
Liora hanya bisa menangis, dia tak menyangka akan kembali dipertemukan dengan pria yang dulu pernah menghancurkan hidupnya. Sementara luka itu hingga hari ini masih menganga, dan dia belum bisa memaafkan Willson.
"Kau akan menjelaskannya sendiri, atau aku harus memaksamu?" tanya Willson.
Akhirnya Liora pun menganggukan kepalanya, dia berpikir untuk mengikuti keinginan pria yang saat ini mengungkungnya, daripada dia kembali mendapatkan perlakuan buruk dari pria itu, akan lebih baik jika dirinya memberitahukan kebenaran yang selama ini dia simpan sendiri. Semoga saja pria di hadapannya tidak memiliki dendam, sehingga berakhir dengan penyiksaan batin Liora untuk kedua kalinya.
"Tolong lepaskan! Aku akan bicara." ucap Liora, matanya terlihat sendu.
Willson segera bangkit, dia mendudukkan dirinya di ujung tempat tidur, sementara Liora saat ini terlihat tengah menstabilkan nafasnya, sambil berpikir bagaimana caranya dia memberitahukan semua yang terjadi kepada Willson.
"Maaf..!" satu kata telah keluar dari mulut Liora, namun dia seolah sengaja menjeda ucapannya.
"Untuk?" tanya Willson sambil mengerutkan dahi.
"Aku tahu kau adalah pria yang telah menghancurkan hidupku beberapa tahun yang lalu, meskipun aku hanya satu kali bertemu denganmu di malam itu, tapi aku masih mengingat wajahmu, yang telah membuat kesedihan dan penderitaan besar dalam hidupku." ucap Liora, entah kenapa saat ini dia berani memandang wajah Willson.
"Karena kau, aku harus berjuang untuk melahirkan putraku sendirian, mendengar begitu banyak caci maki dan juga hinaan dari orang-orang, bahkan aku dan ibuku telah diusir dari rumah milik kami, hanya karena mereka tahu jika saat itu tengah mengandung tanpa seorang suami." ucap Liora, kali ini tangisnya tumpah dengan sangat deras.
"Kau benar-benar jahat! Kau telah merampas masa depan dan juga kebahagiaanku. Kau badjingan! Breng*ek!" ucap Liora, kali ini nada bicaranya mulai meninggi, menunjukkan jika si pemilik suara benar-benar mulai merasakan kebencian yang mendalam terhadap sosok Willson yang duduk di hadapannya.
Deg...
Deg...
Jantung Willson seakan berhenti berdetak, bahkan saat ini nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Dia tak bisa mengatakan apapun setelah mendengar penjelasan dari Liora yang terus saja menumpahkan tangis di hadapannya, bahkan untuk meminta maaf kepada wanita itu Willson seolah tak memiliki daya, dia benar-benar merasa menjadi seorang badjingan karena menghancurkan kehidupan seorang gadis baik-baik.
Grep...
Akhirnya Willson memeluk tubuh ringkih itu, tangannya mengelus surai hitam Liora, untuk menenangkan wanita yang saat ini terlihat rapuh di matanya, namun tangis Liora semakin pecah, semua beban berat yang selama ini ditanggungnya sendiri seolah ingin dilepaskan begitu saja.
"Menangislah..!" ucap Willson, dia membiarkan air mata wanita itu membasahi piyama tidurnya, menyalurkan kekuatan dan kehangatan pada Liora.
Tak lama terdengar suara dengkuran halus, setelah menangis beberapa lama, sepertinya Liora begitu kelelahan, dia langsung terlelap dalam dekapan hangat Willson.
__ADS_1
Perlahan-lahan, Willson membaringkan tubuh wanita itu di atas tempat tidurnya, kemudian segera menarik selimut dan membiarkan Liora menuju alam mimpi. Dia tak lagi menuntut penjelasan dari wanita itu, masih banyak waktu untuk Willson mengetahui semua yang terjadi pada wanitanya.
Ya, wanitanya. Sejak Willson menodai Liora beberapa tahun yang lalu, dia telah mengklaim Liora sebagai wanitanya, meskipun hingga saat ini dia belum mengetahui nama dari gadis yang telah dia renggut masa depannya.
Cuit...
Cuit...
Suara burung terdengar bersahutan di pagi hari, namun Liora masih tenggelam dalam mimpi indah, kepalanya terus mendusel didada Willson, mencari kenyamanan. Sementara Willson telah terbangun sejak tadi, dia memandang wajah sembab wanita di sampingnya, sambil sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Ugh..!" terdengar suara lenguhan dari bibir Liora, perlahan-lahan matanya terbuka, dia terlihat kaget saat mengetahui jika kini dia terbaring diranjang yang sama dengan Willson, apalagi tubuh keduanya terlihat begitu dekat, saling memeluk.
"Apa yang kau lakukan?" Liora menunjukkan wajah galaknya, namun Willson hanya terkekeh kecil, raut wajah wanita itu terlihat sangat menggemaskan, dimatanya.
