BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Penyerangan Willson Smith Mension


__ADS_3

Willson Smith baru saja mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan, salah satu cabang usaha yang dimilikinya saat ini mengalami masalah besar, sehingga mau tak mau membuat pria itu terpaksa meninggalkan mension untuk segera berangkat menuju kota A.


"Hai little girl!" panggil Willson begitu melihat putri kecilnya itu turun dari tangga, menuju ruang makan.


"Hai dad!" jawab Leona, semakin mempercepat langkahnya dan segera mendudukkan dirinya di samping kursi yang saat ini di duduki oleh Willson.


"Dady akan pergi untuk beberapa hari, apa kau mau ikut?" tanya Willson.


Leona hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak dad, aku akan tetap di sini. Lagi pula sekarang aku memiliki tanggung jawab terhadap pelatihan, jadi tidak bisa meninggalkan begitu saja tanpa tanggung jawab yang jelas." ucap gadis kecil itu membuat senyum di wajah Willson langsung mengembang.


Leona mungkin baru berusia 6 tahun, namun dia memiliki tanggung jawab dan juga dedikasi yang sangat besar.


"Good girl! Dady bangga terhadapmu." ucap Willson, sedikit mendekatkan tubuhnya, dan mengecup puncak kepala Leona, membuat gadis kecil itu merasakan kehangatan seorang ayah.


"Tuan, kita harus segera berangkat!" Robin muncul tiba-tiba, mengejutkan Leona. Membuat gadis kecil itu langsung mengerucutkan bibirnya.


"Dasar pengganggu!" ucap Leona sambil membuang muka.


Robin hanya tersenyum melihat ketidak puasan di wajah gadis kecil itu, dia tahu jika saat ini Leona pasti sangat kesal, karena kebersamaannya dengan sang ayah diganggu oleh Robin.


"Dady harus segera berangkat, ambil ponsel ini! Kau bisa menghubungi dady kapan pun!" ucap Willson sambil menyerahkan ponsel pintar keluaran terbaru pada Leona, tak lupa dia juga mengacak rambut gadis kecilnya yang selalu membuat gemas, membuat Leona lagi-lagi cemberut karena di perlakukan seperti anak kecil.


Akhirnya Willson pun berangkat, diantar Leona hingga ke teras. Pemandangan itu terlihat oleh seseorang yang saat ini tengah berdiri dari kejauhan, dengan teropong yang ada ditangannya.


"Hmm... Dia rupanya!" ucap pria itu sambil meninggalkan jendela tempat mengintip tadi kemudian menduduki kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Siapkan pasukan! Malam ini juga kita harus meratakan Willson Smith Mension. Aku ingin melihat, apakah dia bisa menyelamatkan gadis itu atau tidak!" ucapnya memberikan perintah dengan sangat kejam, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Baik bos!" ucap tangan kanannya, dia pun bergerak cepat meninggalkan ruangan itu untuk mempersiapkan apa yang diminta oleh bos nya.


"Kau selalu menjadi penghalangku mencapai puncak, Willson! Kali ini akan kupastikan kau menangis darah setelah pasukanku berhasil meratakan seluruh kediamanmu dan melenyapkan gadis kecil itu." ucapnya sambil menutup mata.


Ancaman dan gelagat buruk pria itu rupanya disadari oleh seseorang, dia merasa saat ini ada beberapa pasang mata yang terus mengawasi mension. "Pastikan srmua cctv hidup, entah kenapa aku merasa sangat tegang saat ini!"


Ucapan pria itu sontak membuat para penjaga Mension langsung mengerutkan dahi, tidak biasanya kaki tangan Willson itu mengatakan hal yang membuat mereka cemas. Namun mereka tetap bersikap tenang dan segera mengerahkan pandangannya pada seluruh monitor, untuk melacak keberadaan orang-orang yang mungkin saja memiliki niat buruk.


Hingga akhirnya, mata para penjaga sedikit terbelalak, setelah melihat penampakan seseorang dari arah barat daya yang saat ini bergerak dengan sangat mencurigakan, dia menggunakan teropongnya untuk mengawasi gerak-gerik semua orang yang berada di dalam mension milik Willson. Penjaga itu segera memperbesar hasil tangkapan layarnya, kemudian memanggil rekan-rekannya untuk menunjukkan apa yang baru saja dia dapatkan.


"Hei, lihat ini!" ucapnya.


Para penjaga yang lain serempak berdatangan, mereka juga nampak penasaran karena salah seorang rekannya saat ini berteriak dengan suara yang cukup kencang, hingga membuat mereka yang sejak tadi mengawasi situasi, akhirnya meninggalkan tempat itu dan berpindah menuju layar besar yang saat ini berada di hadapan rekannya itu.


