BIDADARI BESI

BIDADARI BESI
Penyerangan


__ADS_3

Akhirnya Liora dan Marlina memutuskan untuk pindah ke kota C, agar tak lagi diganggu dengan kehadiran Calvin Steward. Kehadiran pria itu tak hanya mengukir kembali luka lama di hati Marlina, namun juga membuat Liora merasa rendah diri.


Dia yang selama ini selalu bekerja keras siang dan malam demi menghidupi keluarga kecilnya, baru saja mendapatkan sebuah kejutan besar dengan kedatangan Calvin Steward. Bagaimana bisa pria itu mengabaikan dirinya selama 25 tahun dan baru kembali untuk mencarinya setelah kepergian Laura?


Hal itu tentu saja membuat pukulan telak bagi Liora, tak hanya tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, ternyata dia juga anak yang tidak diinginkan. Bahkan Calvin Steward lupa jika dirinya memiliki sepasang anak kembar, namun hanya mempedulikan Laura.


Perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh Liora membuatnya merasa sangat lelah, kota S berjarak sangat jauh dengan kota C, namun mereka harus menempuhnya dengan menggunakan kereta api, agar bisa menghemat biaya. Apalagi saat ini Liora baru saja mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka harus senantiasa berhemat agar tidak kekurangan saat sampai dikota C.


Tap...


Tap...


Tap...


Akhirnya Liora dan Marlina sampai di kota C, namun malang ketiganya mengalami sebuah musibah. Stasiun yang awalnya tenang tiba-tiba berubah menjadi sangat mencekam, terjadi baku tembak antara dua kelompok mafia yang menimbulkan kegaduhan dan pekik ketakutan dari para penumpang yang baru saja turun dari kereta api. Liora harus berusaha untuk melindungi Kendrick dan juga Marlina, sedangkan dia sendiri tidak memiliki kemampuan bela diri.


Dengan susah payah Liora membawa Kendrick dan ibunya itu keluar dari kerumunan, kemudian berlari ke arah jalan raya. Kendrick terus saja menangis di dalam gendongannya, sedangkan Marlina saat ini sudah tak mampu lagi untuk berlari jauh, kakinya terasa sangat lemah, apalagi kondisi kesehatannya semakin memburuk membuat Liora terpekik ketakutan.


Dor...


Dor...


Dor...


Suara letusan peluru lagi-lagi terdengar, membuat Liora semakin dilanda ketakutan. Dia tidak memiliki tempat tinggal ataupun kenalan di kota C, namun saat ini dirinya harus segera menyelamatkan diri beserta ibu dan juga anaknya, tanpa mengetahui ke arah mana dirinya harus berjalan, sementara hari saat ini telah menunjukkan pukul 11.00 malam.


Tin...


Tin...


Tin...

__ADS_1


Terdengar klakson dari sebuah mobil mewah, Liora hampir saja tertabrak akibat berusaha menjauh dari tempat kerusuhan. Seorang gadis kecil berusia 6 tahun turun, kemudian memiringkan kepalanya ke arah kiri, sambil menatap Liora dengan penuh Kerinduan.


"Mama!" panggil anak itu, dia berlari kemudian memeluk tubuh Liora.


Liora terdiam sesaat, entah siapa gadis kecil itu. Namun ketika tangannya mencoba untuk melerai pelukan, mata gadis kecil itu terlihat berkaca-kaca membuat Liora merasa tidak tega, hingga akhirnya dia pun membalas pelukan gadis kecil itu.


"Siapa kau, nak?" tanya Liora.


"Mama lupa padaku? Apakah aku berubah terlalu cepat, hingga mama tak mengenaliku? Ini Leona, anak mama!" ucap gadis kecil itu yang tak lain adalah Leona.


Liora memandang sendu wajah gadis kecil di hadapannya, saat ini dia harus segera pergi dari tempat itu untuk mencari perlindungan, sementara bocah perempuan di hadapannya masih terus saja menggelayut di kaki Liora.


Dor...


Dor...


Dor...


Suara tembakan kembali terdengar membuat mata Leona langsung berubah menjadi sangat dingin, dia pun segera menarik lengan Liora dan Marlina untuk mengajaknya masuk ke dalam mobil, sementara dirinya membuka pintu depan dan duduk di samping sopir.


"Nona muda!" sopir itu kembali memanggil, Leona langsung melirik dan memberikan perintah dengan sangat tegas.


"Jalankan mobilnya! Kita kembali menuju mension!"


