
Hari ini, Risma dan Yudha, juga beberapa anak yang akan ikut lomba, di berangkatkan menuju sekolah, di mana tempat pertandingan akan diadakan.
Mereka berangkat dengan mobil milik sekolah. Sekolah tidak membawakan murid lain, selain murid yang ikut dalam perlombaan. Hal ini di karnakan, karna lomba kali ini baru babak penyisihan. Masih ada lagi beberapa babak tingkat perlombaan.
Jarak antara sekolah menengah Dharmayu, dengan sekolah Risma tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja dengan menggunakan mobil. Tentunya, jika tidak mengalami kemacetan.
Saat pertama kali sampai di sekolah ini, Risma dan teman-teman, terlihat lumayan cangung. Maklum, ini selalu terjadi jika kita pertama kali datang ketempat yang baru kita kunjungi.
"Selamat datang, di sekolah kami anak-anak," ucap salah satu guru yang bertugas menerima tamu di depan gerbang masuk area sekolah.
"Selamat datang pak Tirta," kata guru itu pada pak Tirta yang menjadi pembimbing siswanya.
"Terima kasih banyak atas sambutannya pak Yahya," kata pak Tirta membalas sapaan ramah dari guru itu.
"Silahkan masuk, siswa saya akan mengantarkan bapak menuju tempat yang telah disediakan."
Seorang siswa laki-laki, ditugaskan untuk mengantarkan rombongan menuju tempat, di mana akan diadakan perlombaan musik.
"Ris, apa yang kamu rasakan?" tanya Yudha saat mereka semua telah duduk di tempat yang telah ditentukan.
__ADS_1
"Tidak ada," ucap Risma datar seperti biasa.
"Apa kami tidak merasa gugup sedikitpun, Ris?"
"Kalo di bilang gugup sih, ada sedikit."
"Yah, aku pikir kamu gak punya rasa gugup sama sekali, Ris. Soalnya, kamu terlihat biasa aja sejak kita berangkat, hingga kita duduk di sini," ucap Yudha dengan nada menggoda.
"Dasar kamu Yud, hobi kamu itu cuma godain Risma ya?" kata salah satu teman yang mendengar apa yang Yudha katakan.
Bel sempat Yudha menjawab apa yang temannya katakan. Suara dari sebuah pengeras suara terdengar menggema dengan lantangnya. Menyapa semua yang hadir, sekaligus membuka perlombaan musik.
Dengan wajah yang sedikit memerah, Risma dan Yudha naik keatas pangung sederhana yang telah sekolah Dharmayu sediakan.
Yudha menggenggam tangan Risma, sebelum naik keatas pangung itu. Luar perkiraan Yudha, ternyata, Risma tidak menolak tangannya di genggam oleh Yudha.
Mungkin, gadis itu terlalu gugup saat ini, sehingga tidak menolak, apa yang Yudha lakukan barusan.
"Lakukan seperti biasa Risma," ucap Yudha setengah berbisik pada Risma.
__ADS_1
Risma tidak menjawab, hanya matanya yang terlihat menanggapi apa yang Yudha ucapkan.
Mereka memulai pertunjukan dengan sedikit gugup pada awalnya. Namun, setelag Risma menutup matanya rapat-rapat, ia tidak terlihat gugup sedikitpun.
Suara biola yang ia timbulkan dari setiap gesekan, membuat alunan nada yang menyentuh hati. Semua yang mendengarkan alunan nada dari biola Risma, merasakan kesedihan, dan ikut terbawa dalam suasana haru.
Biola Risma sanggup membuat semua yang mendengarkan ikut merasakan sesuatu yang hilang. Ntah bagaimana caranya, mereka begitu terharu saat mendengarkan setiap nada yang keluar dari gesekan biola itu.
Sudah tidak asing lagi, kalau biola Risma akan membuat mereka menangis haru saat mendengarkannya. Sama halnya saat ini, banyak yang tidak bisa menahan air mata mereka untuk turun melintasi pipi.
Bukan hanya para siswa yang menangis, beberapa juri wanita juga ikut merasakan kesedihan yang mengalir, melalui alunan biola yang Risma mainkan.
Tepuk tangan yang sangat meriah, mereka hadiahkan pada Risma dan Yudha. Saat mereka selesai mempersembahkan pertunjukan yang membuat pipi basah akibat air mata yang tumpah.
Pujian terdengar sangat jelas, dari penonton maupun dari juri. Mereka begitu kagum akan bakat yang Risma miliki.
"Ya ampun Ris, kayaknya, hanya kamu yang bermain musik di atas pangung barusan," ucap Yudha saat mereka sama-sama berjalan meninggalkan pangung.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Yah, semua orang hanya memuji kamu saja. Tidak memberikan pujian mereka sedikitpun pada aku," kata Yudha dengan wajah sedih yang dibuat-buat.