BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Ketua Mafia Black Dragon


__ADS_3

Dalam rerimbunan hutan lebat, tepat di tengah-tengah sebuah desa terpencil, tersembunyi sebuah bangunan besar yang menakutkan. Markas Kelompok Mafia Black Dragon, sebuah kompleks megah yang menjadi pusat kekuasaan gelap, menunjukkan keangkeran dan kemewahan secara serempak. Dengan kecanggihan arsitektur yang tak tertandingi, markas ini mengesankan siapapun yang berani mengamatinya dari kejauhan.


Markas ini benar-benar sebuah gemilang dalam dunia kriminal, melebihi harapan bahkan para penjahat paling ambisius sekalipun. Dinding-dindingnya dibangun dari batu-batu kuat yang memberi kesan tak tergoyahkan. Dengan menara tinggi yang menjulang ke langit dan dekorasi klasik yang mempesona, bangunan ini seakan mengisyaratkan kemegahan dan dominasi yang tak terbantahkan.


Akses menuju markas ini sangat tersembunyi, hanya dapat diakses oleh anggota kelompok dengan kode rahasia. Pintu gerbangnya terlindung rapat dengan berbagai perangkat keamanan canggih yang mampu mengintai dan mendeteksi setiap pergerakan yang mencurigakan. Rimbunan hutan yang mengelilingi markas menambah lapisan perlindungan alami, memastikan lokasi ini hampir mustahil ditemukan oleh pihak berwenang.


Begitu memasuki area markas, suasana mewah dan anggun seketika menyambut. Gaya arsitektur interior yang klasik dan berkelas memperlihatkan kemewahan tak terhingga yang dinikmati oleh para anggota Mafia Black Dragon.


Ruang-ruang besar yang dihiasi dengan furnitur eksklusif dan ornamen seni bernilai tinggi menciptakan suasana yang di luar dugaan bagi kelompok kejahatan.


Namun, keindahan dan kemewahan ini hanya penutup dari kegelapan yang menyelimuti kelompok ini. Di balik dinding-dinding marmernya, tersembunyi rencana jahat dan operasi kejahatan yang tak terhitung jumlahnya. Ribuan anggota kelompok ini terlatih secara profesional, menjadi pion-pion setia yang siap melaksanakan perintah tanpa ragu atau belas kasihan. Mereka merupakan sosok yang membawa ketakutan ke dalam jiwa siapapun yang mendengar nama Black Dragon.


Meskipun bersembunyi di desa terpencil, kelompok ini memiliki jangkauan yang luas dan mempengaruhi sektor-sektor penting di berbagai wilayah. Jaringan mereka yang tak terlihat menyebar ke berbagai kota besar, mengendalikan perdagangan ilegal, pemerasan, dan bahkan pengaruh atas keputusan politik yang menentukan.


Markas Kelompok Mafia Black Dragon menjadi representasi sempurna dari kedigdayaan kejahatan yang berusaha memastikan keberadaan mereka terus berada dalam bayang-bayang. Keangkeran tempat ini mengirimkan peringatan jelas bagi siapa saja yang berani melangkahkan kaki ke dunia mereka: kesombongan dan kekayaan mungkin bersinar terang, tetapi kegelapan yang tersembunyi akan menghadang siapapun yang menantang otoritas mereka.


Seorang pria terlihat duduk di sebalik meja kerjanya, sambil memeriksa beberapa berkas yang menumpuk. Dia telah lama meninggalkan markas hanya untuk mengurus seluruh usaha yang selama ini digelutinya dan hanya memerintahkan kepada salah seorang tangan kanannya, untuk mengurus markas yang menjadi kebanggaannya.


Tok..


Tok...


Tok...

__ADS_1


Terdengar pintu ruangan itu diketuk dari luar, tak lama kemudian seorang pria yang menggunakan kacamata bulat dan tebal masuk ke dalam ruangan, tangannya menenteng beberapa berkas yang lumayan tebal dan sangat banyak, kemudian segera menyimpannya di atas meja kerja sang bos.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi yang kuinginkan?" suara dingin itu terdengar meluncur dari mulut pria, yang saat ini tengah duduk dengan gagah di kursi kebanggaannya.


"Beberapa orang hacker kita telah mendapatkan bukti-bukti yang akurat, jika kematian yang dialami oleh Adrian Romero beserta istrinya, ternyata ada campur tangan salah seorang anggota keluarganya." ucap pria itu sambil menunjukkan beberapa berkas yang mungkin saja dibutuhkan oleh tuannya.