"Tapi nona, jalanan di depan sangat berbahaya. Terjadi baku tembak antara dua kubu mafia saat ini, lebih baik kita kembali ke tempat tadi hingga keadaan menjadi lebih baik." ucap sang sopir mengingatkan.


Liora menggigil ketakutan, apalagi setelah mendengar ucapan Leona yang ingin melewati tempat bentrokan itu terjadi. Sementara Marlina saat ini sudah tak bisa berkata apa-apa, tubuhnya terasa begitu lemas, hingga untuk menggerakkan badannya saja dia sudah tak sanggup.


"Jalankan!" ucap Leona, tangannya segera membuka laci dasboard mobil untuk mengambil senjata.


Sepucuk senjata api kecil saat ini telah bertengger di tangan mungilnya, matanya menatap dengan sangat tajam ke arah kerumunan orang yang saat ini tengah saling baku hantam. Dengan segera sopir itu pun menginjak gas, kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.

__ADS_1


Leona masih tetap memasang kewaspadaan tinggi, apalagi saat ini beberapa orang terlihat mulai mengejar mobil yang ditumpanginya, membuat Liora lagi-lagi mengalami sport jantung. Ini adalah pertama kalinya dia harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak memiliki akal pikiran, apalagi sekumpulan pria yang saat ini mengejar mobil yang ditumpanginya membawa senjata tajam dan juga senjata api.


Leona melirik sekilas, kemudian memberikan perintah kepada Liora, "Tundukan tubuh kalian!"


Liora tak menjawab ucapan gadis kecil itu, dengan segera dia pun membawa Kendrick ke dalam dekapannya, kemudian menunduk lebih dekat lagi ke arah jok mobil, membuat tubuhnya berhimpitan dengan Marlina.


Sret...


Jendela mobil bagian depan terbuka, Leona mengeluarkan kepala dan juga tangan bagian kanannya yang memegang senjata, sementara tangan kirinya masih berpegangan. Gadis kecil itu pun memperlihatkan senyuman yang sangat mengerikan, kemudian dengan tanpa aba-aba langsung menembakkan serentetan peluru yang berada di dalam senjata ditangannya.


Dor...


Dor...


Dor...


Beberapa orang pria yang mengejar mobil itu pun akhirnya terjatuh, akibat terkena hantaman timah panas yang diluncurkan dari tangan mungil Leona. Sementara rekan-rekannya yang lain segera masuk ke dalam mobil dan mencoba melakukan pengejaran, membuat Leona akhirnya berdecak sebal. Gadis kecil itu segera memasukkan kembali kepalanya ke dalam mobil, kemudian melakukan panggilan kepada Willson Smith.


Tuut...


Tak..


Terdengar suara panggilan diterima, tak lama Leona bisa mendengar kembali suara Willson yang saat ini baru saja menginjakkan kakinya di dalam mension besar.


📱"Ya, little girl!" suara Willson terdengar sangat nyaring.


📱"Kau tahu dady? Saat ini ada beberapa orang pria yang mengejar mobilku, sepertinya mereka memiliki niat buruk. Dimana dady menyimpan semua senjata? Jika tidak cepat, mungkin sebentar lagi kau akan segera kehilangan putri cantikmu ini!" ucap Leona sambil mengerucutkan bibirnya.


Sementara Liora dan sopir itu hanya bisa membelalakkan mata, mendengar ucapan yang meluncur dari mulut Leona. Awalnya mereka beranggapan jika gadis kecil itu akan meminta bantuan, tapi ternyata dia malah menanyakan tempat ayahnya menyimpan semua senjata di dalam mobil itu.


📱"Kau tahu little girl? Selain laci dashboard, bagian dalam jok merupakan tempat yang paling aman untuk menyimpan sesuatu." ucap Willson.

__ADS_1


Leona tertawa perlahan, kemudian segera mematikan panggilannya. Tangan gadis kecil itu telah merogoh bagian yang disebutkan oleh sang ayah, matanya terlihat berbinar setelah mengetahui ternyata di bawah jok itu terdapat beberapa senjata rakitan yang sengaja disimpan oleh Willson, jika sewaktu-waktu terjadi sebuah penyerangan.


"Kirimkan orang untuk melacak keberadaan Leona, dan segera beri pelajaran pada orang-orang yang berani menakut-nakuti putri kecilku itu." ucap Willson kepada anak buahnya, sesaat setelah Leona mematikan panggilan teleponnya.


__ADS_2