BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Salah Prediksi


__ADS_3

"Elenaa! Aku masih mendengarmu!" Willson berteriak dari dalam ruang kerjanya, sementara Elena bersikap acuh tak acuh, dia melanjutkan langkahnya agar tidak terkena amarah dari pria yang terkenal tak memiliki hati itu.


.


.


.


Sementara itu, 200 orang pria terlihat turun dari sebuah pesawat dengan menenteng tas di masing-masing tangan mereka, pakaian yang digunakan terlihat seragam, hanya kaos hitam berpadu dengan jaket kulit berwarna senada. Kacamata terpasang dengan sangat apik, memperlihatkan penampilan mereka yang mempesona.


Tap...


Tap...


Tap...


Kedatangan mereka telah disambut oleh puluhan mobil yang sepertinya telah disiapkan, mereka berjalan dengan sangat teratur, satu persatu mulai memasuki mobil jemputan itu. Sementara saat ini masih ada tiga orang pria yang berdiri dengan santai sambil mengawasi keadaan sekitar.


"Bagaimana? Apa kalian telah menemukan siapa orang yang telah berani menghadang anggota kelompok mafia Black Scorpion saat menjalankan misi mereka?" tanya seorang pria kepada orang yang saat ini menyambutnya.


"Kita akan membicarakannya setelah sampai di markas, tuan Leonard. Saat ini bos kami telah menunggu kedatangan anda." ucap pria itu menjawab dengan sangat sopan.


Ternyata kedua ratus orang pria yang berdatangan di kota C saat ini adalah anggota kelompok mafia Black Scorpion, di bawah pimpinan salah seorang kepercayaan ketua mereka yaitu Leonard.


Leonard langsung menganggukkan kepalanya, dia pun berjalan menuju mobil yang telah disiapkan. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja, akhirnya rombongan itu pun sampai di sebuah mansion besar, mereka disambut oleh puluhan pelayan yang memang dipekerjakan khusus di tempat itu.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan Leonard. Mari masuk!" seorang pria berperawakan tinggi besar menyambut kedatangan Leonard, kemudian mengantarkannya menuju sebuah ruangan yang berada agak menjorok ke sebelah kiri, yang selama ini digunakan sebagai tempat pertemuan ketika anggota-anggota mafia berkumpul.


"Siapa kau?" Leonard menelisik penampilan pria yang menyambutnya, dari pakaian yang dia kenakan, jelas dia bukan seorang pelayan atau pun bodyguard.


"Namaku Fernando, tangan kanan tuan Alfonso, sekaligus wakil ketua mafia Red Poison." ucap pria itu memperkenalkan diri, kemudian lanjutkan perjalanan mereka.


Tok..


Tok..


Tok...


Fernando mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali, tak lama kemudian, dia pun segera menggerakkan tangannya untuk membuka pintu dan mempersilahkan tamu agung yang saat ini mendatangi markas mereka untuk masuk dan menemui Alfonso.


"Silakan masuk! Bos sudah menunggu anda di dalam." ucap Fernando.


Ehem...


Leonard berdehem, membuat kedua orang yang tengah saling menggoda itu akhirnya menyadari, jika saat ini mereka kedatangan seorang tamu yang telah lama ditunggunya. Gadis itu pun segera bangkit, kemudian pergi meninggalkan ruangan Alfonso. Namun sebelumnya, dia terlihat mengerlingkan sebelah mata ke arah Leonard.


"Ohoho... Tuan Leonard! Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu. Silakan duduk!" ucap Alfonso menyambut kedatangan Leonard.


"Sepertinya kedatanganku mengganggu kesenanganmu." Leonard memuntahkan kata-kata sindiran, membuat wajah pria itu langsung memerah.


"Ohoho... Tidak apa-apa, mari duduk!" Alfonso segera berdiri, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mempersilahkan Leonard untuk ikut serta bersamanya.

__ADS_1


"Apa kau sudah menemukan orang yang telah berani mencari masalah dengan kelompok mafia kami?" tanya Leonard tanpa berbasa-basi.