"Hmm.." pria itu menjawab dengan sangat dingin, namun tatapannya terarah kepada kata demi kata yang tersusun dalam kertas-kertas yang kini berada di hadapannya. Sesekali dahi pria itu terlihat mengernyit, namun dia tak berhenti membaca seluruh laporan yang diberikan oleh hacker kepercayaannya.


"Apakah kita perlu melakukan penyerangan terhadap keluarga Romero?" tanya pria berkacamata.


"Tidak!" pria itu menjawab dengan sangat tegas, tangannya terlihat memijit keningnya yang saat ini terasa sangat pusing.


"Biarkan Leona yang melakukannya! Jangan pernah mencampuri urusan putriku! Sementara waktu ini siapkan saja orang-orang untuk terus mengawasi kediaman dan juga kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Romero, Jangan sampai ada yang ketinggalan satu pun!" lanjutnya dengan suara berat.


"Apa kau benar-benar sangat bodoh? Bukankah kau tahu, jika salah seorang putri dari keluarga besar Marvin itu merupakan menantu dari keluarga Romero. Jadi sudah sepantasnya jika kau mengirimkan anak buahmu untuk mengawasi mereka juga!" jawab pria itu sambil memelototkan matanya, setelah mendengar pertanyaan konyol yang diajukan oleh kaki tangannya itu.


"Baik bos!"


Pria berkacamata itu segera pergi meninggalkan ruangan milik bosnya, dia tak ingin menjadi sasaran kemarahan pria itu. Apalagi selama ini semua orang telah mengetahui bagaimana tindak-tanduk dari seorang Willson Smith, saat dia tengah menjalankan aksinya sebagai seorang ketua mafia Black Dragon yang terkenal sangat bengis dan juga kejam.


Tap...


Tap...

__ADS_1


Tap...


Seorang gadis cantik muncul dengan pakaian seksinya, membuka pintu ruang kerja milik Willson Smith. Dia berjalan sambil berlenggak-lenggok menunjukkan sebagian tubuhnya yang terbuka.


"Kau mencariku?" gadis itu bertanya sambil mengerlingkan mata ke arah Willson, dia pun mendudukkan bokongnya tepat di atas meja kerja milik pria itu.


"Apa kau tidak bisa melihat dimana letak kursi? Bokongmu itu terlalu kurang ajar, sehingga dia bisa duduk di mana saja." umpat Willson sambil menatap tajam gadis yang saat ini terlihat begitu genit.


"Oh! Ayolah Willson! Kau terlalu kaku. Aku bahkan tak pernah melihatmu berdekatan dengan wanita manapun, apa kau masih sehat?" tanya wanita itu sambil menjulurkan lidahnya.


"Apa kau ingin aku memotong lidahmu? Duduk dikursi! Dengarkan perintahku! Jika kau sampai gagal kali ini, akan ku pastikan jika hidupmu akan segera berakhir, Elena!" ucap Willson, nada suaranya mulai meninggi, membuat wajah gadis itu akhirnya cemberut.


Dia pun segera bangkit dari meja dan duduk di kursi, berseberangan dengan Willson.


"Pelajari semua berkas itu! Masuklah ke dalam keluarga Romero, pastikan kau tahu apa yang menjadi tugasmu saat ini, tanpa harus aku sendiri yang memberikan perintah!" ucap Willson.


Elena memutar bola matanya jengah, dia telah mengenal Willson sejak keduanya masih berada di fakultas yang sama, namun pria itu terus saja bersikap dingin. Dia seolah tidak pernah tertarik kepada gadis manapun, bahkan hingga usianya saat ini mencapai 28 tahun, pria itu masih belum juga memiliki kekasih. Hingga terkadang Elena berfikir, mungkinkah jika sahabatnya itu memiliki kelainan?


"Apa kau benar-benar tidak tertarik terhadapku? Lihatlah! Aku bahkan telah mempergunakan pakaian yang begitu terbuka, tapi sepertinya kau tidak terusik sama sekali." tanya Elena sambil mendekat ke arah Willson.


"Berhenti di sana atau kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan terhadap nyawamu!" ancam Willson, tangannya saat ini telah menggenggam sebuah benda kecil, membuat Elena langsung mundur. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian berbalik ke arah pintu, meninggalkan ruangan kerja yang ditempati oleh Willson Smith.


"Ciiih! Dasar bujang lapuk!" cibir Elena sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2