BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Kemampuan Leona yang memukau


__ADS_3

Leona bergidik melihat seringaian yang ditunjukan oleh Willson Smith, namun dia tetap berpura-pura tenang, hingga akhirnya 10 orang pelayan berdatangan dan berdiri dengan penuh hormat dibelakang gadis kecil itu.


Leona melirik, memperhatikan satu persatu gadis pelayan yang saat ini menundukkan kepala di belakangnya, rasa penasaran membuncah di dada gadis kecil itu, dia membutuhkan penjelasan, namun Willson Smith seakan acuh, dia melenggang pergi meninggalkan Leona untuk kembali menuju ruang kerjanya yang terletak di lantai 3.


"Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Leona seraya menghentikan langkahnya.


Gadis kecil itu pada awalnya ingin segera beristirahat dan mencari kamar yang sesuai di lantai 2 namun tiba-tiba saja dia menyadari jika ke-10 orang gadis pelayan itu terus saja mengikuti langkahnya.


"Kami adalah pelayan yang dipersiapkan untuk mengurusi semua kebutuhan anda, nona." jawab salah seorang pelayan.


Leona hanya bisa menarik nafas kecil, nampaknya menjadi putri angkat Willson Smith akan membuatnya kerepotan. Dia pasti akan terus diikuti oleh para pelayannya.


"Hmm.. Sudahlah!" Leona sepertinya tidak ingin berdebat.


Saat ini dia merasa sangat lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, akhirnya Leona pun mendapatkan kamar yang sesuai dengan kriterianya, dia tidak menginginkan kamar yang terlalu besar, namun sebuah kamar yang sederhana dengan perabotan yang tidak terlalu banyak.


"Badanku benar-benar lengket." ungkap gadis kecil itu.


Ke 10 orang pelayan hanya tersenyum kecil, tak lama kemudian mereka pun segera menyeret gadis kecil itu ke dalam kamar mandi, sebuah bathtub telah terisi dengan air hangat bahkan para pelayan telah menyiapkan lilin aromaterapi dan juga kelopak bunga mawar segar, agar gadis kecil itu bisa kembali merasakan kenyamanannya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Leona saat menyadari tubuh nya melayang akibat di gendong oleh salah seorang pelayannya.


"Kita akan segera membersihkan diri, nona.'' jawab pelayan itu dengan santai.


Sedangkan Leona mengedip-ngedipkan matanya membuat semua orang menjadi semakin gemas, gadis kecil itu sepertinya telah melakukan kesalahan dengan menggerutu karena merasakan tubuhnya yang lengket, sehingga para pelayan dengan sangat cepat menyiapkan air untuk dia membersihkan diri.


"Malam ini tuan mungkin tidak akan makan malam di rumah, dia ada pekerjaan di luar. Apakah nona muda ingin makan di dalam kamar ataukah di ruang makan?" tanya salah seorang pelayan.


Leona hanya menggelengkan kepalanya kemudian menjawab dengan sangat malas, "Di kamar saja."


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Leona segera bersiap untuk makan, melihat menu yang dihidangkan oleh para pelayan, membuat gadis itu kembali menggelengkan kepalanya.


Tidak mudah memang beradaptasi di dalam mension milik Willson Smith, apalagi Leona yang telah terbiasa hidup dalam kesederhanaan, tiba-tiba saja berubah 180° dan menjadi seorang nona muda kaya.


Leona segera menyantap beberapa jenis makanan yang disajikan, setelah itu dia meminta agar para pelayannya keluar dari dalam kamar karena gadis kecil itu ingin segera beristirahat.


Hoam...

__ADS_1


Leona menguap sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, ternyata hari sudah pagi, dan 10 orang pelayan kembali berjajar di samping tempat tidurnya, menunggu dia bangun.


"Selamat pagi, nona muda." ucap para pelayan itu sambil menundukkan kepala mereka.


Leona yang saat itu baru saja membuka mata langsung merasa kaget, "Huft! Ternyata menjadi anak orang kaya tidak mudah."


Leona Sepertinya harus segera menemui Willson Smith, selama ini dia tidak pernah meminta kemewahan, namun pria itu terus saja membuat dia harus berkali-kali mengurut dada, karena berhadapan dengan kekuasaannya yang tak terbatas.


Akhirnya setelah menyelesaikan ritual mandi pagi, Leona pun berganti pakaian, dia menggunakan dress selutut berwarna hitam. Meskipun lemarinya dipenuhi dengan baju-baju branded dan berwarna-warni, tapi warna biru dan hitam tetap menjadi favorit gadis kecil itu, sehingga dia meminta agar para pelayannya menyimpan pakaian dengan warna-warna yang mencolok, agar tidak menyakiti matanya.


Tap...


Tap...


Tap...


Terdengar langkah kecil dari kaki Leona yang menuruni tangga, membuat Willson Smith yang saat itu tengah sarapan langsung berbalik ke arahnya.


Leona mengulas senyuman tipis, sambil berjalan dengan kaki pendeknya dan langsung mendudukan diri di samping Willson, aura dingin dan ketegangan muncul setelah gadis itu mengambil piringnya.


"Umm.." cicit bocah itu sambil mengunyah roti di mulutnya.


"Habiskan makananmu, setelah itu kau bisa ikut denganku." ucap Willson, Leona hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai sarapan, Leona dibawa oleh Willson ke bagian lain dari mension milik nya, sebuah aula yang sangat besar dan penuh dengan berbagai macam alat olah raga, berjalan sedikit kedepan, ada ruangan lain lagi dimana saat ini beberapa orang pria berdiri dengan sangat tenang.


"Selamat pagi, nona muda." ucap pria-pria itu.