"Apa kalian mengenal pria itu? Sepertinya dia terus saja mengawasi gerak gerik semua orang yang berada di dalam mension ini." ucapnya.


Rekan-rekannya pun segera mengikuti arah jari pria itu, tak lama salah seorang penjaga langsung berteriak untuk memberitahukan keadaan darurat di dalam mension saat ini. Mereka harus bersiap kalau-kalau pria itu melancarkan serangan besar-besaran, mengingat Willson Smith saat ini tidak berada di kediamannya.


Ngiung...


Ngiung...


Ngiung...

__ADS_1


Alarm tanda bahaya telah ditekan oleh pria itu, hingga suaranya yang lebih mirip dengan ambulans mulai terdengar di telinga semua penjaga yang berada di dalam mention besar. Dengan segera, mereka pun mempersiapkan diri dan juga persenjataan masing-masing, jangan sampai kalah telak terhadap lawan yang mungkin saja akan segera muncul.


Duar....


Dalam gemuruh yang tak terkendali, kepanikan melanda para penjaga di sekitar Willson Smith Mension. Kabar mengenai ancaman yang datang dari orang-orang tak dikenal telah mencapai telinga mereka, memunculkan kegelisahan yang melintas di mata mereka yang penuh tanggung jawab.


Dalam situasi yang begitu genting, para penjaga segera merasakan getaran kecemasan yang mempercepat denyut jantung mereka. Mereka adalah penjaga terlatih, dilengkapi dengan keterampilan dan pengalaman yang mumpuni, tetapi ancaman yang tak terduga ini membuat mereka ragu dan waspada.


Booom...


Duar....


Pemandangan di sekitar Willson Smith Mension berubah menjadi kekacauan yang berteriak dalam keheningan. Suara-suaranya terdengar seperti dentuman bom dalam telinga para penjaga, memaksa mereka untuk bergerak dengan sigap dan terorganisir. Dalam sekejap, koridor-koridor dan ruang-ruang yang biasanya tenang dan damai menjadi latar belakang kehebohan, ketakutan, dan desakan untuk menyelamatkan Leona, orang yang menjadi sasaran ancaman tersebut.


Di tengah kekacauan itu, panik memperkuat naluri melindungi yang ada dalam setiap penjaga. Dengan keberanian yang terusir dari dalam diri mereka, merangkul tanggung jawab besar yang melekat pada posisi mereka. Bahkan ketika ketidakpastian menyelimuti pikiran, mereka tetap berusaha untuk merumuskan rencana penyelamatan terbaik yang mereka miliki.


Dalam momen ketegangan ini, kesatuan tim menjadi lebih penting dari sebelumnya. Komunikasi yang jelas dan cepat menjadi nyawa para penjaga, memastikan informasi tentang ancaman dan situasi terbaru tersebar dengan cepat dan akurat di antara mereka. Serangkaian instruksi beredar di antara para penjaga, menuntun langkah-langkah yang diambil untuk melindungi Leona dan menjaga keamanan Willson Smith Mension.


Meskipun kepanikan mengancam menguasai mereka, para penjaga berusaha untuk menunjukkan ketenangan dan keberanian di hadapan para pelayan dan penghuni Willson Smith Mansion. Mereka tahu bahwa sebagai penjaga, mereka adalah penjaga ketenangan dan kestabilan, walaupun dunia di sekeliling mereka terasa ambruk.


Dalam upaya tak kenal lelah, para penjaga melintasi koridor-koridor gelap dan terowongan rahasia, dengan hati yang berdebar dan pikiran yang terfokus pada tujuan mereka: menyelamatkan Leona. Dengan keterampilan yang mereka asah selama bertahun-tahun, mereka berusaha untuk melawan kepanikan dan bertindak dengan kecepatan dan presisi yang diperlukan.


Ketika malam merangkul kelamnya, para penjaga terus berjuang melawan kegelapan dan ketakutan. Kepanikan menjadi teman yang tak terelakkan, tetapi mereka bertekad untuk menjaga inti dari misi mereka. Keselamatan Leona adalah segalanya bagi mereka, dan mereka siap menghadapi segala risiko dan tantangan demi melindunginya.


Ketika ancaman semakin dekat, para penjaga menghadapi kepanikan mereka dengan semangat yang tak tergoyahkan. Kepentingan dan dedikasi mereka sebagai penjaga melampaui rasa takut yang mungkin melanda. Di dalam kekacauan yang mencekam, mereka tetap bersatu dan tak tergoyahkan, mengulurkan tangan mereka untuk menyelamatkan Leona dari ancaman yang mengepung Willson Smith Mansion.

__ADS_1


"Lindungi nona muda!" teriakan nyaring terdengar dari mulut Leon, kepala pelayan mension.


__ADS_2