
Risma mendengarkan saran dari Yudha. Ia memberikan Awanda waktu lima menit untuk bicara.
Mereka keluar untuk mencari tempat yang tidak terlalu berisik. Mereka memutuskan menuju taman yang tak jauh dari lokasi itu.
Sedangkan Yudha, ia hanya bisa menahan rasa cemburu dan sakit dalam hatinya. Karena yang ia harapkan adalah kebahagiaan Risma yang selama ini hilang bisa kembali lagi.
Ketika melihat Yudha berubah ekspresi. Pak Tirta memahami apa yang terjadi dengan murid-muridnya ini.
"Anak-anak muda jaman sekarang pada lucu ya, Yud. Sok-sokan merelakan, padahal hatinya tidak pernah rela tuh," ucap pak Tirta menyindir Yudha.
"Apaan sih pak? Aku ke kamar mandi dulu deh."
Yudha pergi meninggalkan pak Tirta yang tersenyum geli melihat tingkah Yudha yang lucu. Ia menginginkan, tapi sok-sokan jadi pahlawan untuk mempersatukan.
"Anak muda jaman sekarang. Ada-ada aja tingkahnya," kata pak Tirta sambil menggelengkan kepalanya menatap punggung Yudha yang berjalan semakin menjauh.
__ADS_1
Sedangkan Yudha, ia tidak ingin menanggapi apa yang pak Tirta katakan padanya. Karena hatinya saat ini, sulit untuk di ajak kompromi. Rasanya, Yudha benar-benar ingin menyusul Risma dan Awanda. Tapi semua itu tidak mungkin Yudha lakukan. Ia tidak mungkin merusak kesempatan emas yang Risma miliki.
Di taman itu, Risma dan Awanda bicara dengan pembicaraan yang sangat serius. Mereka bicara banyak dan membahas apa yang telah terjadi.
"Maafkan aku Risma, aku tidak bisa menepati janji yang kita buat waktu itu. Aku tidak mungkin melawan keinginan orang tuaku. Aku tidak bisa menolak mereka," kata Wanda sambil memegang tangan Risma.
Risma merasakan hatinya sangat sakit saat ini. Rasa sakit ini tergambar jelas saat air matanya jatuh melintasi pipi, dengan sangat deras.
"Kak Awan! Apa yang kamu lakukan di sini!" kata Maya sambil berteriak kesal pada Wanda.
"Maya!" kata Awanda terkaget sambil bangun dari duduknya.
"Maya, Maya, ini gak seperti yang kamu bayangkan kok May. Kamu jangan salah paham dulu. Aku kesini hanya untuk bicara baik-baik dengan dia. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa kok, Maya."
"Tidak ada hubungan apa-apa, kenapa kalian pegang-pegang tangan? Hah!"
__ADS_1
"Oke-oke, aku akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Risma ini memang punya hubungan pertemanan yang tidak sengaja mengukir janji. Aku kesini hanya untuk memutuskan hubungan antara aku dan dia," kata Awanda dengan sangat serius pada Maya.
Risma yang mendengarkan penuturan Awanda ini pun, tidak tahan lagi. Ia merasa sangat menyesal telah mengenal Awanda dahulunya. Sampai-sampai, ia menyakiti dirinya sendiri akibat kehilangan teman terbaiknya.
Tapi kini, mata Risma telah terbuka lebar. Awanda yang sangat ia sayangi ini, tak lebih dari seorang cowok sampah yang tidak ada artinya.
"Cukup! Kalian tidak perlu meributkan soal pertemuan ini. Aku dan pacar kamu ini tidak punya hubungan apa-apa. Jadi tidak ada yang perlu diributkan," kata Risma dengan lantang.
"Lagian, hubungan apa yang mau kamu putuskan, Wanda? Antara kita berdua tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, kamu tidak perlu memutuskan apa-apa. Kamu itu hanya seseorang yang mirip dengan sahabatku yang telah meninggal. Jadi jangan berpikir berlebihan," kata Risma pada Awanda.
"Untuk kamu Maya, aku tidak apa kamu percaya atau tidak. Yang jelas, aku dan pacar kamu ini tidak ada hubungan apa-apa. Jad, jangan banyak berpikir yang tidak-tidak."
"Aku pergi dulu, kalian selesaikanlah urusan kalian berdua," kata Risma sambil beranjak meninggalkan taman.
"Risma!"
__ADS_1
Awanda memanggil Risma yang sedang berjalan menjauh darinya. Risma menghentikan langkahnya, namun tidak melihat kearah Wanda yang memanggilnya.
Ia tidak ingin menoleh kebelakang. Karena saat ini, hatinya sangat amat sakit. Ia hanya mencoba untuk tetap terlihat kuat di sana tadi. Ia mengumpulkan semua tenaga yang ia miliki, hanya untuk menyampaikan kata-kata pada Maya dan Awanda.