Leona melirik ke arah Willson, pria itu hanya menaikan alisnya sambil mengangkat bahu, seolah tidak peduli sedikitpun dengan kecemasan yang tergambar di wajah putri angkatnya.


"Aku telah mempersiapkan semuanya sesuai yang kau inginkan, Dia tuan Eiji, panggil dia sensei. Mulai hari ini kau akan belajar karate padanya." ucap Willson Smith sambil menunjuk salah seorang pria. Leona hanya mengangguk untuk memberi hormat.


"Yang itu Tuan Akira, panggil dia SaNim, mulai hari ini kau akan belajar taekwondo padanya." ucap Willson dengan santai.


"Dan yang itu tuan Chisen, panggil dia sensei. Kau akan belajar aikido dengannya." lanjut Willson, dia tidak memperdulikan reaksi dari Leona yang saat ini melotot dengan penuh kekesalan.


Bagaimana tidak? Willson tak tanggung-tanggung menyiapkan guru bela diri untuknya, tiga orang ahli dalam tiga bidang beladiri disiapkan langsung khusus untuk melatih Leona.

__ADS_1


"Bukankah ini terlalu berlebihan? Kau bahkan bisa memilih salah seorang dari mereka untuk melatihku! Bagaimana bisa aku belajar dari 3 orang guru sekaligus?" ucap Leona, namun Willson hanya terkekeh pelan melihat ketidakpuasan di wajah bocah kecil itu.


"Bukankah kau ingin segera menjadi kuat? Maka nikmatilah prosesnya mulai sekarang. Bersabarlah, karena itu tidak akan mudah." ucap Willson sambil meninggalkan Leona di hadapan ketiga orang pria itu.


"Apakah anda sudah siap untuk belajar, Nona muda?" tanya Akira.


Leona hanya bisa mengangguk pelan, dalam hatinya dia mengumpat kelakuan Willson yang kekanak-kanakan, dia tak menyangka jika pria itu benar-benar akan mengumpulkan tiga orang guru untuk melatihnya.


Dengan segera Leona diajak oleh ketiga orang pria itu menuju ke suatu tempat, halaman belakang Mansion menjadi pilihan dari ketiga orang pria itu untuk mulai melatih kekuatan dan juga fondasi tubuh Leona.


Meskipun gadis itu masih berusia sangatlah belia, namun ke-3 pria di hadapannya mengetahui jika gadis kecil itu pasti sudah memiliki fondasi tubuh yang cukup lumayan mengingat postur tubuhnya yang sedikit berbeda dibandingkan bocah lain yang seusianya.


"Apa kau pernah belajar beladiri sebelumnya?" tanya tuan Eiji, dia benar-benar sangat penasaran dengan sosok Leona yang telah berhasil mengambil hati Willson Smith yang terkenal sangat dingin dan tidak pernah perduli pada siapapun. Leona hanya mengangguk perlahan.


"Hanya sedikit." ucapnya sambil menggerakkan jari telunjuk dan ibu jarinya, untuk meyakinkan ketiga orang guru yang saat ini akan mulai membimbing dia.


"Tunjukkan!" ucap Tuan Eiji dengan sangat tegas, sedangkan Willson berdiri dari kejauhan sambil memperhatikan bocah kecil itu.


Leona berjalan kehadapan ketiga orang gurunya, kemudian mulai memamerkan kehebatannya melalui serangkaian gerakan yang tak terduga.


Ketika Leona mengayunkan pukulan pertamanya, kecepatan dan kekuatan yang ia tunjukkan mampu membuat mata para guru beladiri terbelalak. Setiap pukulannya dengan presisi yang memukau, mengarah tepat sasaran, dan meninggalkan jejak kekuatan yang menggetarkan. Setiap gerakan pukulannya terlihat begitu ringan dan cepat, seperti kilat yang menembus langit biru.


Namun, Leona tidak hanya mengandalkan pukulan tangan saja. Dengan keahlian bertarung yang luar biasa, ia menunjukkan tendangan yang mempesona. Setiap tendangannya menghasilkan suara hentakan yang melengking di udara, mencerminkan kekuatan dan kelincahan yang dimilikinya. Ia mampu mengubah sudut dan kecepatan tendangan dengan lincah, mengesankan para guru beladiri dengan kemampuan akrobatiknya yang mengagumkan.


Tidak hanya dalam pukulan dan tendangan, Leona juga mengejutkan para guru dengan lompatannya yang menawan. Dengan lincahnya, ia meloncat tinggi ke udara, menguasai ruang di atas kepala mereka. Seperti kucing yang lincah, ia mampu meluncur di udara, menghindari serangan lawan dengan kecepatan yang sulit diikuti. Lompatannya yang elegan dan presisi dalam mengendalikan tubuhnya membuat mereka terkagum-kagum.


Namun, yang paling mengejutkan para guru beladiri adalah keahlian Leona dalam lemparan. Ketika mereka berusaha mendekatinya, Leona dengan mudah menangkap serangan mereka dan membalasnya dengan lemparan yang cepat dan akurat.


Prok... Prok... Prok...


Terdengar suara tepuk tangan dari ketiga orang pria itu, mereka telah menduga jika Leona memang memiliki kemampuan yang luar biasa.


"Tuan Willson tidak pernah salah menilai bibit unggul." ucap Akira sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sedangkan Willson hampir saja menyemburkan kopi dari dalam mulutnya saat melihat serangkaian gerakan yzng dibuat oleh bocah kecil itu.


"Aku tidak pernah salah pilih." ucapnya dengan ambigu, tatapannya menunjukkan kekaguman yang luar biasa terhadap putri angkatnya.

__ADS_1


__ADS_2