"Selamat pagi!" ucap Willson, tak memperdulikan pertanyaan dari Liora, dia bahkan tanpa ragu mengecup dahi wanita itu, membuat mata Liora langsung melotot, namun pipinya terlihat bersemu merah.
"Siapa namamu?" tanya Willson kembali, sejak semalam dia begitu penasaran dengan nama wanitanya.
"Kau masih berhutang penjelasan." ucap Willson, namun dia tak melonggarkan pelukannya.
"Bukankah aku sudah mengatakan semuanya padamu?" kali ini Liora memandang wajah Willson, dia baru menyadari jika pria itu begitu tampan.
"Aku meninggalkan kartu nama dan black card untukmu, kenapa tidak kau pergunakan?" tanya Willson, dia berusaha untuk bertanya dengan sangat hati-hati.
"Aku tak ingin berurusan lagi dengan pria jahat sepertimu!" ucap Liora sambil menunndukkan kepalanya.
"Harusnya kau mencariku, untuk meminta pertanggung jawaban. Atau kau bisa menggunakan black card itu untuk membiayai hidupmu. Selama beberapa tahun, aku berusaha untuk mencari keberadaanmu, namun tak bisa menemukannya. Hingga beberapa waktu yang lalu, aku mengetahui kabar jika kau telah tiada, akibat penyerangan yang dilakukan oleh anggota kelompok mafia black scorpion." ucap Willson.
Liora terdiam setelah mendengar penjelasan pria itu, kini dia merasa sangat bodoh, karena tidak peka dengan kedua kartu yang ditinggalkan oleh pria itu. Ternyata Willson memang sengaja meninggalkannya, agar mereka bisa bertemu kembali di kemudian hari.
"Apa maksudmu? Penyerangan apa? Selama ini aku tinggal di kota S selama beberapa tahun." ucap Liora, namun tak lama kemudian matanya kembali melotot, dia baru saja ingat musibah yang menimpa saudara kembarnya. Mungkinkah jika Willson menganggap bahwa wanita yang selama ini telah dia lecehkan itu adalah Laura?
"Apa kau tahu sesuatu tentang penyerangan yang dialami Laura?" tanya Liora sambil menatap lekat pria yang saat ini terus saja memeluknya.
__ADS_1
Willson hanya mengangguk, "Kau mengenalnya?"
Liora menganggukan kepala, "Dia saudara kembarku." ucap Liora, matanya kembali berkaca-kaca, selama 25 tahun dia bahkan belum pernah bertemu dengan Laura, namun saat ini harus mendengar berita buruk tentang kematian saudara kembarnya itu.
"Aku akan mengurusnya, kau tidak perlu khawatir." ucap Willson.
"Lalu, dimana putraku?" kali ini Willson teringat dengan anak yang telah dilahirkan Liora.
"Astaga, Ken pasti mencariku! Aku meninggalkannya di kamar tamu." ucap Liora, dia bergegas bangkit dari tempat tidur dan berniat untuk meninggalkan pria itu. Namun Willson seakan tak ingin lepas dari Liora.
"Kita turun sama-sama, dia pasti telah berada di meja makan." ucap Willson.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana aku menjelaskan hal ini pada Ken, dia pasti sangat syok jika tahu kau ayahnya. Lagipula saat ini ibuku juga sakit, aku tak ingin membebaninya dengan masalah lagi." ucap Liora sambil berdiri, melepaskan pelukan Willson, kemudian berlari menuju kamar yang di tempati oleh Ken.
"Mama...!" Kendrick terus menangis sambil mencari keberadaan Liora, sejak bangun dari tidurnya bocah laki-laki itu masih belum bisa menemukan di mana sang mama saat ini berada. Padahal dia telah mengitari sekitaran mansion dibantu oleh Leona dan juga beberapa orang pelayan di rumah itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Liora berjalan dengan sangat cepat, dia segera merengkuh tubuh Kendrick ke dalam dekapannya. Merasa sangat bersalah karena meninggalkan Kendrick sendirian. Sementara Willson menyunggingkan senyuman manisnya, setelah melihat interaksi antara ibu dan anak itu dari cctv yang terpasang di rumahnya.
"Mama..!" Leona segera berhambur kepelukan Liora, dia juga terlihat cemas karena tidak berhasil menemukan Liora, meski begitu wajah gadis kecil itu masih tetap terlihat dingin, dia tidak meneteskan air matanya sedikitpun.
Jauh berbeda dengan Kendrick yang saat ini wajahnya terlihat begitu sembab, karena terlalu banyak menangis.
Ehem...
Terdengar suara pria berdehem, membuat semua orang yang berada di tempat itu langsung membalikkan tubuh mereka, untuk melihat si empunya suara. Leona kembali merentangkan tangannya dan langsung berhambur ke pelukan Willson, sementara Liora menundukkan kepala, menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Dady..!"
__ADS_1