Biola RismaWanda

Biola RismaWanda
Lima belas


__ADS_3

Yudha bangun dari duduknya, ia mengambil jepit rambut yang ada di atas meja mereka. Lalu keluar dari kelas itu, menuju tong sampah dan membuangnya.


"Sudah aku buang, kamu puas sekarangkan?" kata Yudha saat ia sudah duduk kembali di samping Risma.


Apa yang Yudha lakukan tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Risma. Risma hanya melihat Yudha dengan datar tanpa ekspresi dan komen apapun.


Sama halnya dengan teman-teman yang ada di dalam kelas itu. Mereka tidak ada mengeluarkan sepatah katapun ketika melihat apa yang Yudha lakukan. Lagian, mereka tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi pada teman yang ada dalam kelas mereka.


Sedangkan saat ini, guru yang akan mengajar, belum masuk kedalam kelas untuk melakukan tugasnya. Maka dari itu, semua siswa masih bebas melakukan apapun yang mereka mahu.


Saat pulang sekolah, tanpa sengaja, Risma melirik tong sampah di depan kekasnya. Tempat di mana Yudha telah membuang jepit rambut.


Jepit rambut itu masih ada di sana, tertindih selembar kertas yang telah remuk. Hati Risma tiba-tiba merasa sayang akan jepit rambut yang berada di dalam tong sampah itu. Ia pun memutuskan untuk mengambil kembali jepit rambut yang Yudha buang.


"Kamu sedang apa Ris?" kata Syima saat melihat Risma mengambi sesuatu dari tong sampah.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa kok kak."


"Oh, ya sudah kalau gitu. Ayo pulang!" ajak Syima sambil terus berjalan tanpa curiga dengan apa yang adiknya lakukan.


Sampai di rumah, Risma meletakkan jepit rambut itu, di atas meja riasnya. Ia lalu mengambil sebuah kotak persegi empat dari dalam laci meja riasnya.


Di sana, ada banyak jepit rambut yang tersimpan dengan indahnya. Sebagian jepit rambut yang ada di dalam kotak itu, adalah pemberian Wanda, sahabatnya.


Sejak Wanda memutuskan untuk pergi dan menghilang tanpa kabar. Risma memutuskan untuk menyimpan semua jepit rambutnya di dalam kotak. Ia tidak berniat memakai jepit rambut lagi. Karna saat memakai jepit rambut, Risma akan teringat dengan Wanda yang sangat suka melihat ia menggunakan jepit rambut.


"Sayang, imut sekali jepit rambut yang kamu pegang itu. Baru kamu beli ya nak?" kata mama yang tiba-tiba masuk dan melihat Risma memegang jepit rambut pemberian Yudha.


"Iya sayang, ini sangat imut sekali. Coba sini, mama pakain di rambut kamu nak."


"Gak usah ma, Risma gak ingin memakai jepit rambut ini kok. Risma ingin menyimpannya saja."

__ADS_1


"Ris, koleksi itu harus dipakai dong sayang, kalau disimpan dalam kotak aja, itu bukan koleksi dong namanya. Lagian, mama ingin lihat anak mama pas lagi pakai jepit rambut ini. Pasti sangat imut banget deh."


Akhirnya, Risma mengalah dengan mama. Ia membiarkan sang mama memakaikan jepit rambut di atas rambutnya yang hitam dan licin itu.


"Tuhkan, mama bilang juga apa. Anak mama cantik banget saat memakai jepit rambut imut ini," kata mama memuji Risma sambil melihat wajah Risma dari cermin.


"Makasih mama, tapi kayaknya, Risma belum bisa menggunakan jepit rambut sekarang," kata Risma dengan nada sedih.


"Udah dong sayang, anak mama yang cantik ini tidak boleh bersedih lagi yah," kata mama sambil memegang kedua bahu Risma.


"Harus tersenyum dan ceria. Karna jika kamu sedih, maka mama akan ikut sedih dan terluka juga. Apa kamu ingin mama ikut sedih dan sakit seperti waktu itu?"


"Ngak kok ma. Risma gak mau mama sakit. Mama harus tetap sehat dan selalu kuat, agar mama bisa terus membuat Risma kuat," kata Risma sambil memaksakan senyum di bibirnya.


"Gitu dong, kan cantik banget anak mama kalau senyum begini."

__ADS_1


Mama meninggalkan kamar anaknya, setelah berbicara dengan Risma.


Saat mama keluar dari kamarnya, Risma melihat semua koleksi jepit rambut yang tertata rapi dalam kotak segi empat ini. Lalu, Risma melihat wajahnya dari cermin. Di mana jepit rambut milik Yudha, masih terpasang dengan rapi di atas rambutnya.


__ADS_2