
Risma yang sedang ketakutan dan memeluk Yudha dengan sangat erat, tiba-tiba kembali kewujud aslinya, yaitu gadis dingin dan hemat kata.
Risma berjalan dengan sangat cepat kendahului Yudha yang tersenyum penuh kemenangan.
"Hei, kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih lagi padaku. Aku melakukannya dengan senang hati kok," ucap Yudha sambil mengejar ketertinggalannya dari Risma.
Wajah Risma yang memerah bersemu malu saat ini, sangat terlihat jelas. Risma berusaha menyembunyikan wajahnya, namun tetap tidak bisa. Wajah itu tetap merona dengan sendirinya.
"Kamu tidak perlu malu padaku Risma, aku ...."
"Yudha! Diam! Kamu jangan banyak bicara lagi, aku tidak ingin jalan bareng kamu kesekolah, jalan sendiri aja sana," kata Risma memotong dan membentak Yudha dengan keras.
"Ya ampun, kembali lagi aura negatifnya sekarang," ucap Yudha tanpa mendengarkan apa yang Risma katakan.
"Tau gitu, aku gak perlu bilang sama kamu kalau kita mau berangkat sekolah. Biarkan saja kamu memeluk aku, atau aku biarkan ulatnya bermain-main di atas kepala kamu," kata Yudha lagi.
Risma tidak menjawab sama sekali, ia hanya terdiam dan terus melanjutkan langkah kakinya hingga sampai di depan gerbang sekolah.
Bel istirahat berbunyi, semua siswa bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing. Mereka akan menuju tempat-tempat favorit kesayangan mereka.
"Risma, mau makan apa hari ini?" ucap Yudha yang tidak pernah bosan menanyakan apa yang gadis itu inginkan setiap harinya. Walaupun, akan ada penolakan setiap hari untuk Yudha. Namun, laki-laki itu tidak pernah putus asa.
__ADS_1
"Tidak ada," ucap Risma yang masih sibuk dengan buku-buku dan alat tulisnya.
"Kalau tidak ada, aku akan belikan apa yang aku suka, dan kamu harus memakannya. Jika tidak, akan mubazir. Kamu ingatkan, apa hukum orang yang mubazir dengan rezki yang tuhan berikan?" kata Yudha panjang lebar.
"Pak ustadz pernah bilangkan kalau ...."
"Ya, aku sudah tahu. Kamu tidak perlu menjelaskan lagi. Aku akan makan di kantin saja," kata Risma memotong perkataan Yudha dengan cepat.
Risma pun berjalan cepat meninggalkan Yudha di kelas.
"Eh, tunggu dong Risma," kata Yudha sambil mengejar gadis itu dengan cepat.
"Apa kamu tidak punya kerjaan lain Yudha?"
"Aku bilang, apa kamu tidak punya kerjaan lain? Selain mengganggu aku?" kata Risma mulai kesal.
"Eict, jangan kesal gitu dong, aku ini tidak punya kerjaan lain yang lebih berat, makanya aku mengejar kamu. Kerjaan ini sangat berat lho Ris."
Risma akan diam dan akan membiarkan Yudha melakukan apa yang ia mahu. Karna Yudha adalah laki-laki yang tidak punya kata menyerah atau kata putus asa dalam hidupnya.
Mungkin juga, Yudha tidak punya kata sakit hati. Karna ia selalu terlihat baik-baik saja, saat Risma bicara kata yang menyakitkan padanya.
__ADS_1
"Mau makan apa Ris?" kata Yudha bertanya lagi, saat mereka sudah sampai di kantin.
"Aku pesan sendiri aja," kata Risma sambil berjalan cepat mendahului Risma.
Yudha membiarkan Risma melakukan apa yang ia mahu. Ia tidak ingin terlalau memaksakan keinginannya pada Risma.
Menghadapi Risma, harus secara perlahan dan dengan sabar. Itu pesan Wira pada Yudha kemarin. Yudha akan ingat apa saja yang sudah kedua sepupu itu katakan, untuk mendekati Risma.
Mereka berdua duduk di satu bangku yang sama. Risma tidak bisa menolak kehadiran Yudha yang sepertinya selalu saja ada di manapun ia berada.
"Ini pesanannya dek," kata ibu kantin sambil meletakkan miso milik Risma.
"Makasih mbak," ucap Risma datar.
"Lho Ris, kok cuma satu aja sih miso nya," kata Yudha kaget saat melihat ibu kantin hanya mengantarkan semangkuk miso saja.
"Ya emang aku pesan satu. Mau berapa lagi kamu?"
"Lah, masa kamu tega sih sama aku. Kamu pesan punya kamu doang, gak sekalian punya aku," kata Yudha dengan wajah cemberut.
"Kamu kan bisa pesan sendiri, kamu itu sudah besar jugakan?"
__ADS_1
"Ya ampun, jadi orang jangan tega kenapa."
Yudha memanggil ibu kantin, ia memesan pesanan yang sama dengan yang dipesan Risma.