
📱"Kau yakin melihat Laura Romero masih hidup?" tanya seseorang kepada anak buahnya, setelah dia mendapat laporan, jika mereka melihat keberadaan Laura di stasiun kota C. Hanya saja ada berapa kelompok mafia, yang kemungkinan memang sengaja dikirimkan seseorang, untuk menjaga keamanan dari wanita itu hingga akhirnya terjadi bentrokan.
📱"Aku tidak mungkin salah lihat, dia memang Laura Romero. Wanita itu masih hidup." jawab anak buahnya dengan sangat yakin.
📱"Kejar dan culik wanita itu segera. Dia pasti mengetahui keberadaan barang bukti yang dimiliki oleh Adrian Romero." ucap sang bos dengan sangat tegas.
📱"Baik bos!" jawab pria itu, sambil melirik salah seorang rekannya yang saat ini tengah menyetir.
"Jangan sampai kita kehilangan jejak, bagaimanapun caranya Laura Romero harus bisa kita dapatkan!" ucapnya sambil menatap mobil mewah yang saat ini ditumpangi oleh Liora.
Brum...
Brum...
Brum...
Terdapat sekitar 30 mobil yang saat ini terus saja saling berdatangan dan bergabung dengan anggota kelompok mafia, untuk melakukan pengejaran terhadap mobil yang saat ini ditumpangi oleh Leona. Mereka sangat yakin jika sebentar lagi akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar, apalagi saat ini mereka telah mengetahui sebuah rahasia besar, jika Laura Romero sebenarnya masih hidup. Jadi kemungkinan besar bukti kejahatan yang dimiliki oleh kelompok mafia Black Scorpion berada di tangan wanita itu.
Bruum...
Brum...
Mobil-mobil itu satu persatu berusaha untuk menyalip mobil yang saat ini ditumpangi oleh Leona, membuat gadis kecil itu berkali-kali harus mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Sementara pandangannya masih tetap berfokus kepada orang-orang yang saat ini melakukan pengejaran tanpa kenal lelah, bahkan semakin lama jumlah mereka semakin banyak.
"Ciih! Dasar orang-orang pengecut! Berani sekali mereka mencari masalah denganku." cibir Leona, kemudian gadis kecil itu pun segera membuka sunroof dengan menekan tombol yang ada di dalam mobil, dan berdiri sambil mengangkat kedua senjata api yang berada di tangan kecilnya.
Dor...
Dor...
Dor...
__ADS_1
Terdengar suara tembakan berkali-kali dari senjata yang saat ini berada di tangan gadis kecil itu, mengarah pada ban mobil orang yang mengikutinya. Tak lama kemudian terdengar suara rem mendadak, para pengemudi itu sepertinya sangat kaget, akibat ban depan mobil mereka satu persatu mulai meletus, akibat ledakan yang dilakukan oleh Leona.
Ckiiiit...
Brak...
Brak...
Brak...
Akhirnya terjadi kecelakaan beruntun, mobil yang digunakan oleh para penguntit itu satu persatu mulai saling menabrak, akibat mobil yang berada di bagian depan sudah berhenti secara tiba-tiba, membuat mereka yang sejak tadi terus mengikutinya harus menginjak rem, namun lagi-lagi mereka terlambat untuk melakukan hal itu, hingga akhirnya kecelakaan pun tak bisa dihindari.
Bruuum...
Bruuum...
Bruum...
Dari arah kejauhan terlihat sekitar 50 mobil hitam yang tidak memiliki plat nomor, meluncur dengan sangat kencang di jalanan kota C, mereka menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Satu persatu langsung berbelok kemudian mengikuti mobil yang saat ini ditumpangi oleh Leona, sementara 20 mobil lainnya masih berada di tempat kejadian, untuk melihat siapa saja orang yang telah berani mencari masalah dengan Leona.
Brak...
Salah satu pintu mobil langsung saja ditendang, oleh orang-orang berpakaian hitam yang baru saja berdatangan, wajah mereka terlihat sangar dan menakutkan, dengan raut datar dan penuh kekejaman. Mereka pun mengeluarkan orang-orang yang saat ini berada di dalam mobil, kemudian menyeretnya dengan cara paksa.