Alfonso hanya bisa menarik nafas kasar, pria di depannya sepertinya memang tidak bisa di ajak main-main, dia terlalu serius, hingga harus segera menyampaikan informasi yang diinginkan olehnya. Namun mengingat selama ini hubungannya dengan kelompok mafia Black Scorpion belum mengalami peningkatan, membuat Alfonso berpikir untuk mencoba mendekati Leonard.


"Bagaimana jika kita minum teh terlebih dahulu? Atau kalau kau tidak keberatan kita bisa makan siang sambil membahas masalah ini." tawar Alfonso.


"Aku tidak membutuhkan teh ataupun makan siang. Ada banyak hal yang harus diurus secepatnya, jika tidak? Maka bos pasti akan turun tangan sendiri, untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di kota C ini." jawab Leonard, dia sudah paham jika pria tua di hadapannya saat ini mencoba untuk mencari muka, agar bisa mendekatinya. Terlebih kelompok mafia Red Poison tidaklah bisa dibandingkan dengan mafia Black Scorpion, yang memiliki ribuan anggota dan kekayaan yang sangat banyak.


Alfonso segera bangkit dari tempat duduknya, dia berjalan menuju meja kerja untuk mengambil beberapa laporan yang telah diberikan oleh anak buahnya. Ada tiga amplop coklat yang saat ini berada di tangan pria tua itu, dengan santainya dia pun menyerahkan ketiganya kepada Leonard.


Leonard memeriksa satu persatu berkas yang telah dibungkus rapi dalam amplop coklat yang diberikan oleh Alfonso, keningnya berkali-kali mengernyit, seolah saat ini dia tengah heran melihat catatan yang diberikan oleh anak buah Alfonso.


"Apa kau yakin?" tanya Leonard.


Alfonso menganggukan kepalanya, kemudian menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Leonard. "Benar! Sepertinya mereka merupakan anggota kelompok mafia dari kota lain, namun sayangnya kami masih belum menemukan posisi, dimana anggota kelompok mafia Black Scorpion saat ini di sandera."


"Anggota kelompok mafia Black Spider?" Leonard memijat kepalanya, setahu dia, anggota kelompoknya sama sekali tidak memiliki masalah, dengan kelompok mafia yang berasal dari kota J itu. Lalu untuk apa mereka membuat permasalahan dengan anggota kelompok Black Scorpion? Tidak tahukah jika sebenarnya anggota mafia yang mereka lawan saat ini merupakan kelompok mafia terkejam di kota X?


"Siapa pemimpin kelompok mafia itu? Apa kau sudah menyelidikinya?" tanya Leonard kembali.


"Hacker terpercaya ku telah mendapatkan informasi yang sangat penting, bahwa kelompok itu dipimpin oleh seorang pria yang bernama Calvin Steward. Selain pengusaha besar, dia juga merupakan ayah kandung dari Laura Romero, yang telah kalian bantai secara keji satu tahun yang lalu." jawab Alfonso, sudut bibirnya terangkat ke atas menunjukkan senyuman mengejek.


Leonard langsung membulatkan matanya, Mungkinkah jika bukti yang selama ini mereka cari berada di tangan Calvin? Walau bagaimanapun pria itu merupakan ayah kandung dari Laura Romero sekaligus mertua dari Adrian Romero, pantas saja jika selama ini mereka bahkan tidak bisa menemukan satupun barang bukti yang diinginkan oleh sang bos, karena ternyata ada kelompok mafia lain yang melindungi keberadaan bukti-bukti itu.


Sangat berbahaya jika Calvin melakukan tindakan balas dendam terhadap mereka, apalagi bukti-bukti konkret yang telah diambil oleh Adrian Romero saat ini berada di tangannya.

__ADS_1


"Sial!" Leonard segera bangkit, kemudian menggerakkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, dia telah salah membuat prediksi, sehingga membawa 200 orang anggotanya untuk datang di kota C. Nyatanya lawan yang saat ini mereka hadapi merupakan anggota kelompok mafia yang bertempat tinggal di kota J.


"Kita ke kota J.'' ucap Leonard pada semua anak buahnya sesaat setelah dia keluar dari ruangan milik Alfonso.


__ADS_2