amarahnya, atas penolakan yang dilakukan oleh Liora tempo hari.
"Pa..! Cukup pa! Jangan pukuli dia lagi! Apa yang menimpa Liora tak hanya merupakan kesalahan pria itu, dalam hal ini kita berdua juga memiliki kesalahan yang sama besar, karena telah mengabaikan gadis itu selama 25 tahun. Andai saja saat itu papa memberikan perlindungan, mungkin Liora tak harus hidup dalam kesulitan. Bahkan dia tidak akan mengalami pelecehan." ucap Carina, dia merasa begitu kasihan melihat Willson yang sudah babak belur akibat dihajar oleh suaminya.
"Pa..! Restui mereka, berikan kesempatan pada pria itu untuk membahagiakan putri kita, Liora. Mama yakin dia pasti sanggup memberikan perlindungan yang seharusnya kita berikan sejak dulu." ucap Carina dengan sangat bijaksana tangannya mengusap bahu sang suami untuk menguatkannya.
Akhirnya Calvin pun luluh, dia mewanti-wanti kepada Willson agar bersikap baik terhadap putrinya, dia tak ingin Liora mengalami nasib buruk untuk yang kedua kalinya. "Jika kau sudah bosan atau tidak mencintai putriku lagi, maka kembalikan dia padaku dengan cara yang baik, sebagaimana kau memintanya saat ini. Ingat satu hal, jangan pernah menyakiti Liora, dia belum pernah merasakan kebahagiaan, bahkan sebagai seorang ayah, aku telah gagal memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadapnya."
"Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk putrimu," ucap Willson dengan penuh tekad.
Setelah pertemuan yang panjang dan penuh makna, Calvin Steward akhirnya memberikan restunya. Ia melihat kualitas luar biasa dalam diri Willson, dan merasa percaya bahwa Willson adalah pria yang tepat untuk Liora. Namun, Calvin juga menegaskan bahwa pernikahan adalah komitmen besar, dan Willson harus selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik dan ayah yang penuh tanggung jawab.
Dengan perasaan lega dan bahagia, Willson meninggalkan kediaman Calvin Steward. Langkahnya kali ini lebih ringan, dan senyuman di wajahnya begitu lebar. Ia tahu bahwa tak hanya mendapatkan izin, tetapi juga rasa percaya dari calon mertuanya. Kini, ia memiliki lebih banyak alasan untuk melangkah maju dalam rencana cintanya bersama Liora, wanita yang mencuri hatinya dan memberikan arti baru dalam hidupnya.
"Tunggu..!"
__ADS_1