Mereka melempar tubuh pria-pria itu ke dalam sebuah mobil box, membuat mereka saling tabrak dan saling tindih, berhimpitan satu sama lain. Sementara beberapa orang di antara mereka saat ini mengalami luka-luka, akibat terkena pecahan kaca ataupun terjepit saat dalam evakuasi.
"Sial! Siapa mereka dan kenapa berbuat seperti ini terhadap kita semua?" ucap salah seorang pria, sambil menatap wajah rekan-rekannya. Saat ini mereka harus berhimpitan di dalam mobil box yang sangat sempit itu, sementara jumlah dari pria-pria itu ada sekitar 40 orang.
"Entahlah! Yang jelas kita masih harus memasang kewaspadaan, bisa saja mereka merupakan musuh yang saat ini mencari kesempatan dari kecelakaan yang terjadi, akibat serangan yang dilakukan oleh bocah kecil itu." ucap rekannya, berusaha untuk saling mengingatkan.
"Bos pasti akan sangat marah, apalagi saat ini kita telah kehilangan jejak dari Laura Romero." ucap pria yang lain sambil mengacak rambutnya.
__ADS_1
Saat ini mereka terlihat begitu frustasi, karena mobil bok yang digunakan untuk mengurung mereka tidak memiliki ventilasi udara yang cukup, sehingga mereka harus menjangkau oksigen sebanyak-banyaknya, untuk bisa bertahan di tempat yang sempit itu.
Apalagi tempat itu terasa sangat lembab dan juga gelap, membuat mereka harus meraba-raba dengan tangannya, untuk memastikan jika saat ini berada di tempat yang benar. Namun sepertinya mobil box itu dikendarai oleh seorang sopir yang tengah mabuk, hingga berkali-kali mobil itu terlihat bergoyang ke kiri dan ke kanan. Bahkan sesekali sang sopir menjalankannya dengan ugal-ugalan, membuat pria-pria yang saat ini terkurung itu lagi-lagi harus berdecak kesal.
Lagi-lagi pria-pria itu tak bisa mempertahankan kestabilan tubuh mereka, hingga akhirnya terjatuh dan saling bertumpuk satu sama lain. Membuat suasana didalam box mobil itu kian menyulitkan.
"Sial!" ucap mereka hampir saja bersamaan.
"Apakah ada yang membawa ponsel? Cepat hubungi bos, untuk memberitahukan posisi kita saat ini." salah seorang pria tiba-tiba saja menyadarkan rekan-rekannya, bahwa saat ini mereka bisa saja meminta bantuan kepada sang bos.
Satu persatu dari pria itu pun segera merogoh saku baju dan juga celananya, namun sayang, meskipun mereka berusaha untuk mencari dengan sekuat tenaga, ponsel-ponsel mereka saat ini telah dirampas oleh orang-orang yang tak dikenal.
"Sial!" umpat pria-pria itu terlihat semakin frustasi.
Sementara Leona saat ini tengah bersantai di atas jok mobil yang ditumpanginya, dengan senyum yang merekah indah. Dia sudah mengetahui, jika orang-orang yang berdatangan itu merupakan bawahan dari Willson Smith, sehingga tak lagi harus merasa takut.
"Mama baik-baik saja?" tanya Leona sambil melirik ke arah Liora yang saat ini terlihat sangat pucat.
Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan, tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Dia benar-benar ketakutan saat ini, sehingga bibirnya tiba-tiba saja seolah terkunci.
Akhirnya mobil itu pun melaju ke dalam mension besar milik Willson Smith dan langsung disambut oleh para pelayan. Leona segera memerintahkan agar mereka membersihkan kamar tamu untuk Liora dan juga Marlina beristirahat, sementara Leon, dia minta untuk menelpon dokter keluarga Smith agar segera datang, untuk memeriksa Marlina yang saat ini telah pingsan.
"Terima kasih banyak, nak." ucap Liora, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Dia tak hanya diselamatkan oleh Leona, namun saat ini memiliki tempat berteduh, meski untuk sementara. Apalagi gadis kecil itu terlihat sangat peduli terhadap ibunya dan tak ragu-ragu untuk memanggilkan dokter agar memeriksa kesehatan dari Marlina.
Leona hanya tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerja milik Willson Smith, dia ingin segera berjumpa dengan dady-nya itu dan memberikan kabar gembira, jika saat ini dirinya telah kembali bertemu dengan sang mama.
Tap...
Tap...
__ADS_1
Tap...
"Dady...!"